MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Mengenang Proklamator RI yang sudah tiada….

Posted by Bustamam Ismail on August 20, 2008

Bangsa ini tidak bisa melupakan dua nama Soekarno dan Hatta. Tanpa mereka Indonesia barangkali akan sulit meraih Kemerdekaan. Mereka lahir dari keluarga mampu dan terdidik sehingga tidak heran mereka lahir menjadi seorang nasionalis yang berpengaruh. Kami akan mengajak Anda kembali ke kehidupan kedua tokoh ini beberapa tahun sebelum merdeka. Dimana mereka harus melewati masa – masa yang sulit ?

Melacak jejak para pejuang kita tidak mudah karena sebagian sudah sulit ditemukan atau tidak terawat lagi. Tetapi di Bukit Tinggi di Propinsi Sumatera Barat, kita masih bisa menemukan sebagian sejarah dari tokoh pejuang kita, yakni Muhammad Hatta.

Bukit Tinggi terletak dikaki Gunung Singgalang sehingga iklimnya terasa sejuk. Kota ini juga memiliki panorama alam indah yang mengundang banyak wisatawan. Belanda dan Jepang meninggalkan catatan tersendiri. Salah satunya adalah Goa Jepang yang panjangnya sekitar 1.400 meter dimana tentara Jepang bisa berbulan – bulan bersembunyi.

Di kota dengan alam yang indah serta masyarakat yang agamis, tokoh kita Muhammad Hatta lahir. Rumah Muhammad Hatta terletak di Jalan Soekarno – Hatta. 104 tahun lalu Hatta tinggal disini bersama keluarga dan kerabatnya.

Rumah Hatta tidak besar, sepintas lalu agak sulit mempercayai kalau Hatta lahir disini, namun rumah kecil ini bisa menceritakan si kecil Hatta. Selama 11 tahun Hatta tinggal disini. Ia lahir dengan nama Muhammad Attar dari pasangan HM Jamil dan Saleha yang memang saat itu sudah disegani dan berkecukupan.

Di kamar ini Hatta dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902. Namun kedua orangtuanya hanya bisa membesarkan dia hingga usia beberapa bulan karena ayahnya meninggal dunia dan Saleha menikah kembali. Kakeknyalah yang selanjutnya membesarkan Hatta hingga tumbuh menjadi anak yang sangat berdisiplin dan cerdas.

Bagi Hatta pendidikan adalah segala – galanya dan setiap hari ia menggunakan bendi ini ke sekolah.

Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) selama 6 tahun, ia termasuk anak yang beruntung karena sekolah ini dahulu diperuntukan untuk warga kulit putih. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya atau MULO di kota Padang yang kini adalah SMP I Padang dan sekolah ini masih membiarkan ruangan kelas Hatta seperti aslinya. Ribuan kilometer Hatta dan Soekarno juga meninggalkan jejak yang penting bagi sejarah perjalanan bangsa.

Masa Pembuangan…

Bengkulu adalah kota kecil, namun Jalan Soekarno – Hatta menjadikan nama kota ini masuk dalam sejarah perjuangan bangsa. Di rumah ini Soekarno diasingkan sejak tahun 1938 hingga tahun 1942.

Rumah ini milik seorang keturunan orang Cina bernama Tan Eng Chiang. Di dalam rumah ini masih tersimpan benda – benda yang menemani sang Proklamator selama 4 tahun, diantaranya buku – buku yang menjadi landasan dia untuk menyusun perjuangan. Ratusan buku – buku ini meliputi karya klasik serta esklopedia serta data – data kepemimpinan Jong Jawa.

Sayang, sebagian besar sekitar 60 persen sudah rapuh di makan waktu. Rumah yang berdiri diatas tanah seluas 4 hektar ini masih menyimpan banyak benda lain yang menjadi saksi sejarah, antara lain sepeda tua yang menjadi kendaraan penting Soekarno dikota kecil ini.

Pembuangan atau pengasingan memang menjadi salah satu cara pihak kolonial untuk mematikan pikiran Soekarno dan Hatta. Hal itu juga dialami Muhammad Hatta, Banda Neira menjadi saksi bagaimana sang tokoh ini harus menghabiskan hidupnya ditengah keterpencilan pulau di ufuk timur Indonesia.

Banda terletak di Maluku Tengah yang terdiri dari 11 pulau, 3 diantaranya tidak terpenghuni. Banda adalah pulau kecil dengan penduduk sekitar 23 ribu jiwa, namun sejak abad ke 16 namanya sudah terdengar seantero dunia karena rempah – rempah, seperti pala dan cengkeh.

Aroma eksotis rempah – rempah ini yang akhirnya membawa bencana karena mengundang para pedagang Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris datang ke pulau ini. Suasana seperti itu masih terasa, Portugis membangun Banda Nira sekitar abad ke 16 dan terlihat dari beberapa bangunan yang bercirikan arsitektur Eropa.

Benteng Belgica ini adalah peninggalan Portugis yang berada di Pulau Neira. Benteng ini berbentuk segilima dan sudah berdiri kokoh sejak tahun 1611. Bangunan tua lainnya menjadi saksis sejarah adalah gereja yang dibangun sekitar tahun 1875 oleh Inggris, Portugis dan Belanda.

Namun Banda Neira juga menyimpan sejarah hitam. Pemerintah kolonial Belanda mengubah menjadi tempat pembuangan para pejuang. Disini Muhammad Hatta menghabiskan waktunya selama 7 tahun. Di rumah ini Hatta juga mengajari anak – anak Banda membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa Belanda.

Berbeda dengan pembuangan dia di Digul, Papua. Hatta disini sedikit leluasa karena ia bisa bergaul bebas dengan masyarakat sekitar. Rumah Hatta ini masih terawat dengan baik setelah dipugar pemerintah beberapa tahun terakhir. Bagaikan buku yang menyimpan banyak catatan sejarah para pejuang kita. Kami tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa tanpa Banda Deira sejarah bangsa Indonesia menjadi tidak lengkap.

Proklamasi ……

Kendati berlangsung hanya beberapa tahun perang dunia kedua menelan sekitar 50 juta nyawa manusia. Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat akhirnya meruntuhkan hegemonik tiga negara Jerman, Italia, Jepang yang ingin membangun dunia dengan tata idologi fasis.

Bagi Indonesia kekalahan negara-negara poros adalah kesempatan emas. Kekosongan Jepang yang diambang keruntuhan dimanfaatkan para pemuda untuk melepaskan untuk melepaskan diri dari permainan politik negara-negara kolonial.

Namun tidak semudah itu, terjadi ketidakcocokan antara kalangan pemuda seperti HM Saleh, Adam Malik dan Soekarno dan lain-lain dengan Soekarno dan Hatta. Berbagai intrik mewarnai kelompok muda dan tua ketika menjelang kemerdekaan. Selama ini menjadi saksi para tokoh muda membawa kedua pemimpin ini kebangunan bekas hotel.

Asrama ini menjadi saksi para tokoh muda membawa Soekarno dan Hatta ke bangunan bekas hotel yang kini dijadikan Jepang sebagai jawatan propaganda. Hingga tanggal 16 Agustus, satu hari menjelang proklamasi para pemuda lalu membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang di Jawa Barat.

Di rumah ini para tokoh muda mengamankan Soekarno dan Hatta. Bangunan khas Betawi ini masih asli hingga sekarang. Pemilik rumah ini bernama Jiwa Gie Siong. Sulit dibayangkan kalau rumah ini ternyata menjadi tempat untuk membuat rancangan naskah proklamasi.

Rumah ini terdiri dari dua kamar tidur dan satu ruangan tengah. Dan di kamar ini Soekarno sempat beristirahat, dan diruang tengah ini Soekarno – Hatta dan tokoh muda membuat rancangan naskah proklamasi.

Mereka sempat bersitegang hingga larut malam. 16 Agustus dini hari, beberapa jam sebelum proklamasi para tokoh muda membawa Soekarno dan Hatta ke Jakarta karena naskah proklamasi harus segera dikumandangkan dan rumah Laksamana Maeda yang terletak di Jalan Boulevard Orange yang sekarang berganti nama menjadi Jalan Imam Bonjol No 1, Menteng, Jakarta Pusat menjadi saksi kedua.

Bangunan ini bergaya khas tahun 20-an memiliki 4 ruang yang masing-masing mempunyai catatan sejarah sendiri. Disinilah isi teks proklamasi akhirnya dirumuskan, setelah para tokoh gagal menyepakati di Rengas Dengklok.

Suasana saat itu begitu tegang dan sibuk. Mulai dari perumusan naskah hingga penandatangan naskah proklamasi melewati empat ruangan kamar ini. Naskah asli yang masih dalam bentuk corat-coretan ini, oleh Sayuti Melik dan BM Diah diketik ulang.

Sayuti Melik sempat membuang naskah asli yang merupakan konsep awal. Namun insting wartawan seorang BM Diah, tergerak, lalu mengamankannya. Kita berhutang dengan BM Diah. Naskah yang dalam bentuk ketikan ini kemudian ditandatangani Soekarno – Hatta diatas sebuah piano.

Situasi begitu kritis, ketika menjelang pembacaan, Soekarno dikabarkan menderita sakit malaria dan hingga pukul 08.00 WIB pagi, Presiden Pertama Republik Indonesia ini masih belum bisa bangun. Begitulah situasi saat itu. Akhirnya proklamasi pun dibacakan. Dunia pun tahu kendati tidak seorang pun wartawan mengabadikan jalannya peristiwa berjarah ini. (Sup/Dv)

Reporter : Tim Reporter Indosiar
Juru Kamera : Tim Kamerawan Indosiar
Produser : Irianto Mahani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: