MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Mengenal Syeh Muhammad Jambek…….

Posted by Bustamam Ismail on August 28, 2008

Ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad 20 ini dikenal juga sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih dikenal dengan sebutan Syekh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda.

Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syekh Muhammad

Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus

mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke

Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu.

Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Semula Syekh

Muhammad Jambek tertarik untuk mempelajari ilmu sihir, tapi dia disadarkan

dan diinsyafkan oleh gurunya. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu

agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah

tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais.

Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Jambek menjadi seorang ahli

tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah.

Namun, dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya

terkenal adalah tentang ilmu falak.

Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekkah. Oleh

sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Jambek pun

mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang

belajar di Mekkah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib

Parabek) serta Syekh Abbas Abdullah (pendiri perguruan Tawalib

Padangpanjang).

Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan

ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang

ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru

tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syekh

Tarekat.

Setelah beberapa lama, Syekh Muhammad Jambek berpikir melakukan kegiatan

alternatif. Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya,

walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada

usaha meningkatkan keimanan seseorang. Hingga kemudian dia mendirikan dua

buah surau. Yakni, Surau Tengah Sawah dan Surau Kamang keduanya dikenal

sebagai Surau Inyik Jambek.

Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan keagamaan di

Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam, Syekh Muhammad Jambek juga

dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertablig di

muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya

dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,

digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi Muhammad dalam

bahasa Melayu.

Demikian halnya dengan kebiasaan membaca riwayat isra mi’raj Nabi Muhammad

dari kitab berbahasa Arab. Dia menggantinya dengan tablig yang menceritakan

peristiwa tersebut dalam bahasa Melayu, sehingga dimengerti oleh seluruh

lapisan masyarakat. Termasuk juga tradisi membaca kitab, digantinya dengan

membahas masalah kehidupan sehari-hari. Menurutnya, semua itu dilakukan

karena agama diperuntukkan bagi siapa saja yang dapat memahaminya. Ia pun

dikenal sebagai ulama yang lebih bergiat di aktivitas tablig dan ceramah.

Seiring perjalanan waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai

berubah. Syekh Muhammad Jambek kini tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada

awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan

tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padangpanjang, Syekh Muhammad

berada di pihak yang menentang tarekat. Dia “berhadapan” dengan Syekh Bayang

dan Haji Abbas yang membela tarekat.

Kemudian dia menulis buku mengenai kritik terhadap tarekat berjudul

Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang

Berhubungan dengan Dia, terdiri atas dua jilid.

Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni tarekat Naksyabandiyyah

diciptakan oleh orang dari Persia dan India. Syekh Muhammad Jambek menyebut

orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin

lama makin jauh dari ajaran Islam.

Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan

sebagai upaya mewujudkan pembaruan pemikiran Islam.

Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat

istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Syekh Muhammad Jambek mendirikan

organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Minangkabau dengan tujuan untuk

memelihara, menghargai, dan mencintai adat istiadat setempat.

Di samping juga untuk memelihara dan mengusahakan agar Islam terhindar dari

bahaya yang dapat merusaknya. Selain itu, dia juga turut menghadiri kongres

pertama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak

kalah pentingnya dalam perjalanan dakwahnya, pada masa pendudukan Jepang,

Syekh Muhammad Jambek mendirikan Majelis Islam Tinggi (MIT) berpusat di

Bukittinggi. yusuf assidiq

RantauNet http://www.rantaunet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: