MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Kisah Singkat Wine Dwi Mandella , Mengapa Komnas Ham,MUI dan Meneg Pemberdayaan Perempuan angkat bicara.

Posted by Bustamam Ismail on December 22, 2009

Wine Dwi Mandella. Nama gadis ini mengingatkan pada mantan istri tokoh pejuang diskriminasi rasial di Afrika Selatan. Gadis inipun gigih melawan diskriminasi yang dialaminya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat, Jawa Barat. Bukan diskriminasi rasial, memang, tapi diskriminasi mengenakan pakaian sesuai hati nurani: jilbab.

Apa yang dialami Wine bukan terjadi pada era 1980-an, ketika cengkeraman Islamophobia masih kuat. Wine justru mengalami perlakuan itu pada 2008, ketika Islamophobia telah lama mundur dari pentas; ketika karyawati berjilbab sudah menjadi pemandangan biasa. Kisah malang yang menimpa Wine terjadi tujuh bulan lalu. Ketika itu, perawat di Bagian Fisioterapi, Departemen Rehab Medik, RS Mitra, ini, masuk kantor mengenakan pakaian dinas yang dilengkapi jilbab dan manset.

”Saya absen pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00, saya dipaksa membuat surat pengunduran diri,” tutur gadis 26 tahun ini, getir. RS Mitra menganggap gadis berusia 26 tahun ini melanggar peraturan perusahaan pasal 17 ayat 4.2 yang isinya: ”Memakai pakaian seragam kerja yang telah ditetapkan berikut perlengkapannya yang sesuai dengan perlengkapan di unit kerja masing-masing.”

Wine sempat bersitegang dengan Manager HRD RS Mitra, E Setyodewi. ”Saya menggunakan pakaian seragam kerja. Hanya saya tambahkan manset warna kulit, serta jilbab warna rambut (hitam), agar tidak terlalu mencolok,” katanya.

Tapi, Wine mengaku terus ditekan. ”Dewi bicara dengan mata melotot, berkacak pinggang, dan sambil menggebrak meja dia mengancam akan mem-black list nama saya dari seluruh rumah sakit di Jakarta.”Wine kemudian dipaksa membuat surat pengunduran diri. ”Saat itu saya membuat surat pengunduran diri dengan alasan dikeluarkan karena tidak boleh menggunakan jilbab saat bekerja,” katanya kepada Republika di rumahnya, di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tapi, Setyorini menilai pernyataan Wine terlalu ekstrem. Wine kemudian diminta membuat surat pengunduran diri tanpa disertai alasan. Wine menolak. Dia meninggalkan tempat itu usai meninggalkan kartu pegawai, kartu HMO (kartu berobat), dan kunci loker yang dirampas.

Selanjutnya, RS Mitra mengirimkan surat beberapa kali ke rumah Wine, diakhiri dengan surat keputusan bahwa Wine dianggap telah mengundurkan diri karena mangkir selama lima hari kerja tanpa keterangan. ”Sudah jelas ini permainan pihak rumah sakit, karena mereka tidak mau melakukan pemecatan pada karyawannya,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Buka-pasang
Wine menjadi karyawan RS Mitra sejak 2004. Dia mulai mengenakan jilbab pada 2005. Karena RS Mitra melarang perawatnya berjilbab, selama tiga tahun dia hanya mengenakan jilbab saat berangkat dan pulang kerja. ”Batin saya terus bergolak, namun tak berani melawan,” kata Wine.

April 2008, Wine menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Saat itulah, Wine mendapatkan ketetapan hati untuk berjilbab dalam segala keadaan. Tapi, baru satu hari mengenakan jilbab, vonis pun jatuh.

Diperlakukan tidak adil, Wine mengontak Tim Pengacara Muslim (TPM). Anggota TPM, Budi Santoso, menilai RS Mitra tidak adil. ”Mereka tidak mau memecat karyawan karena tidak ingin namanya jelek di mata masyarakat yang mayoritas Muslim. Atau, bahkan enggan memberi pesangon,” kata Budi.

Kepala Disnaker Kota Bekasi, Agus Darma Suwandi, mengatakan RS Mitra telah menerapkan aturan yang bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Dia menilai, Wine telah memenuhi ketentuan berseragam di RS itu, meski ditambah jilbab dan manset. ”Lagi pula, tidak ada aturan spesifik pekerja dilarang mengenakan jilbab,” kata Agus. Kendati merasa mulai enggan kembali bekerja di RS Mitra, dia kini ingin memperjuangkan sesuatu yang melebihi kepentingannya. ”Teman-teman ingin berjilbab, namun mereka takut. Saya kasihan melihat kebebasan kita diinjak-injak. Maka, saya memutuskan untuk berjuang bagi mereka,” kata Wine.

Ayah Wine, Ridwan Santoso, mengaku akan terus memerkarakan masalah yang menimpa Wine hingga RS Mitra mengizinkan karyawannya berjilbab. ”Kami dizalimi. Pihak RS sangat arogan. Kami akan terus berjuang demi tegaknya kebenaran,” kata Ridwan.

Sampai pekan lalu, Setyodewi tetap berkeras bahwa Wine-lah yang mengundurkan diri karena tak dapat mematuhi aturan perusahaan. Setyodewi menyatakan Wine akan kembali diterima bekerja di Grup RS Mitra dengan berjilbab. ”Maka, permasalahan kami anggap telah selesai,” ungkap Dewi dalam press release, Ahad (30/11).

Kepengadilan Kemarin, Senin (10/11), kembali dilakukan pertemuan antara Komisi D DPRD, Disnaker, Wine, TPM, dan RS Mitra. Sedianya, pertemuan itu menjadi pertemuan pamungkas. Tapi, kasus ini malah berlanjut ke Pengadilan Hubungan Industrial.

Pengacara RS Mitra, Sonny Martakusuma, mengatakan kasus Wine hanya masalah persepsi. ”Pihak Wine merasa di-PHK, sedangkan RS Mitra menganggap Wine resign,” katanya. Dia menilai masalah tersebut murni masalah ketenagakerjaan, bukan diskriminasi.
Mengenai penerimaan Wine untuk kembali bekerja, Sonny menjelaskan bahwa jabatan lama Wine di RS Mitra sudah diisi orang lain. Wine, kata dia, akan dipekerjakan kembali –dengan mengenakan jilbab dan manset– di perusahaan lain yang juga satu grup dengan RS Mitra. Perusahaan tersebut bergerak di bidang penyedia kebutuhan rumah sakit mitra grup, yaitu PT Estetika Interpresindo.

Menurut Sony, Wine akan tetap menerima gaji dan seluruh fasilitas, termasuk promosi, seperti sediakala. ”Mutasi ini tidak ada hubungannya dengan jilbab,” katanya. Sonny juga mengatakan RS Mitra hanya membicarakan Wine, dan bukan pekerja lainnya. TPM dan Wine menolak tawaran itu. Budi Santoso meminta Wine dipekerjakan kembali sebagai karyawan Bagian Fisioterapi RS Mitra, sesuai keahliannya. Selain itu, TPM juga mengatakan bahwa perilaku diskriminatif masih terjadi jika pemakaian jilbab hanya untuk Wine.

Thorik A Thalib dari TPM menilai persoalan Wine, mau tidak mau, sudah berkembang menjadi persoalan keyakinan bersama yang diganggu. Dia mempertanyakan motif RS Mitra yang terkesan memperpanjang persoalan. ”Sepertinya RS Mitra beriktikad abu-abu.”

Tarik-ulur yang dilakukan RS Mitra tersebut membuat persoalan Wine memang bukan persoalan pribadi lagi. Kini, mulai bermunculan solidaritas membela hak-hak berjilbab. Kemarin, puluhan orang yang mengatasnamakan diri Forum Peduli Jilbab (FPJ), melakukan aksi. Mereka menuntut RS Mitra memperbolehkan tenaga kerja memakai jilbab.

Kadisnaker Bekasi, Agus Darma Suwandi, menyatakan mutasi tidak boleh dilakukan agar karyawan tidak kerasan dan keluar dari perusahaan. ”Seragam itu wajib, jilbab itu hak, jadi seharusnya RS Mitra memerhatikan hak seluruh pekerjanya,” tandas Agus. (Republika)

Komnas HAM, MUI & Menneg PP Kecam RS.Mitra !

Juru Bicara Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM), Hesti Armiwulan, menyatakan, tindakan Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, Jawa Barat, yang melarang tenaga medisnya mengenakan jilbab adalah bentuk diskriminasi dan pelanggaran HAM. Padahal, siapa pun tidak diperbolehkan membuat orang lain kehilangan pekerjaan hanya karena pilihannya mengenakan pakaian Muslim.

Komnas HAM siap mengambil tindakan penegakan HAM jika korban membuat laporan resmi. ”Perusahaan tidak boleh melihat orang bekerja hanya dari penampilan fisiknya. Apalagi, ini terkait pilihan menjalankan ajaran agamanya,” kata Hesti, Selasa (11/11). Ia mengingatkan, Indonesia adalah negara yang demokratis, yaitu menghormati hak dan pilihan setiap individu. ”Penggunaan jilbab merupakan hak individu. Sehingga, tidak diperkenankan ada pihak melarang orang lain menggunakan jilbab dalam kesehariannya,” tegas Hesti.

Dukungan Menneg PP

Kasus pelarangan berjilbab yang menimpa Wine Dwi Mandella, tenaga medis di RS Mitra Keluarga Bekasi, kini akan berlanjut ke Pengadilan Hubungan Industrial. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP), Meutia Hatta Swasono, mendukung keberanian Wine memperjuangkan haknya dan menilai RS Mitra Keluarga tidak punya alasan kuat untuk melarang Wine berjilbab.

”Meski rumah sakit memiliki kebijakannya sendiri, namun harus memerhatikan HAM. Yang dilakukan RS Mitra Keluarga adalah aturan yang melanggar HAM. Mutasi yang ditawarkan RS Mitra Keluarga juga melanggar hak profesi Wine sebagai seorang fisioterapis. Itu jelas tindakan yang salah,” ujar Meutia, saat berkunjung ke lokasi-lokasi penampungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di wilayah Jatisampurna, Kota Bekasi.

Meutia menambahkan, Wine memiliki hak untuk memilih profesi yang harus dihargai oleh semua pihak. ”Perempuan berhak bekerja di semua tempat yang menjadi pilihannya dan berhak juga bekerja dengan menjalankan kewajiban dalam agamanya,” tutur Meutia. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, Abdul Rasyid, menilai RSMKB sedang menuai sebuah sikap permusuhan. ”Kami bisa saja mengeluarkan kebijakan agar umat Muslim tidak berobat di RS Mitra Keluarga Bekasi,” ujarnya.

Tidak bisa diterima

Ketua MUI Pusat, Amidhan, mengimbau Wine sebaiknya membawa kasusnya ke Komnas HAM. Dasar pelaporan adalah karena sikap pelarangan jilbab tersebut melanggar HAM. Komnas HAM, menurut Amidhan, juga harus membuat rekomendasi agar RSMKB mengizinkan karyawannya mengenakan jilbab. Jika alasannya adalah penyeragaman, baginya itu tidak bisa diterima. “Karena pembatasan HAM adalah melanggar undang-undang,” katanya.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Salahuddin Wahid, juga mengatakan ketidaksetujuannya terhadap cara RS Mitra Keluarga Bekasi. ”Saya tidak suka cara itu,” katanya.
Sonny Martakusuma, kuasa hukum RS Mitra Kelurga Bekasi, mengatakan bahwa kliennya tidak melanggar hak Wine sama sekali. Kini, menurut dia, Wine boleh bekerja kembali dengan jilbab dan manset, tapi di bidang administrasi. ”Bukan berarti pelanggaran hak profesi. Karena, posisi lama Wine sudah diisi oleh orang lain,” jelasnya. (RioL)

Sumber: Swara Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: