MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Mari Menjadi Failusuf

Posted by Bustamam Ismail on May 6, 2009

tdh-gFAILUSUF adalah penggemar monologi dengan jalan pikiran yang aneh. Mereka yang terus mabuk memamah dan memuntahkan kata-kata sulit, sambil melambungkan pikiran ke langit tinggi fatamorgana substansi dunia. Dan mereka yang tertarik, harus rela menjadi martir di lautan kata-kata, cuma untuk menyederhanakan jalan pikiran mereka.
Tetapi mengapa seorang failusuf harus mencari kalimat yang demikian rumitnya sekadar untuk mengungkapkan tentang makna kausalitas atau kebenaran? Harus rela memutar kepala, demi keutamaan abstraksi yang berenang di samudera istilah yang demikian ambiguitas, karena dibuat sangat kaya dengan rona dan makna?
Mengapa ketika para ilmuwan memecah-belah keseluruhan bagian, para failusuf justru mengintegrasikannya menjadi keseluruhan? Mengapa ketika para fisiolog mendalami organ-oran tubuh manusia, seorang failusuf lebih mabuk untuk mempelajari manusia itu sendiri? Dan di saat para biolog gemar mengurai satu persatu kehidupan organisme, mengapa pula para failusuf justru berusaha menemukan hakikat kehidupan?

Ada sebuah kalimat pendek untuk menyederhanakan jawaban dari rangkaian pertanyaan sulit di atas ini. Karena para failusuf mencari hakikat kehidupan yang terbijak, melalui inti dari spektrum gemerlapnya cahaya pemikiran.
Kita –oleh faktor ini— bisa jadi akan berada di posisi yang demikian berjarak, baik secara logika, intuisi, teologis dan metafisis dengan mereka. Kita yang awam, mencari kebenaran dan kebijakan kehidupan, cukup lewat jalan pintas di jembatan akal budi dan keyakinan agama. Sedang seorang failusuf melintas di titian kecemerlangan kekayaan pemikiran mereka. Pada saat kita berjuang sebatas mengejar keunggulan, mereka justru mencari kesempurnaan.
Namun siapapun dia, seorang failusuf, pertapa, sufi atau manusia-manusia sederhana semacam kita, pada intinya ingin kehidupan yang berkualitas. Yang membedakan tinggal lagi persepsi masing-masing kita tentang kualitas yang dimaksudkan itu. Dan saya percaya, kualitas hidup seseorang —seperti juga takdir—, sangat ditentukan oleh wataknya.
Saya tidak percaya Anda bisa dengan tulus menghargai seorang pejabat tinggi atau orang kaya, yang Anda tahu berwatak kurang baik. Tapi saya percaya Anda bisa dengan jujur menghargai seseorang biasa yang berwatak baik. Seperti juga saya percaya Tuhan lebih mencintai hamba-Nya yang berwatak baik, ketimbang seorang ulama yang berwatak buruk.
Kemashuran, kata pakar kepribadian Jackson Brown Jr, hanya lewat sesaat. Uang juga punya sayap. Sementara popularitas cuma kebetulan. Satu-satunya milik Anda yang tetap bertahan, adalah watak. Logikanya, sangat tidak bijak, jika seseorang lebih memilih untuk memuliakan kemashuran, harta dan popularitasnya, ketimbang wataknya.
“Manusia tidak perlu merasa hancur pada saat kehilangan harta, tetapi dia harus merasa bangkrut, malu dan binasa saat kehilangan watak baiknya,” kata al Hujwiri, penulis Kasyf al-Mahjub, buku tentang uraian spiritual para sufi yang terkenal. Kualitas hidup Anda ditentukan oleh watak Anda, tambah lain James Champy lewat buku Manajemen Rekayasa Ulang.
Puluhan buku yang ditulis para pakar pembangunan pribadi seperti Dale Carnegie, Zig Ziglar, Robyn Spizman, Charles Nobel, Peter Lauster, Julius Fast dan sejumlah nama tenar lainnya, intinya hanya mengajarkan kepada satu tujuan. Bagaimana memperoleh keunggulan dalam kehidupan. Bukan kesempurnaan. Dan keunggulan kehidupan hanya mampu tegak di altar watak yang baik.
UNTUK memahami kebijaksanaan hidup, pelajarilah filsafat, saran Thoreau. Atau lebih tegasnya, mari menjadi failusuf untuk bisa hidup dengan lebih bijak. Perlukah?
Mungkin tidak. Tak perlu menjadi failosof untuk bisa hidup lebih bijak. Karena kita cukup membangun keunggulan kehidupan melalui watak yang baik. Bukan terbang tinggi di awang-awang pemikiran untuk memburu sesuatu yang bernama kesempurnaan.
Kita perlu harga diri, bukan kemegahan. Kita sebatas butuh rasa hormat, bukan semata pangkat dan kedudukan. Kita suka kesederhanaan yang tulus, bukan senyum hangat yang kemudian mencibir di belakang.

Kita bukan orang yang mau dan mampu untuk terus berenang di gelombang tinggi lautan pemikiran. Merenda hidup dengan terus menggosok batu akal budi untuk mencptakan keniscayaan yang bernama intan kesempurnaan. Kita bukan Si Pengangkat Dagu yang melihat tumpukan harta dan gemerlap pangkat sebagai ukuran sukses kehidupan dunia. Kita bukan Tikus busuk yang rela mengorek lubang kotoran, menyelinap di antara sampah menjijikan, karena ambisi ingin memanjat di ketinggian.
Kita (harusnya) tetap saja menjadi manusia biasa. Seseorang yang berkata jika kebahagiaan sejati bisa dijangkau cukup dengan watak baik dan keyakinan kepada kebenaran semua hukum Tuhan, mengapa pula harus mau bersusah-payah mejadi martir di samudera tipu-daya dan angan-angan?***

Dikutip dari Tulisan Tatang DH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: