MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sosok Suharto dalam lintasan Sejarah Indonesia

Posted by Bustamam Ismail on December 16, 2008

soehartoJendral Besar H.M. Suharto meninggal dunia pada pukul 13.10 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Tidak lama setelah kematiannya, pemerintah mengumumkan seruan pengibaran bendera setengah tiang untuk semua kantor/instansi pemerintah, perwakilan RI di luar negeri, kantor swasta dan masyarakat luas selama tujuh hari berturut-turut. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hadir dan bertindak sebagai inspektur upacara prosesi pemakaman Suharto di makam keluarga Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Belum lagi okestrasi media massa cetak dan elektronik yang berusaha keras menampilkan citra Suharto sebagai negarawan dan pahlawan bagi negara dan bangsa.

Sesungguhnya ini bukan langkah yang bijak. Dengan memperhatikan kontroversi sekitar diri Suharto, seharusnya kita bisa belajar dari dari pemerintahan Chile dibawah Michelle Bachelet (mantan oposisi dan presiden Chile) setelah kematian Jendral Augusto Pinochet, yang setidaknya memiliki riwayat hampir mirip Suharto. Setelah rapat kabinet singkat, seperti disampaikan dengan nada parau oleh juru bicara presiden, pemerintah Chile mengumumkan bahwa tidak ada pemakaman kenegaraan oleh pemerintah, tetapi Pinochet tetap mendapat penghormatan kemiliteran. Presiden juga mengumumkan pengibaran bendera setengah tiang hanya di instalasi-instalasi militer, tetapi tidak mengumumkan periode berkabung nasional. Sayangnya kita bukan Chile dan SBY adalah seorang Jawa yang punya kesantunan dan ketaatan khas masyarakat Jawa yang tidak dapat dibandingkan dengan Michelle Bachelet dengan latar belakang budaya hispanik yang kosmopolitan. Jadinya saat ini kita bisa meninggalkan gambaran yang mungkin menyesatkan di masa depan.

Seorang pelancong asing yang rajin mencatat—dan pada saat-saat seperti ini berada di Indonesia—barangkali akan menulis dalam catatan hariannya tentang sebuah bangsa yang tengah menangisi kepergian seorang yang telah membentuk dan mengarahkan perjalanan hidup mereka. Mungkin ia akan melukiskan bagaimana jutaan wong-cilik di negeri ini yang menangisi sosok yang telah memberi kemakmuran dalam tiga dekade kekuasaan Suharto. Mungkin juga ia akan menggambarkan orang-orang yang pingsan karena kepanasan saat berbaris menyambut pemakaman Suharto di Jawa Tengah. Dan paling mungkin ia mengutip ode yang diberikan kepada Suharto dan mengiringinya dengan lagu Gugur Bunga seperti ditayangkan berulang-ulang dalam layar kaca. Atau—kalau dia cukup rajin membaca koran—tentang gelombang pembesar yang bersedih dalam layatan mereka di kediaman Suharto.

Pandangan dari atas kapal seperti ini jelas tidak kita inginkan. Harapan kita adalah generasi masa depan Indonesia memiliki ketajaman dalam menilai sejarah yang saat ini kita alami. Tulisan ini dimaksud memberikan sebuah ruang penafsiran lain terhadap amnesia sejarah yang sekarang mengalun di negeri kita. Meskipun diawali oleh sejauh mana sensibilitas ‘lain’ tentang Suharto muncul dalam kehidupan kita sekarang, tetapi tawarannya lebih pada tantangan apakah kita semua bisa membuat sejarah baru bagi masyarakat kita. Wafatnya Suharto menggenapi akhir sebuah era yang selama beberapa dekade telah meninggalkan jejaknya dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat kita sekarang ini.

Sensibilitas

Dibalik karpet kemegahan dan lantunan magis ayat-ayat suci yang mengiringi kematian Suharto, ada suara-suara yang berbeda. Suara-suara itu mewakili sebuah ingatan kolektif tentang tiga dekade yang telah lewat dibawah kekuasaan Suharto dan para kroninya. Dari generasi yang tumbuh besar dalam perang internal di ujung paling barat Indonesia, sosok Suharto telah berkait dengan warna merah darah manusia. Kenangan tentang Suharto adalah kenangan tentang pembunuhan dan penghancuran manusia. Sosoknya juga digambarkan sebagai pribadi yang licik dan gila hormat.

Beruntunglah Suharto memiliki pemakaman keluarga di Jawa Tengah. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya bila keluarga Suharto memakamkan ayah mereka di wilayah Pidie—ini mungkin saja bagi seorang negarawan yang mencintai keutuhan nasional Indonesia—yang pernah menjadi pusat perlawanan Gerakan Aceh Merdeka. Jadi memang tidak salah keluarga Suharto memilih Jawa Tengah, sebagai bekas pusat peradaban kekuasaan Jawa, sebagai tempat pemakaman keluarga. Mereka nampaknya paham atas kebiasaan kebanyakan orang Jawa yang akan bilang, ‘yo wis, orangnya udah meninggal kok masih diomongin terus.’

Di wilayah metropolitan Jakarta—yang juga menjadi ibukota pergerakan modal nasional Indonesia—tempat modal uang nasional dan internasional bergerak dengan cepat—gerundelan kebencian mengarah pada diri Suharto dan keluarganya yang dianggap sebagai lingkaran kleptokratik nomor wahid di negeri ini. Suharto telah mengatasnamakan kepentingan negara yang tidak lain dari kepentingan keluarga. Dan dari sisi pribadi, sifat keji dan kejam nampaknya begitu melekat. Ia dianggap layak untuk disandingkan dengan kegilaan Nero yang membakar Roma. Senyumannya yang khas—sehingga pernah dinobatkan dengan kata-kata The Smilling General—adalah kepalsuan. Imaji santun itu malah memberikan sebuah gambaran kekuatan naluri membunuh tanpa pernah ada penyesalan. Menakutkan memang!

Orang juga menyesalkan bahwa dia pernah punya kuasa yang besar, tapi tak digunakannya untuk kebaikan—sudah barang tentu konsepsi kebaikan ini berbeda dengan konsepsi para pendukungnya. Ringkasnya, tidak ada sisi yang tidak layak untuk dibenci terhadap diri Suharto dari segala sudut pandang ini.

Kita Yang Mendongkol

Kebencian bisa juga bersanding dengan kedongkolan. Generasi yang tumbuh besar dalam dekade 1980-an dan 1990-an nampaknya layak untuk mendongkol terhadap sosok penguasa yang memberikan mereka ‘kemakmuran’ ekonomi dalam era tersebut. Kedongkolan itu sederhana saja. Ia berwujud dalam penyesalan atas ‘amnesia sejarah’ yang menjadi penyakit kronis generasi tersebut. Dan ini bukan sikap yang salah. Buku-buku dan pengajaran sejarah di Indonesia, museum dan film yang menjadi pintu gerbang memahami masa lalu, telah menjadi alat efektif dalam pembodohan massal generasi muda Indonesia. Generasi seperti ini memang patut merasa dongkol apabila mereka kemudian tahu bahwa apa yang pernah mereka percaya dan yakini sebelumnya tidak lain sebuah kebohongan besar.

Dalam benak mereka yang lebih uzur dan mengenal sedikit tentang sejarah negeri ini, kemarahan yang lahir disebabkan oleh hilangnya sebuah harapan tentang bentuk masyarakat seperti dijanjikan dalam kata-kata megah konstitusi Indonesia, masyarakat adil dan makmur. Orang, dan institusi-institusi donor internasional seperti Bank Dunia dan IMF boleh-boleh saja mengatakan terdapat kemajuan ekonomi selama tiga dekade dibawah kepemimpinan Suharto. Mereka mengatakan pada dekade 1980an dan awal 1990an, Indonesia adalah macan yang tumbuh besar di kawasan Asia Tenggara. Lebih baik dibanding Vietnam, Laos, dan Kamboja misalnya.

Tapi kata ‘lebih baik’ ini memang kehilangan makna bila yang tercipta adalah kesenjangan. Apabila kita perhatikan foto udara kawasan segitiga emas Sudirman—yang menjadi lambang pertumbuhan ekonomi Indonesia—kita masih bisa menyaksikan titik-titik pemukiman kumuh tempat tinggal mereka yang mengais-ngais remah kemajuan ekonomi Indonesia. Di wilayah paling timur Indonesia—Papua Barat—penduduk setempat menjadi penonton dari asap mesin yang merubah tanah mereka menjadi emas, tembaga dan batubara. Sementara pada saat yang sama rata-ratang tingkat harapan hidup mereka masih jauh tertinggal dari kebanyakan orang Indonesia. Di pinggiran kota Jakarta, mungkin tidak lebih dari seratus kilometer dari pusat kota, anak-anak belia Indonesia berdesak-desakan dalam sekolah yang atapnya bocor apabila hujan, dan siap-siap berlibur apabila banjir kiriman datang. Jadi kita boleh mendongkol atas dekade keserakahan yang mengiringi riwayat kekuasaan rejim Suharto menggantikan harapan kesejahteraan bagi setiap warga negara Indonesia.

Membuat Sejarah

Lalu langkah seperti apa yang mungkin dilakukan pasca-Suharto. Menuntut keadilan individual terhadap diri Suharto jelas sudah tak mungkin. Yang tersisa sekarang adalah para kroni yang berlindung dibalik semrawutnya tatanan keadilan kita.

Apabila kita berharap pada para pembesar dan elite politik di negeri ini, gambarannya cukup sulit. Peristiwa-peristiwa belakangan menunjukkan kegamangan elite penguasa dan pemerintahan kita menutup buku masa lalu dan membuka tirai sejarah masa depan. Kebijakan tergesa-gesa memberikan segala penghormatan terhadap Suharto dengan meminta masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang adalah bukti ketidakmampuan pejabat negara menanggapi sebuah periode transisi pasca-Suharto.

Sayangnya juga, parade teater elite politik Indonesia memberikan gambaran bahwa kita penuh sesak dengan pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki kepercayaan diri kuat untuk memulai sesuatu yang baru. Tidak ada harapan bahwa mereka memiliki komitmen dan pengetahuan yang dapat mencipta sejarah baru bagi negeri ini.

Dengan demikian, kekuatan pengetuk terbaik nampaknya terletak pada generasi yang sadar atas pembohongan sejarah yang telah terjadi, dan merasa marah atas pembohongan itu. Kemarahan mereka adalah sumber enerji besar dalam membuka era baru dan tugas kita semua mempersiapkan mereka. Mereka adalah mahluk sejarah, mereka bebas mendobrak sejarah dan mereka akan membuat sejarah. Tabik.

One Response to “Sosok Suharto dalam lintasan Sejarah Indonesia”

  1. arif ust said

    Artikelnya bagus menambah wawasan dan pengalaman saya trims ya…lanjutkan artikelnya saya tunggu. O iya…Teman boleh minta bantuannya? Saya lagi ikut lomba Speedy Blogging Competition 2008, dimana criteria penilaiannya blog adalah banyak pengunjung, posting dan komentar. Boleh saya minta komentar dari teman untuk artikel di blog saya? Please….. Kalau Boleh Kunjungi blog saya, hari ini saya baru posting artikel tolong komentarnya, komentarnya harus berkaitan dengan artikel yang di pilih teman. Ini alamatnya : http://regedit.blog.telkomspeedy.com/ terima kasih banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: