Membangun Khazanah Ilmu dan Pendidikan

Belajar itu adalah perobahan …….

Archive for October, 2010

Utusan kepada Raja-Raja dan Khaibar bagian II.

Posted by Bustamam Ismail on October 30, 2010

A. Mengirim surat kepada Raja-Raja pada adalah tindakan da;wah yang sangat berani

Tindakan Muhammad mengirim utusan-utusan itu memang  luarbiasa sekali menakjubkan. Betapa tidak! Belum selang tigapuluh tahun sesudah   itu   daerah-daerah   tempat    Muhammad    mengirim utusan-utusannya  itu  telah  dimasuki  oleh kaum Muslimin dan sebagian  besar  mereka  telah  beragama  Islam.  Akan  tetapi ketakjuban  akan  segera  hilang  bila kita ingat, bahwa kedua imperium raksasa ini, yang telah mengemudikan  jalannya  dunia masa  itu,  dengan  peradabannya  yang telah menguasai seluruh dunia, mereka  ini  saling  memperebutkan  kemenangan  materi, sementara  kekuatan  rohani  keduanya sudah rontok dan hilang.

Persia sendiri sudah terbagi antara paganisma  dan  Mazdaisma. Demikian  juga  agama  Kristen di Bizantium sudah goyah sekali karena adanya pelbagai macam aliran  sekta  dan  golongan.  Ia sudah  tidak lagi merupakan suatu ajaran yang utuh, yang dapat menggerakkan dan memberi tenaga hidup ke dalam  jiwa  manusia. Malahan  ia  sudah  berbalik  menjadi  sekadar upacara-upacara serta  tradisi  yang  dielu-elukan  oleh  pemuka-pemuka  agama kedalam  pikiran  orang-orang  awam  supaya  dapat  mereka itu dikuasai dan diperkuda. Sedang ajaran baru  yang  dibawa  oleh Muhammad  dasarnya adalah kekuatan rohani yang murni. Ia dapat mengangkat martabat  manusia  ke  tingkat  yang  lebih  tinggi sesuai  dengan sifat kemanusiaannya. Apabila materi dan rohani itu bertemu, kepentingan yang bersifat sementara  bertentangan dengan  yang  abadi  sifatnya,  maka  segala  materi  dan yang bersifat sementara itu akan kalah adanya. Read the rest of this entry »

Posted in Surat Ke Raja-Raja & Khaibar | Leave a Comment »

Bacaan Al-Qur’an Qori Syekh Sayid Mutawalli, Al Qalam.

Posted by Bustamam Ismail on October 30, 2010

Posted in Qori Mesir | Leave a Comment »

Mbah Marijan telah tiada

Posted by Bustamam Ismail on October 27, 2010

VIVAnews Belasan orang tewas di rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.  Termasuk rekan kami, redaktur VIVAnews, Yuniawan Nugroho yang kembali naik ke atas gunung bersama dokter Tutur Prijanto dari Palang Merah Indonesia (PMI) demi membujuk juru kunci Merapi itu turun ke wilayah yang aman. Editor senior itu memang telah lama mengenal Mbah Maridjan.

Lalu, bagaimana dengan Mbah Maridjan sendiri? Nasib sesepuh Merapi itu masih simpang siur.
Ada yang mengatakan dia meninggal di dusunnya yang luluh lantak diterjang awan panas letusan Merapi.  Tapi ada lagi yang mengatakan, ia ditemukan dalam kondisi lemas dan kini sedang dirawat  intensif.

Namun, informasi yang didapat VIVAnews, menyebutkan, sesepuh Merapi itu diduga kuat telah meninggal dunia.  Dikonfirmasi, petugas Kamar Jenazah RS Sardjito Yogyakarta, mengakui pihaknya sudah menerima jenasah yang mirip benar dengan Mbah Maridjan.”Benar, jenasah mirip Mbah Maridjan sudah ada di sini,” kata petugas tersebut.

Read the rest of this entry »

Posted in berita | Leave a Comment »

Bacaan Al-Qur’an Qori Syekh Tablawi Surat Al-Hijr dimulai ayat 49.

Posted by Bustamam Ismail on October 26, 2010

Posted in Qori Mesir | Leave a Comment »

Bacaan Al-Qur’an Qori Syekh Mustopa Ismail Surat At-Tahrim

Posted by Bustamam Ismail on October 26, 2010

Posted in Qori Mesir | Leave a Comment »

Utusan kepada Raja-Raja dan Khaibar bagian I.

Posted by Bustamam Ismail on October 25, 2010

MUHAMMAD dan kaum Muslimin kembali lagi dari Hudaibiya  menuju Medinah,  setelah tiga minggu persetujuan antara mereka dengan Quraisy itu selesai – yaitu persetujuan yang menyatakan  bahwa untuk  tahun ini mereka tidak akan masuk Mekah, dan baru tahun berikutnya mereka boleh masuk. Mereka kembali  dengan  membawa suatu  perasaan  dalam  hati.  Ada  sebagian mereka yang masih beranggapan bahwa isi  persetujuan  itu  tidak  sesuai  dengan harga diri kaum Muslimin, sampai akhirnya datang Surah al-Fath sementara mereka sedang dalam  perjalanan  itu  dan  Nabi  pun telah  pula membacakannya kepada mereka. Sekarang yang menjadi pikiran Muhammad  selama  tinggal  di  Hudaibiya  dan  setelah kembali  pulang,  ialah  apa  yang  harus  dilakukannya  dalam menambah   ketabahan   hati    sahabat-sahabatnya    disamping memperluas  penyebaran  dakwah.  Akhirnya  ia berpendapat akan mengutus  orang-orang  kepada  Heraklius,  Kisra,   Muqauqis1, Najasyi  (Negus)  di  Abisinia,  kepada Harith al-Ghassani dan kepada penguasa Kisra di Yaman. Bersamaan dengan itu  dianggap perlu sekali menumpas samasekali kekuasaan Yahudi dari seluruh jazirah Arab.

Pada  waktu  itu  ajaran  Islam  sebenarnya   sudah   mencapai kematangannya,  sehingga  ia menjadi suatu agama untuk seluruh umat manusia, yang tidak  lagi  terbatas  hanya  pada  masalah tauhid    serta    segala    konsekwensinya    seperti   dalam masalah-masalah ibadat’ tetapi juga sudah meluas dan  meliputi segala macam kehidupan sosial. Hal ini sesuai dengan kebesaran konsep  tauhid  itu  dan  membuat  pembawanya  dapat  mencapai kematangan  hidup  insani  serta terlaksananya cita-cita hidup yang    lebih    tinggi.    Oleh    karena    itu     turunlah peraturan-peraturan  yang  berhubungan  dengan masalah-masalah kemasyarakatan.

Read the rest of this entry »

Posted in Surat Ke Raja-Raja & Khaibar | Leave a Comment »

Perjanjian Hudaibiyah bagian Ketiga.

Posted by Bustamam Ismail on October 21, 2010

A. Proses Penulisan perjanjian Hudaibiyah.

Selain itu kesabaran Muhammad  terlihat  pula  ketika  terjadi penulisan  isi  persetujuan  itu,  yang membuat beberapa orang Muslimin jadi lebih kesal. Ia memanggil Ali b. Abi  Talib  dan katanya:

Tulis: Bismillahir-Rahmanir-Rahim (Dengan   nama   Allah, Pengasih dan Penyayang).”Stop!” kata Suhail. “Nama Rahman dan  Rahim  ini  tidak  saya kenal. Tapi tulislah: Bismikallahuma (Atas namaMu ya Allah).”

Kata Rasulullah pula: “Tulislah:  Atas  namaMu  ya  Allah.”  Lalu  sambungnya lagi:

Tulis: Inilah yang sudah disetujui oleh  Muhammad  Rasulullah dan Suhail b. ‘Amr.” “Stop,” sela  Suhail  lagi. “Kalau saya sudah mengakui engkau Rasulullah, tentu saya tidak memerangimu. Tapi tulislah namamu dan nama bapamu.”

Lalu kata Rasulullah pula:”Tulis:   Inilah   yang   sudah  disetujui  oleh  Muhammad  b. Abdillah.” Dan selanjutnya perjanjian antara kedua belah pihak itu  ditulis,  bahwa  kedua  belah  pihak  mengadakan gencatan selama sepuluh tahun – menurut pendapat sebagian besar penulis  sejarah  Nabi  -  atau  dua tahun menurut al-Waqidi - bahwa barangsiapa dari  golongan  Quraisy  menyeberang  kepada Muhammad  tanpa  seijin  walinya, harus dikembalikan kepada mereka, dan barangsiapa  dari  pengikut  Muhammad menyeberang kepada Quraisy,tidak akan dikembalikan; bahwa barangsiapa dari masyarakat Arab yang senang mengadakan persekutuan dengan Muhammad diperbolehkan, dan barangsiapa yang senang mengadakan persekutuan dengan Quraisy  juga  diperbolehkan;  bahwa  untuk tahun   ini  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  harus  kembali meninggalkan Mekah, dengan ketentuan akan kembali  pada  tahun berikutnya; mereka dapat memasuki kota dan tinggal selama tiga hari di Mekah dan senjata yang dapat mereka bawa hanya  pedang tersarung dan tidak dibenarkan membawa senjata lain.

Read the rest of this entry »

Posted in Perjanjian Hudaibiah | Leave a Comment »

Halal bi Halal menurut Budayawan Dr Umar Khayam.

Posted by Bustamam Ismail on October 21, 2010

Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.

Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134).

Read the rest of this entry »

Posted in mutiara akhlak | Leave a Comment »

Perjanjian Hudaibiyah bagian Kedua.

Posted by Bustamam Ismail on October 20, 2010

A. Anak Panah Rasul Memancarkan   Air.

Kemudian   dimintanya   orang-orang   itu  supaya  turun  dari kendaraan. Tetapi mereka berkata: “Rasulullah, kalaupun kita turun, di lembah ini tak ada air.” Mendengar itu Rasul mengeluarkan sebuah anak panah dari tabungnya lalu diberikannya kepada seseorang supaya dibawa turun kedalam salah sebuah sumur yang banyak tersebar di  tempat  itu.  Bila anakpanah  itu  ditancapkan  ke  dalam  pasir pada dasar sumur ketika  itu  airpun  memancar.  Orang  baru  merasa  puas  dan merekapun turun.

Mereka  turun  dari  kendaraan.  Akan  tetapi pihak Quraisy di Mekah  selalu  mengintai.  Lebih  baik  mereka  mati  daripada membiarkan   Muhammad  memasuki  wilayah  mereka dengan cara kekerasan sekalipun. Adakah agaknya mereka sudah  mengadakan persiapan  dan  perlengkapan  perang  guna menghadapi Quraisy, kemudian Tuhan yang akan menentukan nasib mereka masing-masing dan  Tuhan  juga  yang akan memutuskan persoalannya jika sudah mesti terjadi?!

Kearah inilah mereka sebagian berpikir  dan  pada  kemungkinan ini  pula pihak Quraisy itu berpikir. Sekiranya hal ini memang teriadi dan yang mendapat  kemenangan  pihak  Muslimin,  tentu tamatlah   riwayat   Quraisy   itu   di   mata   orang,  untuk selama-lainanya- Posisi Quraisy jadi  terancam  kalau  begitu, jabatan  menjaga  Ka’bah  dan mengurus air para pengunjung dan segala  macam  upacara  keagamaan  yang   dibanggakan   kepada masyarakat  Arab itu, akan hilang dari tangan mereka. Jadi apa yang harus mereka lakukan kalau  begitu?  Kedua  kelompok  itu masing-masing  sekarang  sedang memikirkan langkah berikutnya.

B.Tujuan Nabi dan kaum muslimin adalah Umroh tampa peperangan

Adapun Muhammad sendiri ia tetap berpegang pada  langkah  yang sudah digariskannya  sejak semula, mengadakan persiapan untuk ‘umrah, yaitu suatu langkah perdamaian dan menghindari  adanya pertempuran;  kecuali  jika  pihak  Quraisy  menyerangnya atau mengkhianatinya; tak ada  jalan  lain  iapun  harus  menghunus pedang. Read the rest of this entry »

Posted in Perjanjian Hudaibiah | Leave a Comment »

Perjanjian Hudaibiyah bagian Pertama

Posted by Bustamam Ismail on October 17, 2010

ENAM tahun lamanya sudah  sejak  Nabi  dan  sahabat-sahabatnya hijrah  dari  Mekah ke Medinah. Seperti kita lihat, selama itu mereka terus-menerus bekerja keras,  terus-menerus dihadapkan kepada peperangan,  kadang  dengan  pihak Quraisy, adakalanya pula  dengan  pihak  Yahudi.  sementara  itu  Islampun   makin tersebar luas, makin kuat dan ampuh pula

Sejak  tahun pertama Hijrah, Muhammad sudah mengubah kiblatnya dari al-Masjid’l-Aqsha  ke  al-Masjid’l-Haram.  Sekarang  kaum Muslimin menghadap ke Baitullah yang di bangun oleh Ibrahim di Mekah, dan yang kemudian bangunan itu dibaharui  lagi  tatkala Muhammad  masih muda belia. Waktu itu ia juga turut mengangkat batu hitam ketempatnya di  ujung  dinding  bangunan  itu.  Tak terlintas  dalam  pikirannya  atau dalam pikiran siapapun juga waktu itu, bahwa Tuhan akan menurunkan risalah kepadanya.

Sejak ratusan tahun yang lalu, al-Masjid’l-Haram  ini  (Mesjid Suci)   sudah  menjadi  arah tujuan orang-orang  Arab  dalam melakukan ibadat. Dalam bulan-bulan suci setiap  tahun  mereka datang  ke  tempat  itu.  Setiap orang yang datang keamanannya terjamin. Apabila orang bertemu dengan musuh yang paling keras sekalipun,  di  tempat  ini ia tak dapat menghunus pedang atau mengadakan pertumpahan darah. Akan tetapi sejak  Muhammad  dan kaum  Muslimin  sudah  hijrah,  pihak  Quraisy telah mengambil tanggung jawab dengan melarang  mereka  memasuki  Mesjid  Suci itu,   melarang   mereka  mendekatinya  diluar  golongan  Arab lainnya. Dalam hal ini firman Tuhan turun  pada  tahun  Hijrah pertama itu: Read the rest of this entry »

Posted in Perjanjian Hudaibiah | Leave a Comment »