MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Beragam Kisah Keajaiban Islam Bagi Mualaf Negeri Kincir Angin

Posted by Bustamam Ismail on March 16, 2012

This slideshow requires JavaScript.

AMSTERDAM (Berita SuaraMedia) – Lebih dari 500 orang menghadiri Hari Mualaf  Tahunan Belanda yang Ketiga di Masjid besar Omar Al Farouk di kota Utrecht pada Minggu malam. Acara tersebut diselenggarakan oleh yayasan OntdekIslam dan Platform Nasional Belanda untuk Muslim Baru (LPNM).

Waleed Duisters, ketua LPNM, mengatakan pada kantor berita Kuwait, KUNA, bahwa statistik yang dirilis tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat 12.000 orang Belanda yang masuk ke agama Islam, sembari menambahkan bahwa jumlah aslinya mungkin lebih dari itu. Ia menjelaskan bahwa sangat sulit untuk memberikan angka pasti dari mualaf Belanda karena di negara itu tidak ada registrasi penduduk berdasarkan agama.

“Kami memiliki banyak mualaf baru karena itu tujuan dari konferensi ini adalah untuk membantu mereka menemukan jalannya baik dalam masyarakat Muslim maupun masyarakat Belanda pada umumnya,” ujar Duisters yang masuk Islam 10 tahun lalu. Ia mengemukakan bahwa terkadang para mualaf baru menemui masalah karena pihak keluarga takut terhadap kepindahan itu dan masyarakat Muslim juga tidak tahu bagaimana harus berurusan dengan mualaf.

“Dalam masyarakat Belanda, terdapat orang-orang yang merasa skeptis terhadap Islam dan terkadang kami memiliki kasus mualaf yang menemui masalah besar dengan keluarga mereka. Kami ingin membantu mereka menjalani hidup tanpa ada masalah,” ujar Duisters.

Pertemuan besar para mualaf Belanda dan kaum Muslim yang berasal dari Turki, dunia Arab, dan Suriname itu mendengarkan ceramah oleh beberapa pembicara internasional seperti Hussein Ye dari Malaysia dan Pierre Vogel dari Jerman serta para pembicara muda Belanda seperti Ali al Khattab dan Elsa van de Loo yang merupakan perwakilan generasi muda Belanda untuk PBB.

Tujuh warga Belanda, termasuk tiga wanita, memeluk Islam saat konferensi pada hari Minggu. Duisters mengatakan, “Islam telah memperkaya kehidupan saya. Saya memiliki hidup yang stabil. Saya tahu apa yang harus saya ajarkan pada anak-anak saya untuk menjadi Muslim yang baik dan warga negara Belanda yang baik.”

Ia mengatakan bahwa jumlah Muslim di Eropa meningkat. Semakin banyak orang yang masuk agama Islam karena mereka banyak mendengar tentang Islam sehingga mereka ingin tahu mengenai agama ini dan mulai membaca Al-Quran dan Hadist.

Namun, ia juga menyalahkan kaum Muslim karena tidak berbuat banyak untuk menjelaskan Islam.

“Kaum Muslim di Belanda memiliki banyak kesempatan untuk memberikan gambaran yang baik namun seringkali mereka gagal melakukannya,” keluhnya.

“Ada juga masalah lain bahwa kaum Muslim tidak berintegrasi ke dalam masyarakat Belanda,” ujarnya.

“Kita harus hidup sebagai seorang Muslim di Belanda tapi juga di dalam masyarakat Belanda. Jika kita tidak melakukannya, kita akan tetap menjadi kelompok yang aneh. Kami menyarankan kepada kaum Muslim untuk terlibat dalam masyarakat Belanda,” ujarnya.

Marck Reuvers, seorang jurnalis yang mengurusi pers dalam konferensi itu, mengatakan bahwa “ini adalah hari yang istimewa. Ini adalah yang disebut dengan hari mualaf di Belanda.”

“Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa kaum mualaf juga bagian dari umat yang lebih besar,” ujar Reuvers yang masuk Islam di tahun 2007. “Saya mencari sesuatu yang membuat hidup saya lebih bermakna. Setelah menjadi seorang Muslim saya memiliki tujuan dalam hidup. Saya merasa sangat bahagia dan nyaman,” ujarnya.

Abdel Krim masuk agama Islam pada tahun 2008. Kini ia bersiap menjadi pekerja sosial. “Saya membutuhkan Tuhan dalam kehidupan saya. Saya senang dengan kisah-kisah Ibrahim, Musa, Yesus, namun saya tidak suka gambar-gambar di dalam gereja dengan Tuhan berkulit putih,” ujarnya.

“Namun saya terlalu mencintai Yesus dan Musa dan saya menemukan mereka dalam Islam. Peraturannya jauh lebih murni. Tidak ada rasisme dalam Islam,” ujar Muslim muda Belanda berjenggot ini.

Ia mengatakan bahwa seorang mualaf harus menjelaskan banyak hal kepada masyarakat Belanda setelah masuk Islam. “Kau berhenti minum alkohol, berhenti merokok, berhenti menggunjing. Sehingga orang-orang di lingkunganmu akan bertanya mengapa kau tidak minum alkohol, mengapa kau memelihara jenggot,” ujarnya.

Mallen van der Putten, yang juga merupakan seorang jurnalis yang bekerja untuk radio Islam Belanda, mengaitkan sebuah kisah aneh dengan kepindahannya ke Islam. Ia masuk Islam enam tahun lalu. Van der Putten mengatakan bahwa suatu hari ia mengatakan beberapa hal buruk pada seorang Muslim. Kemudian ia mengatakan pada dirinya sendiri, “Kenapa saya mengatakan hal-hal buruk tentang Islam sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentangnya?”. Kemudian ia pergi ke toko dan membeli beberapa buku Islam dan terus membaca hingga akhirnya ia masuk Islam.

Ia mengatakan bahwa kaum Muslim harus berbicara pada orang-orang, pada tetangga, untuk menjelaskan Islam dan harus terjadi interaksi.

Elsa van de Loo, perwakilan anak muda Belanda di PBB, mengatakan bahwa ia masuk Islam satu setengah tahun lalu.

Ayahnya adalah orang asli Belanda sedangkan ibunya berasal dari Republik Dominika.

“Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik tapi tidak mempraktikkan ajarannya,” ujarnya.

Mualaf muda ini mengatakan bahwa ia mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Belanda.

“Awalnya sulit bagi saya untuk memahami dan saya tidak banyak mengenal Muslim yang dapat menjelaskannya pada saya. Kemudian suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis Muslim dari Maroko yang mulai menjelaskan tentang Al-Quran dan Islam,” ujarnya.

“Banyak pertanyaan yang jawabannya saya temukan dalam Islam.”

“Saya merasa sangat senang, Islam memberikan saya kedamaian. Dulu, saya selalu merasa gelisah, saya tidak tahu apa yang saya lakukan dalam hidup ini. Kemana saya melangkah. Sekarang saya memiliki jawabannya.”

Ia mengatakan belum pernah menemui masalah dengan pemerintah Belanda karena mengenakan jilbab namun beberapa kritikus mengatakan, “Bagaimana kau bisa mewakili Belanda di PBB dengan memakai jilbab?”

“Saya katakan pada mereka bahwa pekerjaan saya terpisah dari agama saya. Ketika saya sedang bekerja, saya mewakili setiap orang di Belanda dan apa keyakinannya tidak akan menjadi masalah. Saya terpilih untuk posisi ini,” ujar Elsa van de Loo.

(rin/kn) www.suaramedia.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers

%d bloggers like this: