MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Yang Berduka dan cinta mendatangkan inpirasi…..

Posted by Bustamam Ismail on July 15, 2008

Tyngsborough-Brian Hart tak bisa melupakan ketukan di pintu rumah yang membangunkannya pada pukul enam pagi itu. Seorang kolonel angkatan darat, pendeta dan petugas polisi mendatangi Hart dan istrinya untuk mengabarkan bahwa putra mereka yang berusia 20 tahun tewas ketika kendaraan militernya disergap di Irak.



Hart tidak menyalurkan kepedihannya dengan berdiam diri. Bertekad untuk mencegah terulangnya peristiwa yang sebetulnya bisa dihindari itu, Hart memprotes Pentagon yang ditudingnya tidak menyediakan perlengkapan kendaraan lapis baja bagi para serdadu.

Tak sekadar protes, Hart berusaha mencari solusi ketidaktersediaan kendaraan lapis baja itu dengan beralih profesi menjadi kontraktor pertahanan. Dia mendirikan sebuah perusahaan yang mengembangkan kendaraan robot yang relatif murah dan kokoh, menyerupai all terrain vehicle (ATV). Robot yang diberi nama LandShark ini dapat menjinakkan bom mobil dan bahan peledak yang ditanam di pinggir jalan sebelum nantinya diledakkan.

Hart mendemonstrasikan robot itu mampu mendorong sebuah kontainer sampah besar dari logam. Hal itu mensimulasikan bagaimana LandShark mampu menyingkirkan mobil berisi bom yang sengaja ditaruh di tengah jalan, sementara para prajurit tetap berada di tempat yang aman. Perusahaan itu juga mengembangkan versi robot yang dioperasikan dari jarak jauh menggunakan sinyal radio, begitu pula model yang didesain untuk menuntaskan misi penjinakan bom baik dengan atau tanpa intervensi manusia.

Mengembangkan teknologi untuk melindungi para prajurit telah memenuhi pikiran Hart sejak kematian putranya, Prajurit Satu John Hart, yang membuatnya hancur. Brian Hart masih ingat pembicaraan telepon dengan putranya satu minggu sebelum dia tewas tertembak pada 18 Oktober 2003. “Dia meminta bentuan saya : ‘Buatkan kami pakaian anti peluru dan kendaraan lapis baja,'” kata Brian Hart. “Dia berpikir bakal tewas di jalanan di dalam Humvee tak berpelindung, dan satu pekan kemudian dia benar-benar terbunuh.”

Usaha Hart membuat LandShark tak sia-sia. Kini dia bisa berbangga hati karena berhasil menundukkan para petinggi militer yang pernah dikiritiknya. Tiga tahun setelah mendirikan perusahaan Black-I Robotics, Hart dan keempat rekannya memenangkan kontrak sebesar Rp 6,6 miliar dari Pentagon pada Juni lalu untuk mengembangkan LandShark.

Dalam kontrak itu, Pentagon meminta Hart membuat tiga unit kendaraan beroda enam dan bertenaga listrik tersebut, berikut peralatan pendukungnya, paling lambat tahun ini. Pihak militer akan menguji dua kendaraan dan satu unit lainnya akan dipakai bandara Logan di Boston untuk melakukan tugas penjinakan bom. Jika tes tersebut berjalan mulus, para prajurit di Irak diperkirakan bisa menggunakan robot itu paling cepat tahun 2009.

Selain kontrak itu, Black-I Robotics juga berusaha memproleh tambahan dana Rp 13,6 miliar dari Pentagon pada tahun anggaran berikutnya. Hart meyakinkan bahwa LandShark jauh lebih murah daripada robot penjinak bom yang digunakan Pentagon saat ini, termasuk robot buatan perusahaan besar asal Boston, iRobots dan Foster Miller.

Model robot yang dibuat kedua perusahaan itu memang memiliki perangkat elektronik yang jauh lebih canggih, tetapi juga lebih rapuh daripada LandShark, yang menggunakan baterai mobil sebagai sumber tenaga, bukan baterai ion-lithium yang lebih ringan dan mahal. “Kami ingin membuat robot yang terjangkau, sehingga prajurit satu atau kopral muda bisa memperoleh perlengkapan ini,” kata Hart.

Dengan berat 124,7 kilogram dan panjang 1,2 meter, LandShark terlihat mirip ATV tanpa kursi pengemudi. Hart berharap tahun depan bisa menjual robot ini baik untuk penegakan hukum maupun komersial, dengan harga berkisar Rp 589,7 juta sampai Rp 771,1 juta tiap unit, termasuk chassis dan perlengkapan penjinak bom.

Kendaraan ini juga dapat menarik perlengkapan penggaruk tanah untuk mencari bahan peledak atau kabel pemicu ledakan yang disembunyikan di dalam tanah. Dia juga bisa menjatuhkan peledak kecil yang dilemparkan ke dekat bom dan meledakkannya dari jauh, dan menjinakkan bom dengan semprotan air.

Keunggulan robot Hart ini diakui pula oleh orang nomor dua di Foster-Miller, Bob Quinn. Namun dia menyatakan LandShark terlalu besar dan berat sehingga kurang praktis untuk dibawa para prajurit.

Dia membandingkan dengan robot Talon buatannya senilai Rp 907,3 juta. Para prajurit bisa membawa empat unit robot seberat 36,3 kilogram, yang yang dapat dijinjing, dalam kendaraan militernya. Itu berarti ada tiga robot lain yang berfungsi sebagai cadangan bila robot pertama hancur atau rusak. “Musuh kerap mengintai dari tempat persembunyiannya ketika robot mendekat untuk menjinakkan peledak, dan meledakkan bom itu dari jauh untuk menghancurkan robot,” kata Quinn.

LandShark mungkin memiliki kekurangan, namun Hart telah melampaui banyak rintangan untuk menciptakannya. Kendaraan itu lahir di sebuah garasi dan kantor yang sederhana di sebuah kawasan industri kecil di Tyngsborough, 64 kilometer sebelah utara Boston. Lokasi pengujian pun hanya memakai halaman belakang kantor itu.

Proses perancangan robot LandShark betul-betul hanya mengandalkan pengetahuan dasar Hart dan tiga pendiri Black-I lainnya dalam teknik mesin dan listrik. Tak seorang pun dari mereka yang memiliki latar belakang di bidang teknik robotik. Sebelum mendirikan Black-I, Hart bekerja di bidang farmasi dan komunikasi nirkabel. Adiknya, Richard, yang bergabung dalam perusahaan itu dan bertugas sebagai desainer produk Black-I adalah mantan marinir.

Mereka memangkas biaya dengan menggabungkan desain buatan sendiri dengan komponen yang dijual oleh pembuat kendaraan kecil dan perkakas kendali jarak jauh lainnya. Pembangkit tenaga, misalnya juga memakai baterai mobil yang mudah dijumpai sehingga mempermudah perbaikan dan pemeliharaan.
Tjandra Dewi | AP | Blackirobotics

TEMPO Interaktif, :

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: