MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PRINSIP IMAN KEPADA HARI AKHIR

Posted by Bustamam Ismail on January 2, 2010

Hari Akhir adalah hari kiamat, dimana seluruh manusia dibangkitkan pada hari itu untuk dihisab

dan dibalas. Hari itu disebut hari akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itu penghuni surga dan penghuni neraka masing-masing menetap di tempatnya. Iman kepada hari Akhir mencakup tiga hal:

1. Beriman kepada ba’ts (kebangkitan), yaitu menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Di saat itu semua manusia bangkit untuk menghadap Rabb alam semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan tidak disunat.

Allah berfirman:

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’: 104).

Kebangkitan adalah kebenaran yang pasti ada, bukti keberadaannya diperkuat oleh Al Kitab, sunnah dan ijma’ umat Islam.

Allah berfirman:

“Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al Mu’minun: 15- 16).

Nabi Muhammad bersabda:

“Di hari kiamat seluruh manusia akan dihimpun dengan keadaan tidak beralas kaki dan tidak

disunat.” (HR. Bukari & Muslim). Umat Islam sepakat tentang adanya hari kebangkitan, Karena hal itu sesuai dengan hikmah Allah yang mengembalikan ciptaannya untuk diberi balasan terhadap segala yang telah diperintahkan- Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

Allah berfirman:

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara mainmain

(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Allah berfirman kepada Rasulullah :

“Sesungguhnya yang mewajibkam atasmu (melaksnakan hukum-hukum) Al Qur’an benar-benar

akan mengembalikan kamu ke tempat kembali…” (QS. Al Qashash: 85).

2. Beriman kepada hisab (perhitungan) dan jaza’ (pembalasan) dengan meyakini bahwa seluruh

perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan dengan jelas di dalam Al Qur’an, sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya kepada Kami mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami menghisab mereka.” (QS. Al Ghasyiah: 25-26).

Allah berfirman:

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al- An’am: 160).

Allah berfirman:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiada dirugikan seorangpun barang sedikit. Dan sekalipun(amalan itu) hanya seberat biji sawi pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya’: 47).

Dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Nabi bersabda yang artinya:

“Allah nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan hijab dan menutupnya. Allah

bertanya , “Apakah kamu tahu dosamu ini?” “apakah kamu tahu dosamu itu?” Ia menjawab, “Ya Rabbi.” Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman , “Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.” Kemudian diberikan kepada orang mukmin buku amal baiknya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Allah memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang dzalim.” (HR. Bukhari Muslim).

Nabi bersabda:

“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengamalkannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai beberapa kali lagi. Barangsiapa berniat melakukan satu kejahatan, lalu mengamalkannya, maka Allah menulisnya satu kejahatan saja.”Umat Islam telah sepakat tentang adanya hisab dan pembalasan amal, karena hal itu sesuai dengan kebijaksanaan Allah. Sebagaimana kita ketahui, Allah telah menurunkan Kitab-kitab, mengutus para Rasul serta mewajibkan kepada manusia untuk menerima ajaran yang dibawa oleh Rasul-Rasul Allah dan mengamalkannya. Dan Allah telah mewajibkan agar berperang melawan orang-orang kafir yang menentang-Nya serta menghalalkan darah, anakanak, isteri dan harta benda mereka. Kalau tidak ada hisab dan balasan tentu hal ini hanya sia-sia belaka, dan Rabb yang Maha bijaksana, Mahasuci dari melakukan perbuatan yang sia-sia.

Allah telah menjelaskan hal itu dalam firman- Nya:

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada

mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat). Sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al A`raaf: 6-7).

3. Mengimani surga dan neraka sebagai tempat manusia yang abadi. Surga adalah tempat keni’matan yang disediakan Allah untuk orang-orang mukmin yang bertakwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk orang-orang yang beribadah dengan ikhlas serta mengikuti sunah Nabi.

Di dalam surga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, serta tidak terlintas dalam benak manusia.Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaikbaik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungaisungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al bayyinah:7-8).

Allah berfirman:

“Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacammacam ni’mat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As Sajadah : 17).

Neraka adalah tempat azab yang disediakan Allah untuk orang-orang kafir, yang berbuat zalim

serta untuk orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai azab dan siksaan, yang tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Allah berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Al Imran: 131).

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orangorang yang zalim neraka yang gejolak apinya

mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, maka mereka akan diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih yang dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al Kahfi: 29).

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-rang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyalanyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selamalamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata , “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al Ahzab: 64-66).

Termasuk Iman kepada hari akhir adalah mengimani peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sesudah mati, misalnya :

a. fitnah kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan kepada mayat ketika sudah dikubur, tentang Rabb, agama dan Nabinya. Allah akan meneguhkan orangorang yang beriman dengan kata-kata yang benar. Maka mereka menjawab pertanyaaan itu dengan tegas dan penuh keyakinan, dengan mengatakan,” Allah Rabbku, Islam agamaku, dan Muhammad  Nabiku”. Sebaliknya Allah akan menyesatkan orangorang yang dzalim dan kafir. Mereka tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Mereka akan berkata, “Aku… aku tidak tahu.” Begitu juga orang-orang munafik akan menjawab pertanyaan itu dengan kebingungan, “aku tidak tahu. Dulu aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku mengikutinya.”

b. Siksa dan ni’mat kubur. Siksa kubur diperuntukkan bagi orang-orang dzalim, yakni orangorang munafik dan orang-orang kafir, seperti dalam firman-Nya:

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”(QS. Al an’am: 93).

Allah berfirman tentang pengikut Fir`aun:

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat.

(Dikatakan kepada Malaikat) , “Masukkan Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min : 46).

Dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

“kalau tidak karena kalian saling mengubur (orang yang mati), pasti aku memohon kepada Allah agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian yang saya dengar.” Kemudian Nabi menghadapkan wajahnya seraya bersabda,“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Para sahabat berkata, “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Nabi kemudian berkata lagi, “Mohonlah perlindungan Allah dari siksa kubur.” Para

sahabat berkata, “Kami memohon perlindungan Allah dari siksa kubur.” Lalu beliau berkata lagi,“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Para sahabat lalu berkata, “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Nabi berkata lagi , “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” Para sahabat berkata, “Kami mohon

perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” (HR.Muslim).

Adapun ni’mat kubur diperuntukkan bagi orangorang mukmin yang benar-benar beribadah kepada-Nya. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ,“Rabb Kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah, para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) , “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30).

Allah berfirman:

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan

Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?. Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga keni’matan.” (QS. Al Waqi’ah: 83-89).

Diriwayatkan dari Al Bara’ bin `Aazib  bahwa Nabi  bersabda tentang orang mukmin yang dapat

menjawab pertanyaan Malaikat di dalam kuburnya, “ada suara yang menyeru dari langit , “hamba-Ku memang benar. Oleh karenanya berilah dia permadani dari surga, berilah pakaian dari surga, dan bukakanlah baginya pintu surga.” Lalu datanglah keni’matan dan keharuman dari surga, dan kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang …” (HR. Ahmad& Abu Daud).

Buah iman kepada hari akhir:

1. Gemar melakukan ketaatan demi mengharap pahala di hari tersebut.

2. Membenci perbuatan maksiat dengan rasa takut akan disiksa pada hari itu.

3. Menghibur orang mukmin jika tidak mendapatkan balasan kebajikannya di dunia dengan mengharap keni’matan serta pahala di akhirat. Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati, mereka menyangka bahwa hari akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Dugaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahan itu dapat dibuktikan dengan syara’, indera, dan akal.

1). Bukti syara’

Allah berfirman:“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah,“Tidak demikian, demi Rabbku, benarbenar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghabun : 7).

Hal ini juga telah dijelaskan oleh kitab-kitab suci yang terdahulu.

2. Bukti inderawi

Allah  telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini. Dalam surat Al Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini:

a. Ketika kaum Musa berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak akan percaya dengan risalah yang dibawa Musa , sampai mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Oleh karena itu Allah berfirman (yang ditujukan kepada Bani Israil): “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 55-56).

b. Kisah orang yang terbunuh yang

pembunuhnya dipersengketakan bani Israil. Allah  lalu memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi, kemudian salah satu anggota sapi itu dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat menceritakan siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman , “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan

kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 72-73).

c. Kisah kaum yang meninggalkan negerinya untuk menghindari kematian. Mereka berjumlah

ribuan orang. Allah mematikan mereka, lalu menghidupkan kembali. Ini dijelaskan dalam firman-Nya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka,“Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 243).

d. Kisah orang yang melewati sebuah desa yang hancur. Dia sangsi, bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur, maka Allah mematikan orang tersebut selama

seratus tahun, kemudian Allah menghidupkan kembali. Ini dikisahkan dalam firman-Nya:

“Atau apakah (kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkan kembali. Allah bertanya,“Berapa lama kamu tinggal di sini? Ia menjawab, “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman,“Sebenarnya kamu telah tinggal di sini

seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah keledaimu (yang telah mejadi tulang-belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. lihatlah tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudianKami membalutnya dengan daging. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata,“Saya yakin Allah

maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah: 259).

e. Kisah Nabi Ibrahim `alaihissalam ketika meminta kepada Allah untuk memperlihatkan kepadanya, bagaimana Dia menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Allah memerintahkannya menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu di atas gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Lalu Ibrahim memanggil burung itu, tak lama kemudian, tampaklah olehnya bagian-bagian tubuh burung-burung itu menyatu dan segera mendatangi Nabi Ibrahim kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’anul Karim:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab,“Saya telah percaya, akan tetapi agar hatiku bertambah tenang.” Allah berfirman (kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka datang kepada kamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah:260).

Inilah beberapa bukti inderawi yang menunjukkan mungkinnya Allah menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah memberikan mukjizat kepada Isa bin Maryam dengan menghidupkan orangorang yang sudah mati serta mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah .

3. Bukti akal (logika)

Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian :

a. Allah  sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah menciptakannya pertama kali. Allah

mampu menciptakan pertama kali, tentu mampu pula untuk menghidupkannya kembali. Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian kembali (menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya” (QS. Ar rum: 27).

Allah berfirman:

“sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’: 104).

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk membantah alasan orang yang mengingkari

kekuasaan Allah menghidupkan kembali mayat yang telah menjadi tulang-belulang:

“Katakanlah,“ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79).

b. Bumi yang kering dan tandus akan hijau kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah disirami hujan. Dzat Yang mampu menghidupkan tumbuh-tumbuhan setelah mati,

tentu mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati.

Allah berfirman:

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39).

Allah berfirman:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian tanaman yang diketam,dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf: 9-11).

Orang-orang yang meingkari siksa kubur dan keni’matannya mengira hal itu suatu perkara yang

mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur digali, tidak akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Dugaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’, indera, dan akal.

1- Dalil syara’

Ibnu Abbas berkata, “Rasululah pernah keluar dari salah satu kebun kota madinah lalu beliau

mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu disiksa karena buang air kecil di sembarang tempat sehingga auratnya kelihatan oleh orang yang lewat, dan yang satunya lagi karena mengadudomba.” (HR. Bukhari).

2- Dalil inderawi

Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan

dia bersenang-senang di sana. Atau terkadang dia juga bermimpi berada di tempat yang sempit,

menakutkan, dan membuatnya tersiksa. Terkadang seseorang bisa terjaga karena mimpi buruk, padahal ia berada di atas tempat tidur di kamarnya. Tidur adalah saudara kematian. Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan “wafat”, seperti dalam firman-Nya:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (QS. Az zumar: 42).

3- Dalil akal

Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi ia bermimpi melihat Nabi  sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan melihatnya benar-benar. Padahal waktu itu dia berada di dalam kamarnya, di atas tempat tidur, jauh dari alam yang di mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat? Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit maka jawabannya :

1. Apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bersifat dugaan. Kalau ia mau berpikir tentang keterangan yang dibawa oleh syara’ ia pasti mengetahui kekeliruannya. Seorang penyair bertutur: Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang

Benar Padahal sikap itu timbul dari pemahamannya yang salah.

2. keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera, kerena jika hal itu dapat diindera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkarinya.

3. Siksa kubur, ni’mat kubur, luas dan sempitnya kubur hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri, bukan yang lain. Ini seperti yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di

tempat yang sempit dan menakutkan, atau di tempat yang luas dan menyenangkan, padahal menurut orang yang melihatnya tidur, keadaan orang tersebut tidak berubah, ia masih di dalam kamar di antara selimut dan kasur.

Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad  berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau

mendengar wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengar. Terkadang wahyu itu diturunkan dengan cara Malaikat menjelma dalam bentuk rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihat serta mendengarnya.

4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya.

Tidak mungkin manusia dapat mengetahui segala yang ada. Langit yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah, Dia memperdengarkan kejadian tersebut kepada orang yang dikehendakinya, kecuali manusia.

Dalam hal ini Allah berfirman:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada

satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”(QS. Al Isra’: 44).

Demikian halnya dengan setan dan jin yang berkeliaran di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada Nabi  mendengar beliau sedang membaca Al quran, kemudian dia kembali ke kaumnya sebagai juru da’wah.

Dalam hal ini Allah berfirman:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah

mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat keduanya. Sungguh, ia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raf: 27).

Apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari

perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.

Sumber: Karya :MUHAMMAD BIN SHALEH AL-‘UTSAIMINPenerjemah : ALI MAKHTUM ASSALAMY Murajaah : MUNIR FUADI RIDWAN, MA,DR.MUH.MU’INUDINILLAH BASRI, MA

ERWANDI TARMIZI

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers

%d bloggers like this: