Kontroversi seputar tulisan Arab kuno dan Mushaf Ibn Mas’ud sudah dibahas, sekarang kita alihkan perhatian pada spektrum yang lebih luas mengenai serangan Orientalis terhadap Al-Qur’an dalam berbagai dimensi untuk dapat menyajikan suatu citra beberapa upaya dan tujuan Barat dalam mencemarkan kemurnian teks Al-Qur’an menggunakan sumber-sumber tidak etik dan penipuan.
1. Perlunya Pembuktian Penyimpangan dalam Al-Qur’an
Dengan maksud hendak membuktikan moralitas dan superioritas teologi Barat, Bergtrasser, Jeffery, Mingana, Pretzl, Tisdal dan banyak lagi lainnya, telah mencurahkan seluruh kehidupannya guna menyingkap perubahan teks Al-Qur’an yang, katanya, tidak mereka dapatkan dalam kajian kitab Injil. Seperti tampak dalam bab sebelumnya, banyak sekali perbedaan yang memenuhi halaman-halaman dalam Kitab Injil, “Cette masse enorme depasse ce dont on dispose pour n’import quel texte antique; elle a fourni quelque 200,000 variantes. La plupart sont des variants insignifiantes… Deja Wescott et Hort, en donnant ce chiffre, constataient que les sept 6uitieme du texte etaient assures… Il y en a pourtant”.1 Jika lihat secara keseluruhan, tampak melemahkan isu-isu penting dalam teologi dan menimbulkan keprihatinan mengenai adanya cerita-cerita palsu yang disisipkan ke dalam teks melalui pengaruh masyarakat umum. Sementara desakan untuk membuktikan keadaan yang sama terhadap Al-Qur’an mulai menggejala semenjak beberapa tahun lalu disebabkan oleh perubahan peta politik Timur Tengah, namun upaya-upaya dalam bidang ini kebanyakan telah dimulai lebih awal dari perhatian mereka. Di antara karya-karya sebagaimana sejarah telah mencatat:
Read the rest of this entry »