MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Al-Hajjaj dan Kontribusinya Kepada Mushaf Uthmani

Posted by Bustamam Ismail on January 31, 2010

Setelah Khalifah ‘Uthman, kita sekarang bisa mengalihkan pandangan kita ke al-Hajjaj bin Yusuf ath-Thaqafi (w. 95 Hijrah), Gubernur Irak pada zaman Khalifah Umayyah dan seorang yang cukup terkenal dengan kejahatannya. Keberanian, pemerintahan tangan besinya telah menjadi simbol kebenaran dalam sejarah Irak. Yang ironisnya dia juga berperan dalam pengabdian kepada Al-Qur’an, walaupun dia tidak kurang musuh dalam hal ini. Ibn Abi Dawud mengutip ‘Auf bin Abi Jamila (60-146 Hijrah) menyatakan bahwa al-Hajjaj mengubah Mushaf ‘Uthmani dalam sebelas tempat.67 Penelitian mengungkapkan bahwa ‘Auf, walaupun seorang jujur, mempunyai kecenderungan kepada shi’ah dan anti Umayyah.68 AI-Hajjaj, salah satu pemimpin pasukan tentara Umayyah yang terkuat, mempunyai target dalam kepemimpinannya; semua laporan yang dibuat oleh musuh harus dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya. Tambah lagi Mu’awiyah (pemimpin pertama kerajaan Umayyah) memerangi ‘Ali atas tuduhan kasus pembunuhan `Uthman, dan ini membuat al-Hajjaj mengubah Mushaf `Uthmani khususnya yang tidak bisa dipercayai, yang ia akan menjelekkan Khilafah Ummayyah.

Apa pun juga kebenarannya, di bawah ini daftar kata-kata yang telah, dituduhkan, diubah oleh al-Hajjaj.69 Jauh sebelum ‘Auf bin Abi Jamila menuduh al-Hajjaj, ilmuwan-ilmuwan telah berdebat tentang naskah Mushaf ‘Uthmani yang resmi dan dengan teliti membandingkannya huruf demi huruf; perbedaan yang disebutkan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu tidak sesuai dengan perbedaan yang disebutkan oleh `Auf. Mushaf yang dibuat oleh ‘Uthman tidak terdapat titik,70 dan hingga pada zaman al-Hajjaj, titik tidak digunakan di mana-mana. Ada beberapa kata di tabel alas tadi, yang jika titiknya dibuang, tetap sama identiknya.71 Kemudian jika tidak ada titik dan kerangka huruf sama, bagaimana dia bisa memodifikasi kata-kata ini?72 Tidak ada satu pun yang diklaim ada perubahan mengandung makna lain ayat tersebut, dan tuduhan itu sendiri (berdasarkan kepada yang di atas) kelihatannya tidak berdasar.73 Kasus di bawah ini, disebutkan oleh Ibn Qutaib, mungkin memberikan clue (indikasi) kepada interpretasi lain.

Berdasarkan laporan ‘Asim al-Jahdari, al-Hajjaj menunjuk dia, Najiya bin Rimh, dan ‘All bin Asma` untuk memeriksa Mushaf dengan tujuan untuk menyobek semua mushaf yang berbeda dengan Mushaf `Uthmani. Pemilik Mushaf seperti itu akan mendapatkan kompensasi 60 dirham.74Beberapa Mushaf seperti ini mungkin bisa tidak dirusak, setelah dibetulkan dengan menghapuskan tinta lama dan menuliskan lagi di kertas kulit yang kosong. Beberapa orang mungkin salah menginterpretasikan perbuatan ini seperti usaha al-Hajjaj untuk mengubah Al-Qur’an.

Setelah kepimpinan ‘Uthman, al-Hajjaj juga mendistribusikan naskah­naskah Al-Qur’an ke beberapa kota. ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah menyatakan bahwa Mushaf Madinah disimpan di Masjid Nabi saw. dan dibaca setiap pagi.75 Pada waktu masyarakat berkecamuk tentang pembunuhan ‘Uthman, seseorang melarikan Al-Qur’an secara diam-diam. Muhriz bin Thabit melaporkan dari bapaknya (yang menjadi salah satu penjaga keamanan al-Hajjaj) bahwa al-Hajjaj menyuruh membuat beberapa Mushaf,76 dan salah satunya dikirimkan ke Madinah. Keluarga `Uthman sangat sedih, tetapi ketika mereka diminta untuk terus menyimpan Mushaf yang original, yang mungkin bisa dibaca lagi, mereka mendeklarasikan bahwa Mushaf itu telah rusak  pada hari pembunuhan ‘Uthman. Muhriz diinformasikan bahwa Naskah utama Mushaf ‘Uthmani masih ada kepunyaan cucu laki-lakinya, Khalid bin. ‘amr bin ‘Uthman, tetapi kita pikir bahwa yang dikirim oleh al­ Hajjaj dijadikan bacaan umum di Masjid Nabi pengganti Mushaf asli. Berdasarkan kepada as-Samhudi, yang mengutip Ibn Zabala

Al-Hajjaj mengirimkan Al-Qur’an ke kota-kota besar, termasuk Mushaf besar dikirimkan ke Madinah, dan ia merupakan Mushaf yang pertama yang dikirimkan ke kota-kota. bn Shabba berkata, Dan ketika (Pemerintahan Abbasiyyah) al-Mahdi menjadi khalifah, dia mengirimkan satu lagi Mushaf ke Madinah, yang dibaca sampai se­karang. Mushaf al-Hajjaj sudah dipindahkan dan disimpan di kotak sebelah mimbar.78

Peranan al-Hajjaj terhadap Al-Qur’an bukan saja meneruskan pengiriman Mushaf Abu Muhammad al-Himmani melaporkan bahwa al-Hajjaj ketika mengumpulkan huffaz dan orang-orang yang professional dalam membaca kitab suci, dia ikut duduk bersama dengan mereka, karena dia juga salah seorang daripada mereka, dia meminta mereka untuk menghitung jumlah tanda (karakter) di dalam Al-Qur’ an. Ketika sudah selesai, mereka sepakat pada jumlah yang sampai sekitar 340,750 karakter. Keinginannya untuk mengetahui jauh lebih dalam, dia kemudian menemukan karakter apa yang ada di tengah ­tengah Al-Qur’an, dan jawabannya adalah dalam surah 18 ayat 19, karakter, daiam Kemudian dia menanyakan di mana satu pertujuhnya Al-Qur’ an, dan jawabannya; satu pertujuh pertama dalam surah 4 ayat 55 karakter dalam; kedua dalam surah 7 ayat 147 karakter dalam; ketiga dalam surah 13 ayat 35; keempat dalam surah 22 ayat 35; kelima dalam surah 33 ayat 36; keenam dalam surah 48 ayat 6 dan ketujuh terakhir dalam bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan satu pertiga bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan tempat satu pertiga dan satu perempat Al­Qur’an.79 Al-Himmani menyebutkan bahwa al-Hajjaj membuat follow up kemajuan panitia setiap malam; semuanya memakan waktu empat bulan.80

Al-Munaggid menulis bahwa dia menjumpai sebuah Mushaf di Topkapi Sarayi (Istanbul), no. 44, yang catatannya menunjukkan bahwa Mushaf itu ditulis oleh Hudaij bin Mu’awiyah bin Maslamah al-Ansari untuk ‘Uqbah bin Nafi` al-Fihri pada tahun 49 H.. Dia ragu tentang tanggal, salah satu alasannya dikarenakan kertas folio 3b yang mengandung statistik huruf alfabet yang ada dalam seluruh Al-Qur’an. Menurut argumentasi dia, analisis statistik me­rupakan perhatian umat Muslim yang tinggi pada tahun pertama Hijrah.81 Menurut pendapat saya, keraguan al-Munaggid di dalam memberikan inisiatif al-Hajjaj dalam masalah ini, adalah tidak sah.

Komputer kita mengandung naskah teks AI-Qur’an tanpa tanda di atas dan di bawah; dengan bantuan program penghitung karakter, kita dapatkan 332,795 karakter. Kita tidak tahu metodologi al-Hajjaj: apakah tashdid juga dihitung satu karakter? Bagaimana dengan alif yang dibaca dan tidak ditulis ? Walaupun ada kekurangan tentang ini, figure (jumlah yang didapatkan) komputer kita pun hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh panitia al-Hajjaj yang lebih dari tiga belas abad, menunjukkan bahwa empat bulan yang intensif ini betul-betul terjadi.

Mushaf di Pasaran

Pada awalnya, menurut Ibn Mas’ud, seseorang yang menginginkan satu naskah Mushaf akan datang kepada sukarelawan (volunteer) secara mudah dan meminta bantuannya;82 Pendapat ini didukung oleh All bin Husain (w. 93 H.) yang berpendapat bahwa Mushaf tidak boleh diperjualbelikan, dan bahwa seseorang akan mengambil kertasnya sendiri ke mimbar dan meminta sukarelawan untuk menuliskannya. Seorang penulis sukarelawan kemudian akan mengerjakannya, secara bergantian, hingga tugas itu selesai.83 Ketika Muhil bertengkar dengan Ibrahim an-Nakha’i tentang masyarakat yang memerlukan Mushaf untuk dibaca, Ibrahim menjawab, “Beli kertas dan tinta, dan minta bantuan sukarelawan.”84 Tetapi dengan jumlah umat Islam yang membengkak sampai meliputi daratan Saudi Arabia, permintaan pada naskah Al-Qur’an meningkat, mendesak penulis sukarelawan untuk menulis lebih gigih lagi dan menjadikan fenomena baru: naskah dibayar.

Fenomena ini menimbulkan dilema teologi, tentang legitimasi upah seseorang yang mengabdi kepada Kalamullah. Seseorang mungkin boleh menjual barang kepunyaannya, banyak alasan, jadi atas dasar apa Al-Qur’an boleh dijual sedang itu bukan kepunyaan seseorang, tetapi kepunyaan sang pencipta? Mayoritas ilmuwan tidak setuju dengan naskah yang dibayar dan memperkenalkan Mushaf sebagai komoditas pasar, di antara mereka adalah Ibn Mas’ud (w. 32 H.), ‘Alqamah (w. 60 H, Masruq (w. 63 H.), shuraih (w. 80 H,) Ibrahim an-Nakha’i (w. 96 H.), abu Milaz (w. 106 H.) dan yang lainnya,85 Sedangkan ibn al-Musayyib (w. 90 H.) berbicara keras melawan pendapat ini.86 Walau bagaimanapun, ada beberapa orang yang mencoba menenangkan kritikan teman koleganya dengan menyebutkan bahwa bayaran itu bukan untuk kalam Allah, tetapi untuk tinta, kertas dan juga tenaga; memperhatikan jumlah sukarelawan yang sangat sedikit sekali, mereka itu seperti Ibn ‘Abbas (w. 68 H.), Sa’id b. Jubair (w. 95 H.) dan Ibn al-Hanafiyyah (w. 100 H.) tidak berpendapat jual beli Mushaf adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.87 Terjadi perdebatan juga ada dalam masalah merevisi Mushaf dan membetulkan tulisan yang salah di dalam Mushaf, yang mulanya tugas sukarelawan, kemudian diserahkan ke tangan pengoreksi yang dibayar. Sa’id b. Jubair, Satu ketika menawarkan sebuah Mushaf kepada Musa al-Asadi, meminta untuk dia membaca, mengoreksi kesalahan-kesalahan dan itu untuk dijual.88 Orang yang mengikuti argumentasi mereka yang terdahulu, Ibrahim an-Nakha’i dan yang lainnya, tidak menyetujui akan pembayaran untuk merevisi, walaupun sesudah itu Ibrahim dalam masalah tertentu mengubah sikapnya.89

‘Amr bin Murrah (w. 118 H.) menyatakan bahwa hamba sahaya adalah yang pertama kali berinisiatif untuk melakukan bisnis jual beli Mushaf.90 Contohnya hamba sahaya Ibn ‘abbas memberikan harga 100 dirham untuk menulis (menyalin) Al-Qur’an.91 Jual beli Mushaf mulai muncul pada zaman pemerintahan Mu’awiyyah, menurut Ibn Mijlaz, yang tepatnya pada awal pertengahan abad pertama Hijrah.92 Perkembangan jual beli ini mengakibatkan adanya toko yang special menjual Mushaf; jika mereka lewat ke sebuah toko seperti itu, Ibn ‘Umar (w. 73 H.) dan Salim bin ‘Abdullah (w. 106 H.) akan mengatakannya sebagai “Jual beli yang menakutkan (a dreadful trade).”93 sedangkan Abu al-‘Aliya (w. 90 H.) menginginkan siksaan bagi orang-orang yang menjual beli Al-Qur’an.94

Trend yang lebih berpengaruh adalah perpustakaan umum. Mujahid (20­103 S.H.) melaporkan bahwa Ibn Abi Laila (w. 83 H) mendirikan perpustakaan yang hanya mengandung kitab suci Al-Qur’an, di mana orang-orang akan berkumpul dan membacanya.95 ‘Abdul-Hakam bin ‘Amr al-Jumahi mendirikan beberapa bangunan seperti perpustakaan pada pertengahan abad pertama hijrah, rumah Kurrasat ( : kertas ) tentang subjek yang tersusun ditambah beberapa permainan, dan di sini orang-orang menggunakan fasilitas untuk membaca dan bersukaria dengan percuma.96 Beberapa sumber menyebutkan perpustakaan lain kepunyaan Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah;97 mungkin ada perpustakaan lain yang informasi detailnya tidak sampai kepada kita.98 Perubahan yang dilakukan beberapa kali pada Mushaf untuk menyebarkannya di kalangan masyarakat, tidak memengaruhi pembacaan dan arti ayat. ‘Uthman sendiri mungkin tahu dengan beberapa aspek fenomena ini; keputusannya untuk tidak memberikan tulisan vokal dan tidak menggunakan pemisah ayat dan titik ini berarti sebagai peringatan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an sendiri tanpa bimbingan yang tepat. Tetapi dengan waktu berjalan (yang tidak terlalu lama) memasukkan titik dan pemisah ayat menjadi biasa (normal). Oleh karena itu, marilah kita selidiki semua implikasi ini di dalam beberapa bab berikut ini.

Kesimpulan

Usaha ‘Uthman yang sungguh-sungguh jelas tampak berhasil dan dilihat dari dua cara: pertama, tidak ada Mushaf di provinsi Muslim kecuali Mushaf ‘Uthmani yang telah menyerap ke darah daging mereka; dan kedua, Mushaf atau kerangka teks Mushafnya dalam jangka waktu empat belas abad tidak bisa dirusak. Sesungguhnya manifestasi Kitab Suci Al-Qur’an adalah benar-benar ajaib; interpretasi yang lain tidak berhasil. Khalifah berikutnya, mungkin meneruskan usaha nenek moyangnya, mengutus dan terus mengirim naskah Mushaf yang resmi, tetapi tidak ada naskah yang dikirim yang bertentangan dengan standar universal Mushaf ‘Uthmani.

Sampai hari ini terdapat banyak Mushaf yang dinisbatkan langsung kepada ‘Uthman, artinya bahwa Mushaf-mushaf tersebut asli atau kopian resmi dari yang asli. Inda Office Library (London), dan di Tashkent (dikenal dengan Mushaf Samarqand). Mushaf-mushaf ini ditulis pada kulit, bukan kertas, dan tampak sejaman.99 Teks-teks kerangkanya cocok satu sama lainnya dan sama dengan Mushaf-mushaf dari abad pertama hijrah dan setelahnya, sampai pada mushaf-mushaf yang digunakan pada masa kita ini.100

67. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm. 117.

68. Ibn Hajar, Tarikh at-Tahzib, hlm. 433, no entri. 5215
69. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 117 – 8.

70. Untuk mendiskusikan kemungkinan kenapa ‘Uthman memilih untuk tidak memberikan titik,. rujuk Bab 9 dan 10.

71. Seperti dan . Sama juga dengan contoh 3 dan 4.

72. Seperti contoh no 1 daftar , kita sebelum ini menyebutkan bahwa ejaan Mushaf `Uthmani diputuskan untuk kalimat ini: KHAT

73. Ini mungkin dilakukan perubahan dalam naskah pribadi, seperti kasus ‘Ubaidullah bin Ziyad, yang menstandarkan ejaan (orthography) di dalam naskahnya sendiri ( lihat buku ini hlm. 133). Betulkah al-Hajjaj telah membuat perubahan kepada Mushaf ‘Uthmani, Baik masyarakat atau orang elite dalam kekuasaan tidak akan diam. Lagi-lagi Abbasiyyah, penerus kerajaan Umayyah, akan mengeksploitasi perbuatan itu untuk dapat dukungan.

74. Ibn Qutaiba, Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51.
75. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7; juga, Ibn Qutaiba Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51.
76. Dia berbuat demikian untuk mengakomodasi jumlah Muslim yang makin banyak yang terjadi antara periode ‘Uthman dan periodenya (lebih dari setengah abad) yang menjadikan permintaan (demand) kepada Mushaf lebih banyak. Kita tidak ada informasi berapa banyak jumlahnya atau ke mana saja dikirimkan.

77. As-Samhudi, Wafa’ al-Wafa , I:668, sebagaimana dikutip oleh al-Munaggid, Etudes de Palaegrapgie Arabe, Beirut, 1972, hlm. 46.

78. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7-8.
79. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 119-120.

80. Ibid, hlm. 120.

81. S. al-Munaggib, Etudes De Paleograpie Arabe, hlm. 82-83.
82. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160

83. Ibid, hlm. 166
84. Ibid, hlm. 169.

85. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160,166,169,175; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292
86. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 166.

87. Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 293; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175.
88. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175-76.

89. Ibid, hlm. 157, 167,169.
90. Ibid, hlm. 171

91. Al-Bukhari, Khalq Afal al-‘Ibad, hlm. 32.
92. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175.

93. Ibid, hlm. 159, 165; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292.

94. lbn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 169.

95. Ibn Sa’d, Tabaqat, iv:75; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 151.
96. ql_Aifahani, al-Aghani, iv:253.

97. Bertentangan dengan pernyataan Krenkow (“Kitabkhana”, Encyclopaedia of Islam, Edisi pertama, iv: 104), Perpustakaan ini kemungkinan didirikan oleh orang-orang Ibn Abi Laila dan ‘abdul­Hakam bin `Amr al-Jumahi, dan oleh karena itu tidak ada perpustakaan sebelum ini.

98. M.M. al-‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, hlm. 16-17.

99. M. Hamidullah, Khutabat Bahawalpur, International Islamic University, Islamabad, 1985, hlm. 26.

100. Meskipun tetap merupakan salah satu kekayaan tertulis yang agung di dunia, sayang sekali Mushaf Samarqand ini tidak lagi murni. Keterikatan kaum orientalis pada Mushaf ini begitu menggebu-gebu sehingga S. Pissareff, pada tahun 1905, berikhtiar untuk menerbitkan edisi faksimil. Sebelum melakukan itu ia menebali tulisan-tulisan yang telah kabur karena masa pada lembaran­lembaran itu dengan tinta baru, sebagai proses memperkenalkan perubahan-perubahan yang terjadi pada teks. Jeffery dan Mendelsohn mengklaim bahwa “sementara beberapa kesalahan akibat ketidaktahuan telah terjadi di sana-sini dalam proses penebalan (dengan tinta baru) tersebut, tidak ada dasar yang cukup untuk menuduh adanya perubahan yang disengaja.” [“The Orthography of the Samarqand Qur’an Codex”, Journal of the America Oriental Society, vol. 62, 1942, hlm. 1761 Apapun tujuan ­tujuan Pissareff, teks Mushaf ini telah rusak.

One Response to “Al-Hajjaj dan Kontribusinya Kepada Mushaf Uthmani”

  1. Iwan Hartono said

    boss ati-ati dalam membahas al-qur’an, jangan ente campur dgn filsafat org KAFIR …jangan ente ambil dgn rujukan/referensi org-org KAFIR…ingat boss ALLAH itu maha melihat lagi maha mengetahui …syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: