I. Pendahuluan
Indonesia penuh dengan kepercayaan akan paranormal yaitu tokoh-tokoh yang dipercayai memiliki kemampuan luar biasa seperti mengetahui masa depan (prakognisi), membaca pikiran orang lain (telepati) dan menggerakkan benda-benda di luar tubuhnya melalui pikiran (telekinesis) bahkan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib berupa roh orang mati atau jin. Semua pengalaman ini bagi tradisi mistisisme justru dianggap sebagai pengalaman sampingan dalam perjalanan untuk mencapai pangalaman mistik sejati yang disebut dengan nama unio mystica di kalangan mistisisme kristen, makrifat dikalangan sufisme agama Islam, moksha di kalangan Yogi agama Hindu, sunyata di kalangan Bodhisatwa agama Budha.
Tentu saja semua kepercayaan itu dianggap tahayul non-ilmiah di kalangan ilmuwan modern. Namun, pada akhir abad keduapuluh muncul sebuah mazhab psikologi yang disebut psikologi transpersonal yang mencoba mengawinkan psikologi modern yang mempelajari orang-orang normal dengan psikologi tradisional yang juga mepelajari pengalaman paranormal orang-orang yang mencari kesatuan dengan Realitas yang Mutlak seperti para kabalis Yahudi, mistikus Kristen, sufi Islam dan yogi Hindu. Psikologi transpersonal ini muncul sebagai kelanjutan dari gerakan potensi manusia seutuhnya di tahun 70-an.






Kecerdasan emosional memang membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup. Tapi untuk menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual.
Agama vs Kejujuran Agama dan kejujuran dihubungkan melalui ajaran agama. Setiap agama memiliki hukum- hukum tersendiri. Salah satunya adalah tidak boleh berbohong atau harus bersikap jujur. Dalam Alkitab yang merupakan kitab suci orang Kristen dan Katolik juga dengan tegas mengatakan bahwa jika ya, hendaklah kamu katakan :ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan:tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Ajaran untuk bersikap jujur bukan hanya diajarkan dalam ajaran kristen tapi juga di agama-agama lain. Dengan begitu, dengan jelas kita diajarkan untuk bertindak dengan jujur.
Dampak yang paling menonjol dari modernitas adalah keterasingan (alienasi) yang dialami oleh manusia. Alienasi muncul dari cara pandang dualisme, yaitu: jiwa-badan, makhluk-Tuhan, aku-yang lain, kapitalis-proletar, dll. Akhirnya terjadilah gejala reifikasi atau pembedaan antar sisi dari dualitas tersebut. Ini disebut pula objektivikasi, yaitu manusia memandang dirinya sebagai objek, seperti layaknya sebuah benda.
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta keadaan hidup pada umumnya.


