MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Peradilan harus dibenahi dengan panggilan suci hati Nurani dan tanggungjawab yang Abadi!!!

Posted by Bustamam Ismail on November 4, 2009

mkKetua MK Mahfud MD memeriksa transkrip dan CD rekaman rekayasa kriminalisasi Bibit-Chandra. (foto: Raka Denny/Jawapos

JAKARTA – Dugaan rekayasa kriminalisasi dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah kemarin terbongkar. Dalam sidang uji materi UU KPK di Mahkamah Konstitusi (MK), diputar rekaman penyadapan yang diduga berisi rekayasa pembubaran lembaga antikorupsi melalui kriminalisasi pimpinan KPK. Hal itu dilakukan oleh sejumlah pihak yang terkait tersangka kasus hukum korupsi radio komunikasi di Departemen Kehutanan.

Majelis hakim MK yang dipimpin Ketua MK Mahfud Md. memerintahkan KPK membuka rekaman penyadapan karena terkait dengan pembuktian dua pemohon uji materi, yakni Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Rekaman penyadapan dibuka untuk umum karena berdasarkan UU MK, seluruh persidangan di MK ditetapkan terbuka untuk publik. “Tidak ada kepentingan apa pun yang lebih tinggi dari kepentingan keadilan dan hak asasi manusia,” tegas Mahfud.

Rekaman diserahkan langsung Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean. Tumpak menyerahkan satu buah CD dan sembilan bundel transkrip rekaman. Seluruh rekaman yang diserahkan ke MK berdurasi 4,5 jam. File pertama berjudul Percakapan Masaro dan Anggodo, disusul Percakapan antara Anggoro ke Ary Soal Rincian Uang, Soal Bantuan Kejaksaan, Pencatutan Nama RI-1.

Selain itu, Meminta Bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Menyusun Strategi dari Suap ke Pemerasan, Laporan Ancaman ke MH (Chandra M. Hamzah, Red), Penghitungan Fee Pihak Terkait, dan Mempengaruhi AM (tersangka Ary Muladi, Red).

Dalam rekaman penyadapan yang diperdengarkan pada publik kemarin, terdapat satu percakapan antara Anggodo Widjojo dan Ong Yuliana Gunawan. Mereka berbicara tentang hasil pembicaraan per telepon antara Yuliana Gunawan dengan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga yang membicarakan rencana pembubaran KPK.

“Tadi Pak Ritonga telepon, besok dia pijet di Depok. Ketawa-ketawa dia. Dia bilang pokoknya kamu harus ngomong apa adanya, semua, ngerti? Kalau gak gitu, kita yang mati,” katanya. “Sekarang dia (Ritonga) sudah dapat dukungan dari SBY, ngerti gak? Kita semua, Pak Ritonga, pokoknya didukung SBY, jadi KPK nanti ditutup, ngerti gak”

Presiden SBY melalui Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal telah membantah keterlibatan dalam kasus tersebut. Presiden menegaskan namanya dicatut oleh pihak-pihak dalam kasus tersebut. Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum kasus kini tengah menelisik kebenaran surat persetujuan yang telah diteken kepala negara terkait kasus ini. “Arahan Presiden, jangan sampai ini dibiarkan. Karena tidak ada Presiden tidak ada keterlibatan seujung kuku pun,” tambah Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar.

Dalam percakapan tersebut, plot pembubaran KPK terekam jelas melalui rencana kriminalisasi pimpinan KPK. Antasari Azhar yang diakui Anggodo telah menerima sejumlah uang berperan melalui testimoni yang menyebut dua wakilnya, Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto menerima sejumlah uang dari Anggodo Widjojo.

Uang yang disebutkan Anggoro senilai Rp 1 miliar tersebut diberikan melalui dua orang yang diduga makelar kasus, yakni Ary Muladi dan Edi Sumarsono. Ary kini tersangka pemerasan bos Masaro Radiocom Anggoro Widjojo, sementara Edi Sumarsono yang dikenal Antasari sejak masih bertugas di Kejaksaan Agung hingga masih berstatus saksi. Uang tersebut disebut Anggodo diserahkan pada Chandra melalui Ade Rahardja, Deputi Penindakan KPK.

“Saya pertemukan Ary Muladi dan Edi Sumarsono di (kantor) Masaro. Perintah Antasari lewat Edi Sumarsono, kasih uang ini melalui Ary Muladi ke Pak Ade Rahardja, lalu ke Chandra M. Hamzah,” kata Anggodo dalam perbincangan di sebuah stasiun televisi swasta.

Plot tersebut berjalan rapi berkat campur tangan penyidik Bareskrim yang dipimpin langsung Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji, serta dua petinggi Kejaksaan Agung, yakni Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga dan mantan Jaksa Agung Muda Intelejen Wisnu Subroto. Ritonga ketika kasus ini terjadi masih menjabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum), sementara Wisnu Subroto sejak Mei lalu telah pensiun.

Dalam rekaman penyadapan tersebut, keterlibatan Susno Duadji terlihat melalui pengaturan berita acara pemeriksaan yang dilakukan penyidik-penyidik Bareskrim serta pengaturan plot rekayasa kasus bersama tersangka kasus korupsi radiokom Departemen Kehutanan, Anggoro Widjojo. Susno bersama sejumlah penyidik bahkan terbang ke Singapura untuk memeriksa Anggoro, karena Anggoro telah dicekal KPK dan telah berstatus tersangka di KPK. Polri mengelak merekayasa kasus dengan menyatakan pemeriksaan di Singapura tidak salah karena di Polri, Anggoro hanya berstatus saksi.

Dalam rekaman, nama Antasari juga disebut-sebut. Namun Antasari yang ditanya soal kasus Bibit-Chandra merupakan upaya pelemahan KPK hanya menjawab singkat. “Apa (kasus) ini bukan (upaya pelemahan),” kata Antasari usai sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin.

Setelah getol menghubungi beberapa pejabat Kejaksaan dan Kepolisian, Anggodo Widjojo sempat berkomunikasi kepada seseorang. Dia juga mengekspresikan kemenangannya saat itu. “Cepetan email-en ke kosong satu. Menang kita tersangka sudah ditahan,” kata Anggodo yang saat itu berbicara dengan seseorang yang belum teridentifikasi namanya.

Dalam komunikasi itu, Anggodo juga menyarankan agar pria yang dhubungi itu untuk membeli handphone baru. “Tukuo handphone anyar, saiki direkam yo gak opo opo, wis menang kon, tepuk tangan cepet teken butuh duwit (belilah handphone baru, sekarang direkam ya nggak masalah, tepuk tangan, cepet teken butuh uang),” tambahnya.

Tak sampai disitu, Anggodo juga merencanakan makan enak. “Sesuk isuk aku bali, iki rencanane mau pergi makan, wis telung wulan gak mangan enak (besuk pagi saya pulang, ini rencananya mau makan, sudah tiga bulan tak pernah makan enak).”

Tak sampai disitu, kemenangan itu juga memperjelas siapa saja pimpinan KPK yang bakal menjadi ‘korban’ dalam rekayasa itu. Di antaranya Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Anggodo  juga mendapatkan kepastian bahwa kedua pimpinan non aktif itu bakal dijebloskan ke tahanan. Sebab, dia sudah mengetahui bahwa polisi menerbitkan surat penahanan itu.

Meski demikian, ada pernyataan Anggodo yang kemarin menuai kecaman dari sejumlah tim pengacara Bibit dan Chandra. Di antaranya, apabila Chandra masuk penjara akan dihabisi. “Tapi sesuk Chandra dilebokne tak pateni dik njero (kalau besuk Chandra ditahan tak bunuh di dalam dia),” terangnya. (noe/git/fal/iro)

Sumber: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=53476

One Response to “Peradilan harus dibenahi dengan panggilan suci hati Nurani dan tanggungjawab yang Abadi!!!”

  1. Resa Blogs said

    mas/mba yang punya blog tukeran link yuk…
    link saya taro di sini…
    trus konfirmasi ke saya
    tar linknya saya pasang di blog saya..gmn??
    Terima kasih Sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: