MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY (Gubernur Prihatin Pada Rakyatnya).

Posted by Bustamam Ismail on May 24, 2008

“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.

Menyaksiakan Penyaliban Khubaib bin ‘Ady(tawanan Quresy).

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan Iain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.


Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Sa’id mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh….”

Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup-hidup.

Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri….,” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia…! Bunuh dia…!” teriak orang banyak.

Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis.

Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo’akan kaum kafir Quraisy. Karena itu Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Said bin Amir memeluk Islam dan ikut Hijrah ke Medinah

Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa’at itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Sa’id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau. Mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.

Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah “Umar bin Khaththab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat.

Kata Sa’id, “Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.

Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.

Menjadi Gubernur di Hims

Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.

“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.

“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.

Kemudian Khalifah ‘Umar melantik Sa’id menjadi Gubernur di Himsh.

Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amiral Mu’minin?” jawab Sa’id balik bertanya.

“Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa’id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Gubernur terdaftar sebagai fakir dan miskin.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy.

Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Lalu beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami! “jawab mereka.

“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.

“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap ‘Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Sa’id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa’id? Meninggalkah Amirul Mu’minin?”

“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Sa’id sedih.

“Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya isterinya pula.

“Jauh lebih besar dari itu!” jawab Sa’id tetap sedih.

“Apa pulakah gerangan yang lebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar.

“Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Sa’id mantap.

“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.

“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa’id.

“Tentu…;!” jawab isterinya bersemangat.

Maka Sa’id mengamhil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau menyempatkan diri singgah di Himsh. Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kecil)”, karena rakyatnya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.

Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucapkan Selamat Datang. Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-saudara terhadap kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.

“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”

Maka tatkala semua pihak – yaitu Gubernur dan masyarakat – telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.

Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat Anda itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah.

Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”

“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.

Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah.

“Hal ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,”kata Sa’id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa’id.

“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
^_
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.

“Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

Keempat: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”

“Silakan menanggapi, hai Gubernur Sa’id!” kata Khalifah ‘Umar.

“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri…”

“Demi Allah…!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt.”

Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengahiri dialog itu.

Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.

Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’id, “Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan-kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”

“Adakah usul yang lebih baik dari itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.

“Apa pulakah yang lebih baik dari itu?” jawab isterinya balik bertanya.

“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita,” jawab Sa’id.

“Mengapa….?” tanya isterinya.

“Dengan begitu berarti kita mendepositkan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Sa’id.

“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”

Sebelurn mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa’id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya:

“Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim si Fulan. Ini kepada si Fulan yang miskin…dan seterusnya.”

Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Dia telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dari segala-galanya.

Amin!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: