MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

KILASAN SEJARAH ISLAM Meninggalnya Nabi Muhammad Dan Kepemimpinan Abu Bakar RA

Posted by Bustamam Ismail on January 17, 2010

1. Abu Bakr Menangani Gerakan Pemurtadan

Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 hijrah telah me­ngantarkan Abu Bakr sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar. Pada masa kegemilangan Nabi Muhammad, beberapa orang munafiq seperti Musailama al-Kadhab,82 memproklamasikan diri sebagai seorang nabi baru.83 Dengan me­ninggalnya Nabi Muhammad, pemurtadan terjadi di sebagian besar wilayah Madinah.84 Beberapa kepala suku yang merasa kehilangan kedudukan selama kehidupan Nabi Muhammad mengikuti jejak Musailama ngaku-ngaku sebagai nabi baru, seperti Tulaiha bin Khuwailid dan seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, seperti Sajah binti al-Harith bin Suwaid, pengikut agama Kristen.85

Keadaan sedemikian ruwet sehingga ‘Umar menyarankan agar Abu Bakr melakukan sikap kompromis untuk sementara waktu dengan mereka yang tak mau membayar zakat. la bersikeras clan menolak pendapat itu dan bahkan mengatakan, “Demi Allah, dengan sikap pasti, saya akan perangi setiap yang memutus shalat dari bayar zakat suatu keharusan bagi tiap orang kaya. Demi Allah, jika terdapat seutas benang pengikat- sebuah kosakata yang digunakan untuk mengikat kaki unta-yang telah ditentukan oleh Rasulullah untuk dikeluarkan zakat sedang mereka menolaknya, saya akan perangi perkara yang demikian.”86 Abu Bakr berdiri sendiri dalam mempertahankan pendapat laksana gunung raksasa yang tak mungkin tergoyahkan sehingga tiap orang memihak padanya.

Dalam mengatasi penyelewengan, Abu Bakr bergegas ke Dhul-Qassa, yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Madinah.87 Beliau memanggil seluruh pasukan militer yang ada dan membagi-bagi ke dalam sebelas resimen dilengkapi seorang komandan terkemuka pembawa panji pada setiap bagian dengan tujuan tertentu. Khalid bin al-Walid ditugaskan mengatasi Tulaiha bin Khuwailid; `Ikrima putra Abu Jahl bersama Shurahbil untuk mengatasi Musailama; Muhajir putra Abu Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa kekuatan al-Aswad al-Ansari dan Hadramout; Khalid bin Sa’id bin al-‘As diberi tugas mengatasi al-Hamqatain di perbatasan Syria, ‘Amr bin al-‘As diberi tugas mengatasi Quza’ ah dan lainnya; Hudhaifa bin Mihsin al-Ghalafani ditugaskan ke Daba di Teluk Aman; `Arfaja bin Harthama ke Mahara; Turaifa bin Hajiz kepada ban! Sulaim; Suwaid bin Muqarrin pada Tahama di Yaman; al-‘Ala’ bin al-Hadrami diberi tugas ke Bahrain; dan Surahbil bin Hasana ke daerah Yamama dan Quda’a.88

Di antara itu semua, barangkali. peperangan terbesar yang paling sengit adalah terjadi di Yamama melawan Musailama dengan jumlah pasukan melebihi empat puluh ribu di mana memiliki hubungan antarsuku terbesar di wilayah itu. Ikrima pada mulanya diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke wilayah lain. Shurahbil, yang ditugaskan membantu ‘Ikrima, diberitahukan agar menunggu kehadiran komandan baru, Khalid bin al-Walid, yang akhirnya menewaskan pasukan militer Musailama yang begitu mengagumkan.

Setelah penumpasan para pemberontak dan kembalinya semenanjung Arab di bawah pengawasan tentara Muslim, Abu Bakr menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak.89 Di sana mampu mengalahkan tentara Persia di Ubulla, Mazar, Ullais (pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Walujah disulap menjadi sungai banjir darah (pada bulan yang sama), Amghisia, dan Hira (Dhul Qi’da pada tahun ke-12 Hijrah/Januari tahun 634 Masehi),90 tempat la mendirikan pusat pertahanan.91 Setelah Hira ia melaju ke Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan menemukan kota pertahanan dilindungi oleh parit-parit. Persyaratan perdamaian dapat diterima, akan tetapi ia terus menuju ‘Ain at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar.92 Di sana terdapat musuh campuran antara orang Persia dan orang-orang Kristen Arab yang sebagian mereka pengikut seorang wanita yang mengaku menjadi nabi, bernama Sajah;93 dalam per­tempuran pasukan Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia. Keduanya kalah dan kota itu jatuh ke tangan kekuasaan umat Islam.

2. Pasukan Militer Menuju Suriah

Ditaklukkannya semenanjung Arab di akhir tahun ke-12 Hijrah (633 Masehi.), Abu Bakr berencana menaklukkan Suriah. Dua pilihan komandan pertama, Khalid bin Said bin al-‘As diikuti oleh ‘Ikrima bin Abu Jahl, berhasil secara memadai. Kawasan itu dibagi empat zon dengan komandan militer masing-masing: Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah bertanggung jawab atas daerah Hims (di bagian Barat Suriah sekarang); Yazid bin Abi Sufyan bertanggung jawab atas Damaskus; ‘Amr bin al-‘As bertanggung jawab atas Palestina dan Sharhabil bin Hasana terhadap Jordania.

Musuh-musuh Romawi bertindak serupa membuat empat resimen. Abu Bakr kemudian mengubah strategi dan memerintahkan empat orang jendral agar bergabung bersama dan meminta Khalid bin al-Walid mengambil langkah cepat menuju Suriah membawa separuh pasukan yang ada dan bertindak sebagai panglima militer. Di sana ia mendapat kemenangan yang luar biasa se­dang di tempat lain tentara Muslim melaju cepat menghadapi musuh-musuhnya.

3. Negara-Negara dan Provinsi yang ditaklukkan  pada Masa Kepemimpinan ‘Umar dan ‘Uthman

1)       Yarmuk atau Wacusa, 5 Rajab, tahun ke-13 Hijrah/Sept. 634 Masehi;

2)       Peperangan Qadisiya, Ramadan, tahun ke-14 Hijrah/Nov. 635 Masehi.

3)       Ba’alback, 25 Rabi Awwal, tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;

4)       Hims dan Qinnasrin ditaklukan pada tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;

5)       Palestina dan Quds (Jerusalem) dikuasai pada Rabi II, tahun ke-16 Hijrah/637 Masehi;

6)       Panaklukan Madian, tahun ke-I5 hingga ke-16 Hijrah/636-7 Masehi;

7)       Jazira (Ruha, Raqqa, Nasibain, Harran, Mardien) sebagian besar penduduknya terdiri orang Kristen, ditaklukkan pada tahun ke-18 hingga ke­20 Hijrah/639-40 Masehi;

8)       Penaklukan Persia: Nehavand, ke-19 hingga ke-20 Hijrah/640 Masehi;

9)       Mesir (tidak termasuk Iskandariya) pada tahun ke-20 Hijrah/640 Masehi;

10)   Iskandariyya pada tahun ke-21 Hijrah/641 Masehi;

11)   Barqa (Libya) pada tahun ke-22 Hijrah /643 Masehi;

12)   Tripoli (Libya) pada tahun ke-23 Hijrah/643 Masehi;

13)   Cyprus, pada tahun ke-27 Hijrah /647 Masehi;

14)   Armenia, pada tahun ke-29 Hijrah /649 Masehi;

15)   Dhat as-Sawari, pada tahun ke-31 Hijrah /651 Masehi;

16)   Azerbaijan, Deulaw, Marw (Merv), dan Sarakhs, pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi;

17)   Kirman, Sijistan, Khurasan, dan Balkh, juga pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi.

Setelah memerintah selama 395 tahun, tirai dinasti Sasanid jatuh ke tangan bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa yang masih belum memiliki pengalaman administrasi dan peperangan yang dapat dibanggakan. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan bagi umat Islam yang memiliki keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, clan ketinggian agama-Nya.

Menurut Prof Hamidullah,94 daerah yang ditaklukkan selama 35 tahun setelah Hijrah (di akhir kekuasaan ‘Uthman) dibagi sebagai berikut:

Daerah yang dikuasai sejak Masa Nabi Muhammad

Masa Nabi Muhammad hingga tahun 11 hijriah 1,000,000 mil 2
Abu Bakr as-Siddiq tahun 11-13 hijriah 200,000 mil 2
Umar bin al-Khattab tahun 13-25 hijriah 1,500,000 mil 2
‘Uthman bin ‘Affan tahun 25-35 hijriah 800,000 mil 2
Jumlah 3,500,000 mil 2

Nabi Musa dan kedua belas suku bangsa Israel berkelana di Gurun Sinai selama empat puluh tahun tidak lebih dari seratus mil sebagai siksaan karena tidak mengindahkan perintah Allah ; dalam masa yang singkat pasukan tentara Islam mampu menaklukkan tiga setengah juta mil persegi yang sekarang disebut dengan daerah Timur Tengah.

4. Kesimpulan

Di samping luasnya wilayah teritorial yang telah ditaklukkan oleh pasuk­an tentara Muslim, baik melalui peperangan maupun deputasi (pengutusan), Nabi Muhammad wafat mewariskan dua harta pusaka umat Islam: Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah.95 Tugas mulia dilanjutkan oleh ribuan sahabat yang secara pribadi mengenal, tinggal, dan makan bersama beliau serta mengalami pedihnya rasa lapar, tanpa menghunus mata pisau pada pihaknya. Mereka telah berikrar janji setia dalam menghadapi berbagai kepentingan hidup tiap saat tanpa perasaan gentar sedikit pun. Kita hanya dapat menduga jumlah mereka yang kecil dan kita dapat membaca pengikut pasukan Musailama yang sebanyak empat puluh ribu hanyalah selusin di antara mereka yang terlibat dalam pertempuran dan menderita kekalahan tak berdaya.

Adalah tidak mungkin mereka menghadang enam ratus ribu pasukan tempur melintasi lautan beserta Nabi Musa, seperti tercatat dalam cerita exodus,96 akan tetapi jumlah besar seperti itu hanya berkelana tak menentu di sekitar gurun pasir di bawah terik matahari. Sedangkan para sahabat nabi mampu menuai berkah kemenangan yang luar biasa. Selama penjagaan dengan begitu ketat terhadap agama baru, seluruh sistem manajemen dibangun di atas fondasi Al-Qur’an dan Sunnah sehingga penyelewengan tidak diberi peluang berkembang: Lingkungan yang seperti itu membuktikan sikap setia terhadap pemeliharaan teks kitab umat Islam dalam bentuknya yang asli, seperti yang hendak kita lihat berikutnya.

82. Di wilayah Yamama, sebuah dataran tinggi di pusat timur jauh (north east) wilayah

semenanjung Arab.

83. Umumnya istilah apostasy merupakan sikap ingkar atau berpalingnya seseorang dari agamanya.

84. neberapa kalangan menolak membayar zakat pada pemerintahan pusat.

85. At-Tabari, Tarikh, iii:272.

86. Muslim, Sahih, Iman:32.
87. At-Tabari, Tarikh„ iii:248.
88. At-Tabari, Tarikh„ iii:249, lihat juga W. Muir, Annals of the Early Caliphate, hlm.l7-18.

89. Menurut sejarawan terkemuka, Khalifa bin Khayyat, peristiwa ini terjadi pada tahun ke-12 setelah hijrah (Tarikh, i:100).

90. H. Mones, Atlas of the History of Islam, az-Zahra, for Arab Mass Media, Cairo, 1987, hlm.128.

91. W. Muir, Annals of the Early Caliphate, hlm.81.
92. Ibid., hlm.85.

93. Ibid., hlm.85.
94. M. Hamidullah, al-Watha’iq as-Siyasiyya, hlm.498-99.
95. Sunnah merupakan tradisi otentik Nabi Muhammad, kesemuanya menyangkut ucapan dan perilaku (ditambah dengan aksi orang lain yang sesuai dengan izinnya). Ratusan ribu dari tradisi ini lahir dan satu tradisi diistilahkan dengan hadith.
96. Lihat hlm. 239

About these ads

One Response to “KILASAN SEJARAH ISLAM Meninggalnya Nabi Muhammad Dan Kepemimpinan Abu Bakar RA”

  1. anis zulkarnaien said

    Nabi Muhammad SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers

%d bloggers like this: