MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Nabi Muhammad SAW di Medinah

Posted by Bustamam Ismail on October 20, 2009

nbmA. Yathrib Menyambut Nabi Muhammad SAW

Yathrib menyambut Muhajir Besar – Pembinaan mesjid dan tempat-tempat tinggal Nabi – Kebebasan beragama bagi seluruh penduduk Yathrib – Orang-orang Yahudi Medinah -Muhammad mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar -Perjanjiannya dengan Yahudi menetapkan kebebasan beragama – Perkawinan Muhammad dengan Aisyah – Azan sembahyang – Teladan dan ajaran-ajaran Muhammad -Kuatnya agama baru dan takutnya pihak Yahudi – Kiblat dari al-Masjid’l-Aqsha dialihkan ke al-Masjid’l-Haram -Delegasi Nasrani ke Medinah – Pertemuan tiga agama di Yathrib – Kaum Muslimin mempertimbangkan kedudukannya terhadap Quraisy

BERBONDONG-BONDONG  penduduk  Yathrib  ke  luar  rumah  hendak menyambut   kedatangan   Muhammad,  pria  dan  wanita.  Mereka berangkat setelah tersiar berita  tentang  hijrahnya,  tentang Quraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas  yang  begitu  membakar  dalam  perjalanan  yang  sangat meletihkan,   mengarungi   bukit  pasir  dan  batu  karang  di tengah-tengah dataran Tihama, yang  justru  memantulkan  sinar matahari  yang  panas  dan  membakar itu. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar  berita  tentang  ajakannya yang  sudah  tersiar  di seluruh jazirah. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.

Akan tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi, yakni karena  orang  yang hijrah   dari  Mekah  ini  akan  menetap  di  Yathrib.  Setiap golongan, setiap kabilah  dari  penduduk  Yathrib,  dari  segi politik   dan  sosial  dalam  hal  ini  memberikan  efek  yang bermacam-macam. Inilah  yang  lebih  banyak  mendorong  mereka menyongsong  keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin mengetahui, benarkah hal itu akan memperkuat dugaan mereka, ataukah mereka harus menarik diri.

B. Sambutan Orang Yahudi terhadap Rasul

Oleh  karena itu, sambutan orang-orang musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang daripada sambutan kaum  Muslimin, baik  dari Muhajirin maupun dari kalangan Anshar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai dengan perasaan yang  berkecamuk  dalam hati   masing-masing   terhadap  pendatang  orang  besar  itu, denyutan jantung merekapun tidak sama  pula  satu  sama  lain. Mereka  sama-sama  mengikutinya  tatkala  ia melepaskan kekang untanya  dan  membiarkannya  berjalan  sekehendaknya  sendiri, dengan   agak   kurang   teratur  karena  masing-masing  ingin memandang  wajahnya.  Semua   ingin   mengelilinginya   dengan pandangan  mata  tentang  orang  yang gambarnya sudah terlukis dalam jiwa masing-masing, tentang  orang  yang  telah  membuat Ikrar  Aqaba  kedua,  bersama-sama  penduduk  kota  ini – guna melakukan perang  mati-matian  terhadap  Quraisy;  orang  yang telah   hijrah  meninggalkan  tanah  airnya,  berpisah  dengan

keluarganya  dengan  memikul  segala  tekanan  permusuhan  dan tindakan   kekerasan   dari   mereka  selama  tigabelas  tahun terus-menerus. Ini semua demi keyakinan tauhid  kepada  Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini serta mengungkapkan hakekat yang ada dengan jalan itu.

C.Tempat berhenti Unta Nabi Isyarat Untuk  Membangun Mesjid

Unta yang  dinaiki  Nabi  alaihi  ssalam  berlutut  di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna dipakai tempat membangun mesjid.  Sementara

tempat  itu dibangun ia tinggal pada keluarga Abu Ayyub Khalid b. Zaid al-Anshari. Dalam membangun mesjid itu  Muhammad  juga turut  bekerja  dengan  tangannya  sendiri. Kaum Muslimin dari kalangan  Muhajirin  dan   Anshar   ikut   pula   bersama-sama membangun. Selesai mesjid itu dibangun, di sekitarnya dibangun pula tempat-tempat  tinggal  Rasul.  Baik  pembangunan  mesjid maupun   tempat-tempat   tinggal   itu  tidak  sampai  memaksa seseorang,  karena  segalanya  serba  sederhana,   disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Muhammad.

Mesjid itu merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, keempat temboknya  dibuat  daripada  batu  bata  dan  tanah.   Atapnya sebagian  terdiri  dari  daun  kurma  dan  yang  sebagian lagi dibiarkan terbuka, dengan salah  satu  bagian  lagi  digunakan tempat    orang-orang    fakir-miskin    yang    tidak   punya tempat-tinggal. Tidak ada penerangan  dalam  mesjid  itu  pada malam  hari.  Hanya  pada waktu salat Isya diadakan penerangan dengan membakar jerami.  Yang  demikian  ini  berjalan  selama sembilan   tahun.  Sesudah  itu  kemudian  baru  mempergunakan lampu-lampu  yang  dipasang  pada  batang-batang  kurma   yang dijadikan  penopang atap itu. Sebenarnya tempat-tempat tinggal Nabi sendiri tidak lebih  mewah  keadaannya  daripada  mesjid, meskipun memang sudah sepatutnya lebih tertutup.

Selesai  Muhammad  membangun  mesjid  dan  tempat-tinggal,  ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini.  Sekarang  terpikir olehnya  akan adanya hidup baru yang harus dimulai, yang telah membawanya dan membawa dakwahnya itu harus  menginjak  langkah baru  lebih  lebar.  Ia  melihat  adanya suku-suku yang saling

bertentangan dalam kota ini, yang oleh  Mekah  tidak  dikenal. Tapi   juga  ia  melihat  kabilah-kabilah  dan  suku-suku  itu semuanya merindukan adanya suatu kehidupan damai dan tenteram, jauh  dari  segala  pertentangan dan kebencian, yang pada masa lampau telah  memecah-belah  mereka.  Kota  ini  akan  membawa

ketenteraman  pada masa yang akan datang, yang diharapkan akan lebih kaya dan lebih terpandang daripada Mekah.  Akan  tetapi, bukanlah  kekayaan  dan  kehormatan  Yathrib  itu yang menjadi tujuan Muhammad yang pertama, sekalipun ini ada  juga.  Segala tujuan  dan  daya-upaya, yang pertama dan yang terakhir, ialah

meneruskan risalah,  yang  penyampaiannya  telah  dipercayakan Tuhan  kepadanya,  dengan  mengajak dan memberikan peringatan. Akan  tetapi,  oleh  penduduk  Mekah  sendiri,   dengan   cara kekerasan  risalah  ini  dilawan  mati-matian, sejak dari awal kerasulannya sampai  Rada  waktu  hijrah.  Karena  takut  akan

penganiayaan dan tindakan kekerasan pihak Quraisy, risalah dan iman  itu  tidak  sampai   memasuki   setiap   kalbu.   Segala penganiayaan  dan  tindakan  kekerasan  ini  menjadi perintang antara iman dengan kalbu manusia yang belum lagi menerima iman itu.

Baik  kaum Muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Tuhan dan sudah masuk  ke  dalam agama Allah, akan terlindung ia dari gangguan; bagi orang yang sudah beriman akan tambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu,  atau masih takut-takut atau yang lemah akan segera

pula menerima iman itu.Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad, ia  tinggal di Yathrib, ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya  ditulis.  Ia  tak  pernah

memikirkan  kerajaan,  harta-benda  atau  perniagaan.  Seluruh tujuannya ialah memberikan ketenangan jiwa  bagi  mereka  yang menganut  ajarannya dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut kepercayaan agama masing-masing.  Baik  bagi  seorang Muslim,  seorang  Yahudi,  atau  seorang Kristen masing-masing

mempunyai kebebasan  yang  sama  dalam  menganut  kepercayaan, kebebasan  yang  sama  menyatakan  pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan  propaganda  agama.  Hanya  kebebasanlah yang   akan   menjamin   dunia   ini  mencapai  kebenaran  dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat.

Setiap   tindakan   menentang   kebebasan  berarti  memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan  yang  akhirnya  akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya  ini  yang  akan  menghubungkan  hati nurani  manusia  dengan alam semesta ini, dari awal yang azali

sampai pada akhirnya yang abadi, suatu hubungan yang  menjalin rasa  kasih  sayang  dan  persatuan,  bukan rasa kebencian dan kehancuran

Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada  Muhammad sejak  ia  hijrah.  Dan  karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam  hal  ini  selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan,  membela  agama dan  kepercayaan.  Bukankah,  ketika  mendengar  ada mata-mata memanggil-manggil Quraisy, memberi peringatan  tentang  mereka itu,  penduduk  Yathrib yang ikut mengadakan Ikrar Aqaba kedua berkata kepadanya?

“Demi Allah yang telah  mengutus  tuan  atas  dasar  kebenaran kalau  sekiranya  tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami.”

Dijawabnya:

“Kami tidak diperintahkan untuk itu.” Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi?

“Diijinkan (berperang) kepada mereka  yang  diperangi,  karena mereka  dianiaya;  dan  sesungguhnya Allah Maha kuasa menolong mereka.” (Qur’an, 8: 39)

Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal  perang  itu  Tuhan berfirman?

“Dan  perangilah  mereka  supaya  jangan  ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya untuk Allah.” (Qur’an, 2:  193)

Jadi  pertimbangan  pikiran  Muhammad  dalam  hal  ini   hanya mempunyai  satu  tujuan  yang  luhur, yaitu menjamin kebebasan beragama dan menyatakan pendapat. Hanya  untuk  mempertahankan itulah  perang dibenarkan, dan hanya untuk itu pula dibenarkan menangkis serangan pihak agresor, sehingga  jangan  ada  orang yang  dapat  dikacau  dari  agamanya dan jangan pula ada orang yang ditindas karena kepercayaan atau pendapatnya.

Kalau inilah tujuan Muhammad  dalam  pertimbangannya  mengenai masalah  Yathrib  serta  harus menjamin adanya kebebasan, maka penduduk kota ini pun menyambutnya dalam pikiran yang  serupa, meskipun  setiap  golongan pertimbangannya saling bertentangan satu sama lain. Penduduk Yathrib pada waktu itu  terdiri  dari

kaum  Muslimin  –  Muhajirin  dan Anshar – orang-orang musyrikn dari  sisa-sisa  Aus  dan  Khazraj  –  sedang  hubungan  kedua golongan   ini   sudah   sama-sama   kita   ketahui;  kemudian orang-orang  Yahudi:  Banu  Qainuqa  di  sebelah  dalam,  Banu Quraiza  di  Fadak,  Banu’n-Nadzir  tidak  jauh  dari sana dan

Yahudi Khaibar di Utara.

Ada pun kaum Muhajirin dan Anshar,  karena  solidaritas  agama baru itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Sungguhpun begitu, kekuatiran  dalam  hati  Muhammad  belum  hilang   samasekali, kalau-kalau suatu waktu kebencian lama di kalangan mereka akan kembali  timbul.  Sekarang  terpikir  olehnya   bahwa   setiap

keraguan  semacam itu harus dihilangkan. Usaha ini akan tampak juga pengaruhnya

Sebaliknya golongan musyrik dari sisa-sisa  Aus  dan  Khazraj, akibat  peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah-tengah kaum Muslimin dan Yahudi  itu.  Mereka mencari  jalan  supaya  antara  keduanya  itu  timbul insiden. Selanjutnya golongan Yahudi dengan tiada  ragu-ragu  merekapun menyambut  baik kedatangan Muhammad dengan dugaan bahwa mereka akan dapat membujuknya dan  sekaligus  merangkulnya  ke  pihak mereka,  serta  dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah  Arab.  Dengan  demikian  mereka   akan   dapat   pula membendung   Kristen,  yang  telah  mengusir  Yahudi,  -bangsa pilihan Tuhan – dari  Palestina,  Tanah  yang  Dijanjikan  dan tanah air mereka itu.

Dengan  dasar  pikiran  itulah  mereka masing-masing bertolak. Mereka membukakan jalan  supaya  tujuan  mereka  masing-masing mudah tercapai.

Di  sinilah  fase  baru  dalam hidup Muhammad itu dimulai yang sebelum  itu  tiada  seorang  nabi  atau  rasul  yang   pernah mengalaminya. Di sini dimulainya suatu fase politik yang telah diperlihatkan oleh Muhammad dengan segala kecakapan, kemampuan dan pengalamannya, yang akan membuat orang jadi termangu, lalu

menundukkan  kepala  sebagai  tanda  hormat  dan  rasa  kagum. Tujuannya yang pokok akan mencapai Yathrib – tanah airnya yang baru – ialah meletakkan dasar kesatuan politik dan organisasi, yang  sebelum  itu  di  seluruh  wilayah  Hijaz belum dikenal; sungguhpun jauh sebelumnya di Yaman memang sudah pernah ada.

D. Musyawarah Langkah Rasul memecahkan Masalah

Sekarang ia bermusyawarah dengan kedua wazirnya itu  Abu  Bakr dan  Umar  –  demikianlah  mereka dinamakan. Dengan sendirinya yang menjadi pokok pikirannya yang  mula-mula  ialah  menyusun barisan  kaum Muslimin serta mempererat persatuan mereka, guna menghilangkan segala  bayangan  yang  akan  membangkitkan  api

permusuhan  lama di kalangan mereka itu. Untuk mencapai maksud ini  diajaknya  kaum   Muslimin   supaya   masing-masing   dua bersaudara,  demi  Allah. Dia sendiri bersaudara dengan Ali b. Abi  Talib.  Hamzah  pamannya  bersaudara  dengan  Zaid  bekas budaknya.  Abu  Bakr  bersaudara  dengan Kharija b. Zaid. Umar

ibn’l-Khattab, bersaudara dengan ‘Itban b. Malik  al-Khazraji. Demikian  juga  setiap  orang  dari kalangan  Muhajirin  yang sekarang sudah banyak jumlahnya di Yathrib  –  sesudah  mereka yang  tadinya  masih  tinggal  di  Mekah  menyusul  ke Medinah setelah Rasul hijrah  –  dipersaudarakan  pula  dengan  setiap

orang  dari pihak Anshar, yang oleh Rasul lalu dijadikan hokum saudara sedarah  senasib.  Dengan  persaudaraan  demikian  ini persaudaraan kaum Muslimin bertambah kukuh adanya.

Ternyata  kalangan  Anshar memperlihatkan sikap keramahtamahan yang luarbiasa terhadap saudara-saudara mereka kaum  Muhajirin ini,  yang  sejak  semula  sudah  mereka  sambut  dengan penuh

gembira. Sebabnya ialah, mereka telah meninggalkan Mekah,  dan bersama  itu mereka tinggalkan pula segala yang mereka miliki, harta-benda dan semua kekayaan. Sebagian besar  ketika  mereka memasuki  Medinah  sudah hampir tak ada lagi yang akan dimakan disamping mereka memang bukan orang  berada  dan  berkecukupan selain  Usman  b.  ‘Affan.  Sedangkan yang lain sedikit sekali yang dapat membawa sesuatu yang berguna dari Mekah.

Pada suatu hari Hamzah paman Rasul pergi mendatanginya  dengan permintaan kalau-kalau ada yang dapat dimakannya. Abdur-Rahman b. ‘Auf yang sudah bersaudara dengan Sa’d  bin’r-Rabi’  ketika di  Yathrib  ia  sudah  tidak  punya apa-apa lagi. Ketika Sa’d menawarkan hartanya akan dibagi dua, Abdur-Rahman menolak.  Ia hanya  minta  ditunjukkan  jalan  ke  pasar. Dan di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju.  Dalam  waktu  tidak  berapa lama,  dengan  kecakapannya  berdagang ia telah dapat mencapai kekayaan kembali, dan dapat pula memberikan  mas-kawin  kepada salah   seorang   wanita   Medinah.   Bahkan  sudah  mempunyai

kafilah-kafilah yang pergi  dan  pulang  membawa  perdagangan. Selain Abdur-Rahman, dari kalangan Muhajirin, banyak juga yang telah melakukan hal serupa itu. Sebenarnya  karena  kepandaian

orang-orang  Mekah  itu  dalam  bidang  perdagangan sampai ada orang mengatakan: dengan perdagangannya itu ia dapat  mengubah pasir sahara menjadi emas.

E. Shahabat yang melakukan pertanian

Adapun   mereka  yang  tidak  melakukan  pekerjaan  berdagang, diantaranya ialah  Abu  Bakr,  Umar,  Ali  b.  Abi  Talib  dan lain-lain.  Keluarga-keluarga mereka terjun kedalam pertanian, menggarap  tanah   milik   orang-orang   Anshar   bersama-sama pemiliknya.   Tetapi   selain   mereka  ada  pula  yang  harus

menghadapi kesulitan dan kesukaran hidup.  Sungguhpun  begitu, mereka ini tidak mau hidup menjadi beban orang lain. Merekapun membanting  tulang  bekerja,  dan  dalam  bekerja  itu  mereka merasakan  adanya ketenangan batin, yang selama di Mekah tidak pernah mereka rasakan.

F. Ahli Shuffah

Di samping itu  ada  lagi  segolongan  orang-orang  Arab  yang datang  ke  Medinah  dan menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan serba kekurangan sampai-sampai ada diantara  mereka yang   tidak  punya  tempat  tinggal.  Bagi  mereka  ini  oleh Muhammad disediakan tempat di  selasar  mesjid  yaitu  shuffa

[bahagian mesjid yang beratap] sebagai tempat tinggal mereka. Oleh  karena  itu  mereka  diberi nama Ahl’sh-Shuffa (Penghuni Shuffa). Belanja mereka diberikan dari  harta  kaum  Muslimin,baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar yang berkecukupun.

Dengan adanya persatuan kaum Muslimin dengan cara persaudaraan itu Muhammad sudah merasa  lebih  tenteram.  Sudah  tentu  ini merupakan  suatu  langkah  politik  yang  bijaksana sekali dan sekaligus menunjukkan  adanya  suatu  perhitungan  yang  tepat serta  pandangan  jauh. Baru tampak kepada kita arti semua ini

bila kita melihat segala daya-upaya kaum Munafik  yang  hendak merusak  dan  menjerumuskan  kaum Muslimin ke dalam peperangan antara Aus dengan Khazraj dan antara Muhajirin dengan  Anshar. Akan  tetapi suatu operasi politik yang begitu tinggi dan yang menunjukkan adanya kemampuan luarbiasa, ialah apa  yang  telah

dicapai  oleh Muhammad dengan mewujudkan persatuan Yathrib dan meletakkan  dasar  organisasi  politiknya  dengan   mengadakan persetujuan  dengan  pihak  Yahudi atas landasan kebebasan dan persekutuan yang  kuat  sekali.  Orang  sudah  melihat  betapa mereka  menyambut baik kedatangannya dengan harapan akan dapat dibujuknya ke pihak mereka.  Penghormatan  mereka  ini  dengan segera  dibalasnya  pula  dengan penghormatan yang sama serta mengadakan tali silaturahmi dengan mereka.  Ia  bicara  dengan kepala-kepala  mereka,  didekatkannya pembesar-pembesar mereka dibentuknya dengan mereka itu suatu tali persahabatan,  dengan pertimbangan  bahwa mereka juga Ahli Kitab dan kaum monotheis. Lebih dari itu bahwa pada waktu  mereka  berpuasa  iapun  ikut puasa.   Pada  waktu  itu  kiblatnya  dalam  sembahyang  masih menghadap ke Bait’l-Maqdis,  titik  perhatian  mereka,  tempat terkumpulnya  semua  Keluarga  Israil.  Persahabatannya dengan pihak Yahudi dan persahabatan pihak Yahudi  dengan  dia  makin sehari makin bertambah erat dan dekat juga.

Sumber :

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: