MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Kisah Cinta Sang Pembunuh dibalik Wafat Ali Bin Abith Thalib Karromallu wajhah!!!.

Posted by Bustamam Ismail on July 22, 2008

Ia sang penakluk benteng Khaibar yang konon hanya bisa diangkat oleh 15 orang. Jika Rasulullah adalah kota ilmu, maka ia adalah pintu gerbangnya. Meski begitu, ia terkenal zuhud, yang ikhlas berbagi sepotong roti, sesuatu yang hanya dimilikinya untuk dimakan pada suatu pagi dengan seorang peminta yang datang ke rumahnya dengan perut kelaparan. Ia adalah Ali bin Abi Thalib, si pemilik Dzul Faqar, pedang bermata dua. Ia sepupu Rasulullah sekaligus mantunya, suami Fatimah dan ayah Hasan dan Husain.

Dengan segala keutamakan itu, sungguh tragis memang jika peristiwa kematiannya merupakan sejarah yang berlumur darah.

Tujuh Belas Ramadhan (TBR) merupakan jalinan rumit kisah cinta antara Qutham, Said, Khaulah, dan Abdurrahman bin Muljam. Qutham anak seorang Khawarij. Menuntut darah Ali bin Abi Thalib adalah cita-citanya semenjak ayah dan saudaranya terbunuh oleh tentara khalifah ke-4 itu pada peperangan Nahrawan di Sungai Dajlah (Tigris) dekat Baghdad. Sedang Said berdarah Umawy, yang juga menuntut darah Ali atas kasus terbunuhnya khalifah Usman bin Affan. Said memuja Qutham, seperti kumbang menemukan bunganya. Apalagi keduanya memiliki cita-cita yang sama. Pemuda itu kemudian membuat surat perjanjian untuk menikahi Qutham dengan darah Ali sebagai maharnya.

Khaulah anak seorang pembuat senjata di Mesir yang dekat dengan Amr bin Ash, ahli strategi Muawiyah dalam peristiwa Tahkim yang memenangkan anak Abu Sufyan itu secara politis atas Ali. Ayah Khaulah seorang khawarij pula, yang mendukung upaya pembunuhan atas mantu Rasulullah itu. Ia bahkan telah membuat pedang seribu dinar bertabur racun seribu dinar untuk Abdurrahman bin Muljam. Pemuda inilah yang akan melaksanakan tugas eksekusi itu. Khaulah sangat paham rahasia ini, karena sudah menjadi janji orangtuanya bahwa darah Ali akan menjadi mahar pernikahan Ibnu Muljam dengan dirinya. Padahal, Khaulah, berseberangan dengan Ayahnya. Ia berpihak pada Ali dan bertekad membantu menyelamatkannya.

Said berdiri di persimpangan jalan ketika dalam wasiatnya, Abu Rihab menyuruhnya menghapus dendam kesumat itu. Bahkan kakeknya itu meminta Said membantu menyelamatkan Ali dari pembunuhan oleh sekelompok orang. Ini bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuatnya dengan Qutham. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengikuti wasiat kakeknya. Said menyampaikan perubahan drastis itu kepada Qutham dengan taruhan pernikahannya. Namun, di luar dugaannya, Qutham ternyata justru mendukungnya untuk menyelamatkan Ali dan bahkan cita-cita itu kini menjadi persyaratan mahar yang baru baginya. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan Said.

Maka meluncurlah dari mulut Said rencana jahat yang sempat didengarnya di Makkah menjelang kakeknya wafat. Sekelompok orang akan membunuh tiga orang sekaligus yang membuat carut-marut umat saat itu pada malam 17 Ramadan. Mereka adalah Ali di Kufah, Amr bin Ash di Fusthath, Mesir, dan Muawiyah di Syams.

Qutham kemudian meminta Said pergi ke Mesir untuk menemui kelompok penolong Ali dan mencari tahu siapa saja yang bakal melaksanakan eksekusi itu. Bersama Abdullah, saudaranya, Said pergi ke Fusthath, Mesir. Nahasnya, Abdullah tertangkap tentara Amr ketika bertemu dengan penolong-penolong Ali di sebuah tempat bernama Ain Syams. Mereka yang tertangkap ditenggelamkan di sebuah teluk untuk menghilangkan jejak.

Said berhasil lolos dari sergapan ini atas bantuan Khaulah. Sebaliknya, Khaulah berhasil lolos dari belenggu Ayahnya atas bantuan Said. Dari mulut Khaulah, Said tahu nama Ibnu Muljam yang tengah dalam perjalanan ke Kufah. Dan dari mulut Said, Khaulah tahu bahwa target pembunuhan 17 Ramadhan tidak hanya Ali, tetapi juga Amr dan Muawiyah.

Keduanya kemudian berbagi tugas. Khaulah meminta Said secepatnya kembali ke Kufah untuk memberitahukan rencana jahat itu pada Ali sebelum saatnya tiba. Sedangkan Khaulah akan berusaha memberitahu Amr dengan caranya. Maka berangkatlah Said ke Kufah untuk mengejar waktu.

Sesampai di Kufah, Ibnu Muljam dipertemukan dengan Qutham oleh pembantu setianya. Melihat kecantikan gadis itu dan cita-cita yang sama untuk menuntut darah Ali – yang ditutup rapat gadis itu dari Said, Ibnu Muljam meminang gadis itu. Ini tentu pinangan baru setelah Said. Dan tentu saja, darah Ali menjadi maharnya.

Maka lengkaplah sudah konspirasi itu.

Malam 17 Ramadhan pun tiba. Said sudah sampai di Kufah pada malam itu. Tanpa menunda-nunda lagi, ia bergegas ke rumah Ali. Sampai di masjid Ali, tidak ada seorang pun yang ia temui kecuali Qinbar, penjaga Ali yang tengah duduk di sana. Ketika tahu yang di hadapannya adalah Said, Qinbar langsung meringkus pemuda itu dengan bantuan penjaga Ali yang berada di dalam rumah. Said kaget mengetahui situasi itu, tetapi ia tidak berkutik ketika Qinbar memperlihatkan secarik surat perjanjian yang tidak lain perjanjian pernikahannya dengan Qutham untuk dengan mahar darah Ali. Surat perjanjian itu ternyata tidak pernah dilenyapkan Qutham, dan itulah yang menghambat Said untuk menyampaikan berita penting itu kepada Ali.

Maka pembunuhan itu pun terjadilah. Ali ditikam dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam tepat di kening ketika Subuh tiba. Khalifah itupun wafat. Sedangkan Ibnu Muljam dibunuh oleh sahabat dan penjaga-penjaga Ali. Said akhirnya dibebaskan dengan meninggalkan penyesalan pada setiap orang.

Adalah Abdurahman ibnu Muljam yang menikam Ali dengan pedang beracun pada suatu Subuh di masjid Kufah tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Pada saat yang sama dua orang kawan sekomplotannya melakukan upaya pembunuhan di tempat lain. Barak bin Abdullah ash-Shorimi membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan di Syams dan Amr bin Bakr at-Tamimi membunuh Amr bin Ash di Mesir. Ketiga orang ini, Ali, Muawiyah dan Amr adalah para tokoh di balik pertikaian politik pasca kematian khalifah Usman yang juga berlumuran darah. Imam Ali terluka yang berujung pada kematiannya. Muawiyah hanya terluka dan kemudian sembuh. Sedangkan pembunuhan terhadap Amr salah sasaran. Ketiga pembunuh itu, Ibnu Muljam, Barak dan Amr bin Bakr adalah anggota kelompok Khawarij, yang pada mulanya pendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah, tetapi pada akhirnya membencinya karena suami Fatimah itu menerima Tahkim setelah perang Shiffin.

Mungkin saya kuper dan kurang baca, tetapi demikianlah cerita yang pernah saya dengar atau baca tentang sejarah terbunuhnya khalifah Ali. Bahwa ia terbunuh dalam sebuah pertikaian politik, saya paham. Bahwa ia dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij, saya mafhum dan demikianlah sejarah telah tertulis. Jika kemudian ia ternyata terbunuh karena dendam yang berkelindan dalam kemelut cinta segitiga, itu yang membuat saya seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang. Dan George Zidan rupanya telah berhasil membuat saya penasaran. Buku setebal 2 jari telunjuk itu terasa teramat tipis untuk saya selesaikan dalam waktu singkat.

Zidan menggunakan angle cerita yang tak pernah saya bayangkan ada di balik peristiwa mengenaskan itu. Ini yang membuat “nilai jual” buku ini melambung tinggi, setidaknya di mata saya. Zidan barangkali sangat mengerti bahwa cerita berseting sejarah akan sangat menarik minat orang untuk membacanya ketika diceritakan ulang (retelling story), apalagi secara “berbeda” dari yang pernah ada (pakem). Beauty and the Beast, sekadar contoh, mengalami sekian kali retelling dengan penceritaan yang berbeda, bahkan dengan nama tokoh dan judul yang berbeda, tetapi tetap diminati orang dan dibaca atau ditonton filmnya hingga hari ini. Ini baru cerita pure fiksi, tak berseting sejarah sedikitpun. Api di Bukit Menoreh, Naga Sasra dan Sabuk Inten, Bende Mataram, Senopati Pamungkas yang semuanya berseting sejarah merupakan buku-buku yang masih bertebaran dan dibaca orang hingga kini.

Apakah TBR sebuah buku fiksi? Setidaknya ISBN memasukkan karya ini ke dalam kategori (1) Novel Sejarah Islam (2) Sastra (3) Fiksi. Namun demikian, Zidan banyak menukil potongan peristiwa dan para pelaku dari berbagai kitab rujukan semisal tarikh Ibnul Atsir, tarikh Khumais, Sirah Halabiyah, Asadul Ghabah, Al-Mas’udi, tarikh Al-Khamis, dan sebagainya. Qutham bin Syahnah misalnya, adalah seorang yang real sebagaimana tertulis pada tarikh karya Khumais Jilid 2. Saya bahkan sempat merasa seperti membaca sebuah kitab sejarah dibandingkan dengan sebuah novel. Apalagi George Zidan juga dikenal sebagai penulis sejarah disamping seorang novelis.

Barangkali hanya ada dua hal saja yang ingin saya catat. Pertama, dialog dan deskripsi yang cukup banyak bertebaran di sana-sini menjadikan cerita ini lamban dan terkesan bertele-tele, setidaknya menurut perasaan saya. Dan kedua, banyak peristiwa kebetulan di dalam cerita ini; setidaknya menurut saya. Bagaimana Said berjumpa Khaulah, bagaimana Bilal — pembantu Khaulah bertemu dengan Raihan — pembantu Qutham, bagaimana Bilal akhirnya berjumpa dan membunuh Qutham, dan sebagainya. Cerita yang baik adalah cerita yang minim unsur paksaan pengarang dalam cerita itu. Minim peristiwa yang terlihat seperti sebuah kebetulan. Saya menemukan “kelemahan” ini di TBR.

Mungkin hanya karena penasaran ingin mengetahui akhir cerita ini saja yang membuat saya tidak bergeming untuk mengunyah TBR hingga akhir.

Bagaimanapun, pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sejarah berlumur darah kaum muslimin. Kita saja yang hidup 14 abad kemudian sangat menyayangkan mengapa hal itu bisa terjadi, meski tidak bisa mengambil tindakan apa-apa. Bagaimana mungkin para sahabat, orang-orang yang pernah hidup bersama Rasulullah dan menerima pembinaan langsung dari beliau, bahkan sebagian dari mereka sudah dijamin masuk syurga, bisa bertikai berkubang darah seperti itu.

Namun, apapun yang terjadi dengan dan pada masa sahabat, kita umat yang mutaakhir ini selayaknya diam dan tidak perlu mencela mereka; karena bagaimanapun merekalah pembela Nabi dan penegak Islam di awal hingga tersebar ke seluruh dunia seperti sekarang ini. Yang menjadi penting barangkali adalah bagaimana kita bisa mengambil ibrah dari peristiwa itu.

Dan buku karya George Zidan ini – lepas dari klaim sebagian orang bahwa George Zidan (Jurji Zaidan) adalah seorang orientalis, penulis sejarah Islam yang non-muslim, dan seorang yang menulis sejarah Islam dengan banyak menghina para tokohnya — mungkin juga ditulis untuk tujuan tersebut.

Wa Allahu a’lam


http://images.multiply.com/common/dot_clear.gif Judul Buku : Tujuh Belas Ramadhan: Drama Cinta di Balik Pembunuhan Imam Ali
Pengarang : George Zidan (Jurji Zaidan)
Judul Asli : Riwayat at-Tarikhi al-Islam, 17 Ramadhan
Penerbit : P_IDEA, Yogyakarta, 2005
Tebal : viii + 490 halaman

About these ads

18 Responses to “Kisah Cinta Sang Pembunuh dibalik Wafat Ali Bin Abith Thalib Karromallu wajhah!!!.”

  1. Man said

    maaf saya yang org bodoh bertanya .Jd yg menulis artikel/kisah diaatas itu cuman isapan jempol aja atau bagaimana sih…Maksudnya apa ya…tolong balaz ke email ya….

  2. diki said

    Pada alenia pertama disebutkan:”Ia keponakan Rasulullah sekaligus menantunya”. yang bener aja, Menantu atau sepupu?.
    aah enggan baca sampai akhir.

  3. Terima kasih diki atas koreksinya sudah saya ralat, kata ponakannya, diganti dengan sepupunya.

  4. fredy said

    “Afwan ya akhi..makanya d baca dulu baru d kritik,yang d maksud da skeponakan n sekaligus menantu Rasulullah adalah Ali memang keponakan Rasul n karna dia telah menikahi anak Rasul maka dia d sebut menantu n juaga keponakan Rasul..”

  5. liza said

    kasi tau donk kapan beliau wafat!!!

  6. eko said

    sebaiknya keterangan mengenai buku tulisan dari orang NON MUSLIM diletakkan di depan karena bisa membingungkan.

  7. wahyu btm said

    Pada komentar dialinia ke 2 dari bawah kita diminta untuk tidak mencela sahabat dalam peristiwa itu, bahkan kita tidak boleh mengungkapkan dan membicarakan apalagi menilainya.
    Secara logis ini membingungkan, sebab ternyata buntut dari berbagai peristiwa ini menimbulkan berbagai kelompok islam yang pada akhirnya islam menjadi lemah dan amburadul seperti yang kita alami sekarang ini.
    Justru saya berpendapat bahwa semua peristiwa sejarah dalam dunia islam zaman awal harus diungkap demi meluruskan ummat islam kembali pada mainstreemnya, sebab ketika ummat tahu mana yang benar dan yang salah dalam setiap peristiwa sehingga akhirnya ummat akan dapat menyimpulkan siapa yang harus diikuti dalam pergerakannya pasca Rasulullah saw wafat.
    Disini saya bukan bermaksud mau menjelek-jelekkan sahabat, tetapi apakah berarti setiap orang yang pernah berjasa pada pertumbuhan islam boleh berbuat semaunya sekalipun itu melanggar aturan Allah swt dan RasulNya?
    Bukankah Rasulullah sudah memberikan sebai-baik pelajaran dengan sabdanya “seandainya Fatimah putriku mencuri, maka akan aku potong tangannya”, jadi tidak layak jika ternyata ada sahabat Nabi saw berbuat salah maka kita abaikan saja tanpa penilaian apapun.
    Apakah karena mereka pernah bertemu Nabi saw maka kemudian dianggap mereka lebih utama dari pada ummat Nabi saw zaman sekarang?tidak ada dalil yang mengharuskan kita untuk menilai seperti itu.
    Marilah kita belajar menerima kesalahan, sekalipun itu dilakukan oleh orang yang selama ini kita mulyakan, jika ternyata ditemukan bukti bahwa orang itu telah bersalah, kita harus berani mengatakan bahwa dia salah.

    • kita harus memahami suasana saat peristiwa itu terjadi, dan tidak dapat dipungkiri banyak umat yang pada masa itu, masih baru memeluk Islam, yang pengetahuan mereka belum mendalam tentang Islam. Maka kita menilainya sesuai dengan keadaan yang terjadi pada masa itu, dan semua orang tidak mungkin menguasai seluruh bidang , dan kita juga mengenal bahwa Ali bin Thalib adalah Pemuda yang sangat cerdas dan cekat dalam bermain pedang maka beliau pula banyak musuh dalam selimut yg masih berkeluaran yang telah memeluk Islam tapi masih jiwa kemunafiqan.sebab itu siapapun orang yang menggantikan posisi khalifah pada saat memang sangat sulit. Tapi walaupun demikian kita tidak akan menyalahkan shahabat, untuk kita jadikan pelajaran bagi kita. Sampai sekarang Umat Islam belum berhasil membuat formulasi untuk menyatukan umat Islam di Dunia untuk mencapai kedamaian dan ketentraman, mari kita pikirkan dan kita renungkan!!!

      • wahyu btm said

        Situasi yang sulit atau dibuat sulit, tidak dapat dijadikan alat pembenar ketika orang berbuat salah, banyak terjadi perselisihan, pertikaian, bahkan sampai pada tahap peperangan diantara para sahabat itu sendiri.
        Kita disini bukan hendak mencaci maki sahabat, sebab dicontohkan oleh imam Ali bin Abi Thalib bahwa beliau tidak mencaci maki siapapun bahkan pada pembunuhnya.
        Kita hanya ingin tahu dan menempatkan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan perannya masing2.
        Kalau keberanian semacam ini harus kita matikan dalam dunia islam, jangan mimpi buat formulasi untuk menyatukan ummat islam sedunia, seindonesia saja sudah mustahil, lha wong sahabat zaman itu saja yang dianggap lebih baik dari ummat sekarang tak dapat menyelesaikan perpecahan diantara mereka sekalipun jumlah mereka dan aliran/mazhabnya tak sebanyak sekarang.
        Dan satu lagi pertanyaan saya, apakah sahabat itu punya sifat maksum sehingga tak boleh salah, mari kita pikirkan dan kita renungkan!!!

  8. saya sependapat dengan saudara semua persoalan yang bersipat kemanusiaan, bagi sahabat bisa berbuat keliru, atau memang keadaan yang tidak bs diatasi oleh beliau, sehingga terjadi hal yang merugikan umat, tetapi kesungguhan dan kerjakeras dan dengan segala keterbatasannya sudah membuat gentarnya dunia, sekaligus membuat terbangun, disebabkan mereka iniharus kita acungkan jempol, mengenai kekuarangan-kekurangan itu kemanusiaannya, kita harus terima, dapatkah kita menyatukan umat ini zaman sekarang ini,jawab mungkin asal ada kemauan sedangkan alat teknologi dengan dapat mempersatukan umat untuk bermusyawarah jarak jauh, untuk direnungkan!!!

    • wahyu btm said

      Memang tak dapat dipungkiri bahwa sahabat Nabi saw telah berjasa pada islam, dan menerima segala kekurangannya yang bersifat manusiawi juga baik, tapi mengingat akibat dari semua perselisihan diantara mereka yang begitu dahsyat juga, menuntut kita untuk mengkaji lebih dalam untuk menjawab pertanyaan2 kenapa itu bisa terjadi dan seterusnya…akhirnya pada satu kesimpulan siapa diantara mereka yang benar dan harus diikuti,dan siapa yang salah…[semoga diampuni dosanya]
      Dengan demikian maka tentang pemahaman islam akan merujuk pada satu sahabat dan tidak terpecah menjadi beberapa kelompok dan terus berkembang menjadi banyak kelompok pemahaman yang masing2 merasa kelompoknya paling benar dan tentunya kelompok lain salah.
      Untuk menyatukan ummat jelas konsepnya adalah menyatukan pemahaman tentang islam terlebih dahulu, kalau konsep ini bisa diterima dengan lapang dada dan mau duduk bersama untuk mendiskusikannya dengan menanggalkan sikap fanatik apalagi bisa meninggalkan kebiasaan mencaci kelompok yang lain, maka bersatunya ummat menjadi mungkin bisa terjadi.
      Tetapi jika konsepnya adalah bermusyawarah hanya untuk semacam memilih ketua DPR, maka kegagalan pasti akan menghadang, jangankan bermusyawarah jarak jauh, dg jarak dekat saja sudah sulit.
      Coba kita andaikan diindonesia saja, semua kelompok bermusyawarah dan ternyata dari NU terpilih jadi ketua dan kemudian syariat islam akan diterapkan ala NU, mungkinkah yang dari Muhammadiyah, Salafi, Wahabi, LDII dll mau menerima???jawabannya tentu tidak.
      Bukan berarti saya pesimis, tapi inilah yang sudah terjadi selama ini, makanya kita harus menggunakan konsep yang lain yaitu menelusuri akar permasalahan dari carut marutnya islam ini dari pangkalnya yaitu islam zaman sahabat, perlu kita kaji.tak perlu takut karena ini bukan bertujuan menggunjingkan sahabat tetapi demi meluruskan kembali bagaimana sih sebenarnya islam sepeninggal Nabi saw?
      untuk direnungkan!!!

  9. arisyuni86 said

    Memahami segala suatu pastinya terkait dg dua pemaknaan, yaitu makna lahir dan makan batin. seringnya yg terjadi banyak beredar dikalangan umat adalah dakwah2 yg kecondongannya lebih didominasi hal2 yg bersifat lahiriah.
    Sulit kita menerima pendapat bahwa Nabi saww tidak menentukan khalifah Allah penerus beliau, krn urusan ini amat sangat penting untuk perjalanan umatnya kedepan. terbukti hingga saat ini tidak ditemukan pemimpin penyatu umat atas pilihan sendiri umat islam. Padahal didalam Alquran ada kewajiban untuk taat pada pemimpin setelah ketaatan (bukti taat) pada rosul dan Allah swt.
    Apakah sahabat nabi sudah mencapai tingkat takwa semua, sehingga siapapun jd pemimpin setelah nabi dijamin telah mentaati nabi saww? banyak wasiat2 nabi yg berkenaan dengan kepemimpinan sesudah nabi seperti …islam tidak akan pernah berjaya sebelum berlalunya khulafaurroshidun…, juga … selain sunahku ikutilah juga khulafaurroshidun yg datang sesudahku…, bahkan didalam Alquran pun sebenarnya sdh dialamatkan. ” wahai orang2 beriman, sesungguhnya pemimpinmu adalah Allah, Rosul dan orang2/orang yg membayar zakat seraya be-rukuk”
    Muncul pertanyaan2, benarkah khulafaurroshidun hanya ada empat? kalau ya, kapan janji islam berjaya akan terpenuhi? lalu benarkah khalifah2yg umum dicatat sejarah adalah yg telah ditentukan nabi? kenapa perlu dilakukan prosesi pemilihan yg tidak sama? khalifah pertama dipilih atas baiat sebagian sahabat nabi. khalifah kedua atas penunjukan khalifah pertama. khalifah ketiga atas voting dewan syuro yg diatur dan yg keempat melalui pilihan raya dan paling demokratis menurut catatan sejarah. Apakah demokratis adalah syariat islam? kenapa malah amerika yg mendewakan demokrasi?
    Padahal andaisja kita memaknai khalifah adalah wali Allah yg diback-up Kitabulloh Alqurannulkarim, kesempurnaan kemampuannya melebihi ulama nabi Sulaiman as yg peroleh sebagian ilmu dr sebagian alkitab (Taurat dan Zabur) yg mampu pindahkan istana ratu balkis dalam tempo selayang pandang.
    Dari keempat khalifah diatas hanya sydn Ali kw yg tegas dinyatakan sebagai pintu kota ilmu nabi oleh nabi Muhammad saww. artinya sydn Ali secara tegas dinyatakan orang yg paling mampu sebagai jubir nabi yg jubir Allah. Dengan kata lain Ali diridloi sebagai juru bicara Allah sesudah Nabi Muhammad saww!
    Sudahkah kita bersikap proporsional akan hal tersebut?

    • Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul juga sebagai kepala Negara,
      Sebagai seoarang Rasul beliau menyatakan tugasnya adalah untuk menyempurnakan akhlak(moral)
      Sebagai kepada kepala Negara di pilih secara aklamasi, bukan diangkat menjadi raja oleh Allah sebagai Nabi Sulaeman dan Nabi Daud AS.
      Dalam pelaksanaannya beliau berpatokan dengan aturan perundangan dari Allah, sedangkan aturan kemasyarakatan banyak dilaksanakan dengan musyawarah dengan komponen masyarakat Madinah yang majemuk, keputusan mengikat bersama. Aturan ibadah, keimanan hanya mengikat orang yang beriman saja, umat beragama lain diserahkan kepada keyakinan mereka. Namun disebabkan besarnya wibawa Rasulullah mereka secara bersama-sama mengikuti Rasul kecuali sebagian kecil dari bangsa Yahudi, Karena melihat perkembangan yang tidak menguntungkan kepada mereka mengingat praktek yahudi yang selalu berpegang dengan riba, riba tidak bisa hidup dibawah kepemimpinan Rasulullah karena hal itu sangat dilarang dalam Islam, sehingga masyarakat meninggal hal ini, yahudi makar Nabi terpaksa mengusir Yahudi dari Madinah , diusir bukan karena agamanya tetapi karena kemakaran dan kecurangannya.
      Kalau kita lihat dari dasar sejarah cirri pemerintah Islam Itu, Menegakkah hokum Allah yang disarikan Al-Qur,an dan Hadist, sedangkan figur khalifah atau pimpinan suatu Negara tidak banyak dibicarakan dalam al-Qur’an, Rasulpun tidak pernah menunjukkan siapakah pemimpin setelah beliau. Khulaur Rasyidin dibai’at dengan beberapa cara.
      Kalau boleh saya berpendapat seorang pemimpin yang mempunyai kompetensi ,komitmen terhadap syari’at Islam
      Bertanggung kepada Allah
      Bertanggungjawab kepada Umat
      Hukum Islam tidak membedakan manusia, tidak ada yang merugikan manusia, baik karena warna kulit, berbeda agama, Islam menegakkan keadilan.
      Kapan pemimpin ini akan ada?, Jawaban sejauhma umat ini bisa bersatu, tidak dibatasi suku,bangsa, selama perbedaan itu tidak membawa perpecahan, selama dalam menafsirkan dari sumber aslinya, dan tidak dibarengi dengan caci makian dan penghinaan boleh saja, Allah yang mengetahui yang lebih benar!!!

  10. Titit said

    hmmmmmmmm ,,,,, Ali ra. di bunuh sama pengikutnya yang tidak setia yang membeci sahabt nabi……

    siapa tau syiah skrang ini pengikut yang membunuh Ali ra. karena mereka (pengikut sekarang membci sahabat) bener kan?

  11. stereo shotgun microphone…

    [...]Kisah Cinta Sang Pembunuh dibalik Wafat Ali Bin Abith Thalib Karromallu wajhah!!!. « Membangun Khazanah Ilmu dan Pendidikan[...]…

  12. songs ilocano…

    [...]Kisah Cinta Sang Pembunuh dibalik Wafat Ali Bin Abith Thalib Karromallu wajhah!!!. « Membangun Khazanah Ilmu dan Pendidikan[...]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers

%d bloggers like this: