MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Peranan Nabi Muhammad Dalam Mengemban Petunjuk Al-Qur’an.

Posted by Bustamam Ismail on January 18, 2010

1. Peranan Nabi Muhammad terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an secara konsisten menggunakan kosa kata tala, yutla, atlu, tatlu, yatlu etc. Kita dapat baca ayat-ayat tersebut dalam 2: 129, 2: 51, 3: 164, 22: 45, dan 62: 2 serta banyak lagi lainnya. Kesemuanya memberi isyarat akan peranan Nabi Muhammad  dalam mengenalkan wahyu ketuhanan ke seluruh masyarakat. Namun demikian bacaan saja dirasa belum cukup jika tak disertai perintah. Tanggung jawab Nabi Muhammad terhadap kalamullah dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut, di mana pertama dapat dilihat dalam doa Nabi Ibrahim,

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan me­ngajarkan kepada mereka AI-Kitab (AI-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka.”34

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul diri golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah….”35

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan agama kamu al-kitab dan al-hikmah…. “36

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila _Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pen­jeiasannya.”37

Ayat-ayat tersebut menunjukkan kepedulian Nabi Muhammad dalam merekam hafalan AI-Qur’an. Beliau tampak tergesa-gesa dalam melalap hafalan sebelum senyap, lidahnya sibuk mengikuti kalimat berikutnya. Ia diberi peringatan untuk tidak perlu tergesa-gesa karena semua ayat akan me­rasuk ke dalam hati, Allah berjanji akan memelihara Al-Qur’an sepanjang masa..


2. Silih Berganti Membaca Al-Qur’an Bersama Malaikat Jibril

Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepadanya setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam hadith-hadith berikut:

  • Fatima berkata, “Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini la membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain ke­cuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.”38
  • Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur’an silih berganti.39
  • Abu Huraira berkata bahwa Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril mem­baca Al-Qur’an bergantian tiap tahun, hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali.40
  • Ibn Mas’ud melaporkan serupa dengan di atas, dengan tambahan, “Mana­kala Nabi Muhammad dan Malikat Jibril selesai membacanya, lalu mem­beri giliran saya membaca untuk Nabi Muhammad dan beliau memberi penghargaan akan keindahan bacaan saya.”41
  • Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit, dan Ubayy bin Ka’b membaca secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril.42 Nabi Muhammad juga membaca di depan Ubbay dua kali dalam tahun kematiannya.43

Tiap hadith di atas memberi penjelasan bacaan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad dengan menggunakan istilah Mu’arada.44

Tugas Nabi Muhammad terhadap wahyu teramat padat: beliau sangat instrumental dalam penerimaan ketuhanan (divine reception) sebagai pe­ngawas ketepatan kompilasi, memberi keterangan yang diperlukan, pemacu masyarakat luas dalam pengenalan dan penyebarluasan, dan sebagai mahaguru para sahabat. Tentunya Allah tidak perlu turun ke bumi menjelaskan ayat ini dan hal itu dengan keterangan, ‘ adalah tugas Kami untuk menjelaskan “bukan­nya, “ini tugasmu Muhammad untuk memberi penjelasan,” berarti Allah mem­beri letigimasi sepenuhnya akan kefasihan Nabi Muhammad pada seluruh ayat­ayatnya, bukan melalui perkiraan, melainkan sebagai inspirasi Allah sendiri. Adalah sama benarnya dalam masalah kompilasi AI-Qur an.

Demikian pula setelah menghafalnya, tugas membaca, kompilasi, pengajaran, dan penerangan menyatu dalam tugas utama sepanjang kenabian, tugas yang beliau laksanakan penuh kesetiaan mendapat persetujuan Allah swt. dalam upaya yang ia lakukan. Perhatian utama dalam bab-bab mendatang mencakup tiga masalah penting yang pertama, antara lain, penjelasan tentang wahyu, literatur sunnah Nabi Muhammad di mana keseluruhannya me­rupakan penjelasan Al-Qur’an, serta penyatuan beliau terhadap seluruh ajaran ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.

3. Beberapa Catatan tentang Klaim-Klaim Orientalis

Beberapa penulis dari kalangan orientalis membuat teori miring tentang Al-Qur’an. Noldeke misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad pernah lupa tentang wahyu sebelumnya, sedang Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad maupun masyarakat Muslim tidak pernah menganggap Al-Qur’an secara berlebihan, kecuali setelah meluasnya negara Islam. Mereka, sekurang-kurangnya mempunyai pikiran bahwa kemungkinan ada gunanya memelihara ayat-ayat Al-Qur’an bagi generasi mendatang. Melakukan pen­dekatan terhadap permasalahan yang ada dari sudut pandang akal semata ada­lah tidak cukup untuk menolak anggapan itu.

Sebenarnya pendekatan logika seperti ini terlepas apakah seseorang percaya bahwa Muhammad seorang Nabi atau tidak, dengan segala caranya beliau tetap akan berbuat semampu mungkin mempertahankan apa yang dianggap sebagai kalamullah. Jika beliau seorang rasul sungguhan, per­masalahan akan semakin jelas: pemeliharaan kitab Al-Qur’an merupakan tugas suci, seperti telah kita sebut sebelumnya, Kitab suci Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar dan pertama yang diturunkan dengan bukti bahwa tak ada orang lain yang menulisnya. Maka, menolak mukjizat ini dengan melihat adanya bukti nyata bahwa beliau sebagai Nabi Allah adalah sikap seorang jahil.

Tetapi apa yang mungkin terjadi jika misalnya, sekadar alasan dalam perdebatan, Muhammad pura-pura mengaku nabi atau katakanlah Al-Qur’an sebagai rekayasa beliau, adakah beliau mampu menghasilkan sesuatu yang berlainan dari yang ada sekarang? Tentu saja tidak: beliau akan tetap mem­pertahankan keyakinan. Karena melakukan hal yang sebaliknya berarti peng­akuan terhadap penipuannya. Tak akan ada pemimpin setinggi apa pun yang akan mampu membayar kesalahan yang teramat fatal.

Apakah seseorang menelantarkan Muhammad dalam kelompok nabi ataupun berpura-pura, perilaku perbuatannya terhadap Al-Qur’an tampaknya telah mengundang sikap cemburu pihak lain. Teori apa pun yang menganggap akan adanya sedikit perbedaan sama sekali tak dapat diterima akal. Jika seorang ahli teori mengajukan rasa ketidakpuasan penjelasan mengapa Nabi Muhammad bertindak sangat mengenaskan dan mengorbankan kepenting­annya demi perintah Allah, maka teori itu tidak lebih dari cerita yang tidak berdasarkan pada fakta.

4. Kesimpulan

Hafalan, pengajaran, rekaman, kompilasi, dan penjelasan: kesemuanya, seperti telah kita demonstrasikan, merupakan tujuan utama dari misi Nabi Muhammad dan daya tarik Al-Qur’an an yang orang-orang kafir pun selalu mencuri-dengar dengan penuh perhatian. Dalam bab-bab berikut kami akan menjelaskan lebih mendalam lagi sikap kehati-hatian Nabi Muhammad dan masyarakat Muslim tempo doeloe memberi keyakinan bahwa Al-Qur’an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan. Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan mata kita ke zaman sekarang guna mengadakan taksiran mengapa Al-Qur’an berhasil diajarkan di masa kita. Umat Islam sedunia berjalan melalui satu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa di mana harapan dan keimanan tampak begitu sulit tak menentu dari hari ke hari. Banyak umat Islam dengan jumlah yang tak terhitung-ratusan ribu dalam kelompok usia, jenis kelamin, dan benua yang komitmen menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Bandingkan kitab Injil yang diterjemahkan seluruhnya maupun sebagian ke dalam ribuan bahasa dicetak dan dibagi-bagi dalam jumlah yang amat bear dengan dana yang dapat menempatkan negara-negara dunia ketiga merasa malu meliriknya. Dengan upaya ini, kitab Injil boleh dianggap laris di mana banyak orang berminat membeli, akan tetapi hanya segolongan kecil yang berminat membaca.45 Sikap masa bodoh berjalan lebih jauh dari yang mungkin seseorang dapat bayangkan. Pada tanggal 26 Januari tahun 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang koresponden, Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara random jejak pendapat dari dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi kandungan sepuluh perintah tuhan. Hal ini bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan para pendetanya. Moralitas dasar orang Yahudi dan Kristen tidak lain sekadar gugusan kata-kata dalam kertas sedang Qur’an di pihak lain, dihafal seluruhnya oleh ratusan ribu, diterjemahkan ke dalam lebih kurang 9000 baris.46 Gambaran lebih terang tentang pengaruh yang mendalam dari Al-Qur’ an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad tidak dapat diterka oleh siapapun.

< BACK INDEX NEXT >
34. Qur’an, 2:129.
35. Qur’an, 3: 164.
36. Qur’an, 2: 151.

37. Qur’an, 75: 16-19.

38. Al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an, : 7.
39. Al-Bukhari, Sahih, Saum: 7.

40. Al_Bukhart , Sahih, Fada’il Al-Qur’an : 7.

41. At_Tabari, at-Tafsir, i: 28. Sanadnya dianggap lemah.
42. A. Jeffery (ed.), Muqaddimatan, hlm. 227.

43. Ibid, hlm.74; juga Tahir al-Jaza’iri, at-Tibyan, hlm. 126.
44. Mu’rada (khat) dari sumber kata-kata Mufa’ala (khat) yang berarti dua orang terlibat dalam aksi yang sama. Misalnya, muqatala (khat) berarti berkelahi satu sama lain. Oleh karena itu, Ma’arada menunjukkan bahwa Jibril membaca satu kali dan Nabi Muhammad mendengarnya. Demikian pula sebaliknya. Praktik umum seperti ini terns berjalan hingga saat ini. Hanya beberapa di antara para sahabat nabi sebenarnya ada yang ikut serta bersama antar Jibril dan Nabi Muhammad seperti `Uthman (Ibn Kathir, Fadail, vii :440), Zaid bin Thabit, dan `Abdullah bin Mas’ud).

45. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Manfred Barthel pada hlm. 329 catatan no. 65.

46. Dalam abad ketiga pertama atau keempat masehi, ordinasi seorang diakonia atau kepastoran

menghendaki bahwa calon itu diharuskan menghafal beberapa bagian dari kitab suci mereka, meskipun persyaratan itu berbeda antara satu uskup dengan uskup lainnya. Beberapa tetap ngotot untuk menghafal Kitab Injil Yohannes. Sedang yang lainnya menawarkan satu tawaran antara dua puluh dari Kitab Zabur (Psalm) atau surat-surat Paulus. Ada yang menghendaki lebih agar menghafal kedua-duanya (Zabur dan dua surat Paulus) lht. Bruce Metzger, The Text of the New Testament, hlm. 87, catatan kaki no.1). Persyaratan tersebut berlaku bagi para pemimpin gereja agar menghafal beberapa bagian dari Injil dan surat-surat Paulus. Bandingkan dengan menghafal seluruh isi teks oleh anak-anak Muslim?

About these ads

3 Responses to “Peranan Nabi Muhammad Dalam Mengemban Petunjuk Al-Qur’an.”

  1. nyx said

    bgus oh…

  2. derry said

    nabi muhammmad adlah nabi yg pling d syng allah dn d sayangn oleh semua umatb karna dy lh yg mncptkn smua al-qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers

%d bloggers like this: