MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Kisah sedih Desak Suarti, pengerajin perak dari Bali…

Posted by Bustamam Ismail on September 8, 2008

Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.


“Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa
motif asli Bali seperti `patra punggal’, `batun poh’, dan beberapa
motif lainnya juga dipatenkan” kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.

Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana.
Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul
dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing.
Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang
Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.

Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom
Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh
warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. “Sebelumnya, dalam
satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak.
Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan
satu desain pun,” ujarnya hari ini.

Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan
budaya di tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang
dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik
Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi
Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain
sebagainya.

LANGKAH KE DEPAN

Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang
melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago Culture Initiatives
(IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di
http://budaya- indonesia. org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di
atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu. Setidaknya
ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:

1. Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada
rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik
bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi
IACI di email: office@budaya- indonesia. org

2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan
hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi,
jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang
budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA
INDONESIA, dengan alamat http://budaya- indonesia. org/ Jika Anda
memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di
email: office@budaya- indonesia. org

– Lucky Setiawan

3 Responses to “Kisah sedih Desak Suarti, pengerajin perak dari Bali…”

  1. Tanto said

    Udah, jangan dipikirin, acuhkan saja itu aturan negara-negara industri yang seenaknya sendiri. Ikuti gaya Cina, cuek bebek, jualan jalan terus, yang penting untung dan jadi duit. Anut prinsip EGP (emangnya gue pikirin), dan suruh itu yang mematenkan untuk membuat barang itu dengan tangan dan jarinya sendiri, kalau bisa baru kita akui itu hak dia, tapi kalau cuma tertulis diatas selembar ketas di direktorat paten di negeri sono, JANGAN DIPIKIRIN !!! LAWAN !!!

  2. Elvi said

    masalahnya bro, paten tersebut didaftarkan di ditjen HAKI Indonesia. Ajaib kan?
    Ini cuplikan dari republika online:

    “Lolosnya motif tradisional Bali yang dihakciptakan oleh pihak asing di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Republik Indonesia disayangkan berbagai golongan masyarakat di Bali.”

  3. dianpurnama said

    Wah, sayang saya baru membaca berita ini hari ini. Saya anggota pers mahasiswa Universitas Udayana Bali. Saya membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pengrajin2 Bali yang memiliki permasalahan yang serupa dengn DEsak Suarti. Bisa gak saya mendapatkan kontak yang bersangkutan. Tolong hubungi ke alamat e-mail saya. dianpurnamadewi@gmail.com. Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: