Khotib

Saya khatib Jabotabek,dan guru di Jakarta

Archive for the ‘Fikih’ Category

Hal ihwal pengabdian seorang hamba kepada khaliknya

MAU SUKSES? SODAQOH!

Posted by Bustamam Ismail on September 7, 2009

sdqhSiapa yang tak ingin bahagia, sukses, pintar, kaya, sehat, selamat, sejahtera dunia-akherat? Siapa yang tak ingin terhindar dari duka-lara, kegagalan, kekurangan, marabahaya, bencana, kecelakaan, wabah penyakit? Tuhan Sang Maha Penentu Segalanya, melalui lisan Nabi-Nya, berulang-ulang telah menganugrahkan salah-satu diantara “resep”nya: sodaqoh. Setiap kita diberiNya rejeki, 5-10 %  (syukur-syukur lebih), berikan pada yang berhak diberi. Lakukan terus-menerus secara konsisten, sebab “resep” ini biasanya manjur setelah dipraktekkan berkali-kali.

Kenapa 5-10%? Ini bagi kelas pemula.Bagi kelas berat, misalnya para Sahabat Nabi dan ulama-ulama salafus solihin, sodaqoh mereka persis seperti diungkapkan Al Qur’an: seperlima (20%), atau seperempat (25%), atau sepertiga (33,33%), atau separo (50%). Malah ada yang : 100%! Sekadar contoh: Abu Bakar As Sidiq dari kalangan Sahabat Nabi, Ibrahim bin Adham dari kalangan sufi.

Sodaqoh itu buahnya di dunia dan akherat. Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin kurang lebih menjelaskan begini:  kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada orang lain, di dunia ini minimal Tuhan akan memberi kita ganti Rp.1.000 x 10 = Rp.10.000. Di akherat nanti Tuhan menyediakan pahala minimal 10 kali lipat. Kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada sanak-kerabat yang membutuhkan, Tuhan menimal akan melipatkan ganti di dunia dan pahala di akherat 100 kali, jadi di dunia kita dapat ganti Rp.1.000 x 100 = Rp.100.000. Kalau kita sodaqoh Rp.1.000 kepada seorang ulama, dilipatkan minimal 700 kali, jadi Rp.1.000 x 700 = Rp.700.000. Itu semua perhitungan paling apes, minimal. Semakin ikhlas bersodaqoh, semakin besar kelipatan ganti dan pahalanya. Tentu, yang menilai seberapa ikhlas kita, hanya Tuhan semata.
Read the rest of this entry »

Posted in Adab/Akhlak, Fikih | Tagged: | Leave a Comment »

Bagaimana Wanita Karir Menurut Islam

Posted by Bustamam Ismail on July 16, 2009

Assalamu alaikum ust yang mulia..

isteri sholihahEra globalisasi ini banyak kita temukan wanita karir. yang ingin saya tanyakan, bagaimana jika wanita karir ini sudah menikah? Bukankah wanita harus taat kepada suaminya, wanita tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari suaminya dan juga keluar rumah apabila ada keperluan saja.. Bagaimana menanggapinya ya ustaz? Syukran.

jawaban

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang yang melarang wanita mau datang ke masjid.

Read the rest of this entry »

Posted in Fikih | Tagged: | Leave a Comment »

Larangan membangun mesjid di atas kuburan, larangan memasang gambar di dalam mesjid dan larangan menjadikan kuburan sebagai tempat salat

Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009

smKitab Mesjid Dan Lokasi Salat

  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Bahwa Ummu Habibah ra. dan Ummu Salamah ra. menyebut-nyebut sebuah gereja yang pernah kami lihat di Habasyah yang penuh dengan gambar utusan Tuhan. Rasulullah saw. lalu bersabda: Mereka itu mempunyai kebiasaan apabila ada orang saleh dari mereka meninggal dunia, maka mereka akan membangun sebuah mesjid di atas kuburnya dan menggambar beberapa gambar di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.822)

  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Pada saat Rasulullah saw. sakit dan tidak sanggup bangun, beliau bersabda: Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat mesjid (tempat ibadah). (Shahih Muslim No.823)

Read the rest of this entry »

Posted in Fikih | Tagged: | Leave a Comment »

Mengenal Dr. Yusuf Qardhawi

Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009

Yusuf Q 2Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Read the rest of this entry »

Posted in Fikih | Tagged: , | Leave a Comment »

HUBUNGAN SEKSUAL SUAMI-ISTRI MENURUT TUNTUNAN ISLAM

Posted by Bustamam Ismail on June 11, 2009

Pertanyaan: YUSUF Q

Sebagaimana diketahui, bahwa seorang Muslim tidak boleh malu untuk  menanyakan  apa  saja  yang  berkaitan  dengan hokum agama, baik yang bersifat umum maupun pribadi. Oleh karena itu, izinkanlah kami mengajukan suatu pertanyaan mengenai    hubungan   seksual   antara   suami-istri   yang

berdasarkan  agama,  yaitu  jika  si  istri  menolak  ajakan suaminya  dengan alasan yang dianggap tidak tepat atau tidak berdasar. Apakah  ada  penetapan  dan  batas-batas  tertentu mengenai  hal  ini,  serta apakah ada petunjuk-petunjuk yang berdasarkan syariat Islam  untuMk  mengatur  hubungan  kedua pasangan, terutama dalam masalah seksual tersebut?

Jawab:

Read the rest of this entry »

Posted in Fikih | Tagged: | Leave a Comment »

Kesaksian Para Ulama Fikh Tentang Ulama Sufi

Posted by Bustamam Ismail on June 8, 2009

ulama sufiImam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq

Read the rest of this entry »

Posted in Fikih, tashauf | Tagged: , | 5 Comments »