Diantara kaum kita ada yang hobi mencaci-maki. Rasulullah, jarang membalas cacian orang. Di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih kemuliaan Seorang laki-laki datang menemui Abu Bakar. Tanpa ba-bi-bu lelaki tersebut mencacimaki salah seorang sahabat nabi yang sangat beliau cintai ini. Rasulullah Salallaahu alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya, tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja. Namun ketika kata makian semakin banyak Abu Bakar pun meladeninya. Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar itu. Beliau berdiri dan Abu Bakar mengikutinya. “Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah?” tanya Abu Bakar. “Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling dari padamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tak sudi duduk bersama syaitan itu,” jawab Rasul. Kemudian beliau meneruskan nasihatnya, “Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari)









Humanisme adalah hujatan pada otoritas Allah dan seorang pemberontak untuk Yang Mulia, karena Humanisme adalah pintu gerbang menuju pemberontakan orang itu bersatu dan keegoisan memotong hubungan Allah dengan umat manusia. Humanisme apa yang telah dilakukan adalah bahwa ia telah mengambil nilai-nilai moral dan agama-agama lain yang mengintegrasikan beberapa menciptakan kode moral yang dipilih ini untuk sistem harmoni manusia dan kesatuan manusia yang melihat visi dari kode “manusia untuk manusia” dengan demikian menolak sambungan Allah kepada manusia.