MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Khadijah dan awal wahyu menyelusuri kehidupan Rasulullah

Posted by Bustamam Ismail on October 29, 2009

mekkahMUHAMMAD sedang tidur. Khadijah menatapnya dengan  hati  penuh kasih  dan harapan, kasih dan harapan terhadap orang yang tadi mengajaknya bicara itu.

Setelah dilihatnya ia tidur nyenyak, nyenyak dan tenang sekali, dibiarkannya orang itu perlahan-lahan. Ia keluar, dengan  pikiran  masih  pada  orang itu,  orang  yang  pernah menggoncangkan  hatinya.  Pikirannya pada hari esok, pada hari yang akan memberikan harapan baik kepadanya. Harapannya, suami itu akan menjadi nabi atas umat, yang kini tengah hanyut dalam kesesatan. Ia akan membimbing mereka dengan ajaran agama  yang benar  serta  akan membawa mereka ke jalan yang lurus. Tetapi,sungguhpun begitu, menghadapi masa yang akan datang, ia merasa kuatir  sekali,  kuatir  akan nasib suami yang setia dan penuh kasih-sayang itu. Dibayangkannya dalam hatinya apa yang  telah diceritakan  kepadanya  itu.  Dibayangkannya itu malaikat yang begitu indah, yang memperlihatkan  diri  di  angkasa,  setelah menyampaikan  wahyu Tuhan kepadanya dan yang kemudian memenuhi seluruh ruangan itu. Selalu ia  melihat  malaikat  itu  kemana saja  ia mengalihkan muka. Khadijah masih mengulangi kata-kata yang dibacakan dan sudah terpateri dalam dada Muhammad itu.

Semua itu dibentangkan kembali oleh  Khadijah  di  depan  mata hatinya  Kadang  terkembang  senyum  di  bibir,  karena  suatu harapan; kadang kecut juga rasanya, karena  takut  akan  nasib yang mungkin akan menimpa diri al-Amin kelak.

Tidak  tahan  ia  tinggal  seorang  diri lama-lama. Pikirannya berpindah-pindah  dari  harapan  yang   manis   sedap   kepada kesangsian   dan  harap-harap  cemas.  Terpikir  olehnya  akan mencurahkan segala isi hatinya itu  kepada  orang  yang  sudah dikenalnya bijaksana dan akan dapat memberikan nasehat.

Untuk itu, kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak paman), Waraqa b. Naufal. Seperti  sudah  disebutkan,  Waraqa adalah  seorang  penganut  agama  Nasrani  yang sudah mengenal Bible dan  sudah  pula  menterjemahkannya  sebagian ke dalam bahasa Arab.Ia  menceritakan  apa  yang  pernah dilihat dan

didengar Muhammad dan menceritakan  pula  apa  yang  dikatakan Muhammad  kepadanya,  dengan  menyebutkan  juga rasa kasih dan harapan yang  ada  dalam  dirinya.  Waraqa  menekur  sebentar, kemudian  katanya:  “Maha  Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang  hidup  Waraqa.  Khadijah,  percayalah,   dia   telah menerima  Namus  Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat  ini.  Katakan  kepadanya  supaya tetap tabah.”

Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dipandangnya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas,bercampur harap dan cemas. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terasa sesak dengan  keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya:

“O orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan  peringatan. Dan  agungkan  Tuhanmu.  Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan  kau  memberi,  karena  ingin  menerima lebih  banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (Qur’an 74:17)

Dipandangnya ia oleh Khadijah, dengan rasa  kasih  yang  lebih besar. Didekatinya ia perlahan-lahan seraya dimintanya, supaya kembali ia tidur dan beristirahat.”Waktu tidur dan istirahat  sudah  tak  ada  lagi,  Khadijah,”

jawabnya.   “Jibril   membawa   perintah  supaya  aku  member peringatan kepada umat manusia, mengajak  mereka,  dan  supaya mereka  beribadat  hanya  kepada  Allah.  Tapi siapa yang akan kuajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?”

Khadijah  berusaha  menenteramkan  hatinya.   Cepat-cepat   ia menceritakan  apa  yang  didengarnya  dari Waraqa tadi. Dengan penuh gairah dan bersemangat  sekali  kemudian  ia  menyatakan dirinya beriman atas kenabiannya itu. Sudah sewajarnya apabila Khadijah cepat-cepat percaya kepadanya. Ia  sudah  mengenalnya benar.  Selama  hidupnya  laki-laki  itu  selalu  jujur, orang berjiwa besar ia dan selalu berbuat kebaikan dengan penuh rasa kasih-sayang.  Selama dalam tahannuth, dilihatnya betapa besar kecenderungannya  kepada  kebenaran,   dan   hanya   kebenaran semata-mata.  Ia  mencari kebenaran itu dengan persiapan jiwa, kalbu  dan  pikiran  yang  sudah  begitu   tinggi,   membubung melampaui  jangkauan  yang  akan  dapat  dibayangkan  manusia, manusia yang menyembah patung dan membawakan kurban-kurban  ke sana; mereka yang menganggap bahwa itu adalah tuhan yang dapat mendatangkan  bencana  dan  keuntungan. Mereka membayangkan, bahwa  itu  patut  disembah  dan diagungkan. Wanita itu sudah melihatnya betapa benar ia pada tahun-tahun  masa  tahannuth itu.  Juga  ia  melihatnya  betapa  benar  keadaannya  tatkala pertama kali ia kembali dari gua Hira’, sesudah  kerasulannya. Ia  bingung sekali. Dimintanya oleh Khadijah, apabila malaikat itu nanti datang supaya diberitahukan kepadanya.

Bilamana  kemudian  Muhammad  melihat  malaikat  itu   datang, didudukannya  ia oleh Khadijah  di paha kirinya, kemudian di paha kanan dan di pangkuannya.  Malaikat  itupun  masih  juga dilihatnya. Khadijah menghalau dan mencampakkan tutup mukanya. Waktu itu tiba-tiba Muhammad tidak lagi  melihatnya.  Khadijah tidak ragu lagi bahwa itu adalah malaikat, bukan setan.

Sesudah  peristiwa  itu,  pada  suatu hari Muhammad pergi akan mengelilingi  Ka’bah.  Di  tempat   itu   Waraqa   b.   Naufal menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqa berkata: “Demi Dia Yang memegang hidup Waraqa.  Engkau  adalah Nabi  atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang  pernah  disampaikan  kepada  Musa.  Pastilah   kau   akan didustakan   orang,   akan   disiksa,  akan  diusir  dan  akan

diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup,  pasti aku  akan  membela  yang  di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahuiNya pula.” Lalu  Waraqa  mendekatkan  kepalanya dan  mencium  ubun-ubun Muhammad. Muhammadpun segera merasakan adanya kejujuran dalam kata-kata  Waraqa  itu,  dan  merasakan pula betapa beratnya beban yang harus menjadi tanggungannya.

Sekarang  ia  jadi memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan  kebatilan  itu.  Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah  lagi  mereka  masih  sekeluarga  dan sanak famili yang dekat.

Sungguhpun  begitu,  tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa yang dianjurkannya  kepada  mereka,  itulah  yang  benar.  Ia mengajak  mereka, agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih tinggi sehingga dapat  berhubungan  dengan  Allah  Yang  telah menciptakan  mereka  dan menciptakan nenek-moyang mereka; agar mereka beribadat hanya kepadaNya, dengan penuh ikhlas,  dengan jiwa  yang  bersih,  untuk  agama.  Ia  mengajak mereka supaya mereka mendekatkan diri kepada  Allah  dengan  perbuatan  yang baik,  dengan  memberikan  kepada  orang  berdekatan,  hak-hak mereka, begitu juga kepada orang yang dalam  perjalanan;  agar mereka  menjauhkan  diri  dari menyembah batu-batu yang mereka buat jadi berhala yang menurut dugaan mereka  akan  mengampuni segala  dosa  mereka  dari perbuatan angkara-murka yang mereka lakukan, dari menjalankan riba dan memakan harta  anak  piatu.

Penyembahan  mereka  demikian itu membuat jiwa dan hati mereka lebih keras dan  lebih  membatu  dari  patung-patung  itu.  Ia memperingatkan  mereka  agar  mereka mau melihat ciptaan Tuhan yang ada di langit dan  di  bumi;  supaya  semua  itu  menjadi tamsil  dalam  jiwa  mereka  serta  kemudian  menyadari betapa dahsyat dan agungnya  semua  itu.  Dengan  kesadaran  demikian mereka   akan  memahami  kebesaran  undang-undang  Ilahi  yang

berlaku di langit dan di bumi. Selanjutnya,  dengan  ibadatnya itu  akan  memahami  pula  kebesaran  Al  Khalik Pencipta alam semesta ini, Yang Tunggal, tiada  bersekutu.  Dengan  demikian mereka  akan  lebih tinggi, akan lebih luhur Mereka akan diisi oleh rasa kasih-sayang terhadap  mereka  yang  belum  mendapat petunjuk  Tuhan,  dan  akan  berusaha ke arah itu. Mereka akan berlaku baik terhadap semua anak piatu, terhadap  semua  orang yang   malang   dan   lemah.   Ya!   Ke   arah   itulah  Tuhan memerintahkannya, supaya ia mengajak mereka.

Akan tetapi, itu jantung yang sudah begitu  keras,  jiwa  yang sudah  begitu  kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhalan seperti yang dilakukan oleh  nenek-moyang  mereka  dahulu.  Di tempat  itu  mereka berdagang, dan membuat Mekah menjadi pusat kunjungan penyembah berhala! Akan mereka  tinggalkankah  agama nenek-moyang  mereka dan mereka lepaskan kedudukan kota mereka yang berarti suatu bahaya bilamana sudah tak ada lagi orang yang  akan  menyembah  berhala?  Lalu  bagaimana  pula  akan membersihkan jiwa serupa itu dan  melepaskan  diri  dari  noda hawa-nafsu,  hawa-nafsu yang akan menjerumuskan mereka, sampai kepada nafsu kebinatangannya, padahal dia sudah memperingatkan

manusia  supaya  mengatasi nafsunya, menempatkan diri di atas berhala-berhala itu? Kalau  mereka  sudah  tidak  mau  percaya kepadanya,  apalagi yang harus ia lakukan? Inilah yang menjadi masalah besar itu.

Ia  sedang  menantikan  bimbingan   wahyu  dalam   menghadapi masalahnya itu, menantikan adanya penyuluh yang akan menerangi jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus! Jibrilpun tidak datang lagi kepadanya.Tempat di sekitarnya jadi sunyi, bisu. Ia merasa terasing dari orang, dan dari  dirinya.  Kembali  ia merasa  dalam  ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu. Konon Khadijah pernah mengatakan  kepadanya:  “Mungkin  Tuhan  tidak menyukai engkau.”

Ia  masih dalam ketakutan.Perasaan ini juga yang mendorongnya lagi akan pergi ke bukit-bukit dan menyendiri lagi  dalam  gua Hira’.  Ia  ingin  membubung  tinggi  dengan  seluruh jiwanya, menghadapkan diri kepada Tuhan,  akan  menanyakan:  Kenapa  ia lalu  ditinggalkan  sesudah  dipilihNya? Kecemasan Khadijahpun tidak pula kurang rasanya.

Ia mengharap mati benar-benar  kalau  tidak  karena  merasakan adanya  perintah  yang telah diberikan kepadanya. Kembali lagi ia kepada dirinya, kemudian kepada  Tuhannya.  Konon  katanya: Pernah  terpikir  olehnya  akan  membuang diri dari atas Hira’ atau dari atas puncak gunung  Abu  Qubais.  Apa  gunanya  lagi hidup  kalau  harapannya  yang  besar  ini  jadi  kering  lalu berakhir?

Sementara ia sedang dalam kekuatiran demikian  itu  –  sesudah sekian  lama  terhenti – tiba-tiba datang wahyu membawa firman Tuhan:

Demi pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam  bila  senyap kelam.  Tuhanmu  tidak  meninggalkan  kau,  juga  tidak merasa benci. Dan sungguh, hari kemudian  itu  lebih  baik  buat  kau daripada  yang  sekarang.  Dan  akan segera ada pemberian dari Tuhan kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang hati.  Bukankah Ia   mendapati   kau  seorang  piatu,  lalu  diberiNya  tempat

berlindung?  Dan  Ia  mendapati  kau  tak  tahu  jalan,   lalu diberiNya  kau  petunjuk?  Karena  itu,  terhadap  anak piatu, jangan kau bersikap bengis. Dan tentang  orang  yang  meminta, jangan  kau  tolak.  Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan.”(Qur’an, 93: 1-11)

Maha Mulia Allah.  Betapa  damainya  itu  dalam  jiwa. Betapa gembira  dalam  hati! Rasa cemas dan takut dalam diri Muhammad semuanya hilang sudah.   Terbayang  senyum   di   wajahnya. Bibirnyapun  mengucapkan kata-kata syukur, kata-kata kudus dan penuh khidmat. Tidak lagi Khadijah merasa takut,  bahwa  Tuhan sudah  tidak  menyukai  Muhammad  dan  iapun tidak lagi merasa takut dan gelisah. Bahkan Tuhan telah melindungi mereka berdua dengan rahmatNya. Segala rasa takut dan keraguan-raguan hilang sama sekali dari hatinya. Tak ada lagi bunuh diri.

Yang ada sekarang ialah hidup dan  ajakan  kepada  Allah,  dan hanya  kepada Allah semata. Hanya kepada Allah Yang Maha Besar menundukkan kepala. Segala yang ada di langit  dan  di  bumi bersujud  belaka  kepadaNya.  Hanya  Dialah Yang Hak,dan yang selain itu  batil  adanya.  Hanya  kepadaNya  hati  manusia dihadapkan, seluruh hidup kesana juga bergantung dan kepadaNya pula ruh akan kembali. “Sungguh, hari kemudian itu lebih  baik buat kau daripada yang sekarang.”

Ya,  hari  kemudian  tempat  berkumpulnya  jiwa  dengan segala bentuknya yang penuh, yang tidak lagi kenal ruang  dan waktu, dan  semua  cara hidup pertama yang rendah ini akan terlupakan adanya.  Hari  kemudian  yang  akan  disinari   cahaya   pagi, berkilauan, dan malam yang gelap dan kelam. Bintang-bintang di langit, bumi dan gunung-gunung, semua akan dihubungi oleh jiwa yang  pasrah  menyerah.  Kehidupan  inilah  yang  akan menjadi tujuan. Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Di luar itu hanya bayangan  belaka,  yang  tiada  berguna. Kebenaran inilah yang cahayanya disinari oleh jiwa  Muhammad,  dan  yang  baru  akan dipantulkan  kembali  guna memikirkan bagaimana mengajak orang ingat kepada Tuhan. Dan guna mengajak orang kepada  Tuhan,  ia harus   membersihkan   pakaiannya   serta  menjauhi  perbuatan mungkar.  Ia  harus  tabah  menghadapi  segala  gangguan  demi menjaga dakwah kepada Kebenaran. Ia harus menuntun umat kepada ilmu yang belum mereka ketahui; jangan menolak orang meminta, jangan  berlaku  bengis  terhadap  anak  piatu. Cukuplah Tuhan telah memilihnya sebagai  pengemban  amanat.  Maka  katakanlah itu.  Cukup  sudah,  bahwa  Tuhan  telah  menemukannya sebagai seorang piatu, lalu dilindungiNya  di  bawah  asuhan  kakeknya Abd’l-Muttalib, dan pamannya, Abu Talib. Ia yang hidup miskin, telah  diberi  kekayaan   dengan   amanat Tuhan   kepadanya. Dipermudah  pula dengan Khadijah sebagai kawan semasa mudanya, kawan semasa dalam tahannuth, kawan semasa kerasulannya, kawan yang  penuh  cinta kasih, yang  memberi  nasehat dengan rasa kasih-sayangnya. Tuhan telah mendapatinya tak tahu jalan, lalu diberiNya   petunjuk   berupa  risalah.  Cukuplah  semua  itu. Hendaklah ia mengajak orang kepada Kebenaran, berusaha sedapat mungkin.

Begitulah  ketentuan  Tuhan  terhadap  seorang nabi yang telah dipilihNya. Ia tidak ditinggalkanNya, juga tidak dibenciNya.

Tuhan  telah  mengajarkan  Nabi  bersembahyang,   maka   iapun bersembahyang,  begitu juga Khadijah  ikut  pula sembahyang. Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali  bin Abi  Talib  sebagai anak muda yang belum balig. Pada waktu itu suku Quraisy sedang mengalami suatu krisis yang luarbiasa. Abu Talib  adalah  keluarga  yang  banyak anaknya. Muhammad sekali berkata kepada Abbas, pamannya-yang  pada  masa  itu  adalah yang  paling  mampu  di antara  Keluarga  Hasyim:”AbuTalib saudaramu anaknya banyak. Seperti kaulihat, banyak orang  yang mengalami krisis. Baiklah kita ringankan dia dari anak-anaknya itu. Aku akan mengambilnya seorang kaupun seorang  untuk kemudian kita asuh.”Karena itu  Abbas  lalu mengasuh Ja’far dan Muhammad mengasuh Ali, yang tetap tinggal bersama sampai pada masa kerasulannya.

Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang sembahyang,tiba-tiba Ali menyeruak masuk.Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku’dan sujud serta membaca beberapa  ayat  Qur’an  yang  sampai  pada waktu  itu  sudah  diwahyukan  kepadanya.  Anak ifu tertegun berdiri:”Kepada siapa kalian sujud?”   tanyanya   setelah sembahyang selesai.

“Kami  sujud  kepada  Allah,” jawab Muhammad, “Yang mengutusku menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia  menyembah Allah”

Lalu Muhammadpun mengajak sepupunya itu beribadat kepada Allah semata tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa nabi utusanNya dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan ‘Uzza. Muhammad lalu  membacakan  beberapa  ayat  Qur’an.  Ali sangat terpesona karena ayat-ayat itu luarbiasa indahnya.

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: