MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

BIOGRAFI UMAR BIN Al-KHATHTHAB RA.

Posted by Bustamam Ismail on February 1, 2010

1. MUKADDIMAH

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat beriring salam semoga selalu dicurahkan atas makhluk termulia dari sekian banyak para nabi dan rasul Nabi kita Muhammad serta para keluarganya dan seluruh sahabatnya. Wa ba’du, ini merupakan susunan dan suntingan dari kitab al-Bidayah wa an-Nihayah karya besar al-Hafizh Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasy ad- Dimasyqi mengenai sejarah kekhalifahan Amirul Mukminin Khalifah kedua yang mendapat petunjuk yakni Umar bin al-Khaththab ra. Adapun metode yang saya pakai dalam penulisan ini tidak berbeda dengan metode penulisan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq sebelumnya.

Aku berharap semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi kalangan pelajar dan para pecinta ilmu sejarah, serta dapat mengisi keko-songan yang terjadi di perpustakan sejarah Islam. Saya berusaha sedaya upaya menyusun dan menyunting kitab ini sekaligus mentakhrij dan mengo-reksi kesalahankesalahan penulisan yang terdapat di dalamnya. Semoga Allah selalu memberikan taufiqNya dan memberi petunjuk ke jalan yang benar.

Oleh:Muhammad bin Shamil as-Sulami Makkah al-Mukarramah Rabi’ul Akhir 1418

2. NASABNYA

Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-‘Adawi. Julukan beliau adalah al-Faruq. Ada yang menyebutkan bahwa gelar itu berasal dari Ahli Kitab.279 Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.280

3. CIRI-CIRI DAN SIFATNYA

Beliau adalah seorang lelaki yang tinggi, kepala bagian depannya botak, selalu bekerja dengan dua tangannya, kedua matanya hitam, berkulit ku-ning281, ada yang mengatakan berkulit putih hingga menjadi kemerah-merahan. Giginya putih bersih mengkilat, selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan menggunakan inai (daun pacar).282

Beliau adalah orang yang sangat tawadhu1 kepada Allah. Kehidupan dan makanannya sangat sederhana. Beliau terkenal sangat tegas dalam urusan agama Allah, selalu menambal bajunya dengan kulit, membawa ember di atas kedua pundaknya, dengan wibawanya yang sangat besar, selalu mengenda-rai keledai tanpa pelana, jarang tertawa dan tidak pernah bergurau dengan siapapun. Cincinnya bertuliskan sebuah kata-kata “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

4. ISTRI DAN ANAK-ANAK BELIAU

Al-Waqidi, al-Kalbi dan lainnya pernah berkata, “Pada masa jahiliyyah Umar ra. pernah menikahi Zainab binti Mazh’un saudara wanita dari Utsman bin Mazh’un, dari perkawinan tersebut lahirlah Abdullah, Abdurrahman yang sulung, serta Hafshah. Beliau juga pernah menikahi Mulaikah binti Jarwal, dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Ubaidullah. Setelah itu beliau menceraikannya ketika terjadi hudnah (perdamaian). Setelah dicerai wanita tersebut dinikahi oleh Abu Jahm bin Hudzaifah, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Madaini. Al-Waqidi berkata, “Wanita ini bernama Ummu Kaltsum binti Jarwal, dari hasil pernikahan ini lahirlah Ubaidullah dan Zaid yang bungsu.”283 Al-Madaini berkata, “Umar ra. pernah menikahi Quraibah binti Abi Umayyah al-Makhzumi, sewaktu terjadi hudnah (perdamaian) Umar ra. menceraikannya, setelah itu wanita ini dinikahi oleh Abdurrahman bin Abu Bakar ra..”

Mereka berkata, “Umar ra. juga menikahi Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam setelah suaminya yakni Ikrimah bin Abu Jahal- terbunuh dalam peperangan di negeri Syam.284 Dari hasil pernikahan ini lahirlah Fathimah. Kemudian Umar ra. menceraikannya.” Al-Madaini berkata, “Umar ra. Tidak menceraikannya.”

Mereka berkata, “Umar ra. pernah pula menikahi Jamilah binti285 Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah dari suku Aus.” Umar ra. juga menikahi Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail, yang sebelumnya adalah istri Abdullah bin Abu Bakar ra..286 Setelah Umar ra. terbunuh, wanita ini dinikahi oleh az-Zubair bin al-Awwam Disebutkan bahwa wanita ini adalah ibu dari anaknya yang bernama Iyadh, wallahu a ‘lam. Al-Madaini berkata, “Umar ra. pernah meminang Ummu Kaltsum, puteri Abu Bakar as-Shiddiq ra. -ketika itu masih gadis kecil- dalam hal ini Umar ra. mengirim surat kepada ‘ Aisyah, namun Ummu Kaltsum berkata, ” Aku tidak mau menikah dengannya!” ‘Aisyah ra. berkata padanya, “Apakah engkau menolak Amirul Mukminin?” Ummu Kaltsum menjawab, “Ya, sebab hidupnya miskin.” Akhirnya ‘Aisyah ra. mengirim surat kepada Amru bin al-Ash, dan Amru berusaha memalingkan keinginan Umar ra. untuk menikahi puteri Abu Bakar ra. dan menyarankan kepadanya agar menikahi Ummu Kaltsum puteri Ali bin Abi Thalib dari hasil pernikahannya dengan Fathimah. Amru berkata padanya, “Nikahilah puteri Ali dan hubungkan kekerabatanmu dengan kerabat Rasulullah saw. ” Akhirnya Umar ra. meminang Ummu Kaltsum kepada Ali dan memberikannya mahar sebanyak empat puluh ribu. Dan dari hasil pernikahan ini lahirlah Zaid dan Ruqayyah.

Mereka berkata, “Umar ra. juga menikahi Luhyah seorang wanita Yamandari hasil pernikahan itu lahirlah Abdurrahman yang bungsu, ada yang menyebutkan Abdurrahman yang tengah. Al-Waqidi berkata, “Wanita ini adalah Ummu al-Walad (budak wanita) dan bukan sebagai istri.287 Ada yang menyebutkan bahwa Umar ra. juga memiliki Fukaihah sebagai Ummu Walad yang melahirkan anaknya bernama Zainab. Al-Waqidi berkata, “Zainab adalah anak Umar ra. yang paling kecil.”

Ibnu Katsir berkata, “Jumlah seluruh anak Umar ra. adalah tiga belas orang, yaitu, 1).Zaid yang sulung, 2).Zaid yang bungsu, 3).Ashim, 4).Abdullah, 5).Abdurrahman yang sulung, 6).Abdurrahman yang pertegahan, az-zubair bin Bakkar -yaitu Abu Syahmah288, 7).Abdurraman yang bungsu, 8).Ubaidullah, 9).Iyadh, 10).Hafsah, 11).Ruqayyah, 12).Zainab,13). Fathimah.

Jumlah seluruh istri Umar ra. yang pernah dinikahi pada masa jahiliyyah dan Islam baik yang diceraikan ataupun yang ditinggal wafat sebanyak tujuh orang.Yaitu.

1).Zainab binti Mazh’un, 2).Mulaikah(Ummu Kaltsum) binti Jarwal, 3). Quraibah binti Abi Umayyah al-Makhzumi, 4).Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam, 5).Jamilah binti285 Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah, 6).Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail, 7).Ummu Kaltsum puteri Ali bin Abi Thalib

Dua orang Ummul 1)Walad Luhyah seorang wanita Yaman,2) Fukaihah

5. KEISLAMANNYA

Umar ra. masuk Islam ketika berusia dua puluh tujuh tahun, beliau mengikuti perang Badar dan seluruh peperangan yang terjadi setelahnya bersama Rasulullah saw. Beliau juga pernah diutus untuk berangkat bersama sebahagian tentara untuk memata-matai dan mencari informasi tentang musuh, terkadang menjadi pemimpin dalam tugas ini.289Beliaulah yang pertama kali digelari Amirul Mukminim. Beliaulah yang pertama kali membuat penanggalan hijriyah, mengumpulkan manusia untuk Shalat Tarawih berjama’ah, orang yang pertama kali berkeliling di malam hari mengontrol rakyatnya di Madinah, yang pertama kali membawa tongkat pemukul untuk memberi pelajaran dan menghukum yang salah, yang pertama kali mendera peminum khamr 80 kali cambukan, khalifah yang melakukan banyak penaklukan,290 yang pertama kali membuat kota-kota, membentuk tentara resmi, membuat undang-undang perpajakan, membuat sekretariat, menentukan gaji tetap, menempatkan para qadhi, membagi-bagi wilayah yang ditaklukkan seperti as-Sawad, Ahwaaz, wilayah pegunungan, wilayah Persia dan lain sebagainya.

Beliau berhasil menaklukan banyak wilayah di negeri Syam, di antaranya, Damaskus, Yordania, Baisan, Thabariyah, al-Jabiyah, Ramalah, Asqalan, Gazza, daerah sawahil (pesisir), al-Quds, Ba’labak, Horns, Qinsir, Halab, dan Anthakiyah. Dia juga menaklukkan Mesir, Iskandariyah (Alexandria), Tripoli Barat, dan Burqah. Adapun daerah Jazirah Eufrat yang ditaklukkannya adalah, Harran, ar-Rahaa dan ar-Raqqah, Nasibain, Ra’sul Ain, Syimsyath, Ain Wardah, Perkampungan Bakr, Rabi’ah, negeri Mosul dan wilayah-wilayah sekitarnya. Wilayah Irak dan wilayah timur yang ditaklukkannya, Qadisiyyah, Sungai Sair, Sabath, Madain, Nahawand, Hamazan, Ar-Rai, Qumis, Khurasan, Istakhar, Ashbahan, as-Sus, Marwa, Naisaburi, Jurjaan, Adzarbaijan dan Iain-lain. Para tentaranya telah pula menyeberangi sungai Jaihun berulang kali.

6. FADHILAH DAN KEUTAMAANNYA

Imam al-Bukhari berkata, bab Manaqib Umar bin al-Khaththab291 Abu Hafsh al-Qurasy, ad-‘Adawi,

1) Umar ra. Adalah Penduduk Surga

(1). Diriwayatkan dari Said Ibnu al-Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba beliau berkata, “Sewaktu tidur aku bermimipi seolah-olah aku berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita berwudhu di samping sebuah istana, maka aku bertanya, “Milik siapa istana ini?” Mereka menjawab, “Milik Umar.” Maka aku teringat akan kecemburuan Umar, segera aku menjauhi istana itu.” Umar ra. menangis dan berkata, “Demi Allah SWT., mana mungkin aku akan cemburu padamu wahai Rasulullah saw.?”

(2). Diriwayatkan Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw. Menaiki gunung Uhud beserta Abu Bakar ra., Umar ra. dan Utsman ra.. Maka-tibatiba gunung itu bergoncang, segera Rasulullah saw. memukulkan kakinya dan berkata, “Diamlah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq dan dua orang syahid.

(3). Diriwayatkan dari Anas bahwa seorang lelaki pernah bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat. Ia bertanya, “Kapan datangnya hari Kiamat?” Maka Rasulullah saw. kembali bertanya padanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?” Ia menjawab, “Aku tidak memiliki persiapan apapun, hanya saja aku mencintai Allah SWT. dan RasulNya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang kau cintai.” Anas berkata, “Tidaklah kami merasa senang kecuali setelah mendengar sabda Nabi, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Aku mencintai Nabi saw, Abu Bakar ra. serta Umar ra.. Aku berharap agar dapat dikumpulkan beserta mereka, walaupun aku tidak mampu beramal seperti mereka.”

(4). Diriwayatkan Abu Musa ia berkata, “Aku bersama Rasulullah saw., di salah satu kebun di kota Madinah. Tiba-tiba datang seorang lelaki minta dibukakan pintu, maka Rasulullah saw. berkata, “Bukakan pintu untuk orang itu dan beritakan baginya kabar gembira berupa surga. Maka aku buka pintu dan ternyata orang itu adalah Abu Bakar. Segera aku beritahukan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw. untuknya. Abu Bakar mengucapkan pujian kepada Allah SWT.. Tak lama setelah itu datang seseorang minta diberi izin masuk, maka Rasulullah saw. berkata, “Bukalah pintu dan beritakan baginya berita gembira berupa surga.” Aku segera membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Umar ra., maka aku beritahukan kepadanya apa yang dikatakan Nabi untuknya. la juga mengucapkan pujian kepada Allah SWT.. Kemudian datang lagi seseorang ingin masuk, maka Rasulullah saw. berkata padaku, “Bukakan pintu untuknya dan beritakan kabar gembira kepadanya berupa surga dan berita musibah yang kelak akan menimpanya.” Ketika aku membuka pintu ternyata orang tersebut adalah Utsman, maka aku segera memberitakan kabar gembira untuknya dan

berita musibah yang kelak akan menimpanya, maka dia memuji Allah SWT. dan berkata, “Allah al-Musta ‘aan (hanya kepada Allah SWT. aku memohon pertolongan).

2) Keutamaan Ilmu Umar ra.

Diriwayatkan dari az-Zuhri dia berkata, Aku diberitahukan oleh Hamzah292 dari bapaknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika aku tidur maka aku bermimpi meminum yaitu susu hingga aku melihat bekas-bekas susu tersebut melekat pada kuku-kukuku kemudian aku berikan kepada Umar.” Mereka bertanya, “Apa takwilnya wahai Rasulullah saw.?” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Ilmu.”

3) Luasnya Penyebaran Islam Pada Masa Umar ra.

D iriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek, maka datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan terlihat dia begitu lemah menarik timba tersebut -semoga Allah SWT. mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khaththab ra.mengambil air sebanyak-banyaknya, aku tidak pernah melihat seseorang pemimpin abqari293 yang begitu gesit hingga seluruh manusia dapat minum sepuasnya dan memberikan minum unta-unta mereka.”

4) Kemuliaan dan Kekuatan Kaum Muslimin dengan Keislaman Umar ra.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami menjadi kuat sejak Umar ra. masuk Islam.

5) Kedekatan Umar ra. dengan Rasulullah saw. Sehingga la Selalu Mengiringi Rasulullah saw.

(1)Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar ra. ditidurkan di atas kasurnya, sementara manusia berada di sekelilingnya mendoakan dirinya sebelum diangkat -ketika itu aku hadir di antara mereka- aku terkejut ketika seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan doa untuk Umar ra. semoga dirahmati Allah SWT., kemudian Ali berkata, “Engkau tidak pernah meninggalkan seorang yang dapat menyamai dirimu dan karya yang engkau hasilkan. Aku berharap dapat menjadi seperti dirimu ketika akan menghadap Allah SWT.. Demi Allah aku merasa yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu dengan kedua sahabatmu (Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra., pent.).

(2)Aku banyak mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Aku berangkat bersama Abu Bakar ra. dan Umar ra., aku masuk bersama Abu Bakar ra. dan Umar ra., aku keluar bersama Abu Bakar ra. dan Umar ra..”

(3). Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah dia berkata, “Ketika Umar ra. ditikam, ia mengerang kesakitan, maka Abdullah bin Abbas berkata sambil menghiburnya, ‘Wahai Amirul mukminin, bukankah engkau sahabat Rasulullah saw. yang selalu mengiringinya, dan engkau telah berbuat baik dalam persahabatan dengannya. Kemudian engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia rela terhadapmu. Setelah itu engkau menjadi sahabat setia Abu Bakar ra. hingga engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia rela terhadapmu. Kemudian engkau bergaul dengan sahabat-sahabat mereka dengan baik, maka jika engkau meninggalkan mereka, mereka akan rela terhadapmu.’

(4)Umar ra. berkata, ‘Adapun apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Rasulullah saw. dan ridhanya terhadap diriku, itu merupa-kan karunia Allah SWT. terhadapku, dan apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Abu Bakar as-Shiddiq ra. Dan keridhaannya terhadapku itupun merupakan karunia Allah SWT. Yang Mahamulia- terhadapku. Sementara yang engkau lihat tentang kekhawatiranku, itu seluruhnya disebabkan tang-gung jawabku terhadapmu dan para sahabatmu. Demi Allah andai saja aku memiliki emas sepenuh dunia pasti akan aku tebus diriku dengannya dari adzab Allah SWT. Sebelum aku melihat adzab itu datang.”

(5). Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam dia berkata, “Kami bersama Rasulullah saw., ketika itu ia sedang menarik tangan Umar bin al-Khaththab.”

6) Kesungguhan Umar ra. dan Kebaikannya dalam Masalah Harta

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun setelah Rasulullah saw. begitu bersungguh-sungguh dan paling baik dalam menggunakan hartanya hingga wafat selain Umar bin al-Khaththab.”294

7) Umar ra. Adalah Seorang Sahabat yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw., bersabda, “Sesungguhya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya.” Zakaria bin Abi Zaidah menambahkah dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, bersabda Rasululullah : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani lsrail ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan Nabi, jika salah seorang dari umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya.”

8) Kuatnya Agama dan Iman Umar ra.

(1). Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullullah bersabda, “Ketika seseorang sedang mengembala karnbingnya maka tiba-tiba datang serigala menerkam seekor karnbingnya. Pengembala tersebut mengejarnya hingga berhasil mengambil kembali kambing tersebut darinya. Tiba-tiba serigala tersebut menoleh kepadanya dan berkata, “Siapa kelak yang dapat menjaganya ketika tidak ada pengembala selain diriku?” Manusia berkata, “Subhanallah!” Nabi bersabda, “Maka sesungguhnya aku beriman dengan kejadian ini, demikian pula Abu Bakar ra. dan Umar ra..” Padahal ketika itu keduanya tidak berada di tempat tersebut.

(2). Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Ketika tidur aku melihat dalam mimpi seluruh manusia diperlihatkan padaku dan masing-masing mereka mengenakan baju-baju, ada yang mengenakan bajn hingga ke dadanya, ada yang mengenakannya di bawah dada, maka diperlihatkan padaku Umar sementara dia mengenakan pakaian panjang yang diseretseretnya. Mereka bertanya, “Apa takwil mimpi itu wahai Rasulullah saw.?” Rasulullah saw. menjawab, Agamanya.” (yakni kedudukannya dalam agama, pent.).

9) Wibawa Umar ra. dan Setan yang Berusaha Menghindari Jalan yang Ditempuhnya

(1). Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata, “Umar bin al-Khaththab ra. memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rasulullah saw. ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rasululullah. Ketika Umar ra. Masuk mereka segera berdiri dan menurunkan hijab. Setelah diberi izin Umar ra. Masuk ke rumah Rasulullah saw. sementara Rasulullah saw. tertawa. Umar ra. bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah saw.?” Rasulullah saw. menjawab, “Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri menarik hijab.” Umar ra. berkata, “Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani Wahai Rasulullah saw..” Kemudian Umar ra. berbicara kepada mereka, “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rasulullah saw.?” Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah saw..” Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah SWT. yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak kau lalui.”

(2) Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”295

(3). Rasulullah saw. bersabda, ” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar ra. dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.”296

7. CUPLIKAN PERKATAAN UMAR RA. DAN KEADAAN BELIAU

Umar ra. pernah berkata, “Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah SWT. kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”297

Jika menugaskan para gubernurnya, Umar ra. akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar ra. mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.298

Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar ra. akan segera menegurnya dan berkata, “Tutup mulutmu, tutup mulutmu!” Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, “Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.”

Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Adapun Abu Bakar ra., ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak ingin datang menghampiri-nya. Sedangkan Umar ra., dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.” Pernah Umar ra. dicela dan dikatakan kepadanya, “Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran.” Maka Umar ra. berkata, “Sesungguhnya aku telah.meninggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra., pent.) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia, pent.) maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.”299

Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya sementara beliau adalah Khalifah-, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji atupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke hala-man rumah orang.300

Anas berkata, “Antara dua bahu dari baju Umar ra., terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan.301 Ketika melaksana-kan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata kepada anaknya, “Kita terlalu boros dan berlebihan.”

Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.302

Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun sorban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.

Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, “Panggil kemari pemimpin wilayah ini.” Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar ra. berkata padanya, “Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju.” Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, ‘Apa ini?” Dikatakan kepadanya bahwa baju ini dibuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa itu katun?” Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar ra. segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya. Setelah kering beliau mengenakannya kembali. Melihat hal tersebut pemimpin wilayah itu berkata padanya, “Engkau adalah penguasa Arab, di negeri ini tidak pantas seseorang mengendarai unta.” Maka segera dibawakan kepadanya kuda yang bagus. Umar ra. segera melepas pelana dan pedalnya lalu menaikinya. Ketika Umar ra. mulai mengendarainya, kuda tersebut berjalan dengan liar, beliau segera memerintahkan kepada orang yang bersamanya, “Tahan kuda ini! Aku tidak mengira jika orang-orang di sini suka mengendarai setan-setan, tolong berikan untaku kembali!” Setelah itu beliau turun dan kembali mengendarai untanya.303

Diriwayatkan dari Anas ia berkata, “Aku pernah bersama Umar ra., kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat -sementara jarak antara aku dan dirinya hanyalah pagar kebun- aku dengar ia berkata sendiri, “Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul mukminim, ya… engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah SWT. Hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah SWT. pasti akan mengadzabmu.”304

Disebutkan bahwasanya Umar ra. pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya.”

Pernah beliau melaksanakan Shalat Isya’ bersama kaum muslimin, setelah itu

beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan shalat hingga fajar tiba.” Pada waktu tahun paceklik dan kelaparan beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah SWT. dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.305

Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Suatu ketika Umar ra. keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, “Mengapa lelaki ini (Umar ra.) datang ke rumahmu?” Wanita itu menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku.” Aku berkata kepada diriku, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar ra.?”

Aslam Maula Umar berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar ra. berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?’ Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’ Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar ra. Mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar ra. menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah SWT. dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.’ Kemudian Umar ra. kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi. Setelah itu Umar ra. kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar ra. segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?’ Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.’ Umar ra. bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?’ Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar ra. hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.’ Umar ra. bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?’ Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja.’ Maka Umar ra. berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya? Maka ketika shalat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.

Beliau berkata, ‘Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.’ Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.’ Umar ra. segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.”306

Aslam berkata, “Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ra. ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menagis. Umar ra. Bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, ‘Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedang tidak memiliki apapun.’ Umar ra. menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib istrinya-, dan berkata, ‘Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah SWT. karuniakan kepadamu?’ Segera Umar ra. memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, ‘Ya, aku akan membantunya.’ Umar ra. segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar ra. duduk bersama suaminya yang tidak mengenal Umar ra.sambil berbincang-bincang. Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar ra., ‘Wahai Amirul mukminin sampaikan berita gembira

kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar ra.. Namun Umar ra. berkata kepadanya, ‘Tidak mengapa.’ Setelah itu Umar ra. memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.”

Aslam berkata, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ra.ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar307 kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar ra. berkata, ‘Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.’ Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis, Umar ra. bertanya, ‘Assalamu alaiki wahai pemilik api.’ Wanita itu menjawab, ‘Wa alaika as-Salam’, Umar ra. berkata, ‘Kami boleh mendekat?’ Dia menjawab, ‘Silahkan!’ Umar ra. segera mendekat dan bertanya, ‘Ada apa gerangan dengan kalian?’ Wanita itu menjawab, ‘Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan.’ Umar ra. kembali bertanya, ‘Kenapa anak-anak itu menagis?’Wanita itu menjawab, ‘Karena lapar.’ Umar ra. kembali bertanya, ‘Apa yang engkau masak di atas api itu?’ Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka

hingga tertidur. Dan Allah SWT. kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar ra..’ Maka Umar ra. menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. la segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, ‘Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku.’

Aslam berkata, ‘Biar aku saja yang membawanya untukmu.’ Umar ra. menjawab, ‘Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?’ Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wania itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar ra. berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar ra. menurunkan periuk dari atas api dan berkata, ‘Berikan aku piring kalian!’. Setelah piring diletakkan segera Umar ra. menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, ‘Makanlah!’ Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar ra. Agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar ra.. Umar ra. masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar ra. memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar ra. Berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membu-at mereka begadang dan tidak dapat tidur’.”308

8. KISAH TERBUNUHNYA UMAR RA.

Ringkasnya, ketika Umar ra. selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H beliau sempat berdoa kepada Allah SWT. di Abthah, mengadu kepada Allah SWT. tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan ia takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah SWT. agar Allah SWT. mewafatkannya309 dan berdoa agar Allah SWT. memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah (yaitu Madinah, sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim bahwa Umar ra. pernah berkata, “Ya Allah, aku bermohon kepadamu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di tanah NabiMu.”310 Maka Allah SWT. mengabulkan doanya ini dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Maha lembut kepada hambaNya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz -seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi-311 ketika Umar ra. shalat di mihrab pada waktu Subuh hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 H dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’lu’ah menikamnya tiga tikaman ada yang mengatakan enam tikaman-, satu di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau312 akhirnya Umar ra. Jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam

shalat. Kemudian orang kafir itu (Abu Lu’lu’ah) berlari ke belakang, sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas.313 Maka segera Abdullah bin Auf314 menangkapnya dengan melemparkan humus (baju panjang yang memiliki penutup kepala, pent.) untuk menjeratnya, kemudian Abu Lu’lu’ah bunuh diri, semoga Allah SWT. melaknatnya.

Waktu itu Umar ra. segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya. Hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar ra. berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, kemudian orang-orang mengingatkannya shalat, beliau sadar sambil berkata, “Ya aku akan shalat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian beliau shalat, setelah shalat beliau bertanya siapa yang menikamnya?”

Mereka menjawab, “Abu Lu’lu’ah budak al-Mughirah bin Syu’bah.” Beliau berkata, “Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah SWT. sekalipun.” Kemudian Umar ra. berkata, “Semoga Allah SWT. memberikan kejelekan baginya, kami telah menyuruhnya suatu perkara yang baik. Al-Mughirah memberinya gaji sebanyak dua dirham per hari, kemudian ia menuntut Umar ra. agar gaji budaknya itu ditambah karena budaknya memiliki banyak keahlian dan merangkap beberapa profesi, yaitu sebagai tukang kayu, pemahat dan tukang besi, maka Umar ra. menaikkan gajinya menjadi 100 dirham perbulan. Umar ra. berkata padanya, “Kami dengar bahwa dirimu mampu membuat penumbuk gandum yang berputar di udara (kincir)?” Abu Lu’lu’ah menjawab, “Demi Allah aku akan memberitahukan kepadamu tentang penumbuk gandum yang akan menjadi pembicaraan manusia di timur dan barat-percakapan ini terjadi pada hari selasa di malam hari dan ternyata dia menikamnya tepat pada hari Rabu di pagi hari pada 25 Dzulhijjah.

Kemudian Umar ra. mewasiatkan agar penggantinya yang menjadi Khalifah dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah saw. wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yaitu, Utsman ra., Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash Beliau tidak menyebutkan Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail al-Adawi, sebab Sa’id berasal dari kabilah Umar ra. dan dikhawatirkan kelak dirinya terpilih disebabkan kekerabatannya yang dekat dengan Umar ra.. Umar mewasiatkan kepada siapa yang akan menggantikannya untuk berbuat yang terbaik kepada seluruh manusia dengan berbagai macam tingkatan mereka. Akhirnya Umar ra. wafat tiga hari setelah peristiwa itu, beliau dikebumi-kan pada hari Ahad di awal bulan Muharrarm tahun 24 H dan dikebumikan di Kamar Nabi di samping Abu Bakar ash-Shiddiq, setelah mendapat izin dari Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. Al-Waqidi berkata, “Aku diberitahukan oleh Abu Bakar bin Ismail bin Muhammad bin Sa’ad dari ayahnya dia berkata, ‘Umar ra. ditikam pada hari Rabu 25 Dzulhijjah tahun 23 H. Masa kepemimpinannya selama 10 tahun 5 bulan 21 malam, sementara pelantikan Utsman ra. terjadi pada hari senin pada tanggal 3 Muharram, ketika aku sebutkan hal ini pada Utsman bin Akhnas, dia berkata, ‘Engkau keliru’. Umar ra. wafat 25 Dzulhijjah dan Utsman ra. dilantik pada malam terakhir dari bulan Dzulhijjah. Dengan demikian, ia memulai kekhalifahannya pada awal bulan Muharram tahun 24 H.”315

Abu Ma’syar berkata, “Umar ra. Terbunuh pada tanggal 25 bulan Dzulhijjah tepat di penghujung tahun 23 H. Masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu Utsman ra. dibai’at316 menjadi khalifah. Ibnu Jarir berkata, “Aku diberitahukan oleh Hisyam bin Muhammad dia berkata, ‘Umar ra. terbunuh pada tanggal 23 bulan Dzulhijjah dan masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan dan empat hari’.”317

9. Riwayat AI-Bukhari Tentang Peristiwa Terbunuhnya Umar ra.318

Al-Bukhari berkata, “Kami diberitahukan oleh Musa bin Ismail, dia berkata, kami diberitahukan oleh Abu ‘Awanah dari Husain dan Amru bin Maimun, dia berkata, aku pernah melihat Umar bin al-Khaththab ra.beberapa hari sebelum dirinya terbunuh, di Madinah sedang berbicara kepada Hudzaifah bin al-Yaman dan Utsman bin Hunaif, ia berkata, ‘Apa yang telah kalian perbuat? Apakah kalian takut telah membebani pajak bumi yang memberatkan dan tidak sanggup dibayar pemiliknya?’ Keduanya menjawab, ‘Kami mem-bebani pajak bumi dengan sepantasnya, tidak terlalu banyak.’ Umar ra. berkata, ‘Hendaklah kalian berdua meninjau ulang, jangan-jangan kalian telah mem-bebani pajak bumi yang tidak sanggup dipikul oleh para pemiliknya.’ Keduanya berkata, ‘Tidak.’ Umar ra. melanjutkan, ‘Jika Allah SWT. masih memberikan kepadaku umur yang panjang, maka akan aku tinggalkan para janda-janda di Irak dalam keadaan tidak lagi membutuhkan para pria setelah aku wafat’.” Empat hari setelah itu beliau terbunuh. Amru bin Maimun berkata, “Pada pagi terbunuhnya Umar ra. aku berdiri dekat sekali dengan Umar ra.. Peng-halang antara aku dan beliau hanyalah Abdullah bin Abbas. Kebiasaannya jika beliau berjalan di sela-sela shaf beliau selalu berkata, ‘Luruskan.’ Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus beliau maju dan mulai bertakbir. Pada waktu itu mungkin beliau sedang membaca surat Yusuf atau an-Nahl atau-pun surat yang lainnya pada rakaat pertama hingga seluruh jama’ah hadir berkumpul. Ketika beliau bertakbir tiba-tiba aku mendengar beliau menjerit, ‘Aku dimakan anjing (aku ditikam).’

Ternyata beliau ditikam oleh seorang budak, kemudian budak kafir itu lari dengan membawa pisau belati bermata dua. Setiap kali melewati orang-orang dia menikamkan belatiya ke kanan maupun kiri hingga menikam 13 orang kaum muslimin dan 7 di antara mereka tewas. Ketika salah seorang dari kaum mulimin melihat peristiwa itu ia melemparkan humus (baju ber-penutup kepala) untuk menangkapnya. Ketika budak kafir itu yakin bahwa dia akan tertangkap dia langsung bunuh diri. Umar ra. segera menarik tangan Abdurrahman dan meyuruhnya maju menjadi imam. Siapa saja yang berdiri di belakang Umar ra. pasti akan melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada di sudutsudut masjid, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi hanya saja mereka tidak lagi mendengar suara Umar ra., di antara mereka ada yang mengatakan, ‘Subhanallah.’

Maka akhirnya Abdurrahman yang menjadi imam shalat mereka dan ia sengaja memendekkan shalat. Selesai orang-orang mengerjakan shalat, Umar ra. berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas lihatlah siapa yang telah menikamku.’ Ibnu Abbas pergi sesaat kemudian kembali sambil berkata, ‘Pembunuhmu adalah budak milik al-Mughirah’. Umar ra. bertanya, ‘Budaknya yang lihai bertukang itu?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Ya.’ Umar ra. berkata, ‘Semoga Allah SWT. membinasa-kannya, padahal aku telah menyuruhnya kepada kebaikan, Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Islam, engkau dan ayahmu (Abbas) menginginkan agar budak-budak kafir itu banyak tinggal di Madinah’.”

Pada waktu itu Abbas yang paling banyak memiliki budak, Abbas pernah berkata kepada Umar ra., “Jika engku mau budak-budak itu akan kami bunuh.” Umar ra. menjawab, “Engkau salah, bagaimana membunuh mereka setelah mereka mulai berbicara dengan menggunakan bahasa kalian, shalat menghadap ke arah qiblat kalian dan melaksanakan haji sebagaimana kalian melaksanakannya?” Umar ra. segera dibawa ke rumahnya. Kami berangkat bersama-sama mengikutinya. Seolah-olah kaum muslimin tidak pernah mendapat musibah sebelumnya, ada yang berkomentar, “Lukanya tidak parah.” Dan ada juga yang berkata, “Aku khawatir ia akan tewas.” Setelah itu dibawakan kepada-nya minuman nabidz dan ia meminumnya, tetapi minuman tersebut keluar kembali dari perutnya yang ditikam. Kemudian dibawakan kepadanya susu dan ia meminumnya, namun susu tersebut tetap keluar lagi dari bekas lukanya, maka yakinlah mereka bahwa Umar ra. tidak tertolong lagi dan ia pasti akan tewas, maka kami masuk menjenguknya, sementara orang-orang berdatangan mengucapkan pujian atas dirinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda dan berkata, “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan berita gembira dari Allah SWT. untukmu, engkau adalah sahabat Rasulullah saw., pendahulu Islam, engkau menjabat pemimpin dan engkau berlaku adil, kemudian engkau diberikan Allah SWT. syahadah (mati Syahid).” Umar ra. menjawab, ‘Aku ber-harap seluruh perkara yang engkau sebutkan tadi cukup untukku, tidak lebih ataupun kurang.”

Tatkala pemuda itu berbalik ternyata pakaiannya terjulur hingga menyentuh lantai. Umar ra. memanggilnya dan berkata, “Wahai saudaraku, angkatlah pakaianmu sesungguhnya hal itu akan lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menaikkan ketaqwaanmu kepada Rabbmu. Wahai Abdullah bin Umar ra. Lihatlah berapa hutangku.” Mereka hitung dan ternyata jumlahnya lebih kurang sebanyak 86.000. Umar ra. berkata, “Jika harta keluarga Umar ra. cukup untuk melunasinya maka bayarlah dari harta mereka, jika belum juga lunas mintalah kepada Bani Adi bin Ka’ab dan jika ternyata belum juga cukup maka mintalah pada kaum Quraisy dan jangan minta kepada selain mereka. Maka tunaikan hutang-hutangku, berangkatlah engkau sekarang ke rumah Aisyah ummul mukminin- dan katakan, “Umar ra. menyampaikan salam kepadanya dan jangan kau katakan salam dari Amirul mukminin, sebab sejak hari ini aku tidak lagi menjadi Amirul mukminin, katakan kepadanya bahwa Umar bin al-Khaththab ra.minta izin agar dapat dimakamkan di samping dua sahabatnya. Maka Abdullah bin Umar ra. Segera mengucapkan salam dan minta izin masuk kepada ‘Aisyah ra., dan ternyata ia sedang duduk menangis. Abdullah bin Umar ra. berkata, “Umar bin al-Khaththab ra.mengucapkan salam untukmu dan ia minta izin agar dapat dimakamkan di sisi kedua sahabatnya.” Aisyah menjawab, “Sebenarnya aku menginginkan agar tempat tersebut menjadi tempatku kelak jika mati, namun hari ini aku harus mengalah untuk Umar ra..”

Ketika Abdullah bin Umar ra. kembali, maka ada yang mengatakan, Lihatlah Abdullah bin Umar ra. telah datang. Umar ra. berkata, “Angkatlah aku.” Salah seorang menyandarkan Umar ra. ke tubuh anaknya Abdullah bin Umar ra.. Umar ra. bertanya kepadanya, “Apa berita yang engkau bawa?” Dia menjawab, “Sebagaimana yang engkau inginkan wahai Amirul mukminin, Aisyah telah mengizinkan dirimu.” (dimakamkan di sisi dua sahabatmu, pent.) Maka Umar ra. berkata, “Alhamdulillah, tidak ada yang lebih penting bagiku selain dari itu, jika aku wafat maka bawalah jenazahku ke sana dan katakan, ‘Umar bin al-Khaththab ra.minta izin untuk dapat masuk, jika ia memberikan izin maka bawalah aku masuk, tetapi jika ia menolak, maka bawalah jenazahku ke pemakaman kaum muslimin.” Tiba-tiba datanglah Hafshah beserta rombongan wanita, ketika kami melihat ia masuk maka kami segera berdiri menghindar, Hafshah duduk di sisinya dan menangis beberapa saat, tak berapa lama datang rombongan lelaki minta izin untuk dapat menjenguk Umar ra., maka segera Hafshah masuk ke dalam sambil mem-persilahkan rombongan lelaki menjenguk Umar ra.. Sementara kami masih mendengar isak tangisnya dari dalam. Orang-orang berkata, “Berilah wasiat wahai amirul mukminin, pilihlah penggantimu!” Umar ra. berkata, “Aku tidak mendapati ada orang yang lebih berhak untuk memegang urusan ini (menjadi khalifah) selain dari enam orang yang Rasulullah saw. rela atas mereka ketika wafatnya.” Umar ra. menye-butkan nama mereka, Ali, Utsman ra., az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman.

Beliau berkata, “Yang menjadi saksi kalian adalah Abdullah bin Umar ra., dan ia

tidak berhak dipilih. Jika kelak yang terpilih Sa’ad maka dia berhak untuk itu, jika tidak maka hendaklah kalian memintanya agar menunjuk siapa yang berhak di antara kalian, sebab aku tidak pernah mencopotnya disebabkan dia berkhianat ataupun kelemahannya. Aku wasiatkan kepada Khalifah setelahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang terdahulu keislamannya, hendaklah dijaga dan diperhatikan hak-hak maupun kehormatan mereka. Aku juga wasiatkan kepada penggantiku kelak agar memperhatikan kaum Anshar sebaik mungkin.

Merekalah orang-orang yang telah menyiapkan kampung halaman beserta rumah mereka untuk menampung kaum Muhajirin dan orang-orang yang beriman. Hendaklah kebaikan mereka dihormati dan diterima dengan baik, dan kejelekan mereka hendaklah dimaafkan. Aku wasiatkan kepada pengantiku untuk memperhatikan seluruh penduduk kota sebab mereka adalah para penjaga Islam,pemasok harta dan pagar pelindung terhadap musuh. Janganlah diambil dari mereka kecuali kelebihan dari harta mereka dengan kerelaan hati mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar memperhatikan dengan baik orangorang Arab pedalaman, sebab mereka adalah asalnya bangsa Arab dan personil Islam. Hendaklah dipungut dari mereka zakat binatang ternak mereka dan disalurkan kepada orang-orang yang miskin dari mereka.

Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar menjaga seluruh ahli dzimmah. Hendaklah perjanjian maupun kesepakatan dengan mereka tetap dipelihara. Dan yang diperangi itu hendaklah orang-orang kafir selain mereka (selain ahli dzimmah). Janganlah mereka dibebani dengan hal yang tidak dapat mereka pikul.”

Ketika Umar ra. wafat maka kami keluar membawa jenazahnya menuju rumah ‘Aisyah ra., Abdullah bin Umar ra. mengucapkan salam sambil berkata, “Umar ra. bin al-Khaththab ra.minta izin agar dapat masuk.” ‘Aisyah ra. menjawab, Bawalah ia masuk.” Maka jenazah Umar ra. dibawa masuk dan dikebumikan di tempat itu bersama kedua sahabatnya.319

10. Umurnya Ketika Wafat

Masih diperselisihkan berapa usia Umar ra. ketika ia wafat, dalam masalah mi terdapat sepuluh pendapat. Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan Sembilan pendapat saja dengan memulai pendapat yang didahulukan oleh Ibnu Jarir dalam tarikhnya.

Ibnu Jarir berkata, “Kami diberitahukan oleh Zaid bin Akhzam ia berkata, Kami diberitahukan oleh Abu Qutaibah dari Jarir bin Hazim dari Ayyub dari Xafi’ dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata, “Umar ra. terbunuh ketika berusia 55 tahun, ad-Darawardi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra.. Demikian pula Abdur Razzaq mangatakan yang sama dari riwayat Ibnu Juraij dari az-Zuhri, adapun Ahmad meriwayatkanya dari Hasyim dari Ali bin Zaid dari Salim bin Abdullah bin Umar ra..320

Setelah itu ia menyebutkan pendapat lain, “Diriwayatkan dari Amir as-Sya’bi, dia berpendapat, “Ketika Umar ra. wafat ia berusia enam puluh tiga tahun.”321 Menurutku, inilah pendapat yang masyhur. Ia juga menyebutkan pendapat al-Madaini, “Umar ra. wafat ketika berusia lima puluh tujuh tahun.”322

279 Hal ini telah disebutkan oleh ath-Thabari, 4/195 dari jalan Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih bersumber dari az-Zuhri,

dengan lafazh ‘Telah sampai kabar kepadaku…’, lihat pula ath-Thabaqatal-Kubra 3/270 di sini dia sebutkan dengan sanad

dari jalan al-Waqidi dari ‘Aisyah ra. %?& bahwa Nabi s^ yang telah memberi gelar al-Faruq kepada Umar, dan al-Waqidi

sendiri

dinilai matruk (ditinggalkan beritanya, pent.) oleh kalangan al-Muhadditsin. Ibnu Sa’ad mengeluarkan dengan jalan yang

mursal bahwa Rasulullah saw. 3Sg bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di atas lidah Umar dan di atas

hatinya,

dialah al-Faruq.” Ath-Thabaqat al-Kubra 3/ 270, lihat juga Fathul Bah7/44.

280 Inilah yang disebutkan oleh beliau -semoga Allah SWT. merahmatinya- adapun yang disebutkan oleh para ulama nasab

dan para

penulis tarajum (biografi) ibu Umar adalah Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah, saudara dari Hisyam bin al-Mughirah,

dengan itu Abu Jahal adalah anak pamannya, lihat Nasab Quraisy karya az-Zubairi 103, 347, dan Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/265,

dan jamharatu Ansab al-Arab karya Ibnu Hazm him. 44, al-Istl’abkarya Ibnu Abdil Bar him. 1144, dia memperingatkan

kekeliruan yang tersebar bahwa Ibu Umar adalah binti Hisyam.

281 Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqatnya menukil dari al-Waqidi 3/324 bahwa dia pernah berkata, tidak pernah kami

ketahui

bahwa Umar berkulit kuning -kecuali jika orang yang memberikan kriteria Umar- melihatnya pada masa peceklik, pada

masa

itu warna Umar berubah disebabkan hanya memakan minyak selalu. Ibnu Abdil Bar telah membantah perkataan al-Waqidi,

dia berkata, “Ini adalah perkataan yang harus di ingkari.” {al-Isti’ab 1146).

282 Lihat Thabaqat Sa’ad 3/324, dan Tarikh ath-ThabarAf 196. Kata A’sara Yusran yaitu orang yang bekerja dengan dua

tangannya sebagaimana terdapat dalam Lisan al-Arab 4/196, dan kata AsynabulAsnan artinya yaitu giginya sangat putih

mengkilat, ibid, 1/507.

283 Lihat Nasab QuraisyWm. 349

284 Lihat Ibn Hajar, al-Ishabah 8/193.

285 Dalam Tarikh ath-Thabari, 4/199, Kakak Ashim dan itulah yang benar, lihat pula Nasab Quraisykarya az-Zubairi him.

349. dia

berkata, “Dari hasil pernikahan dengannya Umar mendapatkan anak bernama Ashim.” Lihat ThabaqatIbn Sa’ad 3/265.

286 Dalam teks aslinya tertulis Ibn Abi Mulaikah, dan perbaikan ini dari Tarikh ath-Thabari 4/199, dan lihat mengenai

pernikahan

Umar pada Kejadian tahun 12 H di dalam al-Bidayah wan Nihayah, 6/352.

287 Sebagaimana yang dikatakan oleh az-Zubairi dalam Nasab Quraisyhlm. 349.

288 Lihat Nasab QuralsyHm. 349.

289 Pernah menjadi pemimpin atas pasukan Turban yang diutus ke Ajz Hawazin, (Sirah ibn Hisyam 4/341).

290 Pada masanya banyak sekali terjadi penaklukan-penaklukan.

291 Seluruh nas dari no. 1 s/d 15 adalah tambahan yang tidak terdapat dalam naskah asli, seluruhnya dari Shahih al-Bukhari

kitab Fadhail Shahabah, bab Manaqib Umar (7/ 40-43 dari Fathul Ban) sengaja saya nukil di sini Karena saya anggap begitu

penting dan shahih, sementara al-Hafizh Ibn Katsir tidak menukil kecuali bagian terakhir saja, dia telah mengisyaratkan untuk

meruju’ ke kitab yang dikarangnya secara khusus mengenai biografl Umar 4fa dan hadits-hadtts yang diriwayatkan dari

dirinya, dan kitab ini ditulis dalam dua jilid sebagaimana yang dikatakannya.

292 Yaitu Hamzah bin Abi Usaid Malik bin Rabi’ah al-Ansari as-Sha’idi, biografinya dapat di lihat dalam Tahdzib at-

Tahdzib, 3/26

293 Al-Gharbu, yaitu ember yang sangat besar sekali, dan Abqari’ atau kaum yaitu pemimpin mereka yang paling kuat {An-

Nihayah Gharib al-Haditst3/349, 173 secara berturut-turut).

294 Al-Hafizh Ibn Hajar berkata dalam Fathul Ban, 7149‘ Perkataan Ibn Umar khusus berlaku ketika masa pemerintahan

Umar.” dari Penduduk bumi dan dua menteri dari penduduk langit…” dst. Sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami dalam Majma

az-Zawaid, 9/51 yang telah dikeluarkan oleh ath-Thabrani dari Hadits Ummu Salamah dan di dalam sanadnya terdapat

Muhammad bin Mujib ats-Tsaqafi yang tertuduh sebagai pendusta. Adapun riwayat ibnu Abbas telah dikeluarkan pula oleh

at-Tirmidzi sebagaimana yang terdapat dalam Dhaif al-Jami’ ash-Shaghir, Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini lemah.”

Dia mengisyararatkan untuk meruju’ ke kitabnya Silsilah al-Ahaditst ad-Dhaifah, no. 3056. Adapun hadits, “Sesungguhnya

setan ketakutan terhadap Umar.” terdapat syahicfaya dalam hadits yang ke 15, dan diriwayatkan secara Mauquf‘dari Ibnu

Mas’ud dengan sanad yang hasan sebagaimana yang terdapat dalam Fadhail Shahabah karya al-Imam Ahmad No. 46

295 Sebelum ini Ibnu Katsir membawakan sebuah badits dari jalan Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku memiliki dua menteri

296 Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab al-Manaqib (hadits no. 3791) dari hadits Abu Qilabah dari Anas, dan dia berkata,

“Hadits hasan shahih, dan dikeluarkan pula oleh imam Ahmad dalam Musnad, 3/184, dan dishahihkan oleh as-Syaikh

Nasiruddin al-Albani dalam Sahih al-Jami’, no. 908, dan dalam Silsilah al-al-Ahadits ash-Shahihah No. 1224

297 Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, 3/275 dengan sanad yang shahih

298 Ibnu Sa’ad menyebutkan hal yang senada dan ringkas di dalam ath-Thabaqat, 3/207 dari jalan al-Waqidi dan dikeluarkan

oleh ath-Thabari dalam Tarikh nya, 4/207 dengan sanad la ba’sa bih (tidak mengapa).

299 Ath-Thabaqat al-Kubra, 21271 dengan redaksi yang mirip dari jalan Hafsah l^s», bandingkan dengan Tarikh ath-

Thabari, 3/617, dan Ibnul 3auzi, 4/198.

300 Ibid3/330

301 Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari jalan-jalan yang sahih bersumber dari riwayat Anas. (Ath- Thabaqat

al-Kubra, 3/328).

302 Ibnu Sa’ad mengeluarkan yang senada dalam ath-Thabaqat, 3/279.

303 Lihat Ibn Jauzi, Manaqib Umar, Him. 151.

304 Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 3/292 dengan sanad yang shahih

305 Lihat Tafsir al-Quran al-Azhim karya Ibn Katsir, 7/4Q7, ketika menafsirkan ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya

Adzab Rabbmu pasti akan terjadi.” Lihat pula ad-Durar al-Mantsur karya as-Suyuti, 6/118.

306 Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, 3/302 dengan sanadnya dari jalan Abdullah bin Umar.

307 Shirar adalah sebuah sumur yang berjarak sekitar 3 mil dari kota Madinah, menghadap ke kampung. (Mu’jam al-Ma’alim

al-Jughrafiyah, 175).

308 Dikeluarkan oleh Ahmad dalam kitab Fadhailas-Shahabah, no. 382 dan Muhaqq/q kitab itu berkomentar, “sanadnya

Hasan.”

Lihat Tarikh ath-Thabari, 4/ 205-206.

309 Ibnu Sa’ad juga megeluarkan semakna dengan ini dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 3/335.

310 Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab FadhailMadinah, bab Karahiyatu an-Nabian Tu’ra al-Madinah, (4/100

Fathul Bari).

311 Ath-Thabari berkata 4/190, “Dia beragama Nasrani,” dalam jilid 4/190 dia berkata, “Abu Lu’luah berasal dari Nahawand,

setelah itu dia ditawan orang Romawi, setelah itu dia ditawan oleh tentara kaum muslimin.”

312 As-Sifaq yaitu daerah sekitara pusar berupa kulit yang tipis yang terletak di bawah kulit luar dan di atas daging.

{Lisanu/Arab10/203).

313 Dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/337 dari riwayat Hushain dari Amr bin Maimun bahwa yang terbunuh sembilan orang,

Dan mungkin itu adalah kekeliruan, sebab yang terdapat dalam Shahih al- Bukhari sebagaimana kelak akan diterangkan hanya

tujuh orang yang tewas, dan riwayat ini dari Hushain dari Amr dari Maimun.

314 Al-Hafizh Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari, 7/ 63, -‘Di dalam Zail al-Istiab karya Ibn Fathun dari jalan Sa’id bin

Yahya al-

Umawi dengan sanadnya dia berkata, “Ketika melihat tragedi ini maka salah seorang dari Muhajirin yang bernama Hatthan

at-Tamimim al-Yarbu’i melemparkan mantelnya.” Dan dikatakan bahwa Riwayat ini yang paling shahih dibandingkan

riwayat

Ibnu Sa’ad yang memiliki sanad dhaif dan munqati’ yang menyatakan bahwa lelaki itu adalah Abdullah bin ‘Auf, yang

kemudian memenggal kepalanya, dia berkata, “3ika jalan ini benar maka bisa jadi kedua orang ini sama-sama bersekutu

dalam membunuhnya.”

315 Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/365, Tarikh ath-Thabari, 4/193.

316 Tarikh ath-Thabari, 4/194.

317 Ibid.

318 Tulisan ini adalah tambahan dari naskah aslinya, sengaja kita sebutkan karena begitu pentingnya isi dalamnya dan

sekaligus bersumber dari jalan yang shahih.

319 Kitab Fadhail Shahabah, Bab Qissatul Bai’ah, (7/59 dari Fathut Ban).

320 Tarikhath-Thabari,4l\97

321 Ibid 4/198, Ibnu Sa’ad menyebutkan hal yang semakna dalam Thabaqat, 3/365 dari dua jalan Dari Abu Ishaq as-Sabi’iy

dan Amir Ibnu Sa’ad dari Jarir bahwa dia pernah mendengar Muawiyah berkata, “Umar wafat ketika berusia enam puluh

tiga tahun.” Al-Waqidi berkata, “Hadits ini tidak kami ketahui pernah terdengar di Madinah, pendapat yang paling kuat

menurut kami bahwa dia wafat ketika berusia enam puluh tahun.” Menurutku, Isnad Ibnu Sa’ad lemah di dalamnya terdapat

Hariz Maula Muawiyah, berkata al-Hafizh mengenai diri perawi ini dalam at-Taqrib no. 1195, “Dia majhul(tidak di kenal)

dari thabaqah ke tiga.

322 Lihat Tarikh ath-Thabari, 4/ 198, kukatakan, “Pendapat al-Madaini sesuai dengan apa pendapat pengarang bahwa

umurnya ketika masuk Islam dua puluh tujuh tahun, tepatnya enam tahun setelah Rasul di utus.( 27+7+23=57).”

One Response to “BIOGRAFI UMAR BIN Al-KHATHTHAB RA.”

  1. […] https://hbis.wordpress.com/2010/02/01/biografi-umar-bin-al-khaththab-ra/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: