Posted by Bustamam Ismail on September 7, 2009
Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.
Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.
Read the rest of this entry »
Posted in tashauf | Tagged: hikayat, apel | 2 Comments »
Posted by Bustamam Ismail on June 8, 2009
Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.
Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq
Read the rest of this entry »
Posted in Fikih, tashauf | Tagged: fuqaha, tasauf | 5 Comments »
Posted by Bustamam Ismail on May 19, 2009
Se
orang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid .
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid .ditengah jalan menuju masjid , pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,
dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid .
Dlm perjalanan kembali ke masjid , dia jatuh lagi di tempat yg sama!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.
Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,
berwudhu dan berjalan menuju masj id .
Read the rest of this entry »
Posted in tashauf | 1 Comment »
Posted by Bustamam Ismail on May 8, 2009
KETIKA kehormatan bersumber dari atribut, maka distansi antara kemuliaaan dengan kehinaan, hanya terpisahkan oleh selapis tabir yang teramat tipis. Kehormatan diri, hanya berjarak selangkah dengan kenistaan.
Abi Ishak melepaskan rangkaian bersin yang keras itu dengan tubuh tergoncang. Lalu tanpa sadar kemudian, jubah jabatan baru yang melekat indah di tubuhnya dijadikan pengusap kotoran yang melekat di hidung dan mulutnya.
Sekejap ruang megah yang menjadi tempat acara pelantikan dua pejabat penting di Surraman Mediterian itu berubah sepi. Ratusan pasang mata memandang tegang kepada Abi Ishak yang tegak berdiri di samping Abu Bakar Dalap al-Sybli, pejabat lain yang dilantik bersamanya hari itu. Mereka menanti apa yang akan dilakukan Khalifah yang sedang menatap Abi Ishak dengan geram.
Read the rest of this entry »
Posted in tashauf | Tagged: amal sufi | Leave a Comment »
Posted by Bustamam Ismail on May 6, 2009
FAILUSUF adalah penggemar monologi dengan jalan pikiran yang aneh. Mereka yang terus mabuk memamah dan memuntahkan kata-kata sulit, sambil melambungkan pikiran ke langit tinggi fatamorgana substansi dunia. Dan mereka yang tertarik, harus rela menjadi martir di lautan kata-kata, cuma untuk menyederhanakan jalan pikiran mereka.
Tetapi mengapa seorang failusuf harus mencari kalimat yang demikian rumitnya sekadar untuk mengungkapkan tentang makna kausalitas atau kebenaran? Harus rela memutar kepala, demi keutamaan abstraksi yang berenang di samudera istilah yang demikian ambiguitas, karena dibuat sangat kaya dengan rona dan makna?
Mengapa ketika para ilmuwan memecah-belah keseluruhan bagian, para failusuf justru mengintegrasikannya menjadi keseluruhan? Mengapa ketika para fisiolog mendalami organ-oran tubuh manusia, seorang failusuf lebih mabuk untuk mempelajari manusia itu sendiri? Dan di saat para biolog gemar mengurai satu persatu kehidupan organisme, mengapa pula para failusuf justru berusaha menemukan hakikat kehidupan?
Read the rest of this entry »
Posted in tashauf | Leave a Comment »
Posted by Bustamam Ismail on July 4, 2008
“Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Alunan suara ayat-ayat suci Al-qur’an itu berkumandang dimalam yang sepi, dibawa angin malam hingga masuk ke telinga seorang lelaki yang sedang merenung dan memandang ke cakrawala yang luas, lalu meresap ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Read the rest of this entry »
Posted in tashauf, tokoh dunia | Tagged: Imam Al Ghozali | 1 Comment »