MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Pidato Syekh Panji Gumilang di Al-Zaitun…..

Posted by Bustamam Ismail on July 26, 2008

Menjelang 2020, para pelajar Indonesia modern dapat menjadi the first in the world dalam pencapaian sains dan matematik. Syaykh AS Panji Gumilang mengemukakan hal itu sebagai salah satu butir Kesepakatan Muharram 1426 tentang Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Modern 2020.

Pada hari ini kita berkesempatan menyambut datangnya tahun baru Hijrah yang ke 1426. Tentunya kita bersyukur kepada Allah dan berdo’a semoga sepanjang tahun ini kita dikaruniai kesejahteraan, kemakmuran, kebaikan, keselamatan, dan kedamaian. Sehingga akidah hidup kita sebagai penyebar kehidupan bertoleransi dan perdamaian dapat semakin meluas dan terpenetrasi secara mendalam di dalam lingkungan kehidupan ummat manusia, terlebih lagi di dalam kalangan ummat dan bangsa Indonesia.

Dalam pengertian sejarah, hijrah merujuk pada migrasi/eksodus Nabi Muhammad dan para sahabatnya (kaum muhajirin) dari Makkah menuju Yastrib (Madinah). Beliau berangkat dari Makkah pada Kamis, 01 Rabi’ul Awwal – 13 September 622 M, tiba di Madinah tepatnya di Qubba, pada Senin 12 Rabi’ul Awwal – 24 September 622 M. Peringatan Hijrah itu baru dilembagakan pada 637 M, oleh Khalifah II Umar Ibnu al-Khattab (mem. 634-644 M), sebagai tahun pertama kalender khilafah. Dan diperlukan sebagai motif dalam ungkapan politis, kultural, sastra, dan estetis di dunia Muslim.

Pada tahun ini abad XV Hijriyah telah memasuki tahun ke-26, maknanya, telah melewati seperempat abad. Setiap memperingati dan merayakan datangnya tahun baru Hijrah, pertanyaan selalu kita sampaikan kepada diri kita: Adakah tanda-tanda kemajuan yang telah kita capai selama ini ? Untuk menjawabnya, samasekali tidak cukup hanya dengan ungkapan verbal, melainkan dengan kegigihan amal perbuatan yang terbaik yang dapat dirasakan oleh segenap lapisan ummat manusia dalam lingkup kecil sampai dengan yang paling besar. Sebab amal perbuatan baik itu, tidak mengenal batas, atau boleh dikatakan lintas batas.

Kita ummat muslim, merupakan komponen ummat manusia penghuni dunia yang majemuk, bertanggung jawab secara bersama, mewujudkan kehidupan penuh harmoni, toleransi dan damai, antar sesama ummat manusia. Dalam konsepsi nasional, kita merupakan warga bangsa yang mendiami sebuah negara Bhinneka Tunggal Ika, bertanggung jawab secara bersama dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup pewujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan.

Karenanya, tatkala kita bersikap, berbuat, berkarya, dan berjuang, tidak keluar dari wawasan dan konsepsi nasional, sebagai partisipasi aktif kita mewujudkan Dunia Harmoni Penuh Toleransi dan Perdamaian, bersama ummat dan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Itulah manifestasi Rahmatan lil ‘alamin, yakni: Berfikir Global dan Bertindak Lokal.

Sekilas Pembangunan Indonesia

Bangsa Indonesia telah dan sedang bahkan terus membangun. Era pemerintahan Presiden Soekarno, membangun. Sukses menguman­dangkan slogan-slogan pembangunan, dan jatuh tertimpa slogan pembangunannya, karena keberpihakan yang tidak seimbang terhadap ideologi-ideologi besar dunia.

Era Presiden Soeharto, “sukses gilang-gemilang” dalam menjalan­kan Rencana Pembangunan Lima Tahunannya (Repelita), sampai kepada era pembangunan yang diistilahkan dengan Tinggal Landas, namun juga jatuh/tertimbun oleh “kesuksesannya”.

Muncul Era Reformasi, seorang tokoh yang populer pada zamannya yang singkat, Amien Rais, mampu menjebol kekuasaan Presiden Soeharto, atas dorongan dari bawah, demonstrasi massa rakyat (mahasiswa), dan tekanan dari atas, dengan ayunan palu ketua MPR yang membahana dari Gedung Bundar Senayan, diayunkan oleh Bung H. Harmoko. Namun, tokoh reformasi ini tidak berkeupayaan menjabarkan konsep-konsep verbalnya dalam bentuk implementasi riel. Sehingga tidak mampu menghantarkan ambisinya menjadi Presiden Indonesia, karena secara demokratis mayoritas rakyat Indonesia belum menerima “pionir” reformasi ini. Beliau dipeti-eskan oleh kekuatan demokrasi. Kita teringat pada suatu kejadian di bekas Negara Uni Sovyet, para pemimpin negara tersebut ditekan dari atas dan bawah, dan jatuh, dan ada sebuah upaya untuk kembali, juga gagal. Namun penggagas dari keseluruhan proses ini, Gorbachev, juga dijatuhkan. Ide-ide besar reformasi itu, sesungguhnya juga pembangunan.

Era presiden-presiden sesudah Presiden Soeharto juga berprogram membangun Indonesia ini, dari Presiden Habibie, Presiden Abdurahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Kini Era Baru telah datang, dalam tahun 1425 (2004). Bangsa Indonesia mengukir fenomena baru, masuk ke dalam budaya Demokrasi Progresif, sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam agenda pembangunan demokrasi di masa lalu. Demokrasi progresif adalah suatu sistem yang terus bertumbuh-kembang. Rakyat Indonesia berkemampuan menyikapinya secara piawai. Kita rakyat Indonesia sedang dan terus membangun budaya, yakni Budaya Demokrasi. Berpijak dari budaya yang dibangun oleh rakyat secara bersama inilah kita memasuki Era Baru Indonesia. Kini Indonesia sedang menata dan memiliki pemerintahan yang berpijak pada rentetan sejarah dan budaya yang dibangun sendiri oleh rakyatnya.

Pemilihan presiden dan wapres terlaksana secara demokratis, rakyat Indonesia telah memilih pemerintah negaranya secara demokratis, selanjutnya berpengharapan secara demokratis pula, yakni, segala perjalanan kini dan ke depan selalu bepijak pada ide besar demokrasi: Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Memaknai Kembali Pembangunan Indonesia

Banyak orang (rakyat Indonesia) menyimpulkan, bahwa berbagai proses pembangunan Indonesia masa lalu disimpulkan “gagal”. Jika kesimpulan itu benar, yakni proses pembangunan masa Ialu kita itu gagal, jangan pernah menyerah, mari kita mulai lagi dari proses yang dianggap salah dan gagal itu, bahkan kalau perlu dari awwal, sebab jika proses masa lalu itu berhasil pun, dalam abad yang penuh tantangan ini kita juga harus memperbaharui makna pembangunan itu. Kita tidak boleh memaksakan bahkan pura-pura berhasil, sekalipun beban semakin tak tertanggungkan lagi. Jika sepatu yang kita pakai sesak, jangan kita paksa memakainya, sepatu ukuran lain pasti mudah didapatkan. Karenanya, mari kita maknai kembali pembangunan Indonesia kita.

Membangun pada dasarnya adalah membangun diri. Untuk menciptakan kemajuan pada level personal maupun sosial; Yakni menciptakan personal-personal yang kuat, masyarakat-masyarakat yang kuat, menjadi bangsa yang kuat, diawali dengan penyingkapan suatu budaya dan merealisasikan budaya itu. Selanjutnya, karena ummat manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan, jika tidak terpenuhi maka mereka bukan lagi makhluk hidup.

Karenanya pembangunan juga pemenuhan kebutuhan-kebutuhan alam manusia dan non manusia, dimulai dengan mereka yang paling membutuhkan. Pada makna yang lain pula pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi, yang seharusnya tanpa mengurbankan siapapun. Sehingga tercipta perdamaian sebagai kondisi dalam ruang untuk pembangunan tanpa kekerasan.

Maka setting pembangunan adalah, membangun suatu budaya: Budaya ingin maju, ingin kuat secara individual masyarakat, dan bangsa. Dilandasi oleh budaya dan peradaban yang kokoh, masuk ke dalam realisasi. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup dan kehidupan untuk ummat manusia, dan makhluk hidup lainnya yang non manusia, yang karenanya tercapailah pertumbuhan ekonomi yang merata dalam tataran individual, masyarakat maupun bangsa, bahkan bangsa-bangsa di dunia, yang dapat memancarkan perdamaian internal dan external dalam ruang pembangunan tanpa kekerasan.

Menurut definisi siapapun, tujuan pembangunan adalah kemandirian. Pihak lain tidak dapat menjadi sebab dalam membangun diri. Juga pembangunan tidak boleh merugikan otonomi diri. Karenanya itu juga bermakna: Membangun adalah menerima tantangan kita sendiri. Kemudian, kondisi yang diperlukan bagi pembangunan jenis apapun adalah desentralisasi distribusi faktor produksi bagi semua. Sehingga semua orang menjadi partisipan potensial dalam produksi, bukan hanya dalam konsumsi.

Agar pembangunan berlangsung, kita harus menanamkan suatu budaya dalam individu maupun masyarakat. Sebab, kebudayaan merupakan kerangka kerja simbolik, pola pikir yang membentuk pemikiran kita, solah-bowo kita, tutur-warah kita, serta laku-lampah kita, dengan demikian pencarian kebudayaan yang kufu’ (adequate) mumpuni dan memadai dengan pembangunan, merupakan suatu problematika yang tidak pernah berakhir, yang harus dilakukan adalah semua upaya harus dapat diselaraskan satu sama lainnya.

Mari kita mencoba masuk ke dalam Budaya Mandiri dalam membangun. Sesuai dengan makna membangun adalah Membangun Diri. Orang lain tidak dapat menjadi sebab pembangunan dalam diri. Kita membangun bukan karena Jepang, Amerika, Eropa dan lain-lain. Sekali lagi otonomi/mandiri adalah tujuan pembangunan. Kita membangun, kita membangun diri kita, masyarakat kita, negara kita, dan kita membangun satu sama lain.

Tatkala kita membangun dengan Budaya Mandiri, itu berarti kita akan mendapat pengalaman untuk membangkitkan percaya diri, formula ini mungkin terasa berat dalam sepuluh tahun pertama. Namun setelah itu setelah kemampuan kita sebati dengan Budaya Mandiri yang kita miliki, kita akan menemukan suatu perkembangan baru, sebagai apa yang disebut dengan halawatul kasab (manisnya usaha mandiri). Memang masuk dalam Budaya Mandiri dalam membangun, bagi negara yang pemerintahnya terbiasa dengan budaya utang, Budaya Mandiri merupakan sesuatu pekerjaan yang dianggap tidak mungkin dilakukan.

Budaya Utang untuk pembangunan, itu maknanya budaya mengharap dibangun orang lain, melenceng dari makna dan hakekat membangun. Membangun maknanya menerima tantangan-tantangan kita sendiri. Jika pembangunan bersandar kepada Utang Luar Negeri (bahasa halusnya Bantuan Pembangunan), itu bermakna memberikan tantangan-tantangan atau menjadikan tantangan-tantangan itu direbut dari tangan kita oleh orang lain.

Pada dasarnya, bantuan pembangunan (Utang Luar Negri) adalah cara untuk memastikan reproduksi di seluruh dunia, bahkan kelangsungan hidup, budaya, dan struktur negara-negara donor, dengan memanfaatkan kemiskinan lokal untuk legitimasi. Ketika bantuan pembangunan gagal mengurangi kemiskinan, tetapi sebaliknya mengarah kepada reproduksi kemiskinan, ini dilihat sebagai satu lagi alasan untuk melanjutkan bantuan pembangunan itu. Negara donor bertindak sebagai “Ayah” memanfaatkan kesempatan untuk berekspansi, kali ini secara ekonomis dan budaya dan bukan semata politik dan militer, dan dalam waktu yang sama bertindak sebagai “Ibu” merasa ringan untuk membagi-bagi begitu banyak amal dalam semua arah.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan, berbagai proses ditampilkan oleh masyarakat dunia.

Dunia Pertama, tantangan datang pada orang yang menangani modal, teknologi, atau manager, sebagai properti pribadi.

Dunia Kedua (waktu itu Sosialis), tantangan diberikan kepada kelompok sangat kecil, perencana yang memiliki terlalu banyak tantangan sementara penduduk lain tetap kurang tantangan.

Dunia Ketiga, tantangan sangat sering dan selalu diberikan kepada pihak luar, dalam bentuk bantuan luar negeri, yang manfaatnya pergi kepada orang lain.

Dunia Keempat, tantangan diberikan kepada orang yang sama sebagaimana di Dunia Pertama, tetapi kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok yang melibatkan para pekerja, akibatnya perusahaan mendapat manfaat dan negara diuntungkan dari pemrosesan bersama atas suatu tantangan.

Diperhatikan dari cara memroses tantangan-tantangan tersebut, Indonesia masih masuk ke dalam kelompok Dunia Ketiga, yang selalu melepaskan tantangan-tantangan internnya seraya menyerahkannya kepada pihak luar, dalam bentuk Bantuan Luar Negeri (utang). Dalam setengah abad membangun, pemerintah Indonesia selalu melepas tantangan-tantangannya kepeda luar negeri.

Menjadi kelompok Dunia Ketiga, selalu merasakan akibat/efek samping negatif dari aktivitas ekonomi (eksternalitas negatif), namun tidak berkeupayaan untuk menanganinya (seperti penanganan limbah, atau yang sangat jelas penanganan sampah di kota-kota besar). Kemero­sotan besar terus menggelinding dan mereproduksi keterbela­kangan. Kegiatan ekspor barang jadi/olahan semakin terhenti, andalannya hanya pada bahan mentah dari sumber daya alam, yang keberadaanya semakin menipis. Dunia Ketiga selalunya menjadi sasaran ekspor oleh Dunia Pertama, termasuk ekspor eksternalitas negatif (misalnya limbah atau barang- barang bekas).

Mewujudkan Bangsa Mandiri

Mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir. Kemandirian bagi bangsa Indonesia bukan lagi diukur dari statement/proklamasi kemerdekaan, namun ukurannya lebih kepada upaya mengisi kemerdekaan, dengan sikap mandiri, berbuat mandiri, dan membangun secara mandiri. Jika itu tidak kita lakukan, kemudian kita tertinggal, maka pesaing kita akan maju. Jika kita tertinggal, yang mendapat keuntungan besar dari ketertinggalan kita adalah orang lain. Dan jika kita tertinggal maka terjadilah ketidak-singkronan sangat serius dalam ekonomi finansil – riil (F/R) dan arah ekonomi kita menjadi stel kendo dan mémblé (undercooled) bahkan juga dapat berirama sangat panas dan gila-gilaan (overheated), dimana finansial tidak mencerminkan bahkan tidak dapat melayani riil.

Dengan Budaya Mandiri, akan tumbuh upaya menjadi bangsa yang berkecukupan, bahkan menjadi bangsa yang kuat dan kaya. Untuk menuju kearah itu, Bangsa Mandiri selalu ingin membantu alam dengan keseimbangan lingkungan, dan terus meningkatkan kerja keras dalam peningkatan kesihatan dan pendidikan, tanpa pernah lupa bahwa tingkat pendidikan dan kesihatan 50% lebih lapisan bawah sama pentingnya dengan lapisan atas.

Bangsa Mandiri harus mampu mewujudkan aliran keseimbangan ekologi (hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi aam sekitar). Alam telah ada jauh lebih lama daripada manusia. Alam sebagai sumber pelajaran mengenai holisme, dinamisme, dan keberlanjutan, karenanya alam bersifat dasar, semua yang lain bergantung kepadanya, alam dapat bertahan tanpa manusia, kita bergantung kepada alam sedangkan alam sama sekali tidak bergantung kepada kita. Bahkan sering manusia menghancurkan alam, sebagaimana ditunjukkan oleh krisis lingkungan hari ini (khususnya banyak terjadi di Dunia Ketiga) yang karenanya alam juga dapat menghancurkan kita.

Bangsa Mandiri selalu memiliki kesadaran betapa makna kesihatan dan pendidikan bagi setiap warga bangsa. Membangun SDM sehat berarti menciptakan masyarakat-masyarakat Seger Waras, Sehat dan Waras. Seger dan Sihat biasanya berhubungan dengan fisik, sihat jasmani, cukup sandang-pangan dan papan, sedangkan Waras biasanya berkaitan dengan kemantapan jiwa dan rohani.

Bangsa Mandiri selalu sadar akan makna pelaksanaan pendidikan masyarakat-masyarakatnya, dalam segala lapisannya. Karena seluruh warga masyarakat dan bangsalah hakekat pelaksana dan pelaku pembangunan yang akan tampil sebagai bangsa dan individu-individu yang berjiwa enterpreneur yang tinggi, yang kemudiannya dapat berkiprah di dalam diplomasi geoeconomics, yang dibangun untuk menciptakan kebersamaan antar kekuatan ekonomi ummat manusia. Pendidikan merupakan wahana penanaman budaya. Pendidikan akan menciptakan sumber daya manusia “matang”. Manusia terdidik secara “matang” merupakan investasi yang sangat tinggi nilainya. Dari SDM yang “matang” inilah negara akan mampu menyelenggarakan perdagangan, dimana perdagangan itu sendiri adalah komunikasi. Mengkomunikasikan kebudayaan adalah komunikasi pada tingkat yang lebih tinggi daripada mengkomunikasikan alam.

Disamping itu, pada prinsipnya makin Padat-Budaya aktivitas ekonomi, makin tidak berbahaya bagi lingkungan. Aktivitas ekonomi Padat-Alam menghabiskan alam dan menimbulkan polusi. SDM terdidik secara “matang” akan sanggup tidak terikat dengan bentuk-bentuk komunikasi Padat-Alam. Komunikasi elektronik mungkin dapat mewakili satu langkah maju. Selanjutnya SDM terdidik yang memiliki kemampuan Padat-Budaya akan dapat menggantikan ekspor tenaga kerja Indonesia yang selama ini hanya memiliki Padat-Dengkul.

Pencapaian Berbasis Pendidikan

Pendidikan dan sekolah akan sangat mempengaruhi pada pembentukan perilaku bangsa. Karenanya pendidikan (sekolah) Indonesia kini dan mendatang harus selalu up-to-date dan berkualitas, tidak boleh asal-asalan dalam segala seginya. Sekolah Indonesia harus memiliki citra sebagaimana citra yang dimiliki oleh pendidikan (sekolah) berkualitas antarbangsa. Citra pendidikan yang berkualitas biasanya selalu menampilkan school-image seperti berikut:

a- School as a factory (sekolah laksana perusahaan). Metafor sekolah perusahaan, menekankan suatu image pada teori pendidikan dan praktek. Metafor perusahaan, karena sifatnya memproduksi massal, teknik jaringan pemasangan (assembly) dan quality control. Kepala Sekolah sebagai manajer, guru sebagai karyawan dan murid sebagai produk yang harus digerakkan dan dibentuk.

b- School as a hospital (sekolah laksana rumah sihat). Metafor a hospital untuk sekolah adalah dalam membedakan manajemen dan putusan-putusan profesional, laksana hospital dalam pengajaran diagnosa perspektif, pengajaran individu dan sederet tes serta pendekatan yang bersifat klinik.

c- School as a log (sekolah laksana log), mengacu kepada bentuk sekolah klasik: Dimana dasar-dasar yang ditekankan, guru diberi penghormatan dan status yang tinggi, diseleksi secara cermat dan ditunjang dengan materi dan sumber-sumber lainnya.

d- School as a family (sekolah laksana keluarga), menunjukkan bahwa murid harus dilayani/diperlakukan sebagai individu yang utuh, seluruh anak didik harus dididik dan mereka tidak dipaksa sebelum mereka siap. Model ini mengasumsikan bahwa: Hubungan antara guru dan murid adalah paling penting dalam kegiatan pendidikan di sekolah.

e- School as a war zone (sekolah laksana zona perang), metafor ini menggambarkan antara konflik dan damai dan aksi agresif merupakan bagian yang diharapkan dalam kehidupan sekolah dan kelas. Kalah dan menang lebih penting daripada cooperation and accommodation.

f- School as a knowledge work organization (sekolah sebagai organisasi kerja ilmu pengetahuan). Sekolah sebagai tempat kerja merupakan pandangan yang paling banyak dianut. Dikuatkan dengan adanya berbagai pekerjaan tugas dari sekolah, berupa pekerjaan rumah, pekerjaan kelas, dan pekerjaan Iainnya. Karenanya, sekolah sebagai organisasi kerja ilmu pengetahuan. Peserta didik ke depan akan menjadi pekerja ilmu pengetahuan (knowledge workers).

Mencipta/membangun image atau citra pendidikan Indonesia seperti yang diurai tadi, merupakan urusan besar yang wajib ditempuh oleh seluruh lapisan kekuatan warga bangsa tanpa terkecuali. Dengan image pendidikan seperti itu, maka sekolah dan pendidikan Indonesia merupakan proses pendidikan terbuka yang mudah dimasuki dan menerima ide-ide dan konsep-konsep baru yang selalu muncul. Guru, murid, masyarakat, dan sistem menjadi terpadu dan jarak psikologis antar semuanya dapat terjembatani. Sejarah pendidikan Indonesia selama ini belum mempersiapkan siswa untuk berfikir dan bersikap mandiri yang kreatif, seperti image sekolah yang diuraikan tadi. Yang dikembangkan selalu mengarah kepada penguasaan sesuatu yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai yang setia dan patuh, bukan pengembangan kecerdasan, kepekaan, dan kesadaran sebagai entrepreneur.

Mari semua itu kita jadikan masa Ialu dan kita tinggalkan. Sebab bangsa yang tidak sanggup meninggalkan masa lalunya, itu merupakan pertanda bahwa: Bangsa tersebut tidak berkeinginan untuk menampilkan generasi yang kuat, berketahanan fisik, berkecerdasan fikir, dan berkecepatan reaksi. Mari kita tinggalkan paradigma pembangunan dan pendidikan masa Ialu, dan kita persiapkan bangsa ini melalui pendidikan, agar mereka mampu menjadi bangsa yang mandiri, menjadi leader/ pemimpin yang sesuai dengan abad ini, minimal untuk memimpin diri sendiri. Melalui pendidikan, mari kita hantarkan generasi produk pendidikan yang bercirikan abad 21 ini:

a- Systems thinker (pemikir sistem-sistem) yang berkeupayaan menggabungkan antara isu, kejadian, dan data secara utuh/terpadu.

b- Change agent (agen perubahan) berkemampuan mengembangkan pemahaman dan memiliki kompeten tinggi dalam menciptakan dan memenej perubahan (change) bagi kehidupan bangsa agar dapat bertahan hidup.

c- Innovator and risk taker, yakni pembaharu dan berani mengambil resiko, terbuka terhadap perspektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan yang esensial dalam menentukan tren dan menggerakkan pilihan.

d- Servant and steward, kemampuan dan keupayaan untuk meningkatkan pelayanan kepada yang lain, pendekatan holistik untuk bekerja, memiliki a sense of community dan berkemampuan membuat keputusan bersama.

e- Polychronic coordinator, yang berkeupayaan untuk dapat mengkordinasikan banyak hal dalam waktu yang sama yang harus dapat bekerja bareng dengan orang lain.

f- Instructur, Coach and Mentor, yang berkeupayaan tampil sebagai pembantu orang lain untuk belajar, menciptakan banyak pendekatan yang beraneka, sebagai instruktur, pelatih, dan mentor (penasihat yang baik).

g- Visionary and vision builder, yang berkeupayaan membantu membangun visi bangsa/negaranya dan memberi inspirasi bagi segenap lapisan masyarakat yang diposisikan sebagai pelanggan dan kolega.

Lima Ukuran Minimal Pencapaian

Tujuh characteristic generasi Indonesia produk pendidikan Indonesia modern seperti yang telah diuraikan itu mesti ada ukuran minimal pencapaiannya dalam waktu tertentu. Untuk itu semua mari kita buat kesepakatan bersama, dalam menghantar generasi baru Indonesia modern ini minimal untuk kurun waktu 2020 yang menjelang datang besok pagi nan tak terlalu lama lagi. Kalau boleh kesepekatan itu kita namakan Kesepakatan Muharram 1425 Tentang Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Modern di Tahun 2020.

1- Menjelang 2020 semua anak Indonesia umur sekolah tanpa kecuali, mesti telah memasuki sekolah dengan segera.

2- Menjelang 2020 tingkat tamatan SMA menjadi terus bertambah sampai 95%.

3- Menjelang 2020 Pelajar Indonesia tahun ke-4, 8, 12 telah berkemampuan mendemonstrasikan kompetensi mereka dalam berbagai materi subyek yang sangat menantang, termasuk Bahasa Indonesia, Inggris, Arab (Mandarin), Matematika, Sains, Sejarah, Geografi. Dan setiap lembaga pendidikan Indonesia modern dapat menjamin bahwa setiap pelajar mampu belajar menggunakan pemikiran mereka dengan baik dan telah dipersiapkan sebagai warga negara yang bertanggung jawab, belajar lebih lanjut (further-learning), sebagai pekerja produktif dalam ekonomi modern.

4- Menjelang 2020, pelajar-pelajar Indonesia modern dapat menjadi The first in the world dalam pencapaian Sains dan Matematik.

5- Menjelang 2020, setiap manusia dewasa Indonesia modern telah melek huruf semua tingkatan, dan terus berproses mencapai/menguasai knowledge dan berbagai skil yang sangat penting, untuk berkompetisi dalam global ekonomi, serta terus bergerak dan berlatih untuk masalah kebaikan dan kebenaran juga tanggung jawab sebagai warga negara.

6- Menjelang 2020, setiap lembaga pendidikan Indonesia modern harus terbebas dari narkoba, berdisiplin tinggi dalam tatanan lingkungan yang kondusif yang cintakan belajar.

7- Semua produk pendidikan Indonesia modern sudah siap masuk dalam tatanan hidup dalam Zone of Peace and Democracy.

2020 bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang singkat, jika kita berkiprah untuk mencapai ukuran minimal yang kita sepakati itu, semua dengan izin Allah dan amal perbuatan nyata kita, semuanya pasti dapat dicapai.

بسم الله توكلنا على الله لا حول ولا قوة الا بالله

Atas namamu ya Allah, kami semua berikrar untuk memajukan bangsa dan negara karunia-Mu, membangun melalui pendidikan, beri kekuatan kepada kami, kepada bangsa Indonesia dan ummat manusia semua yang cintakan perjuangan menempuh jalan pendidikan dalam usaha menyebarkan pengetahuan yang Engkau telah contohkan dan anjurkan. Amin.

هذا والله يرعانا ويحفظنا والحمد لله رب العالمين

Ma’had Al-Zaytun, 01 Muharram 1426 H

10 Februari 2005 M

A.S. Panji Gumilang

Syaykh al-Ma’had

About these ads

19 Responses to “Pidato Syekh Panji Gumilang di Al-Zaitun…..”

  1. buhori said

    terus berjuang mdh2 bs memimpin indonesia..

    • sabdoismoyo@gmail.com said

      jadi pemimpin yang haq,itu harus mampu memimpin dirinya sendiri dulu(tidak hawa nafs yg ditunjukan/EQ)cobalah Pake SQ.coba bawahan dimarahi,,setoran kurang
      duitnya digunting,dsb, coba fikir apa itu baik,sesuatu yg kurang baik tentunya dari sumber atas yg kurang baik.spt mata air gunung.ingat bangkitnya suatu bangsa dengan budaya bahasa bangsa itu sendiri,coba saja pahami sejarah dari adam,kalo skala visinya pemimpin dunia.matur nuwun

  2. andri sasunto said

    terus perjuangan, hanya orang buta atau tidak bisa melihat serta hanya mampu berkomertar daonk yang menilai alzaitun itu buruk tapi masih banyak orang2 yang mendukung dan percaya betapa pentingnya alzaitun

    • sabdoismoyo@gmail.com said

      Damai Sejahtera Nusantara.kehidupan silih berganti berpasangan,memang bila saat malam bintang2 bertaburan memberi cahaya ke bumi ada yang besar dan ada yg redup,semua itu bermanfaat bagi orang yg berjalan dimalam hari.tetapi ingat sahabat bahwa malam berganti Fajar,reduplah sinar bintang,karena saatnya sang surya terbit memberi keterangan yang nyata diatas Bumi Nusantara,yang tidak membeda bedakan mahluk,maka cahayanya membangkitkan kehidupan dimuka bumi .walaupun mataharinya satu diatas bumi, Bangkitnya kehidupan saat ini tentunya dengan cahaya matahari saat ini,bukan mengharap,cahaya matahari ribuan tahun
      yg lalu.maka mengapa kita harus pinjam budaya bahasa bangsa lain?.semoga dengan SQ dan EQ sahabat mampu memahami bahasa kiasan kami. Nusantara Jaya. waras

  3. ucok sinaga said

    assalamu alaikum.aku dengar alzaitun itu banyak sekali berita2 miringnya. bahkan aku cari info di internet semuanya rata2 berita negatif,berita positifnya sedikit yang aku dengar. beri dong aku penjelasan tentang alzaitun. yaa tentang sekolahnya katanya ada tingkat madrasah(sd)boleh gak aku masukin anakku disitu. kalau boleh persaratannya apa.biaya awal berapa dan biaya bulanan berapa.pendaftarannya mulai bulan berapa.tolong dong di jawab.siapa tau aku bisa yayasan kalian itu bisa menjadi alternatif bagi kami ini untuk mendidik anak-anak kami menjadi generasi yang berkemanusian,nasionalisme,berketakwaan,dan berkepribadian yang rahmatan lil alamin sebagaimana tujuan pendidikan disitu meciptakan generasi bastotan fil ilmi wal zismi,sori tulang(sodara) bahasaku memang begini kurang rapi.aku tunggu jawapannya di http://www.hurun@ymail.com

  4. Merdeka!!

  5. ALAm said

    bismillahirahmanirrahim.

    Allahuakbar….

    berjuanglah terus .. pimpinan!!

    saya dukung trus…..

    hingga hari PERHITUNGAN nanti akan datang… dan semua kebenaran akan terbukti!!!

    alhamulillah.

  6. wayahna said

    kami rela menjadi Martyr untuk Al Zaytun
    Demi berdirinya Negara Islam Indonesia

  7. Nury Purwatiningsih said

    Ass. Wt. Wb. Sama seperti Ucok Sinaga Saig. Sy mohon penjelasan. krn sy ingin menitipkan anak2 sy ke Al Zaytun. mohon informasi ke Agaditta_nury@yahoo.co.id. terima kasig

  8. al said

    Jika MAZ terkait NII cepat ato lambat kedok itu akan terbongkar..!

  9. bin sanad said

    akhirnya kebusukan kalian mulai tercium..al zaytun serapat apapun kalian menutup kebusukkan apa lagi tentang syariat islam maka Allah SWT akan membeberkan kebenaran..& buat kalian pengikut2 al zaytun bodoh dewasa dong..jangan bego terus…

  10. romligrt said

    wayahna said
    August 31, 2009 at 2:37 pm

    kami rela menjadi Martyr untuk Al Zaytun
    Demi berdirinya Negara Islam Indonesia

    Pernyataan di atas merupakan salah satu bukti bahwa Al Zaitun itu NII

  11. irustea said

    Pidato seorang pimpinan yang punya visi untuk memajukan bangsa dan negara kita indonesia. Bravo Syaikh ASPG

  12. rohmad said

    Aku ridho Allah Sebagai tuhanku, Dan aku ridho Islam adalah sebagai sistem hidupku, dan aku ridho Muhammad sebagai Nabi ku. Kalau benar Al Zaitun adalah bercita cita untuk tegaknya Hukum Allah, aku dukung 100% dengan doa dan dana. yang pasti uang dari tetesan keringatku yang lalal dan baik.

  13. jual pulsa, distributor pulsa, grosir pulsa…

    [...]Pidato Syekh Panji Gumilang di Al-Zaitun….. « Membangun Khazanah Ilmu dan Pendidikan[...]…

  14. sabdoismoyo@gmail.com said

    pendidikan mandiri,sebaiknya semua anak anggota alzaitun yg di teritorial bisa menikmati tempat pendidikan hasil setoran orang tuanya.jangan ditelantarkan,dan bangkitnya bangsa yg mandiri tidak juga pinjam bahasa bangsa asing,walaupun bangsa itu pernah dimasa lalu,wong nenek moyang kita juga pernah jaya,nusantara kaya Bahasa. coba pada direnungkan.Matur nuwun ,biar lebih waras

  15. fridy said

    berjuanglah utk mendapat rahmat allah cita cita yg mulia

  16. Boy said

    Maju maju ayo terus maju,maju maju membangun negara

  17. toyo asolole said

    terlalu panjang lebar pidato nya ku jadi pusing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers

%d bloggers like this: