MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sejarah Palestina Sebelum Islam

Posted by Bustamam Ismail on July 12, 2010

Palestina telah ditakdirkan oleh Allah SAW untuk menjadi tempat para Nabi dan Rasul yang membawa bendera monoteisme dan mengajak masyarakatnya untuk patuh kepada ajaran tersebut.

Dalam sejarah kunonya, Palestina telah menyaksikan berbagai model kepemimpinan dan kekuasaan oleh para Nabi dan penguasa lainnya. Mereka harus menghadapi banyak peperangan sengit untuk menegakkan bendera kebenaran di atas tanah yang berkah ini.

Sebelum menyelam lebih jauh secara mendetil, kita wajib menandaskan fakta yang signifikan bahwa umat Islam meyakini semua Nabi dan menganggap bahwa seluruh warisan mereka juga merupakan milik umat ini. Sebagaimana mereka juga meyakini bahwa ajaran Islam adalah ekstensi atau perpanjangan dari ajaran-ajaran para Nabi terdahulu sebelum datangnya Islam. Ajaran para nabi secara keseluruhan adalah ajaran yang juga diserukan oleh Muhammad SAW. Selanjutnya khazanah pengalaman yang dilalui oleh seluruh nabi dalam dakwah untuk menegakkan kebenaran dan ibadah kepada Allah SWT tidaklah terpisah atau berbeda dari dakwah dan pengalaman-pengalaman umat Islam. Lihat ayat di bawah ini dari surat XVI :36 :

Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan); “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut) itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya). Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl : 36)

Ini merupakan ajaran ke-Esaan yang diemban oleh setiap rasul. Ketika masyarakat tertentu menolak rasul mereka, ini berarti mereka telah menolak seluruh nabi. Renungkan apa yang Allah firmankan di dalam Al Qur’an:(S.XXVI : 105)Artinya : “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (Asy Syu’ara : 105).

Allah berfirman : (S.XXVI : 123) Artinya : Kaum Aad telah mendustakan para rasul.
(Asy Syuara : 123)

Firman Allah : (S.XXVI :141) Artinya : Kaum Samud telah mendustakan rasul-rasul.
(Asy Syuara : 141)

Firman Allah : (S.XXVI : 160), Artinya : “Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.” (Asy Syu’ara : 160)

Firman Allah : (S.XXVI : 176) Artinya : “Penduduk Aikah telah mendustakan rasul rasul.”

Dalam menghadapi klaim-klaim Yahudi kontemporer akan hak mereka di Palestina, banyak para sejarawan hanya terpaku sibuk dengan ilmu-ilmu arkeologi dan menyebutkan berbagai bangsa yang mendiami wilayah ini, memerintah, melewati dan berapa masa kekuasan masing-masing dari mereka di sana yang pada akhirnya hanya sampai pada kesimpulan bahwa masa di mana Yahudi berkuasa di sana sepanjang sejarah sangat singkat sekali dan terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja dibandingkan dengan bangsa Arab dan muslim.
Namun aspek ini sangatlah substansial untuk membantah klaim-klaim Yahudi dari aspek-aspek historis dan rasionalitas yang logis. Namun banyak para penulis dan ahli sejarah yang kelihatannya telah melakukan dua kesalahan besar di bawah ini :

1. Menisbahkan warisan para nabi yang telah diutus oleh Allah SWT kepada Bani Yahudi atau memimpin mereka sebagai suatau warisan yang khusus diberikan kepada mereka. Dan ini adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh mereka!!

2. Menjelekkan biografi beberapa para nabi yang diutus kepada Bani Israel dengan menggunakan argumentasi yang berdasarkan kepada kitab Taurat yang diselewengkan. Ketika mereka menggunakan rasionalisasi ini, mereka bermaksud untuk menunjukkan “prilaku yang memalukan” keturunan Israel dan pemimpin mereka ketika menduduki Palestina. Ini dengan tujuan mendegradasikan makna negara dan untuk menjelaskan kemerosotan tingkat peradabadan mereka. Para pengikut mazhab ini menggunakan argumentasi yang berdasarkan pada Israiliyyaat yang menuduh para nabi melakukan tipudaya, kebohongan, perzinaan dan pemerkosaan hak-hak serta pembunuhan orang-orang yang tak berdosa dalam upaya untuk membuktikan kekejaman, makar, kehinaan bangsa Yahudi dan untuk mendistorsi imej kekuasaan dan pemerintahan mereka pada waktu itu.

Al Qur’an telah cukup melengkapi kita dengan berbagai cara untuk mengidentifikasi tindak tanduk bangsa Yahudi dan mengingatkan kita akan kerusakan (debauchery) dan immoralitas mereka. Para nabi dan para pengikut mereka yang lurus adalah persoalan lain. Nabi-nabi adalah manusia terbaik. Mereka hendaknya untuk tidak didiskreditkan. Kita tidak boleh terpikat pada cerita-cerita Bani Israel yang tidak saja mejelekkan para nabi bahkan mereka juga menjelekkan Tuhan.

Sebagai contoh, Kitab Taurat dan Talmud yang telah dirubah (diselewengkan) mengatakan bahwa Tuhan (Yang Maha Tinggi, Mulia dan Agung) bermain dengan ikan paus dan ikan yang lain selama tiga jam tiap hari. Mereka juga mengatakan bahwa Dia menangis oleh karena pembumihangusan al haikal (rumah ibadah mereka seperti layaknya Sinagog) yang berakibat susutnya ukuran fisik-Nya dari tujuh surga menjadi empat. Gempa bumi dan angin ribut terjadi adalah sebagai akibat dari air mata Tuhan yang jatuh ke laut atas hancurnya al haikal tersebut. Klaim-klaim mereka ini disebutkan oleh Al Qur’an sebagai berikut : (5 :64)
Artinya : “Orang-orang Yahudi berkata : “Tangan Allah terbelenggu”, (Al Maidah : 64) Firman Allah S.III : 181) Artinya : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan : Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” (Ali Imran : 181)

Sebagaimana Yahudi juga menisbatkan (mengilustrasikan) nabi Yakub kepada pencurian boneka yang terbuat dari emas dan ia juga yang berkelahi dengan Tuhan (!!) di dekat kota Nablus, maka dari itu ia dinamakan Israel. Selain itu ia juga dikatakan telah menawarkan suap kepada saudaranya, memperdayakan orang tuanya dan hanya berdiam diri terhadap tuduhan perzinaan kepada dua anak perempuannya. Ia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal ini bisa dianalogikan dengan apa yang akan mereka perbuat dan katakan tentang nabi-nabi lainnya.

Yahudi telah jauh melenceng dari ajaran Taurat atau Perjanjian Lama. Mereka menapaki jalan Taurat yang sudah jauh keluar dari relnya sebagaimana terlihat dalam perilaku keseharian mereka, kesenangan melanggar kewajiban dan melakukan immoralitas dengan sikap terus bersikukuh akan apa yang mereka nisbatkan kepada nabi-nabi mereka. Dan ini tidak lain hanyalah bentuk kebohongan dan pemalsuan belaka. Para sejarawan, khususnya dari kalangan Islam, dalam mengkaji sejarah Palestina hendaknya tidak tergesa-gesa menuduh para nabi Allah dan rasul-Nya dengan apa yang difabrikasi (dibuat-buat) oleh Yahudi yang ini semua mereka lakukan hanya untuk membuktikan hak bangsa-bangsa lain atas bumi Palestina.

Kalau memang ikatan akidah dan iman adalah dasar yang menyatukan umat Islam walau perbedaan bangsa dan warna, maka umat ini merupakan orang yang paling berhak dengan warisan para nabi termasuk di dalamnya para nabi Bani Israel. Karena umat ini yang masih tetap konsisten menjunjung tinggi bendera monoteisme yang dibawa oleh para nabi. Mareka adalah orang yang tetap menapaki jalan dan ajaran para nabi. Dan menurut pemahaman Al Qur’an para nabi adalah orang-orang yang berserah diri (muslimun) dan bersatu.

Lihat firman Allah SWT :  Artinya : “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imran : 67-68)

Firman Allah :  Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama ismail (seraya berdo’a) : “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 127)Firman Allah :  Artinya : “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (Al Baqarah : 130)

Secara umum umat yang menganut ketauhidan adalah umat yang satu, sejak dari nabi Adam A.S sampai masa Allah akan mewarisi bumi dan orang-orang yang berada di atasnya. Para nabi, rasul Allah dan pengikut-pengikut mereka adalah bagian dari umat tauhid. Dakwah Islam adalah perpanjangan dakwah mereka. Dan umat Islam adalah orang-orang yang paling berhak dengan nabi-nabi, rasul-rasul dan yang mewarisi mereka.

Khazanah tradisi para nabi merupakan khazanah kita, eksperimen mereka juga merupakan eksperimen muslim. Sejarah mereka adalah sejarah kita. Dan syariah yang diberikan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka dalam memerintah wilayah yang berkah dan suci ini merupakan indikasi atas syariah, hak kita atas wilayah dan pemerintahannya.

Benar bahwa Allah telah memberikan tanah ini kepada Bani Israel di saat mereka berjalan dan mengikuti jalan Allah, di saat mereka menjadi representasi umat tauhid pada zaman yang lampau. Bukan kita malu untuk mengatakan fakta ini, kalau tidak demikian berarti kita telah mengingkari penjelasan Al Qur’an. Dari itu Musa berkata kepada kaumnya :

Artinya : “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al Maidah : 21)

Kendati syariat ini terikat erat dengan seberapa jauh komitmen mereka kepada tauhid dan manhaj Allah. Maka ketika mereka ingkar kepada-Nya, berbuat dosa kepada rasul, membunuh para nabi, merusak seluruh janji-janji dan piagam-piagam mereka. Mereka menolak untuk mengikuti risalah Islam yang telah dikabarkan oleh para nabi kaum ini.

Sebagaimana tercantum di dalam Al Qur’an : Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,” (Al A’raf : 157)  Artinya : “…dan memberi kabar gembiri dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Al Saff : 6) Maka ketika mereka lakukan hal itu, mereka terkena laknat dan murka Allah SWT.
Artinya : “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (Al Maidah : 113) Allah berfirman : Artinya : “Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (Al Maidah : 59)

Maka dari itu legitimasi atas pemerintahan tanah suci ini harus diberikan kepada umat yang tetap berjalan di atas jalan para nabi dan menjunjung tinggi bendera ajaran mereka yaitu umat Islam. Persoalan yang ada di dalam pemahaman kita bukan berhubungan dengan bangsa, keturunan dan kaum, namun lebih kepada loyalitas untuk mengikuti jalan dan manhaj ini.

Untuk melanjutkan diskusi sekitar klaim-klaim Yahudi akan hak mereka atas Palestina sesuai dengan nash-nash Taurat, kita coba melihat apa yang mereka sebutkan di dalam Taurat yang telah diselewengkan dengan keyakinan bahwa tanah tersebut telah diberikan kepada Ibrahim A.S. dan keturunannya.

Di antaranya sebagai berikut : Artinya : “Dan Tuhan berkata kepada Ibrahim : Pergilah dari tanahmu (wilayahmu), keluargamu, rumah orang tuamu ke tanah yang telah saya perlihatkan….maka pergilah ia sebagaimana telah Tuhan katakan…Maka mereka datang ke tanah Kan’aan…dan Tuhan dapat dilihat oleh Ibrahim dan berkata : Untuk keturunanmu aku berikan tanah ini”.

Dan di dalam Taurat berbunyi : Artinya :  “(Ibrahim) mendiami tanah Kan’aan maka Tuhan berkata kepadanya : “Angkatlah kedua matamu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri ke arah Utara, Selatan, Timur dan Barat, karena seluruh tanah yang engkau saksikan itu telah aku berikan kepadamu dan untuk keturunanmu selama-lamanya”.

Ada lagi yang berbunyi sebagai berikut : Artinya : Tuhan dan Ibrahim menyepakati piagam yang berbunyi : Untuk keturunanmu aku berikan tanah ini yang membentang dari sungai Mesir hingga sungai Besar, sungai Eufrat”.

Untuk menjawab hal di atas –di luar pemahaman kita tentang persoalan ini dari dasarnya yang syar’i—kita katakan :

1- Kalau memang di sana ada perjanjian yang memberikan Ibrahim A.S dan keturunannya, maka keturunan beliau bukan hanya Bani Israel sendiri. Bangsa Arab al musta’ribah adalah keturunannya juga (anak-anak Ismail A.S) dan di antara mereka adalah Nabi Muhammad SAW.

2- Kalau memang persoalannya berkaitan erat dengan keturunan dan proses beranak pianak (tanaasul) maka indikasi-indikasi yang ada mensinyalir bahwa mayoritas bangsa Yahudi yang ada pada zaman kita dewasa ini bukanlah dari keturunan Ibrahim A.S. Hal itu dikarenakan kebanyakan Yahudi kontemporer adalah Yahudi yang berasal dari Al Khazar (daerah laut Kaspia) yang masuk ke dalam agama ini pada abad kesembilan dan sepuluh Masehi!!

3- Sesungguhnya Al Qur’an al Karim menjelaskan persoalan kepemimpinan nabi Iabrahim dan keturunannya dalam forma yang tidak membingungkan. Renungkanlah firman Allah SWT di bawah ini :  Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata : “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku Allah berfirman : “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Al Baqarah : 124)

Maka ketika nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar supaya kepemimpinan (al imaamah) juga dapat dipegang oleh keturunannya, lalu Allah menjelaskan kepadanya bahwa janji al imaamah kepada keturunannya tidak dapat diberikan kepada orang-orang yang dhalim. Artinya kedhaliman, kekafiran, upaya menghalangi menuju jalan Allah dan melakukan kerusakan di muka bumi adalah persoalan yang paling terbesar yang dilakukan oleh Bani Israel?!!

Adapun sesuatu yang berhubungan dengan klaim-klaim historis Yahudi, kita telah cukup banyak para ahli sejarah yang dapat menjawab dan mengkonter alegasi tersebut. Maka masa kekuasaan Islam di bumi Palestina merupakan masa yang paling terpanjang dalam sejarah. Dan bangsa-bangsa yang mendiaminya wilayah tersebut jauh sebelum kedatangan Yahudi tetap masih eksis di sana hingga sekarang. Imigrasi-imigrasi (hijrah-hijrah) bangsa Arab pra atau paska kemenangan Islam (al fath al Islami) adalah komponen-komponen yang membentuk bangsa Palestina dewasa ini dengan agama Islam, bahasa dan karakteristik Arab mereka.

Palestina Pada Zaman Kuno :

Manusia mendiami bumi Palestina sejak periode klasik dahulu kala. Di sana terdapat banyak peninggalan-peninggalan arkeologis yang dikategorikan kepada zaman Batu Klasik (Ancient Stone Age) (500 ribu –14 ribu S.M) dan zaman Batu Pertengahan (the middle Stone Age) (14 ribu – 8 ribu S.M). Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada zaman itu di Palestina telah terdapat peradaban An Nathufiyyah yang dinisbatkan kepada gua-gua Al Natoof di sebelah utara Al Quds (Jerussalem sekarang). Bangsa An Natoof belum diketahui hingga sekarang. Peradaban mereka terkonsentrasi di wilayah pesisir, mereka hidup di dalam gua-gua seperti yang terdapat di gunung Al Karmel.

Pada zaman Batu Modern (8000 – 4500 S.M) kehidupan manusia di Palestina berubah menjadi lebih stabil, dari hanya mengumpulkan makanan berubah menjadi memproduksinya. Dan Jericho (Ariihaa) jelas memperlihatkan bukti-bukti pertama yang mengindikasikan akan adanya kehidupan yang stabil. Kota ini dianggap—hingga kini—sebagai kota yang paling tertua di dunia yang dibangun kira-kira pada tahun 8000 S.M.

Zaman Batu Perunggu (Brass Stone Age) membentang dari (4500 – 3300 S.M), telah ditemukan beberapa tempat peninggalan yang berperadaban yang kembali kepada zaman tersebut di wilayah Beer Sheba antara pegunungan Hebron (al kholil) dan Laut Mati serta pesisir Al Khudiera.

Permulaan Seribu Ketiga sebelum Maeshi, zaman ini punya kelebihan yang lain dengan muncul kekaisaran-kekaisaran kuno di timur, bersamaan dengan ini adanya keberhasilan prestasi tulis menulis dan dimulainya penulisan sejarah. Dan dari sini dimulainya zaman-zaman bersejarah di Palestina.

Periode yang membentang dari (3200 – 2000 S.M) dinamakan dengan Zaman Perunggu Kuno. Periode ini ditandai dengan munculnya banyak kota Berbenteng dan defensif yang dibangun di wilayah bukit yang tinggi. Mayoritasnya terletak di tengah dan Utara Palestina. Di antara tempat-tempat itu yang terpenting adalah Bashan, Mejideo, Al Afoula, Ras Al nakoura dan Tal Al Farei’a di sebelah utara Nablus. Dan pada tahun Seribu ketiga sebelum masehi penduduk Palestina terus bertambah dan perkotaannya juga berkembang sehingga ia memiliki kekuatan politis dan ekonomis yang mungkin dapat disebut dengan zaman “negara-kecil kota” (small-state of towns).

Pada tahun seribu ketiga sebelum Masehi, bangsa Ammonit, Kan’aan, Yabous dan Phoenisi (kedua terakhir ini dianggap sebagai sub-bangsa Kan’aan) berimigrasi ke tanah Palestina. Imigrasi mereka ini diperkirakan terjadi kira-kira pada tahun 2500 S.M. di mana bangsa Kan’aan menduduki wilayah pesisir, bangsa Ammonites terkonsentrasi di daerah dataran tinggi dan pegunungan, bangsa Yabousi mendiami wilayah Jerussalam (Al Quds) dan sekitarnya dan mereka yang membangun kota Al Quds. Mereka menamakan kota itu dengan “Yabous” kemudian “Ursaalem”. Adapun bangsa Phoenis, mereka mendiami daerah pesisir utara Palestina tepatnya di daerah Lebanon sekarang ini.

Para ahli sejarah yang dapat dipercaya memandang bahwa Ammonit, Kan’aan, Yabousi dan Phoenisi keluar mengembara dari jazirah Arab. Dan penduduk Palestina yang berwarna hitam sekarang ini—secara khusus orang-orang pedesaan—diperkirakan merupakan keturunan kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa kuno tersebut atau dari bangsa Arab dam umat Islam yang menduduki wilayah ini paska kemenangan Islam.

Imigrasi bangsa Kan’aan pada waktu itu sangatlah besar jumlahnya hampir dapat dikatakan bahwa mereka akhirnya menjadi masyarakat asli di sana. Nama “tanah Kan’aan” (the land of Canaan) merupakan nama tertua yang bagi wilayah yang disebut Palestina dewasa ini. Mereka yang membangun sebagian besar kota-kota di Palestina, dan jumlahnya—sesuai dengan batas-batas wilayah Palestina dewasa ini—tidak kurang dari dua ratus kota pada tahun seribu kedua sebelum Masehi dan sebelum ratusan tahun kedatangan orang-orang Ibrani Yahudi. Di antara kota-kota tua selain Jericho dan Al Quds, kota Shechem (Balatah, Nablus) Bashan, Ashkelon, Akka, haifa, Hebron, Ashdod, A’aqur, Beer Sheba dan Bethlehem.

Kemudian datang periode Perunggu Pertengahan (1550 – 1200 S.M) pertengahan pertama dari tahun seribu kedua sebelum Masehi periode ini menyaksikan pemerintahan Hyksos, yang memerintah Palestina lebih kurang delapan belasan hingga enam belasan abad sebelum Masehi (18-16 S.M). Kelihatannya pada periode itu (kira-kira 1900 S.M) nabi Ibrahim A.S datang bersama dengan adiknya Luth A.S ke daerah Palestina. Di sana nabi Ismail, Ishak dan Yakub A.S dilahirkan. Zaman Perunggu Terakhir (1550-1200 S.M) dimulai dengan keruntuhan kekuasaan Hyksos dan Palestina tunduk di bawah kekuasaan Mesir secara mutlak. Adapun zaman Besi (1200-330 S.M) dara permulaan (kira-kira 1200 S.M) kelihatannya Palestina menerima eksodus berbagai kelompok yang besar dari berbagai wilayah yang paling menonjol adalah imigrasinya “bangsa-bangsa pelaut”. Kelihatannya mereka datang dari wilayah Asia Barat dan dari pulau-pulau di laut Aegean (Crete dan lainnya). Pada mulanya bangsa-bangsa ini menyerang wilayah pesisir Syam dan Mesir, tapi Ramses III, Firaun Mesir dapat mengusir mereka dari wilayah ini di dalam pertempuran Blouziun (dekat pelabuhan Bur Said). Mereka diizinkan untuk mendiami bagian selatan wilayah Palestina. Dari inskripsi arkeolog dapat menemukan ukiran-ukiran dengan huruf-huruf “PLST”, dan menurut tulisan ini bahwa mereka adalah orang-orang yang disebut dengan “Palestian”. Kemudian ditambahkan huruf “N” kepada nama mereka (mungkin dianggap sebagai bentuk jamaknya) dan mereka disebut dengan Palestin. Bangsa Palestin ini telah membangun lima kerajaan yatiu kota-kota Ghaza, Ashdod, Jet, Aqroun dan Ashkelon.

Kota-kota ini mungkin milik bangsa Kan’aan kuno namun mereeka telah meluaskan dan mengaturnya kemudian mendirikan dua kota baru yaitu Lod dan Saklash. Mereka dapat menguasai daerah pesisir yang tersisa hingga gunung Al Karmel. Sebagaimana mereka juga menguasai Marj bin Amir. Bangsa Palestin berbaur dengan bangsa Kan’aan secara cepat dan menggunakan bahasa mereka dan menyembah Tuhan-Tuhan mereka (Dajoun, B’al dan Ashtar). Kendati bangsa Palestin telah berasimilasi dengan penduduk setempat namun mereka telah memberikan wilayah ini dengan nama mereka sehingga terabadi namanya menjadi Palestina.

Dari bukti-bukti komparatif historis kelihatannya bahwa Musa A.S memimpin Bani Israel ke arah tanah yang suci ini pada pertengahan terakhir dari abad ke 13 S.M atau masa akhir zaman Perunggu Terakhir di mana permulaan zaman Besi merupakan zaman masuknya bangsa Yahudi ke Palestina. Kemudian berdirinya kerajaan nabi Daud dan Sulaiman A.S pada tahun 1004-923 S.M yang terbagi menjadi keeerajaan Israel (tahun 923-722 S.M) dan kerajaan Yahuda (pada tahun 923-586 S.M) yang masing-masing menguasai sebagian kecil dari wilayah tanah Palestina. Dan sejak tahun 730 S.M, Palestina secara umum tunduk di bawah kekuasaan Assyrian yang datang dari wilayah Iraq hingga tahun 645 S.M kemudian kekuasaan ini diwarisi oleh orang Babilonia samapi tahun 539 S.M.

Bangsa Assyria dan Babilonia bergantian kekuasaan atas wilayah Palestina dengan Mesir. Kemudian sesungguhnya Parsi menyerang palestina dan memerintah di sana dari tahun 539-332 S.M. Palestina kemudian memasuki zaman Helenisia Yunani yang dikuasai oleh Ptolemaik hinggal tahun 198 S.M dan diikuti oleh Seleusias hingga tahun 64 S.M, periode di mana Romawi datang dan mendominasi wilayah Palestina. Setelah pecahnya kekaisaran Romawi, Palestina tetap berada di bawah naungan kekuasaan kekaisaran Romawi Timur “Kekaisaran Romawi” di mana Konstantinopel menjadi ibukotanya hingga datangnya Al Fath al Islami (kemenangan Islam). Setelah itu Islam yang memberinya nuasa Arab dan yang Islami pada tahun 636 Masehi.

Seruan Kebenaran dan Perjalanan Para Nabi di Bumi Suci :

Nabi Ibrahim A.S merupakan nabi pertama yang kita ketahui bahwa mereka yang hidup di Palestina dan meninggal di sana. Ibrahim A.S adalah bapak para nabi dan di antara keturunannya yang menjadi nabi seperti Ishak, Yakkub, Yusuf, Ismail dan Muhammad (bagi mereka sebaik-baik selawat dan salam).

Nabi Ibrahim A.S –menurut apa yang terdapat pada studi arkeologi—dilahirkan di “Uur” di wilayah Iraq. Hidup di sana untuk waktu yang lama di mana ia menghancurkan patung-patung dan mengajak kaumnya kepada tauhid. Ia menghadapi Raja Namrud dengan bukti-bukti. Mereka berupaya untuk membakarnya sebagai siksaan baginya atau apa yang dikerjakan Ibrahim yang menghancurkan patung. Maka api yang dipergunakan untuk membakarnya dijadikan Allah dingin dan cara buat keselamatannya. Nabi Ibrahim berhijrah di jalan Allah bersama dengan kemenakannya Luth dan berkata :

Artinya : “Dan Ibrahim berkata : “Sesungguhnya aku pergia menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Al Saffat : 99)

Kelihatannya bahwa Ibrahim pada awalnya berhijrah dan orang yang bersamanya ke wilayah Hurran (Al Raha) daerah yang berlokasi di wilayah selatan Turki dan utara Syria dewasa ini. Dari sana ia berhijrah ke tanah Kan’aan “Palestina”, Allah berfirman : Artinya : “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalain manusia.” (Al Anbiyaa : 71)

Menurut estimasi para ahli sejarah bahwa sesungguhnya kedatangannya di Palestina kira-kira pada tahun 1900 S.M. Sejarah ini menurut sejarah kuno Irak merupakan zaman “Uur ketiga” di mana Iraq diperintah oleh Samaritan. Ini juga merupakan permulaan zaman Babilonia kuno di mana unsur-unsur Semit yang datang dari jazirah Arab “Ammonites” mendominasi di sana.

Nabi Ibrahim A.S mendiami Shecehm dekat Nablus. Dari sana ia berpindah ke arah Ramallah dan Qud melewat Al Khalil kemudian dengan Beer Sheba di mana ia tinggal di sekitar sana untuk beberapa waktu. Kemudian pergi ke Mesir yang mungkin bertepatan dengan zaman keluarga ke sebelas atau dua belas dari Firaun Mesir. Ia kembali dari Mesir ditemani oleh Hajar yang merupakan hadiah dari pemimpin di sana untuknya. Disebutkan di dalam riwayat bahwa ia merupakan anak Firaun atau salah satu princess di sana. Kemudian ia kembali ke Palestina dan melalui bagian sebelah Ghaza di mana ia bertemu dengan Abu Malek, pangeran Ghaza. Ia berjalan-jalan antara Beer Sheba dan Hebron, lalu naik ke Al Quds. Adapun Luth A.S berpindah ke Selatan Laut Mati di mana ia diutus menjadi Rasul untuk penduduk wilayah tersebut. Sementara Ibrahim tetap tinggal di daerah pegunungan Al Quds dan Hebron. Nabi Ibrahim (alaihissalam) mendapatkan anak yang lahir dari isterinya Hajar. Kemudian setelah tiga belas tahun ia diberi anak lagi yang bernama Ishak dari isterinya Sarah. Kelihatannya Ibrahim diberi anak-anak ketika di dalam usia yang sangat lanjut. Hal itu dapat kita ketahui dari firman Allah dari lisan Sarah :

Artinya : “Isterinya berkata : “Seungguhn mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?.” (Hud : 72)

Kelihatannnya nabi Ibrahim A.S datang dan pergi ke Hijaz lebih dari sekali. Maka ia mendatangkan Ismail dan ibunya Hajar ke kota Mekkah dan kisah upaya (sa’i) Hajar antara bukit Shofa dan Marwah dan memancarnya air zam-zam yang terkenal itu. Sesungguhnya Ibrahim kembali dan dengan ditemani oleh Ismail ia membangun Ka’bah sebagaimana firman Allah :
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a) : “ Ya tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 127)

Namun pusat kediaman Ibrahim tetap di Palestina dan di sana beliau meninggal dunia dan dimakamkan di gua Al Makfeelah di dekat kota Hebron, kota yang dinamakan dengan namanya. Disebutkan bahwa beliau meninggal dalam usia 175 tahun.

Nabi Ibrahim A.S pernah mengalami pemerintah penguasa Jerussalam “Malaki Shadeq” yang kelihatannya merupakan pengikut ajaran tauhid dan sahabatnya. Pada waktu itu orang-orang yang beriman kepada Allah sangatlah sedikit dan jarang sekali. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa nabi Ibrahim berkata kepada isterinya Sarah ketika mendatangi salah satu orang yang terkuat ketika itu : “Tidak ada orang yang beriman di muka bumi ini kecuali aku dan kamu”. Ini jelas terjadi ketika mereka berangkan ke Mesir yang dapat disimpulkan dari ayat di bawah ini :

Artinya : “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.” (An Nahl : 120) Yang penting sesungguhnya bapak para nabi Ibrahim al Khalil adalah seorang rasul yang tergolong dalam kelompok ulul ‘azmi (yang memiliki kemauan tinggi). Ia punya peranan dakwah dalam menyebarkan risalah ketauhidan di Palestina di mana ia mendirikan masjid-masjid dan membangun mihrab-mihrab untuk menyembah Allah di seetiap tempat ia pergi. Yang jelas bahwa ia tidak punya masalah atau halangan dari penduduk Palestina dan ia juga tidak dipaksa untuk meninggalkan wilayah tersebut karena agama dan dakwahnya. Namun ia tetap tinggal di sana berpindah dengan bebas sehingga Allah memanggilnya.

Adapun nabi Luth A.S, ia tinggal di selatan laut mati di mana beliau diutus kepada desa “sodom” dan mereka yang melakukan kekejian dengan jenis laki “sodomi”. Ia telah berupaya keras untuk melarang, namun mereka menentang dan sombong. Maka akhirnya Allah balas mereka dengan membalikkan desa mereka dan menghujamkannya ke bawah dan mereka dihujani dengan batu dari tanah liat dari neraka yang sangat panas :

Artinya : “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelumnya? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “Usirlah mereka (luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutinya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (An A’raf : 80-84)

Firman Allah : Artinya : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kamu Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud : 82-83)

Al Quran menegaskan bahwa Ibrahim A.S mengalami kehidupan Luth dan kehancuran kaumnya. Para malaikat datang kepadanya dan memberinya berita gembira dengan Ishak dan menginformasikan kepadanya bahwa mereka dikirim untuk menghancurkan kaum Luth. Lalu ia berkata : Artinya : “Berkata Ibrahim : “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata : “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dai adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (Al Ankabut : 32)

Dan beginilah Allah memberikan pertolongan kepada hamba-Nya, Luth dan mensucikan tanahnya yang berkah : Artinya : “Kota yang mengerjakan perbuatan keji.” (Al Anbiyaa : 74)

Dan nabi Ibrahim A.S mendapat berita gembira dengan Ishak agar orang setelahnya dapat membawa bendera tauhid dan menyebarkannya di atas tanah ini dan supaya penyebaran cahaya Ilahi terus berlanjut di sana.  Ishak hidup di bumi Palestina dan mendapat anak yang diberi nama Yakub A.S “Israel” yang menurut anggapan Yahudi merupakan bapak mereka. Ishak dan Yakub merupakan menara-menara menuju hidaya setelah nabi Ibrahim A.S. Lihat penjelasan Al Qur’an dalam keterangan singkat dan peringatannya : Artinya : “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah.” (Al Anbiyaa : 72-73)

Nabi Yakub dilahirkan pada abad ke 18 S.M (kira-kira 1750 S.M) di palestina namun ia berimigrasi yang kelihatannya ke wilayah Hurran “Ar Rahaa”. Ia kawin di sana dan mendapat 11 anak yang di antaranya adalah Yusuf, tapi anaknya yang ke 12, Benyamin dilahirkan di tanah Kanaan “Palestina”. Nabi Yakub dan anak-anaknya kembali ke Palestina dan bermukin di Saar” dekat Hebron (Al Kholil). Kisahnya dan kisah anaknya Yusuf yang terkenal terdapat di dalam Al Qur’an secara terperinci. Kisah yang menceritakan konspirasi saudara-saudara Yusuf atas dirinya dan menjatuhkannya ke dalam sumur. Lalu ia ditemukan oleh kafilah dan menjualnya di Mesir. Di sana ia tumbuh menjadi dewasa dan berdo’a kepada Allah. Ia tegar menghadapi fitnah wanita dan bersabar di dalam penjara sehingga Allah memuliakannya untuk diletakkan di dalam golongan orang-orang petinggi Mesir setelah keberhasilannya mentakwil (interpretasikan) mimpi dan ketidakberdosaannya. Kemudian sesungguhnya Yusuf mengundang bapak dan saudara-saudaranya untuk datang ke Mesir di mana Allah kembalikan penglihatan Yakub setelah menderita kebutaan pada kedua matanya karena berpisah dengan Yusuf. Sebagaimana ia juga memaafkan kesalahan saudara-saudaranya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Yakub hidup di Mesir selamat 17 tahun namun ia dikubur dekat kakek Ibrahim dan bapaknya Ishak di Hebron.

Nampaknya periode kehidupan Yakub dan anak-anaknya di Mesir adalah zaman berkuasanya Hoksys di sana (1774 S.M-1567 S.M); kekuasaan mereka merupakan dua keluarga dari 15 dan 16 keluarga yang berkuasa di Mesir dan mereka bukanlah orang pribumi. Kendati demikian kelihatannya bahwa Yusuf dan saudara-saudaranya , anak-anak Yakub (Israel) menikmati kebebasan bekerja dan ibadah di Mesir dan mereka berperan dalam dakwah kepada tauhid. Namun hal ini tidak dapat berlanjut dan berubah pada generasi berikutnya. Bani Israel terperangkap dalam siksaan Firaun hingga akhirnya Allah SWT mengutus Musa A.S kepadanya untuk menyelamatkan kaum ini ke tanah Palestina. (COMES)

About these ads

2 Responses to “Sejarah Palestina Sebelum Islam”

  1. Joko said

    SEJARAH ASLI PALESTINA

    Identitas sebenarnya bangsa yang dianggap sebagai “Palestina”
    Dalam topik ini saya akan mempersembahkan perihal asal usul masyarakat Arab yang dianggap sebagai Palestina dan mitos-mitos yang berkembang luas didalamnya. Penelitian ini menggunakan langkah yang NETRAL dan OBYEKTIF, berdasarkan sejarah dan bukti-bukti arkeologis termasuk dokumen-dokumen lain, termasuk dari sumber-sumber Arab, dan pernyataan dari orang orang otoritas Islam.
    Ada beberapa mitos modern –atau lebih tepatnya, kebohongan- yang kita dengar setiap hari melalui media massa yang seandainya itu benar, tentu, menyembunyikan fakta kebenaran. Sebagai contoh, kapanpun Temple Mount atau Jerusalem disebutkan, selalu diidentifikasikan sebagaii “tempat kesuci ketiga Islam”, namun mengapa tak pernah disebutkan sebagai tempat suci utama untuk Yahudi? Hal ini seperti informasi yang mengaburkan!
    Dalam tujuan mempersembahkan topic ini lebih detail, maka akan dibagi menjadi 2 bagian:
    •1) Mitos dan fakta identitas sebenarnya bangsa yang dianggap “Palestina”;
    •2) Mitos dan fakta atas anggapan pada Jerussalem dan Tanah Israel.

    I – Asal usul dan identitas sebenarnya bangsa yang dianggap “Palestina”

    Orang-orang Palestina adalah bangsa yang paling baru yang muncul didunia, dan muncul hanya dalam sehari seperti kekuatan supranatural yang unik dari sejarah keseluruhan manusia, hal ini disaksikan oleh WALID SHOEBAT, seorang bekas anggota PLO yang membeberkan kebohongan yang ia perjuangkan dan kebenaran yang ia lawan:
    “Mengapa bahwa pada 4 June 1967 saya adalah orang Yordania dan dalam semalam menjadi orang Palestina?”
    “Kami tidak benar-benar mengikuti hukum Yordania. Pengajaran untuk menghancurkan Israel sudah menjadi bagian ajaran sekolah, namun kami menganggap diri kami adalah orang Yordania sampai Israel kembali ke Jerussalem. Lalu secara tiba-tiba kami menjadi bangsa Palestina- mereka memindahkan bintang dari bendera Yordania dan dalam sesaat kami memiliki bendera Palestina”.
    “Ketika saya menyadari mitos dan kebohongan yang diajarkan pada saya, adalah tugas saya sebagai orang yang jujur untuk bicara”.

    Deklarasi ini oleh “orang Palestina” yang benar sepantasnya memiliki dasar-dasar yang netral. Sesungguhnya, tidak ada orang Palestina yang sesungguhnya, atau adat Palestina, atau bahasa Palestina, ataupun sebuah sejarah Palestina. Tidak pernah ada Negara Palestina, tidak pula bukti-bukti arkeologi bahkan yang berbentuk koin. Pada saat ini “orang-orang Palestina” adalah ORANG ARAB, dengan KULTUR ARAB, BAHASA ARAB dan SEJARAH ARAB. Mereka memiliki Negara Arab sendiri tempat dimana mereka datang ke Tanah Israel sekitar satu abad yang lalu untuk melawan kedatangan orang Yahudi. Itulah sejarah sebenarnya.
    Mereka adalah orang-orang Yordania (salah satu sumbangan Inggris, sebelumnya tidak ada orang yang dikenal sebagai “orang Yordania”), dan setelah perang Enam Hari yang mana Israel secara pasti berhasil mengalahkan gabungan sembilan Negara Arab dan mengambil posisi yang legitimate pada Judea dan Samaria, penghuni Arab di tempat itu seperti tersihir oleh keajaiban antropologi dan menemukan diri mereka sebagai “ Palestina”- sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya Tentu saja, dengan memiliki identitas baru mereka harus membentuk sejarah baru, dasarnya, harus mencuri sejarah orang lain, dan tentu korbannya tidak akan protes dikarenakan korban tersebut sudah punah saat ini. Oleh karenanya, pemimpin Palestina mengklaim sejarah kehidupan masyarakat kuno yang tinggal di Tanah Israel dengan kontradiktif: bangsa Canaan dan bangsa Philistine. Mari kita pelajari keduanya sebelum membahas masalah Palestina.

    BANGSA CANAAN:
    Bangsa Canaaan secara sejarah diketahui adalah sebagai penghuni pertama Tanah Israel, sebelum bangsa Yahudi tinggal disana. Sebenarnya, nama yang tepat secara Geografi pada Tanah Israel adalah Canaan, bukan”Palestina” (sebuah karya Romawi, yang akan kita lihat nanti). Mereka terbagi dari suku yang berbeda-beda, yang biasa dikenali dari dua group utama:
    Canaan Utara(Canaan Pantai) dan Canaan Selatan(Canaan Gunung).

    •CANAAN UTARA tinggal disepanjang laut Mediaterania dari selatan sisi Teluk Iskenderun hingga dekat Teluk Hayfa. Kota-kota utama mereka adalah Tzur, Tzidon, Gebal (Byblos), Arvad, Ugarit, dan jauh dikenal dengan nama Yunani Phoenicians, namun mereka menyebut dirinya sebagai “Kana’ana” atau “Kinachnu”. Mereka tidak mendirikan kerajaan bersatu tapi terorganisir memerintah dalam tiap kota, dan bukan bangsa yang suka perang namun merupakan bangsa yang pandai berdagang, pembuat kapal dan pengarung laut. Bahasa mereka mengadopsi bahasa terdekat Semit, Arameans, dan dekat berhubungan dengan Bahasa Ibrani (bukan bahasa Arab!). Phoenician dan orang-orang Israel tidak membutuhkan penerjemah saat berkomunikasi. Mereka mengalami nasib yang sama dengan Israel kuno dan jatuh dibawah kekuasaan Assyrian , lalu Babylonian, Persian, Macedonian, Seleucian dan Roman. Melalui sejarah panjangnya Phoenicians saling menikah dengan penduduk berbeda ditanah mereka, terutama dengan orang-orang Yunani dan orang-orang Armenian. Selama expansi Islam, mereka di-Arab-kan, namun, assimilasinya tidak sukses dan keberadaan mereka saat ini adalah negara Lebanon, yang secara salah dianggap sebagai sebuah negara “Arab” , sebuah identitas yang ditolak oleh warga Lebanon!.
    Tidak seperti Negara-negara Arab, Lebanon mempunyai nama resmi system demokrasi barat yakni”Republik Lebanon”, tanpa tambahan kata “Arab” yang diperlukan dalam penguasaan Negara-negara Arab. Penggunaan istilah ” Bahasa Arab” hanya menunjukkan sebagai bahasa resmi yang mana tidak berarti penduduk Lebanon adalah Arab , sama dengan bahasa resmi di Amerika Serikat adalah bahasa Inggris namun tidak berarti penduduk Amerika adalah orang Inggris. Disamping itu peng-Arab-isasian bangsa-bangsa dan wilayah-wilayah seputar timur-tengah dan Afrika Utara juga berlangsung, sebagai informasi nama asli Mesir adalah “Qibti atau Koptik” yang diambil dari nama bangsa asli yang mendiami wilayah tersebut, namun saat Arab menguasai, nama tersebut diganti dengan nama Arab “ Misri atau Mesir”, hal ini tidak begitu mudah diterima kalangan Eropa yang memahami sejarah sehingga mereka tetap mengenalkan nama “Egypt”. Sedangkan untuk Aljazair, Maroko dan Tunisia serta Libya, juga mengalami hal yang serupa dengan bukti hanya kota-kota besar yang berisi orang-orang Arab sedangkan daerah terpencil dan kota-kota kecil lainnya berpenduduk orang orang Ber-ber penghuni asli wilayah ini!.
    Arabisasi telah merampas tanah mereka!!..mengapa tidak ada teriakan “kemanusiaan” atas hal ini??…
    Peng-Arabisasian hingga kini masih berlangsung…bisa dilihat pada kasus Darfour..dimana penduduk asli Sudan..dibasmi oleh Arab Janjawid..dengan alasan perbedaan agama!..dimanakah nilai “keadilan”atas hal ini??..
    Orang-orang yang dianggap Palestina bukanlah penduduk Libanon (meskipun dari mereka ada yang berasal dari Arab Syria-perampas Libanon) mereka juga bukan Phonecian (Canaan Utara). Sebenarnya, di Lebanon mereka adalah “pengungsi” dan tidak diidentifikasikan sebagai penduduk lokal.

    •CANAAN SELATAN tinggal di wilayah pegunungan Golan Selatan, pada kedua sisi Yarden dan sepanjang pantai Mediterranean dari teluk Hayfa hingga Yafo, inilah Canaan Bible. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok suku: disamping Canaan asli (Phoenicians), juga ada bangsa-bangsa Amorit, Hittit and Hurria seperti Yevusit, Hivvit and Horite, semuanya berasimilasi menjadi bentuk Aramean-Canaanite . Mereka tidak pernah merancang Negara yang sama, namun hidup dalam suku masing-masing.
    Ketika orang-orang Ibrani tiba di Canaan mereka membagi tanah namun tidak saling mengawini, dan itu adalah sebuah larangan untuk keluarga Avraham untuk mengawini orang Canaan. sesungguhnya, sebelas dari dua belas anak Yakov mengawini wanita-wanita Canaan (seorang lainnya mengawini seorang Koptik/Qibti), dan sejak itu suku-suku Israel mulai bergabung dengan penduduk lokal. Setelah Exodus, ketika orang-orang Israel menaklukkan tanah, juga ada beberapa peperangan antara mereka dan orang-orang Canaan selama masa Sofetim (Penghakiman), dan benar-benar dibentuk oleh Raja David. Setelah itu, kebanyakan Canaan mengawini orang-orang Israel, yang lainnya secara suka rela menerima Torah dan menjadi orang Israel, yang lain bergabung dengan pasukan Israel atau pasukan Judah. Sesungguhnya, bangsa Canaan jarang disebutkan dalam periode Raja, biasanya dalam hal kepercayaan mereka dikenali diantara penduduk Israel, namun mereka bukan penduduk terpisah, sebab mereka benar-benar telah berasimilasi dengan bangsa Israel. Saat Assyrian mengalahkan Kerajaan Israel, mereka tidak mengecualikan Canaan , karena mereka telah menjadi bagian bangsa Israel sejak itu. Hal yang sama juga terjadi ketika Babylonian mengalahkan Kerajaan Judah.
    Oleh karenanya, rakyat yang sanggup menelusuri sejarah Canaan kuno adalah orang-orang Yahudi, bukan orang Palestina, sejak Canaan punah dari abad ke 8 SM. dan mereka bukan dibantai namun berasimilasi dengan Bangsa Yahudi.
    Kesimpulan: orang-orang Palestina tidak dapat mengklaim sebagai bangsa Canaan kuno – jika benar, mengapa mereka tidak berpura-pura seperti orang-orang Syria “wilayah yang dijajah”, yang dinamakan , Lebanon? Mengapa mereka tidak berbahasaCanaan kuno, yakni bahasa Ibrani? Sebab mereka BUKAN orang Canaan sama sekali!

    PHILISTIN:
    Dari kata “Philistine” –lah nama “Palestina” diambil. Sesungguhnya, Philistine kuno dan Palestina modern mempunyai kesamaan yakni sama-sama PENGINVASI.!.Itulah nama yang tepat dari mereka, yang bukan berasal dari istilah etnis, namun berdasarkan perbuatan: PELESHET, asal kata “pelesh”, “penjajah”, “penekan” atau “penginvasi”. Palestina merupakan gabungan BANGSA NON-SEMIT yang berasal dari pulau Creta, pulau Aegean dan Asia kecil.
    Mereka juga dikenal sebagai “BAGSA LAUTAN”.
    Suku utama mereka adalah Tzekelesh, Shardana, Akhaiusha, Danauna, Tzakara, Masa atau Meshwesh, Lukki, Dardana, Tursha, Keshesh atauKarkisha, Labu dan Irven.
    Tempat tinggal asli gabungan Palestina, dinamakan “PELESATI”, adalah pulau Creta. Saat peradaban MINOIC hancur, juga berdampak bagi peradabannya, Yunani yang menginvasi pulau Kreta mulai menguasai. Orang-orang Kreta yang asli ini akhirnya pindah ke Canaan Selatan yang lalu dikenal sebagai “Pelestim dan Keretim” oleh Bangsa Yahudi dan Bangsa Canaan (yang akhirnya bersatu melawan penginvasi tersebut). Tempat tinggal mereka yang pertama adalah Gaza, yang memiliki nama asli “MINOAH”, yang jelas menunjukkan kejatuhan Kerajaan Minoic.

    Mereka juga menginvasi Egypt dan dikalahkan oleh Pharaoh Ramose III pada abad ke 12 SM Orang-orang Palestina terorganisir dalam bentuk Negara-Kota yang terutama adalah Pentapolis: Gaza, Ashdod, Ashkelon, Gath dan Ekron, dan wilayah mereka dekat dengan pantai Mediterranean, sedikit jauh dari”jalur Gaza” saat ini- bukan seluruh Judah, mereka tidak pernah mencapai Hevron, Jerusalem atau Yericho!
    Mereka yang menginvasi Egypt terusir dan tinggal di sepanjang wilayah-wilayah Mediterranean dan tidak pernah berhubungan dengan Bangsa Arab, namun menghilang pada masa kekuasaan Romawi. Penjajah Canaan tersebut akhirnya dikalahkan oleh Raja David dan jumlahnya berkurang drastis, Pejuang-pejuang mereka yang tangguh dipilih menjadi Pengawal David . Sisa-sisa orang Philistine akhirnya ditaklukkan oleh Sargon II dari Assyria dan sejak itu mereka benar-benar menghilang dari sejarah. Mereka tidak pernah disebutkan kembali ,bahkan sejak kembalinya Yahudi babilonia.

    KESIMPULAN: Tidak ada seorangpun yang bisa menunjukkan sebagai keturunan Asli Palestina, , bahkan bila Palestina benar-benar Exist, mereka harusnya mengakui sebagai penginvasi Israel, dan mereka seharusnya meminta Yunani untuk mengembalikan Pulau Kreta pada mereka! Orang-orang Palestina(saat ini) memalsukan sejarah yang benar-benar tidak bias dibuktikan. Dalam hal lain, mengakui sebagai bangsa Palestina karena keputus asaan yang diakibatkan kenyataan bahwa mereka bukanlah penduduk asli maupun penginvasi. Bangsa Palestina yang asli bukanlah Bangsa Arab!!!, Dan kesamaan mereka hanyalah sama-sama sebagai Penginvasi wilayah Israel, Palestina dari arah laut dan Arab dari padang-pasir. Mereka menginginkan Jerussalem, padahal kota ini tidak pernah dimilikinya sama sekali!, namun mereka tetap ngotot mengambil kota ini dari pemiliknya yang sudah berhak sejak 3000 tahun yang lalu. Bangsa Palestina (yang asli) ingin mengambil tanah suci dari pewaris sahnya, Palestina(saat ini) ingin mengambil Kota Suci dari Pewaris Sah nya.
    PALESTINA SAAT INI: bukan penduduk asli, mereka hanya mengaku-akui. Mereka lahir hanya dalam sehari, setelah Perang Enam Hari pada 1967 M bila mereka benar-benar Bangsa Canaan Mereka akan berbicara dengan bahasa Ibrani dan akan meminta Syria mengembalikan sebagian wilayah Canaan yang dijajah Syria yakni Lebanon, namun mereka tidak melakukannya. Dan jika mereka benar-benar Bangsa Palestina (yang asli), mereka akan menuntut kembali Pulau Kreta dari Yunani, dan memohon maaf pada Bangsa Israel atas pencurian Tanah Suci, lagi-lagi mereka tidak melakukan juga.

    TANAH “PALESTINA”
    Pada abad ke 2 Masehi., Kegagalan percobaan terakhir Bangsa Yahudi untuk memberontak pada Kekaisaran Romawi demi kemerdekaan terjadi, peristiwa ini dikenal dengan PERISTIWA MASADA, hal ini terdokumentasikan dengan baik dan dikenal luas sebagi permulaan Diaspora. Tanah tersebut sejak sebelum dan setelah peristiwa Masada dikenal sebagai Judea ,dan tidak ada tempat manapun disana yang disebut sebagai “Palestina”. Kekaisaran Hadrian Romawi benar-benar membenci kehadiran Bangsa Yahudi, dan ingin menghapus nama Israel dan Yahudi dari muka bumi., agar tidak ada kenangan atas tanah air untuk memberontak kembali. Dia berkehendak mengubah nama propinsi Romawi tersebut dengan nama yang menguntungkannya, dan menemukan sebuah nama bangsa yang tidak dikenal pada masa Romawi, namanya “Philistine/Palestina”, yang pernah tinggal didaerah tersebut sekaligus musuh Israel Oleh karenanya menurut logat Latin, dia menyebutkan: “PALAESTINA”, sebuah nama yang cukup dibenci bangsa Yahudi sebagai musuh utamannya yang lampau, Dia juga mempunyai maksud terselubung untuk menghapus jejak sejarah Yahudi.
    Romawi kuno, juga “Palestina “ saat ini, telah disebutkan dalam ramalan Kitab Suci Yahudi: “Mereka bermaksud menghancurkan bangsamu… mereka berkata: ‘datanglah, mari kita hancurkan mereka sebagai bangsa; sehingga nama Israel tak akan diingat kembali.” – Tehilim 83:3-4 (Psalm 83:3-4). Mereka gagal, Israel sampai saat ini masih eksis.
    Setiap orang yang jujur selalu mengakui bahwa tidak ada nama Palestina dalam sejarah sebelum bangsa Romawi menggubah nama propinsi Judea, nama “Palestina”, tidak tertulis di Bible, baik dalam catatan-catatan Yahudi ataupun Testamen Kristen, tidak juga di Assyrian, Persian, Macedonian, Ptolemaic, Seleucian ataupun sumber-sumber Yunani yang lain, dan tidak pula “Bangsa Palestina” pernah disebutkan, bahkan tidak pula oleh Romawi yang mengenalkan istilah tersebut.
    Bila”Bangsa Palestina” benar-benar ada dan tinggal di Tanah Suci, mengapa mereka tidak berusaha meraih kemerdekaan dari tangan Romawi seperti yang dilakukan bangsa Yahudi??? Bagaimana mungkin tidak adanya satupun nama pemimpin Palestina yang disebutkan dalam catatan sejarah untuk melawan Romawi? Mengapa tidak satupun kelompok perlawanan kelompok Palestina yang disebutkan, seperti Jewish Zealots? Mengapa catatan sejarah selalu menyebutkan bahwa Bangsa Yahudi sebagai penghuni asal, dan Bangsa Yunani, Romawi dan yang lainnya sebagai pendatang di Judea, namun umtuk Palestina, mereka tidak sebagai penghuni asli maupun pendatang?
    Apa lagi?, tidak ada penyebutan Bangsa Palestina dalam qur’an (koran), meskipun orang-orang Islam mengklaim bahwa nabi mereka pernah ke Jerusalem . Kenyataannya dia tidak bertemu satupun orang Palestina disana, bahkan para penggantinya sekalipun . Salahuddin al-Ayyub (Saladin), mengenal Bangsa Yahudi dan memintanya untuk tinggal kembali di Jerusalem, Dia mengenalnya sebagai tanah asli Yahudi, diapun tidak pernah bertemu dengan seorang Palestina pun… Pengklaiman atas Bangsa Palestina sebagai pemilik Eretz Yisrael bukan hanya melawan kenyataan sejarah yang tertulis dalam sejarah umum saja, namun juga bertentangan dengan sejarah Islam sendiri!

    Nama “FALASTIN” yang digunakan orang-orang Arab saat ini untuk kata “Palestine” BUKAN NAMA ARAB!!, namun hasil adopsi bahasa Latin yakni Palæstina . Bagaimana mungkin Bangsa Arab memiliki nama yang asing untuk di lidah mereka sendiri? Kenyataannya pembentukan nama”Bangsa Palestina” untuk kelompok Arab adalah rekayasa politik tanpa bukti-bukti sejarah dan etnis yang mendasar, dan tidak diidentifikasikan bangsa manapun sebelum 1967. Seorang penulis dan wartawan Arab menulis:
    “Tidak pernah ada Tanah Palestina sebenarnya yang dipimpin oleh orang Palestina yang sebenarnya pula, Bangsa Palestina saat ini adalah Bangsa Arab, dikembangkan dari orang-orang Jordania (another recent invention), Syria, Iraq, etc. Kenyataannya Arab menguasai 99.9 percent tanah di seluruh Timur-Tengah. Israel hanya satu persepuluh dari satu persen sisa Tanah tersebut . Arab menganggapnya hal itu masih terlalu banyak. Mereka ingin semuannya. Dan itulah yang membuat mereka selalu menyerang Israel, Tidak perduli berapa banyak konsensus tanah yang akan diberikan Israel, mereka tetap tak akan pernah puas”.
    – JOSEPH FARRAH, “Myths of the Middle East” –
    Mari kita dengarkan apa yang dikatakan orang Arab yang Lain:

    “Tidak ada Negara Palestina. ‘Palestine’ adalah istilah dari Zionisme. Tidak ada Bangsa Palestina dalam Bibel. Negara kami selama berabad-abad hanya Syria. ‘Palestine’ seperti sesuatu yang asing bagi kami . Zionislah yang mengenalkannya pada kami”.
    – Auni Bey Abdul-Hadi, Syrian Arab leader to British Peel Commission, 1937 –

    “Tidak pernah ada Bangsa Palestina dalam sejarah, sama sekali”.
    – Professor Philip Hitti, Arab historian, 1946 –

    “secara Umum nama Palestina tidak dikenal, namun yang ada adalah Syria selatan”.
    – Representant of Saudi Arabia at the United Nations, 1956 –

    Mengenai Tanah Suci, pemimpin delegasi Syria pada Konfrensi Perdamaian di Paris pada February 1919 , menyatakan:
    “Dominasi Arab sejak penaklukkan pada 635 M paling lama setelah itu, sekitar, 22 tahun”.
    Pernyataan tersebuat diakui para Politisi Arab sebelum 1967, mereka juga melihat kenyataan bahwa tidak ada bukti nyata atas Palestina.Bagaimana dan kapan mereka berubah pikiran? Pada saat Negara Israel lahir 1948 M., nama “Palestina “ belum diaku-akui oleh Arab sebagai Bangsa “Kuno”. Mereka begitu sibuk untuk menghancurkan Negara Israel dan belum memberi perhatian pada nama “Bangsa”. Mereka berusaha kembali untuk menghancurkan Israel pada 1967, dan dipermalukan dalam waktu hanya enam hari saja, dimana mereka kehilangan tanah yang pernah mereka rampas pada 1948. Selama 19 tahun pendudukan Arab di Jerusalem, Judea, Samaria dan Jalur Gaza , Tidak pula Jordania maupun Egypt berkehendak mendirikan sebuah Negara dan bangsa fiksi “Palestina” , dikarenakan memang tidak adanya orang Palestina Asli yang tersisa… Kenyataanya, selama Mandat Inggris, ,bukanlah kelompok Arab, namun justru kelompok Yahudilah yang di-identifikasikan sebagai ” Bangsa Palestina”!!

    Apa yang orang-orang Arab katakan setelah Perang Enam Hari:

    “Tidak ada Bangsa Jordania, Palestina, Syria dan Lebanon. Kita semua bagian dari satu bangsa. Hanya alasan politis kami mengidentifikasikan diri sebagai Palestina… ya, pembedaan identitas Palestina adalah demi tujuan politik. Pendirian Negara Palestina adalah alat baru untuk melanjutkan perlawanan pada Israel”.
    – Zuhair Muhsin, Pimpinan Komandan Militer PLO dan anggota Dewan Exekutif PLO –

    “Kamu tidak dapat menyatakan sebagai Palestina terhadap kami. Jangan lupakan point ini:Tidak ada yang disebut sebagai Bangsa Palestina, tidak ada keberadaan Palestina, yang ada hanya Syria. Kami adalah bagian dari yang berhak diidentifikasikan sebagai bangsa Palestina yang sebenarnya”.
    – Diktaktor Syria Hafez Assad kepada pemimpin PLO Yassir Arafat –

    “Sejak saya tinggal di Palestina, samua yang saya kenal mampu menelusuri asal usul dirinya, melalui dari negara mana kakek-neneknya berasal. Setiap orang yang saya kenal bukanlah berasal dari Bangsa Canaan, namun ironisnya,hal ini tidak menjadi hal pelajaran bagi kehidupan di Timur-Tengah. Kenyataannya pada saat ini orang Palestina berasal dari berbagai macam bangsa! , saya tinggal dan mempelajari dengan baik asal usul mereka yang saat ini banyak berasal dari Yemen, Saudi Arabia, Morocco, orang-orang Kristen dari Yunani, muslim Sherkas dari Russia, muslims dari Bosnia, dan Yordania yang terdekat. Kakek saya , bekas pegawai di Bethlehem, hampir kehilangan nyawa oleh Abdul Qader Al-Husseni (Pemimpin Revolusi Palestina) setelah dituduh menjual tanah untuk Yahudi. Beliau menjelaskan pada kami bahwa didesanya dulu di Beit Sahur (The Shepherds Fields) di wilayah Bethlehem dulunya kosong, sebelum ayah beliau datang dan tinggal disana bersama 6 keluarga lainnya. Kota itu sekarang dipenuhi dengan 30.000 penduduk”.
    – Walid Shoebat, seorang” Bekas-Palestina” Arab –

    Berapa lama “orang Palestina” tinggal di “Palestina”?
    Menurut standard PBB, setiap orang yang berada DUA TAHUN(!!!) di “Palestina” sebelum 1948, dengan ataupun tanpa bukti, adalah seorang “Palestinian”, termasuk juga keturunannya. Sesungguhnya, Pimpinan PLO selalu bersemangat atas “hak” seluruh orang “Palestina” untuk kembali ke tanah yang mereka rampas sebelum June 1967 M., namun menolak untuk kembali ke tanah yang mereka diami 50 tahun sebelumnya, katakan saja, tahun 1917 M. Mengapa? Sebab bila mereka setuju, mereka harus kembali ke Iraq, Syria, Arabia, Libya, Egypt… dan hanya orang Arab yang memiliki hak sebenarnya untuk tinggal (dan Israel yang memiliki seluruh tanah dari sungai Yarden dan laut Mediterania, termasuk wilayah Golan). Berdasarkan dokumen-dokumen,penduduk pertama dan seterusnya adalah orang-orang Yahudi, dan bukan orang Arab yang dikatakan sebagai Palestina. Beberapa kesaksian telah ditulis jauh sebelum adanya Imigrasi Yahudi:

    “Tidak ada satu desa pun yang ada di (valley of Jezreel, Galilea); tidak juga sampai tiga puluh mil dari segala penjuru, sekali berjalan sejauh sepuluh mil..tidak sampai sepuluh orang yang terlihat. For the sort of solitude to make one dreary, come to Galilee… Nazareth is forlorn… Jericho lies a mouldering ruin… Bethlehem and Bethany, dalam kemiskinan dan hina… tak dihuni makhluk hidup… Sebuah wilayah yang subur tapi terisolasi namun hanya dihuni ruput-rumput… sebuah kesunyian, penuh penderitaan… sebuah keterkucilan… Kami tidak pernah melihat seorang manusiapun dalam perjalanan sebuah pohon ataupun akar. Bahkan pohon zaitun dan Kaktus, tidk berharga di tabah yang gersang… Palestina berada di penderitaan dan abu… terkucil dan tak menyenangkan…”.

    – Mark Twain, “The Innocents Abroad”, 1867 –
    Dimana orang-orang Palestina bersembunyi sehingga Mark Twain tak melihat mereka? Dimanakah masyarakat “kuno” di abad ke IX M? Tentu saja, Politikus Arab modern mendiskreditkan dan menuduh Mark Twain adalah rasis. Namun, banyak juga saksi mata lain yang tidak menemukan seorang Palestina pun di waktu itu dan sebelumnya:

    “Pada 1590 seorang pengunjung biasa mendatangi Jerussalem dan menulis: Tidak ada yang bisa dinikmati selain sebuah tembok tua, yang dipenuhi rumput, dan lumut.”.
    – Gunner Edward Webbe, Palestine Exploration Fund,
    Quarterly Statement, p. 86; de Haas, History, p. 338 –

    “Tanah Palestina sepi penduduk untuk tanah yang subur”.
    – British archaeologist Thomas Shaw, mid-1700s –

    “Palestina dalah tanah yang terkucil dan penuh reruntuhan”.
    – Count Constantine François Volney, XVIII century French author and historian –

    “Orang Arab tidak bisa dinyatakan sebagai penduduk tetap, namun penduduk sementara. Mereka membangun tenda-tenda ditanah yang luas dan membangun tempat tinggal di reruntuhan kota. Mereka tidak membuat apa-apa didalamnya. Sejak lama mereka adalah orang asing, mereka tidak pernah memilikinya. Angin gurun membawa mereka lebih jauh dan menghapus jejak mereka yang berada di belakangnya “.
    – Comments by Christians concerning the Arabs in Palestine in the 1800s –

    “.”Tanah ini begitu kosong, sehingga perlu diperlukan pengembangan populasi”.
    – James Finn, British Consul in 1857 –

    (komentator lain )B. W. Johnson, in “Young Folks in Bible Lands”: Chapter IV, 1892 — The report of the British Royal Commission, 1913. William Thackeray in “From Jaffa To Jerusalem”, 1844

    Sejumlah pelaku perjalanan umum dan Ibadah pada abad XVI hingga XIX M. memberikan pernyatan yang kurang lebih sama , termasuk Alphonse de Lamartine, Sir George Gawler, Sir George Adam Smith, Siebald Rieter, priest Michael Nuad, Martin Kabatnik, Arnold Van Harff, Johann Tucker, Felix Fabri, Edward Robinson dan banyak yang lain. Semuannya menemukan bahwa wilayah tersebut hampir kosong, kecuali pemukiman Yahudi di Jerusalem, Shechem, Hevron, Haifa, Safed, Irsuf, Cæsarea, Gaza, Ramleh, Acre, Sidon, Tzur, El Arish, dan beberapa kota di Galilee: Ein Zeitim, Pekiin, Biria, Kfar Alma, Kfar Hanania, Kfar Kana dan Kfar Yassif. Bahkan Napoleon I Bonaparte, melihat perlunya pengembang biakan populasi di Tanah Suci, sempat berfikiran untuk mengembalikan orang-orang Yahudi ke Tanah Suci yang diketahui sebagai milik mereka- secara fakta, dia tidak melihat “orang-orang Palestina” yang mengklaim hak-hak sejarah atas Tanah Suci, yang dihuni sedikit penghuni kebanyakan Yahudi.

    Disamping itu beberapa bukti pernyataan Arab yang mengakui adanya populasi dan kebudayaan Yahudi di Tanah Suci in spite of the Diaspora:
    •Pada 985 M. Penulis Arab, Muqaddasi mengeluh bahwa mayoritas penghuni Jerussalem adalah Yahudi, dan berkata “Masjid sepi pengunjung…” .

    •Ibn Khaldun, salah seorang sejarahwan Arab, pada 1377 M,menulis:
    “Keberadaan Yahudi di tanah Israel telah lebih dari 1400 tahun… Yahudilah yang mengembangkan kebudayaan dan membangun berbagai macam tempat tinggal”.
    Setelah kekuasaan Arab selama 300 tahun, Ibn Khaldun menyatakan bahwa kultur dan tradisi Yahudi masih kuat. Pada saat itu tidak ada bukti mengenai akar dan tradisi”Palestina”.

    -Sejarahwan James Parker menulis: “selama abad pertama penguasaan Arab [670-740 M.], para penguasa dan gubernur Syria dan Tanah Suci memimpin mayoritas penduduk Kristen dan Yahudi. Sedikit Arab badui diawal masa dan Arab barat yordania sebagai garrison”.
    selama kekuasaan Arab 640 M hingga 1099 M., mereka tidak pernah menjadi mayoritas penduduk,justru kebanyakan adalah orang Kristen (Assyrian dan Armenian) dan Yahudi.

    Bila dokumen-dokumen sejarah dari ahli sejarah dan Ulama Arab belum mencukupi, marilah kita lihat dari sumber penting Muslim Arab
    ” Dan berkata Kami sepeninggal Fir’aun kepada Bani Israil : Diamlah kamu di bumi ini, maka apabila datang janji akhirat, Kami kumpulkan kamu sekalian.”.
    – Qur’an 17:104 –

    KEHADIRAN YAHUDI SAAT INI!:
    Kapanpun adanya diskusi tentang hal kembalinya orang-orang Yahudi sejak “lari mengungsi” dalam dua puluh abad, selalu dianggap paling valid. Hal itu memang benar bagi mayoritas bangsa Yahudi, namun tidak semuanya!!. Tidak benar bila dinyatakan seluruh orang Yahudi melarikan diri. Pengungsian yang lama, yang dikenal sebagai Diaspora, merupakan dokumentasi fakta atas klaim hak Bangsa Yahudi atas tanah Israel dan akibat dari perlawanan terhadap penjajah Romawi setelah perang kemerdekaan Yahudi melawan kekaisaran Romawi. Bila”Bangsa Palestina” benar-benar ada dan tinggal di Tanah Suci, mengapa mereka tidak berusaha meraih kemerdekaan dari tangan Romawi seperti yang dilakukan bangsa Yahudi??? Bagaimana mungkin tidak adanya satupun nama pemimpin Palestina yang disebutkan dalam catatan sejarah untuk melawan Romawi? Mengapa tidak satupun kelompok perlawanan kelompok Palestina yang disebutkan, seperti Jewish Zealots? Mengapa catatan sejarah selalu menyebutkan bahwa Bangsa Yahudi sebagai penghuni asal, dan Bangsa Yunani, Romawi dan yang lainnya sebagai pendatang di Judea, namun umtuk Palestina, mereka tidak sebagai penghuni asli maupun pendatang?

    Setelah peperangan Yahudi kedua pada abad kedua M., Kaisar Romawi Hadrian merampas Jerusalem pada 135 M. dan merubah nama Jerussalem menjadi Ælia Capitolina, dan nama Judæa dirubah menjadi Palæstina, dalam tujuan menghapuskan identitas Yahudi di muka Bumi. Sebagian besar orang Yahudi terusir oleh Romawi,, sebuah fakta awal terjadinya Diaspora yang besar. Tidak pernah diungkap, bahwa kelompok-kelompok kecil Yahudi masih tinggal di daerah yang diganti nama dengan nama “Palestine” tersebut, dan keturunan-keturunan mereka terus berkembang biak hingga para tokoh Yahudi memulai mengadakan program kembali ke Tanah suci pada abad XIX. Oleh karenanya, klaim bangsa Yahudi atas Tanah suci bukan hanya berdasarkan janji dalam kitab perjanjian lama namun juga berdasarkan bukti keberadaan komunitas yahudi di tanah Suci tersebut.
    Selama berabad-abad dibawah berbagai macam penguasa, Yahudi “Palestinian” tidak pernah berasimilasi namun tetap memegang teguh ajaran dan tradisi yahudi,dan saling berhubungan dengan komunitas Yahudi lainnya di Timur-Tengah. Kedatangan kembali Yahudi-Mizrachim (Oriental) dan Yahudi-Sephardim (Mediterranean) ke Tanah suci mendukung eksistensi keberadaan Yahudi di Tanah Suci. Kehadiran orang-orang Yahudi inilah yang dikenali sebagai “Palestina” selama berabad-abad sebelum kedatangan penakluk Arab.
    Walaupun Jerussalem pernah ditutup bagi orang Yahudi (Romawi menutup kota tersebut), sebagian dari Yahudi memilih tinggal di dekat batas kota, kota-kota lain dan desa-desa. Sekelompok orang Yahudi menetap di Gunung Zion. Romawi dan Byzantium melakukan tindakan ekspresif dengan melarang orang Yahudi bersembahyang di Kotel( Tembok-Ratapan). Sassanid Persia berhasil merebut Jerussalem pada 614 c.e. dan bersekutu dengan Yahudi, namun lima tahun kemudian Byzantium merebut kembali, namun penguasaanya singkat karena pada 638 M, Jerussalem direbut oleh Caliph Omar. Pada saat itulah pertama kalinya orang Arab menginjakkan kakinya di Tanah Suci yang dihuni oleh (Yahudi, Assyria, Armenia, Yunani dan komunitas kristen lain). Setelah berabad-abad ditindas Romawi-Byzantium, orang-orang Yahudi menerima baik kedatangan orang Arab dengan harapan mereka akan menjadi lebih baik. Orang Arab mendapati identitas Yahudi yang jelas di Jerussalem dan sekitarnya, Yahudi tinggal di pelosok wilayah diseluruh negara dan di kedua sisi Jordan. Sesungguhnya, orang”Palestina” yang berada ditanah tersebut adalah bangsa Yahudi!.Kota-kota seperti Ramallah, Yericho dan Gaza benar-benar dihuni Yahudi. Orang Arab yang tak memiliki nama untuk tempat ini akhirnya mengadopsi nama Latin”Palæstina” menjadi logat Arab yakni “Falastin”.
    Imigrant Arab yang tinggal di Palestina -atau, menurut konsepsi PBB,”pengungsi Palestina” pertama- adalah Yahudi-Arab, yakni orang-orang Nabatean yang mengikuti Judaisme. Sebelum Islam lahir, wilayah-wilayah seperti Khaybar dan Yathrib (diganti dengan Madinah) adalah kota-kota utama Yahudi Nabatean.Kapanpun membutuhkan sesuatu, masyarakat akan pergi ke Khaybar yang mana yahudi memiliki banyak buah-buahan, dan lahan mereka mempunyai banyak air. Namun saat orang-orang Islam menguasai Jazirah Arab, semua keindahan itu musnah, orang-orang Islam membantai Yahudi dan mengusir mereka, lalu menggantikannya dengan Fellahin ( petani-petani kecil) yang baru masuk Islam.. Mereka yang selamat segera melarikan diri menuju Tanah Suci , kebanyakan ke Yericho dan Dera’a, pada kedua sisi Jordan.
    Caliph Arab (Umayyad, Abbasid dan Fatimid) menguasai kota sampai 1071 M, karena Jerussalem berhasil direbut Turki-Seljuq, dan sejak itu tidak pernah lagi dibawah kekuasaan Arab. Selama masa penguasaan Arab, pembentukan sistem struktur sosial ala-Arab dilakukan dengan keras, namun tidak pernah patuhi oleh Kristen-non Arab dan Populasi Yahudi. Semua ahli sejarah yang jujur akan mengakui bahwa kekuasaan Arab di Jerussalem jauh lebih singkat tiga abad dibanding dengan penguasaan mereka atas Spanyol!!

    Pada 1099 M., Pasukan Salib yang menaklukkan Jerussalem membentuk sistem kerajaan merdeka dan tidak membentuk identitas bangsa/negara baru, namun hanyalah sebagai pos militer Kristen Eropa saja. Pasukan Salib berusaha dengan kejam menghancurkan bentuk identitas Yahudi, namun mereka juga gagal. Pada 1187 M, Orang Yahudi berkerja-sama dengan Salah-ud-Din Al’Ayyub (Saladin) melawan pasukan Salib dalam menaklukkan Jerussalem. Saladin, yang merupakan penakluk terbesar Islam bukanlah orang Arab namun Orang Kurdi!. Pasukan Salib mengambil alih kembali Jerusalem dari 1229 hingga 1244 M, saat kota direbut oleh orang-orang Khwarezmi. Sebuah periode penuh kekacauan terjadi karena invasi Mongol hingga 1291 M., saat orang-orang Mameluk hampir menguasai seluruh Timur-Tengah dan menetapkan ibu-kotanya di Cairo, Egypt. Orang-orang mameluk aslinya berasal dari Asia Tengah dan saudagar-saudagar Caucasia yang dipekerjakan oleh para Caliph Arab, Mameluk terdiri dari gabungan Kumans, sebuah suku Turki yang dikenal juga sebagai Kipchak, yang berkaitan dengan Seljuq, Kimak dan kelompok-kelompok lain. Mereka dikenal dengan sifat pemberaninya, sebagai tentara bayaran Kuman, mereka sesekali membela dua pasukan musuh. Pasukan mameluk tidak kehilangan moment atas kekuatan mereka, bahkan saat mereka kehilangan kekuasaan, mereka masih dipekerjakan sebagai petarung oleh sultan-sultan Ottoman dan yang terakhir oleh Napoleon Bonaparte.

    Pada 1517 M.,jerussalem dan seluruh Tanah Suci jatuh dalam kekuasaan Turki Ottoman, mereka menguasai hingga empat abad sampai pada 1917 M, saat Inggris berhasil merebutnya dan menamakannya “Mandate of Palestine”. Itulah akhir kejayaan Turki Ottoman yang pada saat kekuasaanya juga menguasai seluruh wilayah-wilayah yang diakui Arab( negara-negara Arab). Sejujurnya, sejak kejatuhan kekhalifaan Abbasia pada 945 M, tidak ada satupun kekuatan politik Arab di Timur-Tengah hingga 10 abad !

    Pada awal abad XX M, penduduk Judea/samaria – yang diistilahkan dengan”Tepi Barat” – kurang dari 1000.000 jiwa yang sebagian besar Yahudi. Gaza memiliki kurang dari 80.000 “penduduk asli” pada 1951, pada akhir perang kemerdekaan Israel melawan seluruh negara Arab. Gaza direbut oleh Arab: Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 50 tahun saja, penduduk yang hanya 80.000 jiwa bisa menjadi lebih dari 1 juta jiwa??? Apakah orang-orang Arab yang ada di Gaza benar-benar terlatih untuk membuat anak dengan cara yang supranatural?? Faktanya hanyalah IMIGRASSI MASSAL yang membuat hal tersebut. Pendudukan Arab pada 1948 dan 1967 adalah sebuah keuntungan bagi pemimpin Arab untuk menggalakkan Imigrasi massal ke “Palestina”(a mishmash of Arab immigrants) ke Judea, Samaria dan Gaza dari seluruh negara Arab, terutama Egypt, Syria, Lebanon, Iraq dan Jordan. Kenyataannya, sejak tahun 1950 hingga Perang Enam-Hari, penguasa Yordania telah membangun 250 pemukiman baru di wilayah Judea-Samaria. Pembangunan pemukiman Arab yang baru tersebut bisa dibuktikan dengan bahan bakunya yang terdiri dari semen dan batu-bata!. Menurut konferensi Oslo Pemerintah Israel diminta mengijinkan 240.000 pekerja migrant memasuki Judea dan Samaria melalui perbatasan Jordania. Jumlah sesungguhnya jauh lebih besar. Bila ratusan ribuan pekerja imigrant membanjiri Judea, Samaria dan Gaza, mengapa Israel harus memberi mereka nafkah? Dalam kenyataan yang terbalik,dengan mendukung ekonomi orang-orang ini yang menolak kewarganegaraan Israel ataupun Yordania, Israel pun akan membuat lebih menarik bagi pekerja migrant yang lainnya. Saudi Arabia saja dalam setahun mengextradiksi 1000.000 pekerja gelap dan yang tak memiliki kewarga-negaran. Marilah kita berfikir kembali mengenai “orang-orang Palestina”, menurut definisi asli “orang Palestina” . Berdasarkan PBB:

    “Menurut standard PBB, setiap orang yang berada DUA TAHUN(!!!) di “Palestina” sebelum 1948, dengan ataupun tanpa bukti, adalah seorang “Palestinian”, termasuk juga keturunannya. -, , -. Definisi ini sebenarnya ditujukan pada penduduk Arab (bukan pada penduduk Yahudi!).”!!.

    ADD ON :
    ISRAEL SAAT INI!!:
    israel saat ini memiliki 1 juta komunitas Arab( mereka bukan termasuk para “palestina”)!..mereka bebas berekspresi…bahkan arab diijinkan memiliki partai politik sendiri yang bernama The Arab Democratic Party (Hebrew: מפלגה דמוקרטית ערבית‎, Miflaga Demokratit Aravit; Arabic: ألحزب الديمقراطي العربي..mereka pun ikut pemilu.
    banyak warga israel arab yang mengabdikan diri bagi negaranya..seperti bergabung dengan kegiatan2 sosial, ekonomi bahkan militer!.
    sebagai catatan komunitas arab juga dipercaya berposisi sebagai menteri dan duta besar!.
    namun adakah negara arab yang berbuat sama terhadap warga yahudinya, yang masih memegang kepercayaan yahudi/kulturnya??

    Nah dengan demikian,..kini kalian dapat mengetahui siapakah yang sebenarnya memutar-balikkan fakta atas tanah Israel????..lihat pula perlakuan mereka pada TKW kita!.. :

  2. mecca said

    sejarah palestine yg pertama di tulis dengan tulus, jujur brdasarkar fakta sejarah dan berpedoman pada kitab suci al-Quran, ini bisa dirasakan dengan ketika kita membaca artikelnya, sdgkan “sejarah asli palestina”, syarat dengan nuansa arogan dan ambisi penulisnya,(sorry boss!), bagi sy terlepas dari pandangan subyektif saya, lbh memilih mempercayai uraian sejarah palestina yang pertama, ingat friend, orang arab juga tidak semuanya muslim, semua juga tahu bahwa indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia (apa bung joko juga mau menyangkal?), bisa jadi pelaku kekerasan terhadap para TKI kita adalah Arab Non Muslim friend. mereka sengaja untuk merusak citra Arab (dimana bila kita mendengan istilah itu maka yg ada di kepala kita adalah ISLAM). Tapi inilah khasanah, sunnatullah, yahudi memang ditakdirkan sebagai biang kerok kekacauan, tak ada pilihan, hadapi!, dan tunggu kemenangan seperti yang dijanjikan Tuhan, Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers

%d bloggers like this: