MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Wawancara Dengan Wakil KPK Bibit Samad Rianto

Posted by Bustamam Ismail on November 15, 2009

bibitBergelut dengan kasus kejahatan memang sudah menjadi santapan hari-harinya. Meski sudah tiga puluh tahun di kepolisian dan pensiun, pria dengan buah hati empat orang ini, kini malah tetap bergelut dunia itu. Namun, kini kasus yang dihadapinya sangat berat, yaitu menumpas korupsi. ‘’Korupsi sudah menjadi masalah besar di negeri ini, dan sangat akut,’’ kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto, Rabu (16/7) di Hotel Grand Zury, Pekanbaru.

Dengan mimik bicara yang khas dan sering tertawa lepas, Bibit bercerita panjang masalah dunia yang dihadapinya kini. Berikut wawancara khusus dengan mantan Kapolda Kalimantan Timur ini.

Apakah ada yang mendorong Anda masuk KPK?
Tak ada orang yang mendorong. Kemauan saya sendiri. Banyak orang tak menyangka, saya mau masuk ke KPK. Orang kaget kok, Pak Bibit mau masuk juga. Orang menilai, setelah pensiun dari polisi, saya sudah ‘’mati’’. Sudah masuk ke KPK lalu jadi zombi, haa..ha..(tertawa lepas).

Sewaktu masuk KPK Anda mengeluarkan biaya?
Sepeser pun saya tak mengeluarkan biaya.

Lalu apa pandangan Anda soal korupsi itu?
Korupsi itu sebagai suatu kejahatan. Kesimpulan saya korupsi tidak bisa hanya ditangani dengan penangkapan saja. Kita harus mencegah supaya tidak terjadi korupsi. Kesimpulannya korupsi itu sudah mewabah ke mana-mana, karena sulit dihapus. Ada yang sudah menjadi suatu kebiasaan, mis-manajemen. Kita harus menangani korupsi itu sebagai suatu kejahatan.

Apa agenda utama Anda bergabung ke KPK?
Ya menyatakan kebenaran. Yang benar ya benar, arus dibela. Yang salah ya salah, harus dihukum. Obsesi saya ingin menegakkan hukum di negeri ini. Karena saya berfikir negara yang kuat dan maju, kalau hukumnya kuat. Hukum kuat, penegak hukumnya juga harus kuat. Hukum yang ada tak ada masalah. Penegak hukumnya harus kuat. Mereka harus punya komitmen dan integritas yang tinggi.

Apakah komitmen Anda ini sebanding dengan pekerjaan Anda di kepolisian dulu?
Buktinya, dalam waktu 8 bulan jadi Kapolda di Kalimantan Timur, ada 234 kasus illegal logging yang saya tangani. Pada waktu itu illegal logging belum ramai dibicarakan seperti sekarang. Tapi saya sudah menegakkan itu. Anda boleh tanya masyarakat Kaltim bagaimana komitmen saya waktu itu. Sepeser pun saya tak ada mengambil duit dari illegal logging. Dan itu bisa saya buktikan. Itu ada kesaksian hidup, karena maling kayunya sendiri yang bicara.

Antara pekerjaan dan fasilitas penunjang kerja di KPK apakah ideal?
Relatif sih. Pimpinan KPK itukan dianggap setingkat menteri. Hanya kita di KPK tidak pernah memilih fasilitas rumah dinas, ataupun kendaraan dinas. Kita di KPK hanya memakai mobil-mobil pribadi untuk kerja sehari-hari. Jadi konsepnya kita memanfaatkan apa yang sudah kita punyai. Kalau boleh saya membandingkan, apa yang saya terima sekarang lebih besarlah dibanding saat menjabat Rektor Universitas Bhayangkara, ha…ha…ha… Artinya saya sekarang ini bisa bantu saudara yang lain, bantu orang susah.

Di KPK semua serba transparan, sekecil apapun dibuatkan kwitansi sebagai pertangunggjawaban. Apa ini membebani Anda?
Nggak masalah. Itu kan memang tugas dan tanggung jawab. Kita juga harus bisa menolak untuk menerima setiap pemberian.

Bukankah memberi itu sudah menjadi budaya kita?
Nah, kita harus pandai menyampaikan, supaya yang memberi itu tak tersinggung. Pernah teman saya dari Sumatera Utara mengatakan, ‘’Bit kalau kita minta tak dikasih itu sakit Bit. Tapi, lebih sakit lagi kalau kita memberi tapi tak diterima’’ (mengelus rambutnya, lalu tertawa).

Apa kiat Anda untuk membendung pemberian yang diindikasikan korupsi itu?
Pertama, harus puas dengan yang kita miliki sekarang ini. Karena itu adalah anugerah Allah kepada kita dan harus selalu disyukuri. Kemudian kita masih diizinkan oleh Allah berusaha dan berdoa agar diberikan lebih dari yang kita miliki sekarang.
Kedua, rezeki kita sudah diukur Allah sebelum kita ke alam dunia. ‘’Bit, namamu nanti Bibit. Terus rezeki kamu satu gelas ini. Terserah kau ambil waktu muda maupun waktu tua,’’. ‘’Kamu mau korupsi, peras orang, merampok terserah. Tapi nanti di akhir tuamu rezekimu cuma sedikit dan kamu susah’’. Ha….ha..
Ketiga, jangan kamu kasih makan anak dan istri dengan barang-barang haram.

Apakah prinsip ini pernah juga Anda terapkan di kepolisian dulu?
Semua saya jalani pelan-pelan. Ketika pensiun di kepolisian, dikira saya susah. Eh… tak tahunya di usia pensiun disuruh menjadi Wakil Ketua KPK. Rezekinya lebih gede lagi, daripada Rektor Universitas Bhayangkara. Artinya Allah memberikan rezeki lagi kepada saya. Ibaratnya sebuah gelas tadi, selama ini rezeki di dalam gelas itu saya ambil sedikit-sedikit saja. Ketika tua rezeki itu berkelanjutan.

Anda bisa punya komitmen seperti itu barangkali karena pernah mendapat pendidikan agama atau pesantren?
Tidak ada. Pendalaman terhadap Islam saya mencari sendiri. Dulu sewaktu kecil pernah ditanya oleh almarhumah ibu saya. Kamu memilih sekolah Jawa (umum) atau sekolah Arab (pesantren). Akhirnya saya memilih sekolah Jawa. Bapak saya bilang, harus sekolah sampai sekolah itu habis. Jangan seperti dia, tak pernah sekolah. Padahal kami keluarga sangat susah. Untuk makan hari itu, orang tua saya mencarinya hari itu juga ke pasar.

Bagaimana ceritanya Anda bisa sampai sekolah tinggi?
Lulus SD, ayah saya bilang tidak bisa lagi membiayai. Tapi dia tetap optimis, dan mengatakan jangan dipikirkan pokoknya sekolah saja dulu, nanti biaya bisa dicari. Semangat beliau luar biasa. Ketika di SMA akhirnya saya ikut orang, yang sudah menganggap seperti anaknya sendiri. Pekerjaan apapun saya kerjakan. Saya membantu pekerjaan mereka, mulai dari mewarnai benang sampai mengulung dan menjual sarung hingga memasarkan ke Solo. Nanti kalau saya sudah ngak di KPK lagi, ingin sekali memanggil kawan-kawan lama dulu untuk menghidupkan lagi home industry itu.

Nampaknya Anda punya keberanian, ke mana-mana begitu yakin tak perlu lagi bawa senjata. Barangkali karena latar belakang Anda dulu sebagai polisi?
Justru itu saya merasa tidak berhasil di polisi. Sebab saya merasa tak bisa membawa polisi ke arah kebenaran. Karena apa ya? Barangkali karena di polisi saya tak pernah memegang di puncuk pimpinan.

Bukankah Anda pernah menjadi Kapolda?
Jadi Kapolda iya, tapi bukan sebagai Kapolri. Cita-cita seorang polisi yang jabatan tertinggi menjadi Kapolri. Tapi kan Allah menentukan lain. Rupanya bukan untuk polisi tapi untuk bangsa ini. Di KPK ini kan kita bekerja untuk bangsa.

Kabarnya bekerja di KPK itu padat sekali. Lalu bagaimana Anda memanfaatkan waktu dengan keluarga?
Ngak ah. Di KPK juga sama seperti di kepolisian, Sabtu-Ahad untuk keluarga. Kecuali yang tengah melakukan penyelidikan atau mereka yang sedang bekerja di luar kota.

Apa pandangan Anda terhadap rekan-rekan kerja di KPK?
Kerja kawan-kawan di KPK sungguh luar biasa.

Bagaimana dengan peran pihak lain selain KPK?
KPK tidak bisa berjalan sendiri. Kami perlu dukungan dari masyarakat. Tanpa itu pekerjaan kami tidak akan berhasil. Setidaknya kepada masyarakat mereka bisa membantu KPK untuk di lingkungan tempat tinggalnya tak terjadi korupsi. Lebih baik mencegah daripada nangkepin orang.

Sebagian orang pula menilai KPK lamban, padahal masalah korupsi sudah sangat parah. Tanggapan Anda?
Dari Riau saya pernah ditantang untuk menangkapi para koruptor. Tapi kan jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu kami bisa melakukan. Kami kan punya keterbatasan. Yang bisa menangani itu semua tentu harus orang-orang Riau di sini.

Anda kan pasti banyak teman, sahabat atau pernah menjadi atasan Anda. Bagaimana Anda menghadapinya jika terpaksa mereka harus diperiksa?
Saya tak pernah membeda-bedakan. Tak peduli itu teman atau mantan bos. Paling saya hanya bilang, sori ya saya tak bisa bantu. Saya katakan, kesalahan Anda sangat telak.

Jika teman yang bermasalah dengan KPK itu minta waktu bertemu pribadi dengan Anda. Apa tindakan Anda?
Tidak apa-apa. Saya akan menjelaskan apa adanya. Negara ini mau baik atau tidak. Sorry, Anda harus menjalani proses ini. Tuhan masih menyayangi Anda. Jika Tuhan tak sayang lagi dengan Anda, pasti Anda tidak hidup lagi.

Anda begitu tegar menghadapi itu semua. Barangkali sekali lagi ada pengaruhnya dengan keyakinan yang Anda dalami?
Tidak ah. Baca Alquran saja anak saya lebih lancar dibanding saya. Tapi alhamdulillah di rumah saya itu buku-buku agama cukup lengkap. Untuk buku saya buat satu kamar tersendiri. Mau baca buku apa saja, ada di sana. Sejak bekerja saya telah menyiapkan 10 persen dari gaji untuk membeli buku. Kadang malah buku yang sudah saya beli terbeli lagi.

Tentu tugas di KPK jauh lebih berat dari kepolisian dulu, maklum saja kasus korupsi kan sudah sangat susah untuk ditumpas. Tanggapan Anda?
Saya yakin yang dilakukan Wali Sunan Kali Jaga, yang salah satunya ngeli. Artinya menghanyut. Kita tidak mesti hanyut ketika menyeberang sungai, tapi tetap sampai ke seberang. Artinya di sana ada koruptor dan perampok. Kita mendekat dengan mereka tidak apa-apa. Tapi yang salah tetap ya salah. Mereka tetap kita tangkap. Di KPK saya ingin terapkan seperti itu. Saya tidak memaksakan kehendak. Saya ingin melanjutkan apa yang sudah ada. Selanjutnya pelan-pelan saya dorong ke arah yang lebih baik. Bukan hanya di pinggir sini, tapi di pinggir sana.

Apakah Anda pernah kesal dengan wartawan. Apalagi pertanyaannya keras, sinis dan lainnya?
Tidak. Saya tak pernah masukkan ke dalam hati. Kuncinya di hati. Saya netral-netral saja. Yang perlu digarisbawahi manusia itu senang dihargai. Kata orang Jawa di-wongkan (dianggap orang, red). Saya menghadapi penjahat juga nggak kesal. Pernah saya menghadapi maling emas 5 kilogram. Dia kebal. Pernah di Sawahlunto selama 5 tahun, dan Nusakambangan 10 tahun. Saya gunakan bahasa manusia untuk mendekatinya. Saya hargai dia. Ditanyai keluarganya, anak-anaknya. Eh… ternyata dia akhirnya menangis. Akhirnya dia mengakui semua kejahatannya. Dia berjanji untuk bertobat.

Apakah sikap Anda ini juga dipengaruhi buku dan kiai?
Ya, misalnya buku tentang Syekh Abdul Kadir Jailani. Saya coba terapkan. Terus terang saya paling senang membaca buku-buku tentang wali, dan menziarahi makam mereka. Sampai sekarang ada satu dua orang kiai yang masih saya kunjungi, apabila pikiran sedang buntu. Kadang malah kalau ada waktu setiap Sabtu saya datang ke sana.

Berarti Anda jenuh juga ya kerja di KPK?
Ya pokoknya kalau sudah Sabtu dan Ahad kita tak memikirkan kantor lagi. Kadang saya bawa isteri dan anak-anak pergi keluar kota.

Anda pernah mendapatkan teror?
Alhamdulillah selama di KPK belum pernah tu. Malah SMS yang jelek-jelek pun tidak ada. Kalau pun ada, tentang pengaduan. Atau wartawan yang ingin wawancara.

Jika wartawan salah kutip pernyataan Anda, apa tindakan Anda?
Paling saya hanya ketawa. Atau kadang saya telepon, dan bilang jangan begitu dong menulisnya. Saya selalu berdiskusi dengan teman-teman wartawan.

Istri atau anak di rumah, apakah sering membicarakan soal KPK?
Ya sering. Tapi, biasanya membahas tayangan di televisi. Misalnya kalau saya tampil, mereka akan bilang Bapak kurang ini, kurang itu, ada yang kurang pas. Bapak tadi ngomongnya menyakiti orang. Itu saja.

Anda pernah memberikan pengarah khusus kepada keluarga tentang iklim kerja di KPK?
Sudah saya ceritakan ke mereka. Bapak bekerja di sini. Sikap Bapak seperti ini. Kalian tidak boleh ini, tidak boleh itu.

Apakah anak-anak Anda pernah didekati oleh orang-orang tertentu karena jabatan Anda?
Pernah. Bahkan ketika saya menjadi Kapolda Kaltim, ketika mereka tak berhasil mendekati saya, mereka mencoba menggarap anak-anak saya. Waktu itu mereka belum dewasa. Insya Allah itu dapat mereka hindarkan. Apalagi sekarang ini mereka sudah dewasa semua. Saya hanya mengatakan, Bapak sekarang di sini. Tujuan Bapak hanya satu di sini. Kamu urus diri sendiri. Gunakan fasilitas yang sudah diberikan oleh orang tua. Jangan macam-macam.

Sejak di KPK apakah ada hobi atau kebiasaan Anda yang terpaksa tidak dikerjakan?
Biasa saja. Ketemu orang ya salaman. Hobi saya seperti biasa setiap pagi jalan kaki di kompleks tempat tinggal. Saya jalan pagi keluar masuk ke jalan besar, kemudian masuk ke jalan kompleks perumahan. Soalnya, kaki ini kalau tak di bawa jalan rasanya sakit. Ini rutin saya lakukan.

Di kompleks tempat Anda tinggal, Anda dikenal sebagai apa?
Mereka semua tahu. Di lingkungan saya dikenali sebagai polisi. Apalagi ketika saya jadi Kapoltes di daerah itu, para supir angkot menilai saya galak. Yang berhenti liter X saya kejar dari belakang. Ya secara umum, di sana saya seperti biasa saja.

Anda kan tak hanya pernah menjadi polisi, tapi juga dosen. Apakah ada rencana menerbitkan buku untuk memberikan pengalaman kepada orang lain?
Sudah. Saya sudah menerbitkan beberapa buah buku. Yang saya pikirkan bagaimana buku saya itu bisa dibaca oleh orang lain. Seperti buku Gunung Es, Polda Deteksi Aksi. Tulisan itu diilhami oleh dosen-dosen dan senior saya. Sewaktu menjadi polisi saya pernah menerbitkan buku Profesionalisme Polisi. Buku itu saya siapkan sewaktu ingin menjadi Komisi Polisi Nasional (Kompolnas).

Sebagai pejabat KPK tentu Anda mendapat pengawalan ketat. Tapi ke Pekanbaru mengapa tidak dengan ajudan?
Itu tergantung orangnya juga. Saya ada punya ajudan, tapi kadang tak pernah saya bawa. Contohnya di Pekanbaru ini saya datang sendirian, tanpa ajudan.***

Sumber : Riau Pos, 20 Juli 2008
Foto : dok. Humas KPK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: