MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.

Posted by Bustamam Ismail on August 1, 2008

Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi atau yang biasa dikenal dengan al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di kota Farab, Propinsi Transoxiana, Turkestan, sekitar tahun 890. Dia berasal dari keluarga bangsawan-militer Turki.Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di kota yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’iyah inilah al-Farabi menerima pendidikan dasarnya. Dia digambarkan “sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari.” Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.Setelah menyelesaikan studi dasarnya,

al-Farabi pindah ke Bukhara untuk menempuh studi lanjut fiqh dan ilmu-ilmu lanjut lainnya. Pada saat itu, Bukhara merupakan ibu kota dan pusat intelektual serta religius dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia. Pada saat al-Farabi di Bukhara, Dinasti Samaniyah di bawah pemerintahan Nashr ibn Ahmad (874-892). Munculnya Dinasti ini menandai munculnya budaya Persia dalam Islam. Pada masa inilah al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Juga di Bukhara inilah al-Farabi pertama kali belajar tentang musik. Kepakaran al-Farabi di bidang musik dibuktikan dengan karyanya yang berjudul Kitab al-Musiqa al-Kabir atas permintaan Abu Ja’far Muhammad ibn al-Qasim, Wazir Khalifah al-Radhi tahun 936.Sebelum dia tenggelam dalam karir filsafatnya, terlebih dahulu dia menjadi seorang qadhi. Setelah melepaskan jabatan qadhinya, al-Farabi kemudian berangkat ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian dan filsafat. Guru utama al-Farabi adalah Yuhanna ibn Hailan. Di bawah bimbingannya, al-Farabi membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya di bawah bimbingan guru khusus. Dari fakta ini diyakini bahwa al-Farabi telah menguasai bahasa Siria dan Yunani ketika belajar kitab-kitab Aristoteles tersebut karena kitab tersebut baru diterjemah ke dalam bahasa Arab pada tahun-tahun setelah al-Farabi mempelajarinya dalam bahsa aslinya.

Setelah dari Merv, bersama gurunya ia berangkat ke Bagdad sekitar tahun 900. Pada masa kekhalifahan al-Muqtadir (908-932), bersama gurunya ia berangkat ke Konstantinopel untuk lebih memperdalam filsafat. Tapi, sebelumnya ia sempat singgah beberapa waktu lamanya di Harran. Pada rentang tahun 910-920 ia kembali ke Bagdad dan di sana ia menemui Matta ibn Yunus, seorang filosof Nestorian, telah memiki reputasi yang tinggi dalam bidang filsafat dan mampu menarik minat banyak orang dalam kuliah-kuliah umumnya tentang logika Aristotelian. Segera ia bergabung menjadi murid Matta. Akan tetapi, kecemerlangan al-Farabi dengan singkat mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika.

Pada akhir tahun 942, ia pindah ke Damaskus karena situasi politik Bagdad yang memburuk. Dia sempat tinggal di sana selama dua tahun dimana waktunya siang hari digunakan untuk bekerja sebagai penjaga kebun dan malam hari dihabiskan untuk membaca dan menulis karya-karya filsafat. Dengan alasan yang sama, ia pindah ke Mesir untuk pada akhirnya kembali lagi ke Damaskus pada tahun 949. Selama masa tinggal di Damaskus yang kedua ini al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Siria, Saif al-Daulah (w. 967). Dalam perjumpaan pertamanya, Saif al-Daulah sangat terkesan dengan al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaannya atas berbagai bahasa. Kehidupan sufi asketik yang dijalaninya membuatnya ia tetap berkehidupan sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Akhirnya, pada bulan Desember 950, ia meninggal dunia di tempat ini (Damaskus) pada usia delapan puluh tahun.

Manusia menurut Farabi memiliki potensi untuk menerima bentuk-bentuk pengetahuan yang terpahami (ma’qulat) atau universal-universal. Potensi ini akan menjadi aktual jika ia disinari oleh Intelek Aktif. Pencerahan oleh Intelek Aktif memungkinkan transformasi serempak intelek potensial dan obyek potensial ke dalam aktualitasnya. Al-Farabi menganalogkan hubungan antara akal potensial dengan Akal Aktif seperti mata dengan matahari. Mata hanyalah kemampuan  potensial  untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri.

Di samping itu, intelek manusia sendiri memiliki apa yang disebut dengan pengetahuan primer. Pengetahuan primer ada dengan sendirinya dalam intelek manusia dan kebenarannya tidak lagi membutuhkan penalaran sebelumnya. Pengetahuan ini misalnya bahwa tiga adalah angka ganjil atau bahwa keseluruhan lebih besar dari bagiannya.

Intelek potensial yang sudah disinari akan berubah menjadi bentuk yang sama dengan pengetahuan primer yang diterimanya sebagai bentuk tersebut. Untuk menggambarkan proses ini, al-Farabi menganalogkan dengan sepotong benda yang masuk ke dalam lilin cair, benda terseut tidak hanya tercetak pada lilin, tapi ia juga merubah lilin cair tersebut menjadi sebuah citra utuh benda itu sendiri sehingga ia menjadi satu. Atau, bisa juga dianalogkan dengan sepotong kain yang masuk ke dalam zat pewarna. Perolehan aktualitas oleh akal potensial  menjadi sempurna jika proses ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan primer, tapi juga dengan pengetahuan yang diupayakannya. Pada tahap ini, intelek aktual merefleksikan dirinya sendiri. Kandungan intelek aktual adalah pengetahuan murni. Intelek aktual dapat mengetahui dirinya sendiri karena ia merupakan intelek sekaligus pengetahuan itu sendiri. Ketika intelek aktual sudah sampai pada tahap ini, ia menjadi apa yang disebut al-Farabi dengan intelek perolehan atau al-aql al-mustafad atau acquired intelect.

Dengan demikian, intelek perolehan merujuk pada intelek aktual ketika mencapai tahap mampu memposisikan diri sebagai pengetahuan (self-intelligible) dan bisa melakukan proses pemahaman tanpa bantuan kekuatan lain (self-inttellective). Intelek perolehan adalah bentuk intelek manusia paling tinggi. Intelek perolehan adalah yang paling mirip dengan dengan Intelek Aktif karena keduanya memiliki kandungan yang sama. Di samping itu, akal perolehan juga tidak membutuhkan raga bagi kehidupannya dan tidak membutuhkan kekuatan fisik badani untuk aktifitas berpikirnya.

(Source: Sekilas sejarah pemikiran filosof di atas dinukil dari buku Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, diterbitkan oleh LKiS, dikarang oleh Zainul Hamdi -warga Averroes)

Written by ave · Filed Under Pemikiran
Tagged: Abu Nashr, ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi, Muhammad ibn Muhammad

About these ads

28 Responses to “Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.”

  1. khumaira said

    wow!!!funtastik!aq rz trnag z…,aq kagum bgt ma yg namanya bapak al-farabi coz…apa z… g’ tw ah,pokoknya aq bener-bener kagum ma beliau.Hampir2 aq mo punya bapak seperti beliau.

  2. Ruby Afsa said

    Terimakasih Informasinya. Blog/Web ini memang Luarbiasa. Semoga Menjadi yang terbaik.
    Salam kenal dari:Ruby Afsa

  3. nug said

    ilmuwan islam jaman dahulu emang keren

  4. icky said

    wow,keren buanget…..
    gw kagum ma dya,abzx dya is so cool,,,
    kpn yawh gw bza cprti dya???

  5. nesya said

    bgus bgt

  6. pungky said

    subhanallah
    aq seneng banget Allah menciptakan orang yang ngerti bgt tentang ilmu filosofis kaya bpk al farabi ini
    dia ikut berperan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
    salut dehhh

  7. Edu said

    Tesis S-2 saya di UI adalah tentang Filsafat Politik Al-Farabi

  8. assalaamualaik
    um…
    blog walking…
    salam silaturrahim,
    ikut mencopy file al-faraby nya ya…

  9. warits said

    kapan ya, Islam saat ini bisa muncul lagi ilmuan hebat kayak al-farabi?
    boleh khan, saya copy artikel ini buat tambah pengetahuan?

  10. Alfa Iza said

    makasih buanyak infonya…..

    Smoga generasi Islam kita bisa kembali jaya seperti dulu.Amin.

  11. muslimin said

    thaks untuk bpk. gmn perbandingan pemikiran alfarabi dan ar-razi. terus bagaiman pemahaman yg gampang dan dpt dijelaskan dg mudah tentang akal yang berpikir tentang zatnya memunculkan wujud, trus sampai wujud kesepuluh oleh akal ke 9. trm pak.

  12. fadlliyah said

    thanks Y… tulsnny ngbntu bgt for tgs pilsafat q

  13. [...] Dengan demikian, intelek perolehan merujuk pada intelek aktual ketika mencapai tahap mampu memposisikan diri sebagai pengetahuan (self-intelligible) dan bisa melakukan proses pemahaman tanpa bantuan kekuatan lain (self-inttellective). Intelek perolehan adalah bentuk intelek manusia paling tinggi. Intelek perolehan adalah yang paling mirip dengan dengan Intelek Aktif karena keduanya memiliki kandungan yang sama. Di samping itu, akal perolehan juga tidak membutuhkan raga bagi kehidupannya dan tidak membutuhkan kekuatan fisik badani untuk aktifitas berpikirnya.Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim. [...]

  14. zenal Ardani said

    Subhanallah, umat Islam maju terus lahirkan pemikir2 hebat.

  15. herman said

    Maaf sobat, mohon dicek kembali tanggal atau kelahiran al-farabi.
    jika lahir pada thn 890 M ?? maka Pada saat al-Farabi di Bukhara, Dinasti Samaniyah di bawah pemerintahan Nashr ibn Ahmad bukan pada tahun ini 874-892 M?? artinya al-Farabi sudah lahir tahn 874 atau sebelum thn tsb.

    demikian, dan saya sangat mengapresiasi karya-karya beliau dan itu perlu kita tingkatkan penelitian dan kajian ttg ilmu yang ia miliki.

  16. flive said

    saking kagumnya anakku tak kasih nama al farabi..

  17. Khusnul Huda said

    Tulisan yang bagus, lanjuuuuuuuuuuut

  18. pak, tapi saya masih belum paham pola fikir al farabi secara lebih real nya. bsok saya mau diskusi. tulisannya sangat membantu, tapi tolong di gambarkan pemikiran alfarabi ke yang lebih sederhana. makasih banyak

  19. Ari Zaid said

  20. Subhanallah seorang,AL Farabbi seorang generasi Salafulsoleh yang sangat luar biasa dan tidak ada tandinganya,ana mendapatkan banyak sekali I’lmu yang luar biasa,Thank you ALLAH

  21. Prediksi Angka Jitu Hari Ini…

    [...]Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim. « MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN[...]…

  22. Moch.Rudi.Hamzah said

    ass.subbahanaallah,annawal azkha alfarabi hamzah,smga ditahun2 Islam berikutny anakku bisa meneruskan dan memperjuangkan hasil jerih payah syeh aba ALFARABI,amin
    iman dan islam jangan sampai luntur dri hati kita wahai para sohabat muslim seluruh dunia.
    wassalam.
    terimakasih.

  23. rudi hernoto said

    seharusnya kita lebih banyak mengenal tokoh2 islam dibanding tokoh2 barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers

%d bloggers like this: