MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Nabi Muhammad SAW di Medinah bagian kedua.Perjanjian dan kontrak sosial.

Posted by Bustamam Ismail on October 22, 2009

nbmPribadi Yang luhur

Orang  yang begitu mulia, sangat rendah hati, orang yang penuh kasih sayang, selalu memenuhi janji,  sifatnya  yang  pemurah,selalu   terbuka   bagi  si  miskin,  bagi  orang  yang  hidup menderita,  ini  juga  yang  memberikan  kewibawaan  kepadanya terhadap  penduduk  Yathrib. Dan semua ini telah sampai kepada suatu ikatan perjanjian  persahabatan  dan  persekutuan  serta menetapkan adanya kebebasan beragama. Perjanjian ini – menurut hemat kita  –  merupakan  suatu  dokumen  politik  yang  patut dikagumi  sepanjang  sejarah.  Dan  fase  yang  dialami  dalam sejarah hidup Rasul ini belum pernah dialami oleh seorang nabi atau  rasul lain. Pernah ada Isa, ada Musa, ada nabi-nabi yang lain sebelum itu. Mereka  terbatas  hanya  pada  dakwah  agama saja.  Mereka  menyampaikan  itu  kepada  orang  dengan  jalan berdebat, dengan jalan mujizat. Sesudah itu mereka  tinggalkan ditangan  para  penguasa  yang  kemudian, dan untuk menyiarkan dakwahnya itu harus  dilakukan  dengan  kekuatan  politik  dan membela  kebebasan  orang  yang  sudah  beriman  kepadanya itu dengan kekuatan senjata yang disertai peperangan  pula.  Agama

Kristen  disiarkan  oleh  murid-muridnya yang kemudian sesudah Isa.  Mereka  dan  pengikut-pengikut   mereka   masih   selalu mengalami  siksaan.  Baru setelah ada raja-raja yang cenderung kepada agama ini, ia dilindunginya dan disiarkan. Begitu  juga halnya dengan agama lain, di dunia Timur ataupun di Barat.

Nabi Menyebarkan Kebenaran

Sebaliknya  Muhammad,  tersebarnya  Islam serta menangnya misi kebenaran itu harus  berada  ditangannya.  Ia  menjadi  Rasul, menjadi negarawan, pejuang dan penakluk. Semua itu demi Allah, demi misi kebenaran, yang oleh karenanya ia diutus. Dalam  hal ini   semua,   sebenarnya  dia  adalah  orang  besar,  lambing kesempurnaan  insani  par  exellence  dalam  arti  kata   yang

sebenarnya.

Kontrak social

Antara  kaum  Muhajirin  dan Anshar dengan orang-orang Yahudi, Muhammad  membuat  suatu  perjanjian  tertulis   yang   berisi pengakuan  atas  agama  mereka  dan harta-benda mereka, dengan syarat-syarat timbal balik, demikian bunyinya:

“Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang.  Surat  Perjanjian ini  dari Muhammad – Nabi; antara orang-orang beriman dan kaum Muslimin dari kalangan Quraisy dan Yathrib serta yang mengikut mereka  dan  menyusul mereka dan berjuang bersama-sama mereka; bahwa mereka adalah satu umat di luar golongan orang lain.

“Kaum Muhajirin dari kalangan  Quraisy  adalah  tetap  menurut adat  kebiasaan   baik  yang  berlaku2  di  kalangan  mereka, bersama-sama menerima  atau  membayar  tebusan  darah3  antara sesama mereka dan mereka menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil diantara sesama orang-orang beriman.

“Bahwa Banu Auf  adalah  tetap  menurut  adat  kebiasaan  baik mereka  yang  berlaku,  bersama-sama  membayar  tebusan  darah seperti yang sudah-sudah. Dan setiap  golongan  harus  menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil diantara sesama orang-orang beriman.”

Kemudian disebutnya tiap-tiap suku4 Anshar itu serta  keluarga tiap   puak:   Banu’l-Harith,   Banu   Saida,   Banu   Jusyam, Banu’n-Najjar, Banu ‘Amr b. ‘Auf dan Banu’n-Nabit. Selanjutnya disebutkan, “Bahwa   orang-orang   yang  beriman  tidak  boleh  membiarkan seseorang yang menanggung beban hidup dan  hutang  yang  berat diantara  sesama mereka. Mereka harus dibantu dengan cara yang baik dalam membayar tebusan tawanan atau membayar diat.

“Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh mengikat janji dalam menghadapi mukmin lainnya. “Bahwa  orang-orang  yang  beriman  dan bertakwa harus melawan orang yang melakukan kejahatan diantara mereka  sendiri,  atau

orang   yang   suka  melakukan  perbuatan  aniaya,  kejahatan, permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman sendiri,  dan mereka semua harus sama-sama melawannya walaupun terhadap anak sendiri.

“Bahwa seseorang yang  beriman  tidak  boleh  membunuh  sesame mukmin lantaran orang kafir untuk melawan orang beriman.”Bahwa  jaminan  Allah  itu  satu:  Dia  melindungi yang lemah diantara mereka.

“Bahwa  orang-orang  yang   beriman   itu   hendaknya   saling tolong-menolong satu sama lain. “Bahwa  barangsiapa dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut kami, ia berhak  mendapat  pertolongan  dan  persamaan;  tidak menganiaya atau melawan mereka

“Bahwa  persetujuan  damai orang-orang beriman itu satu; tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri dengan meninggalkan  mukmin  lainnya  dalam  keadaan  perang di jalan Allah. Mereka harus sama dan adil adanya.

“Bahwa setiap orang yang berperang  bersama  kami,  satu  sama lain harus saling bergiliran.

“Bahwa  orang-orang  beriman itu harus saling membela terhadap sesamanya yang telah tewas di jalan Allah.”Bahwa orang-orang yang beriman dan bertakwa hendaknya  berada dalam pimpinan yang baik dan lurus.

“Bahwa orang tidak dibolehkan melindungi harta-benda atau jiwa orang Quraisy dan tidak boleh merintangi orang beriman.

“Bahwa barangsiapa membunuh orang beriman yang tidak  bersalah dengan  cukup  bukti  maka  ia  harus  mendapat  balasan  yang setimpal kecuali bila keluarga si terbunuh sukarela  (menerima tebusan).

“Bahwa  orang-orang  yang beriman harus menentangnya semua dan tidak dibenarkan mereka hanya tinggal diam.

“Bahwa seseorang yang beriman yang telah mengakui  isi  piagam ini  dan  percaya kepada Allah dan kepada hari kemudian, tidak dibenarkan menolong  pelaku  kejahatan  atau  membelanya,  dan bahwa barangsiapa yang menolongnya atau melindunginya, ia akan mendapat kutukan dan murka Allah pada hari kiamat, dan tak ada sesuatu tebusan yang dapat diterima.

“Bahwa  bilamana  diantara  kamu  timbul  perselisihan tentang sesuatu masalah  yang  bagaimanapun,  maka  kembalikanlah  itu kepada Allah dan kepada Muhammad – ‘alaihishshalatu wassalam.

“Bahwa   orang-orang   Yahudi   harus   mengeluarkan   belanja bersama-sama orang-orang beriman  selama  mereka  masih  dalam keadaan perang.

“Bahwa  orang-orang  Yahudi  Banu  Auf adalah satu umat dengan orang-orang beriman. Orang-orang  Yahudi  hendaknya  berpegangpada   agama   mereka,   dan  orang-orang  Islampun  hendaknya berpegang pada agama mereka pula,  termasuk  pengikut-pengikut mereka  dan  diri mereka sendiri, kecuali orang yang melakukan perbuatan aniaya dan durhaka. Orang semacam ini hanyalah  akan

menghancurkan dirinya dan keluarganya sendiri.

“Bahwa   terhadap  orang-orang  Yahudi  Banu’n-Najjar,  Yahudi Banu’l-Harith, Yahudi Banu Sa’ida, Yahudi Banu-Jusyam,  Yahudi Banu  Aus,  Yahudi  Banu  Tha’laba,  Jafna  dan Banu Syutaiba5 berlaku sama seperti terhadap mereka sendiri.

“Bahwa tiada seorang dari  mereka  itu  boleh  keluar  kecuali dengan ijin Muhammad s.a.w.

“Bahwa seseorang tidak boleh dirintangi menuntut haknya karena dilukai; dan barangsiapa  yang  diserang  ia  dan  keluarganya harus  berjaga  diri,  kecuali jika ia menganiaya. Bahwa Allah juga yang menentukan ini.

“Bahwa  orang-orang  Yahudi  berkewajiban  menanggung   nafkah mereka  sendiri  dan  kaum Musliminpun berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri pula. Antara  mereka  harus  ada  tolong menolong  dalam  menghadapi  orang yang hendak menyerang pihak yang mengadakan piagam perjanjian ini.

“Bahwa mereka sama-sama berkewajiban,saling nasehat-menasehati  dan  saling  berbuat kebaikan dan menjauhi segala perbuatan dosa.

“Bahwa seseorang tidak dibenarkan  melakukan  perbuatan  salah terhadap  sekutunya,  dan bahwa yang harus ditolong ialah yang teraniaya.

“Bahwa orang-orang Yahudi  berkewajiban  mengeluarkan  belanja bersama orang-orang beriman selama masih dalam keadaan perang.

“Bahwa  kota Yathir adalah kota yang dihormati bagi orang yang mengakui perjanjian ini.

“Bahwa tetangga itu seperti jiwa sendiri, tidak boleh diganggu dan diperlakukan dengan perbuatan jahat.”Bahwa tempat yang dihormati itu tak boleh didiami orang tanpa ijin penduduknya.

“Bahwa bila diantara orang-orang yang mengakui perjanjian  ini terjadi  suatu  perselisihan yang dikuatirkan akan menimbulkan kerusakan, maka tempat  kembalinya  kepada  Allah  dan  kepada Muhammad  Rasulullah  -s.a.w.  – dan bahwa Allah bersama orang yang teguh dan setia memegang perjanjian ini

“Bahwa melindungi orang-orang  Quraisy  atau  menolong  mereka tidak dibenarkan.”Bahwa  antara mereka harus saling membantu melawan orang yang

mau  menyerang  Yathrib  ini.  Tetapi  apabila  telah   diajak berdamai maka sambutlah ajakan perdamaian itu.

“Bahwa  apabila  mereka diajak berdamai, maka orang-orang yang beriman  wajib  menyambutnya,  kecuali   kepada   orang   yang memerangi  agama.  Bagi  setiap  orang,  dari pihaknya sendiri mempunyai bagiannya masing-masing.

“Bahwa orang-orang Yahudi Aus, baik diri mereka  sendiri  atau pengikut-pengikut  mereka  mempunyai  kewajiban seperti mereka yang sudah menyetujui  naskah  perjanjian  ini  dengan  segala kewajiban   sepenuhnya  dari  mereka  yang  menyetujui  naskah perjanjian ini.

“Bahwa kebaikan itu bukanlah kejahatan  dan  bagi  orang  yang melakukannya  hanya  akan memikul sendiri akibatnya. Dan bahwa Allah bersama pihak  yang  benar  dan  patuh  menjalankan  isi perjanjian ini

“Bahwa orang tidak akan melanggar isi perjanjian ini, kalau ia bukan orang yang aniaya dan jahat.”Bahwa barangsiapa yang keluar atau tinggal dalam kota Medinah ini, keselamatannya tetap terjamin, kecuali orang yang berbuat

aniaya dan melakukan kejahatan.

“Sesungguhnya Allah melindungi orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa.”

Inilah  dokumen  politik  yang telah diletakkan Muhammad sejak seribu tiga ratus lima puluh tahun yang lalu  dan  yang  telah menetapkan  adanya  kebebasan  beragama,  kebebasan menyatakan pendapat; tentang keselamatan harta-benda dan  larangan  orang melakukan  kejahatan.  Ia  telah  membukakan  pintu baru dalam kehidupan politik dan peradaban dunia masa  itu.  Dunia,  yang selama  ini  hanya  menjadi  permainan tangan tirani, dikuasai oleh  kekejaman   dan   kehancuran   semata.   Apabila   dalam penandatanganan  dokumen  ini orang-orang Yahudi Banu Quraiza, Banu’n-Nadzir dan Banu Qainuqa tidak ikut serta,  namun  tidak selang  lama  sesudah itu merekapun mengadakan perjanjian yang serupa dengan Nabi.

Demikianlah,  seluruh  kota  Medinah  dan   sekitarnya   telah benar-benar  jadi  terhormat  bagi  seluruh  penduduk.  Mereka berkewajiban mempertahankan  kota  ini  dan  mengusir  setiap serangan  yang  datang  dari  luar.  Mereka harus bekerja sama antara sesama mereka guna menghormati segala  hak  dan  segala macam kebebasan yang sudah disetujui bersama dalam dokumen ini Muhammad  sudah  cukup  merasa lega dengan hasil demikian ini.

Kaum Musliminpun merasa tenteram menjalankan  kewajiban  agama mereka, baik dalam berjamaah ataupun sendiri-sendiri. Mereka   tidak  lagi  kuatir  ada  gangguan  atau  akan  takut difitnah. Ketika itulah Muhammad  menyelesaikan  perkawinannya dengan  Aisyah  bt.  Abi  Bakr,  yang  waktu  itu baru berusia

sepuluh atau sebelas  tahun.  Ia  adalah  seorang  gadis  yang lemah-lembut  dengan  air  muka  yang manis dan sangat disukai dalam  pergaulan.  Ketika  itu  ia  sedang  menjenjang  remaja puteri,   mempunyai  kegemaran  bermain-main  dan  bersukaria. Pertumbuhan badannya baik sekali.

Pertama ia pindah ke tempatnya yang sekarang di samping tempat Sauda di sisi mesjid, ia melihat Muhammad adalah seorang ayah yang penuh kasih-sayang, seorang suami yang penuh  cintakasih. Ia  tidak  keberatan  ikut  bermain-main  dengan barang-barang mainannya itu. Dengan itu Aisyah telah menghiburnya pula  dari pikiran  yang  berat-berat yang selalu menjadi bebannya karena suasana politik Yathrib yang kini sudah mulai diarahkan dengan sebaik-baiknya itu.

Dalam   suasana   kaum  Muslimin  yang  sudah  mulai  tenteram menjalankan tugas-tugas agama itu, pada  waktu  itu  kewajiban zakat  dan  puasa  mulai  pula dijalankan hukumnya. Di Yathrib inilah Islam  mulai  menemukan  kekuatannya.

Panggilan Sholat

Ketika  Muhammad sampai  di  Medinah,  bila  ketika  itu waktu-waktu sembahyang sudah tiba, orang berkumpul bersama-sama tanpa dipanggil. Lalu terpikir    akan    memanggil   orang   bersembahyang   dengan mempergunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Tetapi dia tidak  menyukai  terompet  itu.  Lalu dianjurkan mempergunakan genta, yang akan dipukul waktu sembahyang,  seperti  dilakukan oleh orang-orang Nasrani.

Tetapi  kemudian  sesudah  ada  saran dari Umar dan sekelompok Muslimim – menurut satu sumber, – atau dengan  perintah  Tuhan melalui  wahyu,  menurut sumber lain – penggunaan genta inipun dibatalkan dan diganti dengan azan. Selanjutnya diminta kepada Abdullah b. Zaid b. Tha’laba:

“Kau pergi dengan Bilal dan bacakan kepadanya – maksudnya teks azan – dan suruh dia menyerukan azan itu, sebab suaranya lebih merdu dari suaramu.”

Di  samping  mesjid  ada sebuah rumah kepunyaan seorang wanita dari Banu’n-Najjar yang lebih tinggi dari mesjid.  Bilal  naik keatas rumah itu lalu menyerukan azan. Dengan demikian, setiap hari di waktu fajar seluruh penduduk Yathrib mendengar  seruan bersembahyang itu diucapkan dengan alunan suara yamg indah dan lembut sekali, yang ditujukan Bilal ke  segenap  penjuru,  dan

menggema ke telinga pendengarnya:

“Allahu  Ahbar!  Allahu  Akbar! Asyhadu an la ilaha illa Allah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayy ‘ala’  sh-shala  hayy’ala’l-falah.  Allahu Akbar.  Allahu  Akbar.  La  ilaha  illa Allah.” (Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Aku bersaksi  tak ada  tuhan  selain  Allah.  Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Marilah sembahyang. Marilah mencapai kemenangan. Allah  Maha  Besar.  Allah  Maha  Besar.  Tak ada tuhan selain Allah).

Kota Yatrib Menjadi kota aman yang menyatu dari hati. Dengan demikian ini rasa takut yang selama ini membayangi kaum Muslimin  telah  berubah  jadi aman dan tenteram. Yathrib kini telah menjadi Madinat’r-Raslll – menjadi  Kota  –  Rasulullah. Penduduk kota ini yang bukan Islam sudah pula merasakan adanya kekuatan kaum Muslimin  – suatu kekuatan yang  bersumber  dari lubuk   hati  yang  sudah  mengenal  pengorbanan,  yang  sudah mengalami pelbagai macam penderitaan, demi membela iman.  Kini mereka  memetik  buahnya,  buah  kesabaran dan ketabahan hati.Mereka  merasakan  adanya  kebebasan   beragama   yang   telah ditentukan  Islam  itu dan bahwa tidak ada kekuasaan seseorang

atas manusia lain, dan bahwa agama hanya  bagi Allah  semata, hanya kepadaNya adanya pengabdian itu. Di hadapan Tuhan semua manusia itu sama.  Balasan  yang  akan  mereka  terima  sesuai dengan  perbuatan  yang  mereka  lakukan  dan dengan niat yang telah mendorong perbuatan itu.

Sekarang  jalan  sudah  terbuka  di  hadapan  Muhammad dalam menyebarkan  ajaran-ajarannya  itu. Dan biarlah pribadinya dan segala tingkah lakunya yang  akan  menjadi  teladan  tertinggi dalam  ajaran-ajarannya  itu.  Dan  biarlah ini pula yang akan menjadi batu pertama dalam pembinaan peradaban Islam.

Batu pertama ini ialah persaudaraan umat manusia: persaudaraan yang  akan  mengakibatkan  seseorang  tidak  sempurna  imannya sebelum  ia  dapat mencintai  saudaranya  seperti   mencintai dirinya  sendiri  dan  sebelum persaudaraan demikian itu dapat mencapai kebaikan dan  rasa  kasih-sayang  tanpa  suatu  sikap lemah  dan  mudah  menyerah.  Ada  orang  yang bertanya kepada Muhammad; “Perbuatan apakah yang baik dalam  Islam?”  Dijawab: “Sudi  memberi  makan  dan  memberi  salam  kepada  orang yang kaukenal dan yang tidak kaukenal.”

Dalam khutbah pertama yang diucapkannya di Medinah ia berkata: “Barangsiapa  yang  dapat  melindungi  mukanya dari api neraka sekalipun hanya dengan sebutir kurma,  lakukanlah  itu.  Kalau itupun  tidak  ada,  maka  dengan  kata-kata  yang baik. Sebab dengan itu, kebaikan itu mendapat balasan sepuluh kali lipat.” Dan  dalam  khutbahnya  yang kedua dikatakannya: “Beribadatlah

kamu sekalian kepada Allah  dan  janganlah  mempersekutukanNya dengan  apapun. Benar-benar takutlah kamu kepadaNya. Hendaklah kamu jujur terhadap Allah tentang apa yang kamu  katakan  baik itu;  dan  dengan  ruh  Allah  hendaklah  kamu sekalian saling cinta-mencintai.  Allah  sangat  murka   kepada   orang   yang melanggar janjinya sendiri.”

Dengan  kata-kata ini dan yang semacam ini ia berbicara dengan sahabat-sahabatnya itu, ia berkhutbah di mesjid  kepada  orang banyak,   sambil   bersandar  pada  batang  pohon  kurma  yang dijadikan penopang atap mesjid itu, yang kemudian lalu disuruh buatkan  mimbar  terdiri  dari tiga tangga. Waktu menyampaikan khutbah ia berdiri  pada  tangga  pertama,  dan  pada  tingkat tangga kedua di waktu ia duduk.

Bukan  hanya  kata-katanya  itu saja yang menjadi sendi ajaran adanya persaudaraan demikian itu, yang dalam  peradaban  Islam merupakan   bagian   yang   penting   sekali,  melainkan  juga perbuatannya serta teladan  yang  diberikannya  adalah  contoh persaudaraan  dalam  bentuknya  yang benar-benar sempurna. Dia adalah  Rasulullah  –  Utusan  Allah;  tapi   tidak   mau   ia

menampakkan  diri dalam gaya orang berkuasa, atau sebagai raja atau pemegang kekuasaan duniawi. Kepada sahabat-sahabatnya  ia berkata:  “Jangan  aku  dipuja,  seperti  orang-orang  Nasrani memuja anak Mariam. Aku adalah hamba Allah.  Sebutkan  sajalah hamba Allah dan RasulNya.”

Sekali  pernah  ia  mendatangi  sekelompok  sahabat-sahabatnya sambil  bertelekan  pada  sebatang  tongkat.  Mereka   berdiri menyambutnya.  Tapi  dia berkata: “Jangan kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan.

Apabila ia mengunjungi sahabat-sahabatnya iapun  duduk  dimana saja   ada   tempat   yang   terluang.   Ia   bergurau  dengan sahabat-sahabatnya, bergaul dengan mereka,diajaknya  mereka bercakap-cakap, anak-anak merekapun diajaknya bermain-main dan didudukkannya mereka itu dipangkuannya. Dipenuhinya undangan

yang  datang  dari  orang  merdeka  atau  dari si budak dan si miskin. Dikunjunginya  orang  yang  sedang  sakit,  yang  jauh tinggal  di  sana, di ujung kota. Orang yang datang minta maaf dimaafkannya. Dan ia yang memulai memberi salam  kepada  orang yang  dijumpainya.  Ia  yang  lebih  dulu  mengulurkan  tangan menjabat sahabat-sahabatnya. Apabila ada orang  yang  menunggu ia  sedang  salat, dipercepatnya sembahyangnya lalu ditanyanya orang itu akan  keperluannya. Sesudah  itu  kembali  lagi  ia meneruskan ibadatnya.  Baik  hati  ia kepada setiap orang dan selalu senyum.  Dalam  rumah-tangga,  ia  ikut  memikul  beban keluarga:  ia  mencuci  pakaian,  menambalnya dan memerah susu kambing. Ia juga yang menjahit terompahnya,  menolong  dirinya

sendiri  dan  mengurus  unta.  Ia  duduk  makan bersama dengan bujang, ia juga mengurus  keperluan  orang  yang  lemah,  yang menderita  dan orang miskin. Apabila ia melihat seseorang yang sedang dalam kebutuhan ia dan keluarganya mengalah,  sekalipun mereka   sendiri   dalam  kekurangan,  tak  ada  sesuatu  yang disimpannya untuk  besok;  sehingga  tatkala  ia  wafat,  baju besinya  sedang  tergadai  di  tangan  seorang Yahudi – karena untuk keperluan belanja keluarganya. Sangat  rendah  hati  ia, selalu  memenuhi janji. Tatkala ada sebuah delegasi dari pihak Najasi datang, dia  sendiri  yang  melayani  mereka,  sehingga sahabat-sahabat menegurnya:

“Sudah cukup ada yang lain,” kata sahabat-sahabatnya itu.

“Mereka  sangat  menghormati  sahabat-sahabat  kita,” katanya.

“Saya ingin membalas sendiri kebaikan mereka.

———————————————

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: