Di langit, Tuhan dan para malaikat belajar Taurat persis, seperti para rabi (pemimpin agama Yahudi) mempelajarinya di bumi. Tuhan mengenakan jubah layaknya seorang Yahudi dan bersembahyang menurut cara para rabi. Dia melakukan tindakan-tindakan kasih sayang yang dianjurkan etika Yahudi. Dia mengatur urusan-urusan dunia sesuai dengan aturanaturan Taurat, persis seperti yang dilakukan seorang rabi di pengadilannya. Satu tafsir legenda penciptaan mengajarkan bahwa Tuhan mengkaji Taurat dahulu dan kemudian menciptakan dunia darinya. 1
Adalah suatu kebiasaan bahwa bila seseorang membangun suatu istana, dia tidak membangunnya menurut kebijakannya sendiri, tapi menurut kebijakan seorang ahli. Seorang ahli tidak membangun menurut kebijakannya sendiri, melainkan dia mempunyai rancangan-rancangan dan catatan-catatan untuk mengetahui bagaimana membuat kamar-kamar dan koridor-koridor. Zat yang mahasuci, juga melakukan hal yang sama. Dia meneliti Taurat dahulu baru menciptakan dunia.2






Karena adanya pemerintahan bangsa Israel yang hierokratik telah terbukti tidak efektif dalam menentang bangsa Palestina, Nabi Samuel membantu mendirikan sebuah pemerintahan monarki. Saul menjadi orang pertama kali yang memanfaatkannya, naik ke kursi singgasana walaupun kemungkinan adanya sikap Samuel yang kurang setuju.
Israel telah ada dalam pikiran Tuhan sebelum penciptaan alam (Gen. R. 1.4) yang mana diciptakannya langit dan bumi hanyalah karena keunggulan Israel. Sebagaimana alam tak mungkin wujud tanpa angin, hal itu pun tak mungkin wujud tanpa Israel.
Dizaman Rasulullah, Masjid memiliki peran sentral di berbagai bidang dalam menciptakan masyarakat yang kokoh dan sejahtera. Di Indonesia kini, pengelolaan Masjid yang kurang baik membuat peran kemasyarakatan masjid sangat minim. Disisi lain masjid terasa asing dan jauh dari masyarakatnya, ditandai dengan jumlah jama’ah sholat yang sedikit. Artikel ini menawarkan beberapa gagasan strategis dan praktis yang dioalah dari pengalaman empiris pengelolaan Masjid Jogokariyan yang terbukti dapat menghadirkan Masjid yang makmur dan menjadi sentral bagi aktivitas masyarakat..
“Kalaulah ada 5 saja komisariat kecamatan seperti IKT ini, mungkin IKPB sudah bukan main wahnya…,” demikian kutipan dari sambutan yang disampaikan oleh Prof. DR. Sjafril Kemala, Ketua Umum Ikatan Keluarga Pasaman Barat Jakarta Raya (IKPB Jaya) pada acara silaturahmi pengurus dan anggota komisariat-komisariat yang tergabung dalam perkumpulan perantau kecamatan-kecamatan se Kab. Pasaman Barat di Jakarta dan sekitarnya, Jumat malam (23/04) di Jakarta. Prof. Sjafril memang tidak menjelaskan lebih lanjut makna ‘wah’ yang ia maksud. Namun dapat dipahami bahwa itulah ungkapan beliau saat itu menanggapi apa yang telah dilakukan oleh Ikatan Keluarga (Kec) Talamau Jabodetabek (IKTJ). Kecamatan Talamau, yang pusat kecamatannya adalah Talu, merupakan 1 dari 11 kecamatan yang ada di wilayah Kab. Pasaman Barat, Prov. Sumatera Barat. Seperti kebanyakan para perantau daerah yang berdomisili di Jabodetabek, perantau asal Talamau juga tergabung dalam suatu perkumpulan yaitu Ikatan Keluarga Talamau Jabodetabek (IKTJ).

RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati. Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut. Mari kita simak bersama!
PKS-Jaksel: Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR. Tirmidzi)