MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Revitalisasi Teologis Muhammadiyah

Posted by Bustamam Ismail on November 22, 2007

muhammadiyah.jpgDalam rangka pengajian Ramadhan 1428 H yang dilaksanakan DPP Muhammadiyah di Yogyakarta 17-19 September 2007, banyak hal-hal yang bersifat konsepsional dibahas baik kaitannya dengan kehidupan keber-muhammadiyaha n maupun hal-hal yang debatable tentang konsepsi dasar kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini sempat didiskusikan cipratan pemikiran besar beberapa tokoh Islam serantau antara konsepsi kehidupan Islam Hadhari yang dipopulerkan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, konsepsi masyarakat madani oleh Dr. Anwar Ibrahim dan Islam yang Berkemajuan oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin.Serta pemahaman Muhammadiyah tentang teologi Al-Maun sebagai sumber inspirasi dan spirit gerakan menuju kemajuan yang adaptif terhadap tuntutan sosio-tekno- kultural. Banyak tokoh-tokoh Islam mulai menyadari bahwa organisasi besar Islam dan pergerakan berbasis agama menghadapi tantangan kuat di penghujung abad-21 ini. Beberapa terminologi yang berkaitan dengan kehidupan nyata masyarakat dan pergerakan yang terorganisir, pergerakan-pergerak an relatif kecil tapi berbasis agama dan ideologi tertentu dihadapkan pada fenomena praksis the end of ideology yang mengasumsikan berakhirnya sebuah ideologi dalam masyarakat dan mengindikasikan tampilnya mozaik individual.

Situasi ini akan berpengaruh terhadap eksistensi kehidupan gerakan namun banyak kelompok masyarakat atau bangsa yang masih tetap memerlukan seperangkat ideologi selonggar apapun lebih-lebih bagi sebuah gerakan islam yang sedikit atau banyak bersentuhan dengan aspek keterkaitan Islam dengan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, yang memerlukan sistem ideologi yang diyakini oleh banyak pengikutnya sebagai faktor determinan keteguhan berpandangan dan bersikap menghadapi interfensi dan infiltrasi dari sistem ideologi yang datang dari luar kerangka kebenaran yang diyakininya. Selain itu terminologi lain yang terasa mengganggu adalah conflict of civilization yaitu perbenturan peradaban yang sebagian dihadapkan kepada perbenturan peradaban barat dengan peradaban islam. Kondisi seperti ini harus dipahami oleh tokoh-tokoh masyarakat Islam sebagai tantangan sosio kultural dan harus mampu mencari pijakan yang pasti dan kokoh serta mempunyai argumentasi yang cerdas dalam kedudukan yang berimbang dan terhormat.

Di sinilah letak strategis peranan tokoh-tokoh besar islam abad modern ini yang berwajah cerdas, adaptif dan berkemajuan serta penuh senyum dan berwajah modern, yang direpresentasikan oleh Dr. Abdullah Ahmad Badawi dan Prof. Dr. Din Syamsuddin. Untuk menggapai posisi tawar Islam yang begitu bermartabat perlu pemahaman yang hakiki sebagaimana menurut Haedar Nasir agama Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa untuk memahami sesuatu secara benar dan mendalam. Kata-kata afala tatafakkarun, afala tatadzakkarun, afala tatadabbarun, afala ta’lamun, dan berbagai kalimat dan sighat lainnya yang senapas mengandung arti agar setiap muslim atau manusia harus memahami sesuatu secara benar dan mendalam untuk mencegah kekeliruan, kesalahan, dan kesesatan.

Maka orang Islam dituntut untuk menjadi ulinuha, ulil albab, ulil abshar, memahami teks dan konteks serta hal esensial lainnya dalam horizon yang luas yang dalam dunia filsafat kita kenal dengan istilah verstehen, yaitu cara berpikir filosofis untuk memahami secara mendalam dan menangkap makna mendalam dibalik gambaran fisik dari sesuatu, agar siapapun tidak gegabah atau gampang menyimpulkan sesuatu. Dalam hal ini sikap adaptif Muhammadiyah terhadap sosio-tekno- kultural (baca: peradaban) terlihat dari cara penentuan jatuhnya satu Syawal dari menggunakan metode ruhyat ke penggunaan metode hisab dengan kemampuan melakukan perhitungan matematis pergerakan bulan, bumi dan matahari.

Ada kebiasaan dalam domain pergerakan di dunia bahwa setiap seratus tahun selalu diadakan reuni dan perenungan yang umumnya melakukan ritual kesejarahan untuk mengenang masa lampau dan berharap bisa menerobos ke masa depan dalam semangat revitalisasi sekaligus menjadikan semangat ini sebagai centennial revitalizing, dimana kurun waktu seratus tahun yang akan ditinggalkan dijadikan momentum untuk kebangkitan kembali yang sering kita dengar setiap pergantian abad selalu ada semangat yang menggelora yang kadang cenderung hanya bersifat sloganisme belaka yang disampaikan tanpa adanya pemahaman afala tatafakkarun. Seperti halnya Muhammadiyah hampir satu abad ini harus melakukan ikhtiar merancang bangun kembali kebangkitannya melalui revitalisasi terutama terhadap konsep teologis yang mendasarinya sebagai komitmen ketuhanan dalam bentuk merekonstruksi pemikiran-pemikiran dasar ke-Muhammadiyahan yang tonggaknya ada dalam surat Ali Imran 104 sebagai dasar komitmen teologi Al-Maun yang oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin dikenalkan sebagai Islam yang berkemajuan.

Sementara kita pahami komitmen ialah perjanjian atau ikrar kesetiaan yang mengikat seseorang pada sesuatu yang menjadi kesepakatan dan dianggap penting dalam hidup. Secara teologis, manusia hidup memiliki komitmen yang hakiki yang dijadikan kontrak oleh ruh-nya yakni komitmen bertuhan. Dilain pihak secara sosiologis, manusia memiliki komitmen diri dalam relasi kehidupan sekitarnya yang disebut kontrak sosial. Dari dua komitmen dasar inilah manusia tidak bisa lepas dari keterikatan transendental dengan Tuhannya dan diikuti keterikatan sosial dalam kehidupan dalam masyarakat. Berdasarkan komitmen ada sesuatu yang menjadi dasar ikatan yang menjadi acuan sekaligus janji batin untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan niat dan kesepakatan awal baik dalam bentuk perorangan atau bersama-sama dalam persyarikatan.

Di sinilah makna revitalisasi teologis dapat memperbaharui, mencerahkan pemikiran dalam bentuk merekonstruksi pemikiran-pemikiran , aliran-aliran, ideologi semua pergerakan dengan semangat revitalisasi dan sinergitas sesama organisasi-organisa si berbasis agama. Apabila semua gerakan dengan metode dakwah Islamiyah dibiarkan berkembang tanpa ada ikhtiar revitalisasi teologis pasti akan muncul dakwah-dakwah simbolis, romantisme dan berbau popularitas perorangan tanpa semangat pembaharuan. Simbolisme dakwah yang berkembang saat ini dimotori oleh figur perorangan yang nasibnya sangat ditentukan popularitas figur tersebut yang jatuh bangun seperti nasib Aa Gym pada sisi romantismenya dan Ustad Abu Bakar Ba’asyir pada sisi yang paling ekstrem sampai dianggap tokoh terorisme.

Bahkan berkembang pula dakwah eksklusif di hotel-hotel berbintang dengan bayaran jutaan rupiah yang cenderung menimbulkan kesan komersialisasi dakwah yang jauh dari nilai-nilai luhur dakwah itu sendiri. Pada situasi lain terlihat pula maraknya pengajian yang dilaksanakan di ruang publik oleh beberapa selebritis dakwah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat golongan tertentu. Realitas masyarakat kita yang sedang mengalami euforia reformasi sampai kepada struktur terbawah dalam masyarakat membawa konsekuensi perubahan kehidupan keberagamaan. Oleh sebab itu perlu sinergitas antara metode dakwah Islamiyah yang ada berbasis konsep revitalisasi teologis yang bisa mengakomodir perubahan-perubahan cara berpikir dan berorientasi adaptif terhadap tuntutan sosio-tekno- kultural yang mungkin bisa membawa masyarakat islam Indonesia ke peradaban dunia yang harmonis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: