MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Studi Tentang Mushaf ‘Uthmani

Posted by Bustamam Ismail on January 29, 2010

Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan sebagai sumber utama hukum perundang-undangan dan petunjuk untuk semua makhluk, merupakan dasar kepercayaan setiap Muslim. Pada zaman ‘Uthman, rasa kebanggaan terhadap Al-Qur’an itulah yang mendorong untuk mulai meneliti Mushaf secepatnya, melawat ke semua tempat yang menerima naskah dan melakukan pemeriksaan kata demi kata (huruf demi huruf), guna menyingkap perbedaan antara naskah-naskah yang telah dia kirim. Banyak karya tulis yang menyentuh tentang masalah ini, akan tetapi saya akan membatasi hanya kepada satu masalah.

Khalid bin Iyas bin Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Uthman sendiri, mencatat bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat.48 Untuk memberi gambaran tentang perbedaan ini, saya susun dalam table berikut ini .49

Dengan jelas, naskah `Uthman miliki pribadi sama seperti Mushaf yang ada di tangan kita sekarang.53 Sedangkan dalam Mushaf Madinah terdapat sedikit perbedaan yang boleh kita simpulkan seperti berikut: (1) satu tambahan dalam; (2) Tidak ada dalam; (3) tidak ada dalam (4) ada dua dalam ; (5) tidak ada  dalam  (6) satu tambahan dalam (7) sebagai ganti dan seterusnya. Semua perbedaan, yang hampir tiga belas huruf dalam 900 baris, tidak memengaruhi arti setiap ayat dan tidak membawa alternatif lain kepada arti semantik. Mereka juga tidak bisa disifatkan sebagai sikap tidak hati-hati. Zaid bin Thabit memegang teguh prinsip bahwa dalam setiap penemuan bacaan dalam berbagai naskah diperlukan kesahihan, dan status yang sama (equal status), dan kemudian meletakkannya dalam naskah yang berbeda.54 Memasukkan kedua-dua bacaan dalam halaman yang bersebelahan ini hanya akan membuat kebingungan; maka salah satu altematif adalah menempatkan salah satu dari bacaan itu di tepi untuk menunjukkan ayat yang kurang autentik. Dengan menempatkan bacaan-bacaan itu pada naskah yang berbeda maka dia mengakomodasikannya berdasarkan kesamaan istilah (equal term).

Pendekatan modern dalam mengkritik teks menghendaki agar ketika perbedaan muncul antara dua manuskrip yang sama statusnya, penyunting meletakkan salah satu darinya dalam bodi teks sedangkan yang lainnya diletakkan dalam catatan kaki. Metode ini walaupun bagaimana tidak adil, karena hal ini dapat mengurangi nilai naskah ke dua. Skim Zaid tampak lebih adil; dengan menyediakan beberapa naskah maka dia mengesampingkan kesimpulan bahwa bacaan ini atau itu lebih tinggi, dan memberikan penilaian pada setiap naskah secara adil.55

Banyak ilmuwan yang telah menguras waktu dan tenaga mereka dalam membandingkan Mushaf ‘Uthmani, melaporkan apa yang mereka dapatkan dengan ikhlas dan tidak menyembunyikan apa pun walau sedikit Abil Uarda, seorang sahabat terkenal, telah bekerja keras tentang perkara ini sebelum dia meninggal dunia pada dekade yang sama dengan pengiriman Mushaf, dan meninggalkan istrinya (janda) untuk menyampaikan penemuannya.56 Untuk memudahkan, saya telah menambah daftar tambahan.57 Tetapi penemuan mereka, ketika semuanya dikumpulkan sungguh sangat mengejutkan. Semua perbedaan yang terdapat dalam Mushaf Mekah, Madinah, Kufah, Basra, Suriah, dan Naskah induk Mushaf ‘Uthmani, melibatkan satu huruf, seperti: dst. Kecuali hanya adanya (dia) dalam satu ayat yang artinya tidak terpengaruhi. Perbedaan ini tidak lebih dari empat puluh huruf terpisah di seluruh Mushaf enam ini.

Akhirnya kita bisa mengklarifikasikan bahwa kajian ilmuwan terdahulu ini hanya berlandaskan pada naskah Mushaf resmi, yang dikirim oleh ‘Uthman, atau duplikat naskah yang dibuat dan disimpan oleh para sahabat yang terkenal dan Ilmuwan ahli Al-Qur’an. Kajian mereka bukan penyelidikan tentang naskah pribadi yang disimpan oleh masyarakat luas (yang jumlahnya mencapai ribuan), karena Mushaf yang resmi itulah yang dijadikan sebagai ukuran (standar) dan bukan sebaliknya.

Studi Tentang Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi

Di sini kita akan buat perbandingan antara Mushaf ‘Uthmani dan yang lainnya, naskah individu yang disimpan oleh ilmuwan yang terkenal. Malik bin Anas (94-179 H. / 712-795 M.) ketika Mushaf ini diserahkan ke muridnya58 dan menceritakan sejarahnya; Mushaf ini kepunyaan kakeknya, Malik bin Abi `Amir al-Asbahi (w. 74 H /693 M), murid Khalifah ‘Umar,59 yang menulisnya pada waktu ‘Uthman menyiapkan Mushafnya.60 Murid-murid Malik bin Anas mencatat sebagian ciri-cirinya:

1)       Mushaf dihiasi dengan perak

2)       Ia mengandung pemisah surah tinta berwarna hitam sepanjang penyambung yang dihiasi seperti rantai memanjang sepanjang garis.

3)       Ia juga mempunyai pemisah ayat dalam benluk titik.61

Sesuai dengan penemuan ini, murid-murid itu membandingkan Mushaf Malik di satu sisi dengan Mushaf Madinah, Kufah, Basra, dan naskah utama Mushaf ‘Uthmani di sisi lainnya. Mushaf Malik, menurut mereka, berbeda dengan Mushaf Kufah dan Basra (dan Naskah utama Mushaf ‘Uthmani) dalam delapan tanda (karakter) dan dengan Mushaf Madinah hanya empat. Perbedaan ini disimpulkan di bawah ini.62

Dari carta ini kita catat bahwa Mushaf Malik tetap identik (sama) dengan Mushaf Madinah sampai surah 41; dari surah 42 dan berikutnya, Mushafnya sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufa, dan Basra. Menjabat sebagai salah satu anggota panitia dua betas yang menuliskan Mushaf ‘Uthmani, Malik juga pada waktu yang sama menulis Mushaf ini untuk digunakan oleh dirinya sendiri. Menimbang daftar di atas tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa dia telah kerja bersama-sama dengan kelompok yang menyiapkan Mushaf Madinah. Setelah selesai lima per enam Mushaf itu, dia pindah ke kelompok yang menyiapkan Mushaf Kufah dan Basra. Oleh karena itu, satu per enam sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufah, dan Basra.

Ini membolehkan kita melihat beberapa pendapat tentang penyiapan naskah resmi: ini adalah usaha tim yang sebagian didiktekan dan sebagian lagi ditulis. Poin yang lebih menarik, menurut pendapat saya, inisiatif dan kecerdasan individu yang menulis naskah pribadinya. Kita tidak tahu secara betul bagai­mana naskah pribadi ini ditulis; dalam pernyataan yang ditulis oleh Ibn Shabba

“‘Uthman memerintahkan orang-orang untuk menulis Mushaf ”.

Ini bisa diartikan bahwa masyarakat diberikan dorongan untuk menulis naskah untuk digunakan oleh mereka masing-masing.  Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi mempunyai pemisah surah dan ayat, sedangkan Mushaf ‘Uthmani tidak. Kekurangan ini mungkin dengan sengaja sebagai taktik bagi Khalifah, mungkin untuk meyakinkan bahwa teks Al-Qur’an bisa diberi lebih dari satu’cara pemisahan ayat, atau sebagai masalah tambahan dalam menghadapi orang yang mau membaca dengan sendiri tanpa ada bimbingan seorang guru yang diakui. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa sebuah mushaf tua yang ada tanda pemisah ayat dan surah semestinya ditulis setelah Mushaf ‘Uthmani, tetapi dengan diberikan contoh ini kita bisa melihat bahwa itu tidak semestinya benar.

48. Sebenarnya Mushaf Madinah telah musnah pada saat pertempuran yang mengakibalkan terbunuhnya ‘Ulhman. ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hLm. 7-8). Lalu bagaimana beberapa ilmuwan bisa memeriksa Mushaf yang disimpan di Madinah? Jawabannya ada dua segi. Pertama, Abu Darda’, seorang sahabat terkenal, yang meninggal pada tahun yang sama dengan ‘Uthman, menjelaskan kajian secara detail atau Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman termasuk Mushaf yang disimpan di Madinah. Penemuannya, terdaftar sebelum Mushaf Madinah hilang, berguna sebagai model untuk ilmuwan berikutnya. (untuk contoh, lihat Abu’ ubaid, Fada’il, film 330-2.). Kedua, (mungkin ini lebih  penting) ilmuwan-ilmuwan ini, yang tidak lagi bisa menganalisis Mushaf Madinah contohnya, selalu mengatakan dalam tulisannya bahwa mereka telah memeriksa “Mushaf orang-orang Hejaz (Arab bagian Barat).” Artinya, apa yang mereka periksa adalah duplikat asli Mushaf Madinah, yang dibuat oleh para sahabat yang terkenal atau ilmuwan-ilmuwan untuk kegunaan pribadi masing-masing sebelum Mushaf itu hilang (lihat buku ini, teks di bawah tabel hlm. 111). Dengan cara ini mereka bisa mengesampingkan fakta kehilangan mushaf, dan melakukan analisis teksnya secara detail.

49. Ibn Abi Dawud, al-Masahif hlm. 37-38, 41. Informasi yang sama tetapi melalui riwayat lain; lihat juga Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9.

50. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim (mewakili salah satu [qira’ah sab’ah] tujuh bacaan yang sepakat diterima oleh pembaca Al-Qur’an yang authoritatif).

51. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hlm. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘omir membaca
( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa.

52. Dalam kolom ini ada kesalahan, didalam dua kolom pertama kelihatannya perlu dibetulkan. Saya telah mencoba untuk membetulkannya. Wa Allah A’lam.

53. Saya maksudkan riwayar Hafs dari ‘ Asim.

54. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 118-9.

55. Ini juga adalah metodologi para muhaddithin (ahli hadith) yang terdahulu. Dalam membandingkan beberapa naskah hadith yang sama manuskripnya, mereka baik menyebutkan satu naskah tanpa merujuk kepada perbedaan, atau menyebutkan semua perbedaan didalam teksnya sendiri daripada menempatkan catatan di tepi. Contohnya dalam Sahih muslim, hadith tentang salat no. 245 hanya menunjukkan riwayat Ibn Numair; tiga hadith sebelumnya (salat no. 242), dan menyediakan semua riwayat yang berbeda dan meletakkannya dalam teks utama.

56. Lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 330.

57. Lihat contohnya Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 112-4.
58. Ini termasuk Ibn al-Qesim, Ashhab, ibn Wahb, Ibn ‘Abdul-Hakam, dan lain-lain.

59. Ibn Hajar, Taqrib at-Tahzib, hlm. 517, entri no. 6443.
60. ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 17

61. Contoh pemisah surah dan ayat dari beberapa mushaf disediakan di bab yang akan datang. Di samping itu, saya peroleh pernyataan ini dari A. Grohmann, “Saya menyarankan bahwa untuk pemisah surah mereka diambil dari manuskrip Greek atau Suriah, yang ditulis dipermulaan… ” ( A. Grohmann, “The problem of Dating Early Qur’an”, Der Islam, Band 33, Heft 3, hlm. 228-9). Ini merupakan mengada-ada dan memudahkan bagaimana kesungguhan Orientalis dalam mengutangi budaya orang lain kepada keberhasilan setiap Muslim-sampai pada masalah sekecil mungkin seperti memisahkan satu ayat dari ayat berikutnya dengan sebuah titik!

62. Ad-Dani, dalam bukunya al Muqni, hlm. 116) menyebutkan empat perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah, dan “selebihnya Mushaf Malik berdasarkan pada Mushaf madinah sebagaimana dijelaskan oleh Isma’il bin Ja’far ad-Madani”. Oleh karena itu, dalam menyiapkan carta saya telah memanfaatkan karya al-Madani. (lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9; ad Dani, al-Muqni, hlm. 112-4)
63. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim.

64. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hal. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘Amir membaca:
( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa.

65. Dalam kolom ini kelihatannya ada kesalahan. Daftar itu ( yang aslinya disediakan oleh ad-Dani untuk menunjukkan perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah) mengandungi ayat ini juga, tetapi tidak menunjukkan perbedaan diantara kedua Mushaf. Selagi teks ini tetap dicetak, walau bagaimanapun saya harus menyimpulkan bahwa kata itu dalam Mushaf Malik seharusnya .66. Ibn Shabba, Tarikh al-Madina, hlm. 1002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: