MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Persaudaraan Membawa Nikmat dan Solusi

Posted by Bustamam Ismail on June 18, 2009

sdrDan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.â€� (QS. Ali ‘Imran: 103)

Berpegang teguh kepada tali agama Allah (Al-Qur’an)

Manusia adalah makhluk sosial, yang diciptakan oleh Allah swt., dengan fitrah saling membutuhkan antar satu sama lain. Semakin banyak sebuah komunitas manusia, maka semakin dirasakan rasa saling membutuhkannya. Namun sayang, hal ini sering terlupakan oleh nafsu individualistis dan egois. Sehingga tidak jarang terjadi miskomunikasi, yang berdampak pada lahirnya ketidak nyamanan dalam kehidupan. Untuk itulah Allah swt. secara khusus di dalam ayat ini berbicara tentang persaudaraan.
Ayat 103 surat Ali-Imraan ini turun ketika orang-orang muslim Madinah, yang terdiri dari dua kabilah besar; Aus dan Khazraj terpropokasi oleh orang Yahudi.

Sebelum Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, mereka selalu mengadakan pertempuran selama 120 tahun, yang pada awalnya Aus dam Khazraj adalah saudara kakak beradik. Ketika mereka beranak pinak dan menjadi dua kabilah besar, terjadilah persaingan kekuasaan dan ekonomi, yang berakibat menelan banyak korban. Di samping itu perseteruan mereka dimanfaatkan oleh imigran Yahudi dengan cara
mengadu domba mereka dan mengeksploitasi kemiskinan. Sehingga lengkaplah penderitaan masyarakat penduduk asli Madinah.

Setelah Rasulullah saw. datang , orang-orang Madinah menyambutnya dengan suka cita dan memeluk agama Islam. Kemudian persaudaraan pun terjalin kembali. Dan ternyata keberhasilan Rasulullah saw. Dalam membangun persaudaraan mereka berdampak negatif bagi kalangan Yahudi.
Sehingga pada suatu saat terjadilah provokasi adu domba, dengan mengungkit-ungkit peristiwa masa lalu; bahwa bapak si Fulan dibunuh oleh bapaknya si Fulan.

Provokasi ini cukup berhasil memanaskan suasana dan hampir saja terjadi pertempuran antara dua kabilah, yang sudah dipersaudarakan kembali oleh Rasulullah saw. Namun beruntung, ada salah seorang yang menyadari bahaya perpecahan yang terjadi. Sehingga pergilah dia menemui Rasulullah saw. untuk menyampaikan peristiwa tersebut. Lalu Rasul pun datang membacakan surah Ali Imran ayat 103 ini.

Orang-orang yang dalam keadaan marah, dengan senjata siap tempur, kepala sudah mendidih dan sudah saling berhadap-hadapan, dengan ayat ini seolah-olah disiram dengan air yang sejuk yang penuh inspirasi.
Otot-otat keras mereka lalu mengendur sejadi-jadinya, senjata yang siap terhunus berjatuhan terlepas dari genggaman, amarah mereka mereda hingga bercucuran air mata dan menyesal atas peristiwa tersebut. Itulah Al Qur’an berfungsi sebagai penyejuk hati dan pencerdas akal. Dan melahirkan sikap ramah dan santun. Sehingga persaudaraan pun terjalin kembali.

Adapun bagi ummat Islam pada saat ini, yang sudah jauh 14 abad dari jaman Rasulullah saw. memerlukan proses membangun kesadaran atas besarnya fungsi Al Qur’an dalam membina kehidupan.
Proses yang paling pertama adalah meyakini, bahwa Al Qur’an merupakan kalamullah, yang sengaja diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi hamba-hambaNya, yang hal itu diawali dengan belajar membaca dan menulisnya dengan baik, kemudian memahaminya dengan metode yang
sederhana dan aplikatif untuk diamalkan dalam kehidupan, dan selanjutnya dipahami dengan baik dan utuh untuk didakwahkan kepada masyarakat yang berada di sekitar.

Rasulullah Saw bersabda;
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang belajar Al-Quran dang mengajarkannya� Didalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda; “Sampaikanlah keterangan daripadaku walaupun hanya satu ayat�

Hadits ini menjelaskan bahwasannya didalam membangun kehidupan; cara yang paling efektif adalah diawali dengan proses belajar dan mengajar Al-Quran, bahkan bagi orang yang baru hanya mendapatkan pengetahuan berupa satu ayat Al-Quran hendaknya menyampaikan ayat tersebut kepada
masyarakat.

Karena Al-Qur’an yang dia baca serta dipahami dan diamalkan isinya berdampak positif bagi dirinya; terutama prilakunya,dan bagi orang di sekitarnya. Sementara itu, jika ia baca namun tidak ada usaha memahami isinya sehingga tidak dapat mengamalkannya dengan baik, maka Al Qur’an tidak banyak berpengaruh pada prilaku dirinya, begitu pula bagi orang di sekitarnya; Al Qur’an malah hanya menjadi
senandung nyanyian yang hanya manis di dengar.

Proses meyakini Al Qur’an inilah yang disebut dengan “berpegang teguh kepada Al-Qur’anâ€�,
yang makin hari bertambah erat dan kuat, sehingga tidak akan lepas untuk selamanya. Berbeda dengan asal pegang, yang tidak pernah diupayakan untuk lebih erat dan lebih kuat, yang tidak mustahil
seringkali lepas, bahkan lepas sama sekali. Untuk itulah perlunya proses pendidikan dalam Islam sejak dini.

Sayang, banyak di antara orang tua sekarang justru tidak mengajarkan Islam kepada anak-anaknya sejak kecil dan memanjakannya dengan kebebasan tanpa batas, dengan berdalih; tidak ingin memaksakan doktrin kepada anak yang masih kecil, karena hal itu merupakan sebuah tindakan kekerasan
terhadap anak dan melanggar Hak Azasinya. Padahal 1+1=2. Itu kita ajarkan kepada anak yang kecil sejak dini, supaya mereka tahu dan ingat dalam memorinya dan mengamalkannya hingga dewasa. Bukankah itu doktrin? Tak mungkin anak dibiarkan menemukan sendiri 1+1 berapa jawabannya tanpa bimbingan. Bisa jadi, yang ia temukan malah 1+1=100. Dia malah menjadi tersesat dalam kebathilan dan kebohongan dengan jawaban itu selamanya, bahkan hingga akhir hidupnya, jika tidak ada yang
membimbingnya dan mengoreksinya.

Menurut realitas di lapangan sejak para sahabat pada jaman Rasulullah dan diikuti oleh para ulama
selanjutnya, ummat Islam hanya bisa disatukan oleh sikap berpegang teguh kepada kitabullah. Sementara itu perpecahan yang terjadi sebagai akibat dari lalai terhadap kitabullah. Sehingga dapat kita simpulkan, bahwa persaudaraan merupakan salah satu nikmat Allah swt. yang harus disyukuri, bahkan merupakan kenikmatan terbesar dalam kehidupan sosial.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al Anfaal ayat 63: “dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana�.

Ayat ini menjelaskan, bahwasanya yang dapat melunakkan hati, mengakrabkan manusia terhadap sesamanya adalah Allah swt. Sementara itu Al Qur’an merupakan petunjuk Allah, yang sengaja
diturunkan untuk menjadi rahmat bagi manusia, dalam menempuh kehidupan, termasuk bermasyarakat.

Sedangkan dunia dan seisinya kalau diandalkan untuk mempersatukan manusia akan gagal dan sia-sia; tanpa hasil sama sekali. Apalagi jika tujuan mengorbankan harta bukan untuk mempersatukan manusia, akan tetapi hanya sekedar untuk membujuk dan merayu demi meraih kepentingan individu yang bersifat semu dan sementara; politik dan ekonomi. Hal ini hanya akan menjadi bumerang bom
waktu dalam menghancurkan bangsa.

Sebaliknya, dunia akan bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam bermasyarkat dan berbangsa,
apabila dikelola sebagai sarana berpegang teguh kepada kitabullah, yang sejatinya menuntun ummat manusia kepada kelembutan hati serta keramahan sikap dan kebersamaan dalam perjuangan. Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya. Yaitu kitabullah dan sunnah RasulNya.�
Hadits ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan kitabullah, merupakan pedoman yang sangat prinsipil dalam membangun kehidupan, agar senantiasa menemukan solusi dalam menyelesaikan segala
persoalan, terutama yang menyangkut masalah kemanusiaan seperti Ideologi, Pendidikan, Sosial dan yang lainnya.

Namun demikian, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi, diperlukan keyakinan total
terhadap Allah Swt yang telah menurunkannya, sebagai Dzat yang Maha Rahman dan Maha Rahim, penuh kasih sayang terhadap hambanya. Didunia sampai diakhirat.
——————–

One Response to “Persaudaraan Membawa Nikmat dan Solusi”

  1. terimakasih.semoga bacaan ini dpat bermanfaat bgi smua oranG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: