MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Wira Usaha sbg alternativ pengangguran……

Posted by Bustamam Ismail on June 30, 2008

Direktur Pembinaan Diklat pada kesempatan membuka acara ini
menyampaikan perspektif tentang pentingnya pendidikan kewirausahaan
bagi anak sekolah. Beliau menandaskan bahwa banyak lulusan perguruan
tinggi yang hanya ingin menjadi pegawai di kantor dan kurang mempunyai
jiwa kewirausahaan, dari pengamatan Beliau berpendapat jiwa
kewirausahaan lulusan perguruan tinggi lebih rendah dibandingkan
dengan anak sekolah dasar yang putus sekolah atau tidak melanjutkan
sekolahnya.

Hal penting untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan
pada anak-anak, sedini mungkin harus dimulai dari bimbingan yang baik
dari para guru di sekolah.

Tujuan diadakannya lokakarya tentang Penyuluhan pendidikan dan
pekerjaan antara lain:
1. Perkenalan konsep Penyuluhan pendidikan dan pekerjaan dari ILO
2. Pembelajaran tentang layanan penyuluhan di sekolah dan lembaga
pendidikan non formal
3. Pengidentifikasian kebutuhan peningkatan pelayanan

Direktorat Pembinaan Diklat menyambut positif kegiatan ini yang
diharapkan dapat memberi andil dalam menumbuhkembangkan jiwa
kewirausahaan anak pada kelompok berumur 13-15 tahun, 15-17 tahun dan
bagi mereka yang putus sekolah pada kelompok umur 15-29 tahun. Beliau
juga menambahkan bahwa salah satu fungsi Direktorat Pembinaan Diklat
adalah melakukan pembinaan terhadap widyaiswara untuk melakukan
kegiatan pendidikan dan pelatihan yang merupakan ujung tombak
pendidikan di lapangan dalam menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan
bagi murid-muridnya di kelas adalah tugas utama para guru.

Dalam pengarahan, Direktur Pembinaan Diklat berencana akan
memanfaatkan dana yang ada di LPMP untuk bekerjasama dengan PPPPTK
Penjas dan BK membuat rancangan pengembangan program layanan
penyuluhan kewirausahaan ini agar dapat disebarluaskan ke seluruh
wilayah Indonesia.

Selain itu dalam paparan “Job and Education Counseling” oleh Kepala
Penasihat Teknis ILO EAST menyampaikan bahwa pentingnya penyuluhan
tentang dunia kerja kepada anak-anak untuk menumbuhkembangkan jiwa
kewirausahaan sebagai bagian dari kecakapan hidup.

Penyuluhan pendidikan dan pekerjaan diartikan sebagai sebuah proses
pengembangan seorang individu untuk meningkatkan pengetahuan lebih
tajam, memperoleh pengetahuan tentang lingkungan tenaga kerja dan
membuat pilihan dalam bidang pendidikan, pelatihan dan pekerjaan.

Dasar pemikiran atas keterlibatan ILO dalam kegiatan ini adalah:

* Adanya Estimasi 1/3 pengangguran disebabkan oleh ketidaksesuaian
pendidikan dengan pasar kerja sehingga ILO beralasan membuka peluang
terhadap pentingnya penyuluhan terhadap pemilihan pekerjaan.
* Meningkatkan efektivitas agar pendidikan dimana anak-anak memiliki
tujuan kerja yang realistik dan memacu minat mereka.
* Mengurangi informasi yang kurang sesuai serta memahami keadilan
sosial dalam kehidupan dunia kerja.

4 langkah penting yang dapat dilakukan dalam melakukan penyuluhan
pendidikan dan pekerjaan yaitu Kesadaran diri, Tanggap terhadap
peluang, Belajar mengambil keputusan dan belajar terhadap perubahan
yang dilakukan secara holistik terhadap pelayanan pendidikan dan
pekerjaan sebagai proses yang tidak dapat dilakukan tersendiri, tetapi
dilakukan secara menyeluruh dengan:

(1) pemberian pemahaman dan peminatan pada ragam pekerjaan
(2) pencarian informasi lapangan kerja melalui internet atau sumber
informasi lainnya
(3) melihat proses wawancara bagi pencari kerja
(4) memperkaya wawasan terhadap pengetahuan ragam pekerjaan
(5) Penilaian uji kompetensi bagi pencari kerja dan
(6) pelatihan bagi pencari kerja yang efektif.

Pemberian latihan-latihan yang berhubungan dengan etika sebagai faktor
yang akan menunjang keberhasilan dalam pengembangan pelayanan
penyuluhan tentang pendidikan dan pekerjaan secara umum sesuai
karakter bangsa Indonesia.

Namun demikian pada proses tersebut dihadapkan pada beberapa tantangan
dimana,

1. Pendidikan kejuruan sebagai cikal bakal pendidikan untuk membina
watak kewirausahaan bukan merupakan pilihan utama untuk persiapan
menghadapi dunia kerja;
2. Ketidakterjangkauan penyuluh terhadap mereka yang lemah dan
membutuhkan penyuluhan akibat kurang inisiatif dari penyuluh (counselor);
3. Ketrampilan anak dari keluarga yang kekurangan seringkali belum
memadai dan perlu difasilitasi dengan pengenalan kemampuan dan
pengayaan ketrampilan;
4. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin menjadi sangat merugikan
karena potensi kerja yang tidak terakomodasi dengan baik akan tidak
tertuang secara maksimal;
5. Memberikan informasi yang jelas tentang pasar kerja kepada para
guru khususnya guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang masih belum
banyak memahami secara utuh dan perlu dijembatani oleh Depnakertrans
6. Merubah pandangan bahwa keberadaan BK dianggap hanya untuk mereka
yang bermasalah;
7. Kegiatan penyuluhan yang diharapkan dapat mereduksi anak-anak
bekerja di bawah umur untuk kembali ke sekolah tetapi membutuhkan
keterliabatan dari orangtua si anak;
8. Kebutuhan mendesak terhadap perlunya penyuluhan pendidikan dan
pekerjaan untuk membantu mereka yang termarjinalkan. Dalam hal ini
peningkatan kapasitas BK sebagai suatu kekuatan besar menjadi kunci
penting;
9. Antisipasi terhadap pemberian penyuluhan informal yang belum tentu
memberikan jaminan penyuluhan yang bermutu dan keterlibatan orangtua
sebagai penyuluh bukanlah jalan keluar yang baik;
10. Mengatasi keterbatasan mental terhadap terjadinya transformasi
dengan membuka jejaring ujung tombak penyuluhan yang perlu didukung
oleh pendidikan formal

Selanjutnya dipaparkan oleh Naharus Surur, Widyaiswara PPPPTK Penjas &
BK yang menjelaskan mengenai era kesejagatan yang harus memberi
perhatian khusus pada kualitas tenaga kerja. Sumber daya manusia,
harus dikembangkan menjadi sarana pembangunan sebagai pemikir,
perencana, penggerak, pelaksana, dan pendukung pembangunan.

Pendidikan nasional dituntut untuk mengembangkan manusia Indonesia,
bukan hanya sebagai tujuan dari pembangunan, tetapi sekaligus sebagai
sarana yang memegang kunci sukses atau gagalnya pembangunan itu
sendiri. Peserta didik yang sedang menjalani proses perkembangan
belajar di institusi pendidikan mempersiapkan diri untuk
berpartisipasi dalam usaha-usaha pembangunan sebagai tenaga kerja yang
bukan untuk bekerja asal, tetapi harus berperan memegang suatu posisi
untuk mengerjakan sesuatu yang bermakna bagi bangsa.

Beberapa kasus menyebutkan bahwa ada beberapa peserta didik yang mesti
harus keluar dari sekolah sebelum tamat dan munculnya pekerja anak,
dimana mengeksploitasi anak untuk bekerja dengan tidak sebagaimana
mestinya. Upaya membekali anak dengan berbagai keterampilan hidup dan
menyiapkan mereka untuk terus melanjutkan pendidikan serta menyiapkan
mereka menghadapi dunia kerja. Maka, perlunya membekali para guru
pembimbing/pamong belajar/instruktur dengan model pendidikan karir
yang disebut “The Comprehensive Career Educational Model”.

Dengan pendekatan analisis SWOT masalah bimbingan pendidikan dan
pekerjaan dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Kekuatan
• Keanekaragaman sumber daya alam dan budaya.
• Tenaga pendidik yang berkemampuan dan berkewenangan.
• Usia peserta didik dalam masa perkembangan.
• Kurikulum pendidikan yang memberikan peluang pengembangan.
• Otonomi daerah yang memberikan peluang untuk mengelola sumber daya
daerah.

b. Kelemahan
• Tingginya angka drop-out dalam pendidikan.
• Kurangnya kesadaran pentingnya pendidikan yang bermakna.
• Kemiskinan.
• Pekerja anak yang membahayakan kesehatan dirinya, menghambat tumbuh
kembangnya dan menghilangkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
• Minimnya lapangan kerja.
• Bencana alam.
• Kurangnya tenaga pelayanan konseling karir di sekolah.

c. Peluang
• Pengembangan kurikulum pendidikan berbasis kecakapan hidup.
• Penyaluran kemampuan, bakat dan minat siswa sesuai pilihan karirnya.
• Pengembangan berbagai jenis kewirausahaan.
• Kerja sama berbagai pihak terkait.

d. Hambatan
• Tuntutan berbagai kebutuhan hidup yang semakin menekan.
• Adanya sekelompok orang yang sengaja menggunakan kesempatan untuk
mencari keuntungan melalui eksploitasi anak dibawah umur menjadi anak
jalanan.
• Efek globalisasi yang berdampak multidemensional, termasuk semakin
ketatnya persaingan.
• Pandangan stereotipe gender yang kurang tepat.
• Rendahnya kualitas tenaga kerja karena rendahnya penegakan disiplin
diri dan disiplin ilmu.

Dari hasil pembicaraan dan diskusi yang terjadi, dapat disimpulkan
rekomendasi- rekomendasi sebagai berikut:

1. Penggunaan materi yang disajikan akan terlihat lebih sedikit dalam
kandungan teori karena dikemas semenarik mungkin;
2. Masukan terhadap penyajian materi yang disesuaikan dengan kondisi
daerah setempat;
3. Pemakaian bahasa dalam manual harus mudah dimengerti;
4. Pilihan kata-kata yang digunakan harus mudah dimengerti oleh pemakai;
5. Bahasa yang dipakai dapat disesuaikan dengan usia pemakai;
6. Materi yang akan disampaikan tidak terlalu banyak menggunakan
metode ceramah;
7. Disarankan agar melihat langsung pada daftar isi manual agar dapat
dilakukan perbaikan draft yang sesuai dengan pemikiran dan kemampuan
atau keahlian masing-masing;
8. ToT akan dilakukan setelah mendapat izin dari setiap Departemen
terkait;
9. ToT bukan melakukan hal yang baru melainkan meneruskan hal yang
sudah ada.


Ditjen PMPTK Depdiknas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: