MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Belajar dari Hikayat Kayu Ara dan Batu

Posted by Bustamam Ismail on August 27, 2009

Kayu AraAlkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang

saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama

kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda

terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat

di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan

bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah

menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk

pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis.

Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan,

dalam kawalan ketat para pengawal.Rombongan itu bergerak terus hingga pada

suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak

diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang

anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.

“Bapa, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar

daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?”.

“Baik pengamatan mu, anak ku”, jawab Ayahnya,”bagi orang biasa itu hanyalah

batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak

berbeda”.

“Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?”, tanya anaknya

kembali.

“Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat

berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit

dari kita yang menggubris ajakan itu.”.

“Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?”

“Tentu buah hatiku”, sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.

“Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hati ku.

Dan kakek mu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku

menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu

itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak oleh mu sebenarnya

sedang menindih sebuah biji pohon ara.”

“Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu

Bapa ?”

“Tidak anak ku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan

mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat

pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat

di tepi jalan kemarin”.

“Bilakah hal itu terjadi Bapa ?”

“Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon

ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan

angin dan dari mata segala hewan. Sampai beberapa waktu kemudian benih itu

akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan

di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa

cukup barulah tunas nya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh

semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang

menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara

akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang

pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya

benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang

berlindung dari terik matahari yang membakar.”

“Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa ?”, tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian

meneruskan penjelasannya.

“Benar anak ku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan

terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan

pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah

kesempatan bagi mu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya

tampil sebagai pemenang. Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon

ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang

demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat

menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha

Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan

menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini.

Perhatikanlah kata-kata ini anak ku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu,

sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena

memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita.”

Sumber: Hikayat Batu Dan Pohon Ara Made Teddy Artiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: