Siapa yang tak ingin bahagia, sukses, pintar, kaya, sehat, selamat, sejahtera dunia-akherat? Siapa yang tak ingin terhindar dari duka-lara, kegagalan, kekurangan, marabahaya, bencana, kecelakaan, wabah penyakit? Tuhan Sang Maha Penentu Segalanya, melalui lisan Nabi-Nya, berulang-ulang telah menganugrahkan salah-satu diantara “resep”nya: sodaqoh. Setiap kita diberiNya rejeki, 5-10 % (syukur-syukur lebih), berikan pada yang berhak diberi. Lakukan terus-menerus secara konsisten, sebab “resep” ini biasanya manjur setelah dipraktekkan berkali-kali.
Kenapa 5-10%? Ini bagi kelas pemula.Bagi kelas berat, misalnya para Sahabat Nabi dan ulama-ulama salafus solihin, sodaqoh mereka persis seperti diungkapkan Al Qur’an: seperlima (20%), atau seperempat (25%), atau sepertiga (33,33%), atau separo (50%). Malah ada yang : 100%! Sekadar contoh: Abu Bakar As Sidiq dari kalangan Sahabat Nabi, Ibrahim bin Adham dari kalangan sufi. Sodaqoh itu buahnya di dunia dan akherat. Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin kurang lebih menjelaskan begini: kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada orang lain, di dunia ini minimal Tuhan akan memberi kita ganti Rp.1.000 x 10 = Rp.10.000. Di akherat nanti Tuhan menyediakan pahala minimal 10 kali lipat. Kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada sanak-kerabat yang membutuhkan, Tuhan menimal akan melipatkan ganti di dunia dan pahala di akherat 100 kali, jadi di dunia kita dapat ganti Rp.1.000 x 100 = Rp.100.000. Kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada seorang ulama, dilipatkan minimal 700 kali, jadi Rp.1.000 x 700 = Rp.700.000. Itu semua perhitungan paling apes, minimal. Semakin ikhlas bersodaqoh, semakin besar kelipatan ganti dan pahalanya. Tentu, yang menilai seberapa ikhlas kita, hanya Tuhan semata. |
Archive for the ‘Fikih’ Category
Hal ihwal pengabdian seorang hamba kepada khaliknya
MAU SUKSES? SODAQOH!
Posted by Bustamam Ismail on September 7, 2009
Posted in Adab/Akhlak, Fikih | Tagged: sodaqoh | Leave a Comment »
Bagaimana Wanita Karir Menurut Islam
Posted by Bustamam Ismail on July 16, 2009
Assalamu alaikum ust yang mulia..
Era globalisasi ini banyak kita temukan wanita karir. yang ingin saya tanyakan, bagaimana jika wanita karir ini sudah menikah? Bukankah wanita harus taat kepada suaminya, wanita tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari suaminya dan juga keluar rumah apabila ada keperluan saja.. Bagaimana menanggapinya ya ustaz? Syukran.
jawaban
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang.
Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang yang melarang wanita mau datang ke masjid.
Posted in Fikih | Tagged: wanita karir | Leave a Comment »
Larangan membangun mesjid di atas kuburan, larangan memasang gambar di dalam mesjid dan larangan menjadikan kuburan sebagai tempat salat
Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009
-
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa Ummu Habibah ra. dan Ummu Salamah ra. menyebut-nyebut sebuah gereja yang pernah kami lihat di Habasyah yang penuh dengan gambar utusan Tuhan. Rasulullah saw. lalu bersabda: Mereka itu mempunyai kebiasaan apabila ada orang saleh dari mereka meninggal dunia, maka mereka akan membangun sebuah mesjid di atas kuburnya dan menggambar beberapa gambar di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.822) -
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada saat Rasulullah saw. sakit dan tidak sanggup bangun, beliau bersabda: Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat mesjid (tempat ibadah). (Shahih Muslim No.823)
Posted in Fikih | Tagged: shohih muslim | Leave a Comment »
Mengenal Dr. Yusuf Qardhawi
Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009
Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.
Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.
Posted in Fikih | Tagged: wanita, yusuf q | Leave a Comment »
HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI MENURUT TUNTUNAN ISLAM
Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009
Sebagaimana diketahui, bahwa seorang Muslim tidak boleh malu untuk menanyakan apa saja yang berkaitan dengan hokum agama, baik yang bersifat umum maupun pribadi. Oleh karena itu, izinkanlah kami mengajukan suatu pertanyaan mengenai hubungan seksual antara suami-istri yang
berdasarkan agama, yaitu jika si istri menolak ajakan suaminya dengan alasan yang dianggap tidak tepat atau tidak berdasar. Apakah ada penetapan dan batas-batas tertentu mengenai hal ini, serta apakah ada petunjuk-petunjuk yang berdasarkan syariat Islam untuMk mengatur hubungan kedua pasangan, terutama dalam masalah seksual tersebut?
Jawab:
Posted in Fikih | Tagged: SEKSUAL SUAMI ISTERI | Leave a Comment »
Kesaksian Para Ulama Fikh Tentang Ulama Sufi
Posted by Bustamam Ismail on June 8, 2009
Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.
Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq
Posted in Fikih, tashauf | Tagged: fuqaha, tasauf | 5 Comments »













